
Seminggu tidak terasa, dan selama itu juga Dinda menggantikan posisi Radit.
Hari ini, ketika Dinda memasuki ruangan presdir. Ia melihat Dirga dan Radit tengah asyik mengobrol.
"Good morning sekretaris baru kita" Goda Radit ketika melihat Dinda berdiri di depan pintu
"Akhirnya" Kata Dinda tersenyum lebar, setidaknya beban pekerjaan sedikit berkurang
"Apa?"
"Yey! Aku bisa kembali ke tim perencanaan"
"Siapa bilang" Pungkas Dirga
"Kamu tetap menjadi sekretaris saya, dan Radit akan menjadi ketua tim Manajemen"
Radit membuka mulutnya tidak percaya lalu tertawa semringah "Serius? Terimakasih bro"
"Tidak bisa begitu dong Pak Dirga" Protes Dinda
"Kenapa tidak bisa? Saya yang memiliki kuasa"
"Eh,, eh, kalian boleh ribut, tapi setelah saya angkat kaki dari ruangan ini " Kata Radit berlari keluar dengan semangat 45
Dinda menatap sinis ke arah Dirga yang masih tersenyum kecil. Tak lama pria itu merasakan aura yang berbeda "Kenapa ruangan ini tiba-tiba terasa dingin?" Tanya Dirga kemudian menoleh ke arah Dinda. Pria itu langsung terlonjak kaget mendapati tatapan tajam
"Haaa!"
"Kamu tenang aja, gaji kamu akan naik tiga kali lipat dari biasa"
"Pak Dirga ini bukan masalah gaji, tapi saya butuh ketenangan bekerja di perusahaan ini! Tanggung jawab sekretaris terlalu berat" Keluh Dinda
"Ya tentu saja, tetapi kamu akan tenang berada di dekat saya, dan seberapa pun beratnya kita akan tanggung berdua" Lagi-lagi Dirga tersenyum menggoda
"Bukan itu maksudnya!"
"Lalu apa? Bukankah kamu beruntung di dekat seorang presdir, tampan, mapan, perfect dalam hal apapun" Muka Dinda meringis melihat Dirga tertawa lebar
"Sekarang kamu boleh keluar"
"Ngapain?"
__ADS_1
"Ke toilet dulu atau jalan-jalan dulu"
"Saya tidak butuh itu Pak,saya butuh ke-te-na-ngan"
"Keluar dulu nanti kamu pasti butuh itu" Dinda semakin frustasi, entah apa maksud terselubung pria nan masih tersenyum-senyum itu
Tak lama setelah Dinda keluar, ketukan pintu membuat Dirga menoleh. Ia melihat Naysa sudah berdiri dengan senyuman khasnya
"Bisa keluar sebentar?" Tanya Naysa
"Kemana?"
Naysa tidak menjawab pertanyaannya, mereka berdua berjalan ke arah taman belakang. Melihat pepohonan rindang Naysa menarik nafas merasakan deburan angin membelai kulitnya
"Aku rasa sebulan terlalu lama" Ucapnya seraya mengambil posisi duduk di sebelah Dirga
"Kenapa tiba-tiba?"
"Dirga, kenapa kamu begitu menyukainya? Sampai tidak bisa melihat wanita lain yang bertebaran di dekatmu? Sejujurnya aku sedih tapi kupikir ini sudah takdirnya sekarang aku bisa melepaskanmu, aku bersyukur"
Dirga tersenyum menatap teman masa kecilnya itu, seperti ada sebuah kelegaan, Naysa tidak ingin melanjutkan hubungan coba-coba mereka lagi, Naysa tahu yang di butuhkan Dirga adalah Dinda, bukan dirinya
"Naysa aku berterimakasih, kamu mengerti dan mendengarkanku, hal yang tidak pernah aku katakan kepada orang lain"
"Ayo tetap menjadi teman, bukan maksudku aku menyukaimu sebagai..."
