Dirgantara Malik Alkeenan

Dirgantara Malik Alkeenan
S E M B I L A N


__ADS_3

Dirga memijat kepala. Menghela napas berat ketika melihat Mama dan tiga orang adik perempuan sudah berada di penthouse miliknya. Mamanya selalu memiliki berbagai cara untuk bisa menembus masuk kedalam tempat ternyaman putra sulungnya itu.


"Kak Dirga ujian membuatku stres, kakak tahu? Makanya aku pulang ke indo" Keluh Adik nomor dua, yang saat ini tengah menempuh pendidikan di Australia


Tania Malik Alkeenan. Memiliki jarak umur yang cukup jauh dari Dirga. Ia baru masuk semester tiga dan tentunya tidak tertarik dengan dunia bisnis. Wanita berparas ayu itu sering kali beradu argumen bersama Dirga. Bahkan ia juga kerap kali menjodohkan Dirga dengan teman-temannya. Walaupun penolakan yang ia dapat.


Mama tersenyum melihat wajah Dirga. "Kenapa kamu selalu serius? Ayo lah nak, Mama merindukan kamu"


"Bagaimana Mama bisa masuk kesini?"


"Kakak lupa siapa Mama?" Sambung adik ketiga Dirga yang kini tengah menempuh pendidikan sekolah menengah atas


Lagi-lagi Dirga hanya menghela napas "Lain kali kabarin dulu Ma kalau mau kesini"


Bu Vera mengerutkan kening. Ia tahu putra sulungnya adalah orang yang suka menyendiri. Tetapi tingkahnya yang tak pernah mengunjungi rumah utama benar-benar minta di hajar.


"Kamu tahu anak Tante Mona? Naysa, teman kecil kamu dia sekarang udah balik dari Jerman"


"Dan Kakak tahu juga Mama akan menjodohkan kak Dirga bersama dirinya" Sambung Tania tertawa geli


"Ma.. Please aku udah capek sama pekerjaan jangan nambah-nambahin beban lagi"


"Dirga kamu yang bikin Mama capek sama kelakuan kamu itu???"


"Ma aku bisa hidup dengan keputusanku sendiri, aku bisa mencari pasanganku sendiri tanpa campur tangan Mama dan Papa"

__ADS_1


"Terus kenapa kamu masih melajang sampai sekarang, sampai gosip itu" Omel Bu Vera memberhentikan ucapannya


"Ma ini dunia bisnis,apa pun bisa di jadikan gosip demi sebuah rating perusahaan"


"Kamu kalau di bilangin ada aja alasannya, Dirga kamu anak lelaki satu-satunya di keluarga kita, Mama hanya mau yang terbaik buat kamu. Adik-adik kamu juga berharap banyak sama kamu"


"Kakak tahu sekarang Kak Naysa semakin cantik" Ujar Tania berharap Kakaknya menuruti permintaan Mamanya


"Kamu di bayar berapa sama Mama?" Dirga menatap adiknya tajam


Tania tertawa lepas "Lumayan uang jajan di tambah"


"Aku sudah punya pacar" Kata Dirga dan langsung membuat Bu Vera dan ketiga adiknya terperanjat. Mereka kemudian berkedip beberapa kali


"Tapi.. Mama sudah terlanjur janji sama Tante Mona untuk mempertemukan kalian. Satu kali aja temui..."


Dirga yang tak ingin Mamanya berlama-lama langsung saja" Ia aku temui, sekarang Mama pulang. Kasihan Pak Malik kesepian" Bu Vera mengangguk antusias dan tak lama kemudian ia meninggalkan Dirga


Sudah hampir tiga tahun Dirga melajang. Di mulai saat ia menduduki posisi Presiden direktur. Sebenarnya ia tak pernah resah soal itu. Hanya saja desakan Pak Malik benar-benar menguasai pikirannya. Dirga memutar bola matanya melihat gemerlap malam ibu kota seraya melepaskan jas biru dari badannya. Lantas hanya tersisa kemeja putih. Tak lupa ia melipat kedua lengan kemejanya sampai ke siku hingga membuat sosok pria bertubuh atletis itu terkesan maskulin.


#


Entah kenapa pagi ini ada perasaan jenuh untuk datang ke kantor. Namun, tetap harus di lakukan. Itu lah tanggung jawab pekerjaan.


Dirga mengunjungi perusahaan Papanya. Ia meminta Pak Malik agar tidak ikut campur dalam dunia percintaannya.

__ADS_1


"Pokoknya kamu dalam pengawasan Papa, suka tidak suka, mau tidak mau, penghabisan tahun ini kamu harus menikah. Jika tidak perusahaan baru kita yang di Australia sedangkan membutuhkan kepala direksi. Papa akan pindahkan kamu kesana."


Dirga memasang wajah datar sembari mendengarkan ocehan dan ancaman Pak Malik. Baru beberapa menit yang lalu tiba di ruangan Pak Malik. Papanya sudah menceramahinya panjang kali lebar. Katanya masih muda tapi soal perempuan tak ada pengalaman sama sekali.


"Heh, kamu dengar Papa nggak?" Tegur Pak Malik


"Pak Malik ini bukan soal berpengalaman atau tidak, tapi..."


"Keluar, saya sibuk hari ini" Usir Pak Malik melihat Dirga yang masih keras kepala. Pak Malik sudah cukup pusing, kepalanya seperti mau meletus. Setiap koleganya menanyakan soal Dirga yang masih seorang diri dan gosip buruk itu semakin menjadi.


Akhirnya Dirga keluar dengan wajah lesu. Dia melangkah pelan menuju mobilnya. Ia memijat kening yang mendadak jadi pusing


"Pak Malik... Pak Malik. Apa? Berpengalaman? Benar-benar lelaki tua itu" Omel Dirga meninggalkan perusahaan Papanya


Delon menggaruk tekuk leher yang tidak gatal dengan sedikit meringis "Akkhh... Kenapa tiba-tiba auranya jadi beda"


Anggun mengangguk dan memutar bola matanya sekeliling. Dari jarak yang tidak terlalu jauh ia melihat Dirga dengan wajah kesal "OMG.. Bencana, bencana" Seketika Anggun menarik Delon untuk bersembunyi


"Kenapa?"


"Lihat, mood bos kita sangat..." Delon mengalihkan pandangannya ke arah telunjuk Anggun. Ia terdiam beberapa detik sebelum mengangguk tanda setuju


"Pagi Pak Dirga" Sapa Dinda tersenyum ramah tanpa beban. Dan langsung tersontak kaget ketika Dirga melotot ke arahnya


Alamak, siapa saja tolong bawa aku pergi... Gumam Dinda menyadari wajah Bad Mood Dirga pagi ini.

__ADS_1


__ADS_2