Naysa memotong pembicaraan Dirga "Dahulu jika hubunganmu berhasil dengan dia, aku tidak akan mengganggumu, aku sangat bijaksana dalam mengartikan perasaan seseorang"
"Ini juga berlaku untuk Dinda, tetaplah bersama dia selagi bisa, lakukanlah setiap saat kamu bisa"
"Aku pamit, nanti aku bisa di marahi pemilik perusahaan ini" Ucap Naysa tersenyum lega
Di balik itu Dinda memutari setiap tempat mencari keberadaan Dirga. Dinda perlahan menghindar ketika melihat Naysa seakan ingin mendekatinya
"Aku minta maaf mengacaukan mu, menertawakan kepedihanmu, padahal aku sendiri lebih dulu mengalami kepahitan itu" Langkah Dinda terhenti, ia membalikkan badannya menatap Naysa tersenyum tulus
"Aku tidak menduga hal ini, kita di hancurkan oleh perempuan yang sama"
"Maksudnya?"
"Aku mendengar cerita kamu dari Rania dan aku pastikan juga kamu tidak akan melihatnya lagi di perusahaan ini"
__ADS_1
"Kamu mencari Dirga? Tenang saja dia ada disini jangan cemas" Sambung Naysa menyadari Dinda sedang mencari pria itu
Tak lama ia menggoda Dinda kembali "Walaupun kisah kita hampir sama, tetap saja kamu tidak boleh khawatir terhadap Dirga, biar aku saja yang mengkhawatirkannya"
"Apa?"
"Aku menyukainya, kamu juga menyukainyakan bukan?" Pertanyaan Naysa membuat Dinda terdiam
Entah di mulai dari kapan, namun benih-benih cinta sudah tumbuh di hati Dinda tanpa permisi. Semakin hari benih itu kian tumbuh,
"Apa yang harus kita lakukan? Kita menyukai pria yang sama, haruskah kita saling menjambak, aku sudah siap"
Dinda kaget, lalu menggelengkan kepalanya, Kemudian Naysa tersenyum "Pergilah menemui Dirga, kamu yang di butuhkannya"
"Apa? Aku?"
"Iya, semangati dia dulu, dia baru saja di putuskan oleh pacarnya, nanti kita bisa bertengkar lagi setelah itu" Lagi-lagi Naysa menggodanya
"Dia lagi ada di taman belakang meratapi kesedihannya"
Naysa melangkah keruang manajemen, sedangkan Dinda melangkah ke arah taman belakang. Ia tersenyum melihat Dirga duduk termenung.
"Katanya ada yang baru saja di putusin?" Tanya Dinda, Dirga mengangguk lalu tersenyum
Dinda duduk di sebelah Dirga, menatap pria tampan itu. Lalu mereka sama-sama tersenyum.
Beberapa saat kemudian "Tidak ada yang bisa diubah, aku masih menyukaimu" Ucap Dirga seraya membelai lembut kedua Pipi Dinda, ia kembali menatap Dinda dengan tatapan yang begitu tulus. Tak lama ia tersenyum, mendekatkan wajahnya, lalu bibir tipisnya menyentuh lembut bibir indah Dinda.
...
"Dinda aku mohon, sukai aku!" Ungkapan Dirga kembali membuat Dinda tertegun, lalu ia tersenyum manis menatap wajah tulus pria itu, Dinda mengangguk dan langsung memeluk pria itu dengan hangat...
"Maafkan aku membuat kamu menunggu begitu lama, menyimpannya sendirian,dan terimakasih telah membuat debaran itu kembali di hatiku" Dirga tersenyum bahagia, kemudian membalas pelukan Dinda dengan erat
"Hari ini dan seterusnya aku tidak akan membiarkanmu sendiri lagi, aku tidak perlu lagi menjaga dan melihatmu dari kejauhan, tetap di sisiku, genggam tanganku di saat kamu melewati hari yang sulit"
"Sesulit apapun nanti kedepannya jangan lepaskan aku,cintai aku melebihi kamu mencintai masa lalumu" Ucap Dirga masih memeluk gadis itu
"Apakah kali ini aku akan di cintai dengan hebatnya?"
__ADS_1
"Tentu saja! Aku akan mencintaimu sampai kamu lupa rasa sakit yang pernah kamu rasakan!" Mendengar penuturan Dirga, membuat Dinda ingat apa yang pernah di ucapkan Papanya, Lalu ia tersenyum begitu manis.