Dirgantara Malik Alkeenan

Dirgantara Malik Alkeenan
D E L A P A N


__ADS_3

Benarkah dia mencintaiku?


Jika ia kenapa harus menyakitiku?


Pertanyaan yang selalu di ulang-ulang Dinda. Menjalin kasih dengannya lebih dari enam tahun. Dinda masih belum mengerti tentang perasaan Bayu seutuhnya. Bayu tidak pernah marah. Tidak pernah mencurigainya. Dia selalu tersenyum saat bersama Dinda. Bahkan selalu memaafkan.


Dinda bingung dengan maksud semua ini? Tak mengerti jalan pikirnya.


Sekuat tenaga Dinda mencoba menjaga jarak. Menyibukkan diri dengan pekerjaan. Tertawa riang supaya terlihat tegar. Melihat Bayu bersama Luna membuat ia ingin marah.


Cemburu?


Lantas bagaimana lagi caranya? Menepikan ia dari keramain hiruk pikuk isi kepala.


Saat sendiri Dinda benar-benar frustrasi. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk melupakan. Mau satu dunia memberikan semangat tetap saja dikala sendiri hati terasa pedih.


Sekali lagi barpura-pura kuat adalah jalannya.


Seseorang menatap Dinda dengan tatapan yang tak bisa di artikan. Namun, tak lama ada senyuman yang menghiasi bibirnya. Senyum yang jarang ia perlihatkan sebelumnya.Akhir-akhir ini sikapnya banyak berubah. Seakan selalu ada ketika di butuhkan.



Angin kencang di tambah hari semakin gelap


"Mari pulang?"


Pulang lagi?


Gumam Dinda tidak percaya


"Pak Dirga pulang aja dulu" Jawabnya dengan senyuman ringan. Dinda tahu Menerima bantuan terlalu sering hanya akan membuatnya tidak nyaman


"Ini perintah atasan kepada bawahan!"


"Tapi Pak Dirga? " Dirga mengangguk meyakinkan


Rasanya canggung sekali duduk bersebelahan di dalam mobil hanya berdua dengan Dirga. Baru kali ini. Biasanya jangankan semobil berdua, bertatap muka dengan bosnya saja bisa di hitung jari.


Sebelum pulang kerumah Dirga membawa Dinda untuk menikmati makan malam di restaurant yang cukup terkenal. Malu-malu Dinda menyetujuinya


"Pesan yang kamu suka" Dinda mengangguk dan memesan berbagai jenis makanan yang ia gemari


Suasana di Restaurant yang mereka datangi sangat nyaman. Tidak terlalu banyak pengunjung. Setelah menunggu beberapa saat pesanan mereka pun datang.


"Pak Dirga benaran satu kampus sama saya? " Tanya Dinda memecahkan kesunyian

__ADS_1


"Hmmm...."


"Wah... Pasti Pak Dirga jadi incaran senior dan satu angkatan" Puji Dinda


"Saya tidak setampan itu!"


"Heee.. Jangan merendah " Ucap Dinda sembari melahap makanannya


"Jika saya tampan tentu kamu mengenali saya?" Tutur Dirga


"Kemarin ada kesalahan sedikit Pak Dirga, jadi saya buta tidak bisa membedakan mana yang tampan"


Dirga tertawa lepas lalu Dinda berdecak kagum "Andaikan Pak Dirga tersenyum seperti ini setiap hari saya jamin"


"Apa yang kamu jamin?"


"Bakalan banyak wanita yang menyukai"


"Tidak tersenyum pun sudah banyak yang menyukai, termasuk kamu bukan?" Ucap Dirga membuat Dinda berhenti mengunyah


"Tentu saja, kamu menyukai saya sebagai atasankan?"


Dinda tersenyum manis lalu mengangguk setuju.


"Oh ya, Selama di kampus, apa Pak Dirga pernah menyukai seseorang? " Dirga menghentikan suapannya. Menatap Dinda yang begitu lahap


"Wah.... Beruntung sekali gadis itu " Jawab Dinda begitu antusias. Dirga hanya menghela nafas


"Lalu bagaimana selanjutnya?"


"Lupakan soal gadis itu, mari kita pulang"


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam membisu. Sebenarnya banyak hal yang ingin di utarakan Dinda. Perihal siapa orang itu? Tiba-tiba saja Dinda teringat tentang gosip Dirga penyuka sesama jenis..


Heee.. Tidak mungkin? Gumam Dinda


"Pak Dirga, Apa dia seorang pria?" Dinda tidak bisa membendung rasa penasarannya


"Mau saya kirimkan surat cinta?"


"Tidak" Dinda langsung merapatkan bibirnya


"Pak Dirga marah?" Dirga menggelengkan kepala


"Syukurlah" Sambung Dinda, lagi-lagi Dirga tersenyum tipis, sesekali ia menoleh melihat wanita yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Dia mencintai orang lain, jadi saya mundur" Kata Dirga memecahkan kesunyian. Dinda menangkap kejujuran dari wajah Dirga.


"Lalu apa yang terjadi?"


"Entahlah" Dinda hanya tersenyum mendengar jawaban Dirga dan mereka kembali terdiam


"Pak Dirga berhenti di depan sana aja" Tunjuk Dinda ke sebuah toko roti


"Kamu masih lapar?"


"Nggak, itu toko roti Mama"


Dirga ikut keluar bersama Dinda. Walaupun Dinda melarangnya, pria itu tetap memaksa. Dirga hanya menyapa Mama Dinda dan langsung berpamitan. Andre yang mengamati dari dalam senyum-senyum aneh


"Jadi kamu sudah melupakan Bayu?" Goda Andre


"Dia bos kamu?" Sambung Mama


"Sepertinya dia suka sama kamu Dek"


"Hee-Siapa? Pak Dirga? Tidak mungkin"


"Kenapa? Anak Mama cantik loh"


"Bukaan begitu Ma, dia penyuka sesama jenis"


"Heeeee" Respons kaget dari Mama dan Andre


Tak berselang lama sebuah mobil BMW bewarna hitam berhenti di depan toko Mama Dinda


"Selamat malam.. " Sapa Dinda dan terhenti ketika menyadari yang datang adalah Mama Bayu


"Bu Anggi saya ingin berbicara?"


"Soal Apa?"


"Anak kita"


"bukankah itu telah selesai di hari itu dan maaf toko kami mau tutup " Ucap Mama Dinda yang sudah terlalu kecewa dengan keluarga mereka. Keluarga Dinda sudah melepas semua ikatan di antara mereka.


Bersusah payah meyakinkan Dinda. Bahwa semua akan baik-baik saja. Terlalu mengecewakan untuk di maafkan?


Mereka yang ber'uang begitu mudah menutupi kejelekan anaknya.


Sedangkan keluarga Dinda bersusah payah. Menahan malu dari omongan para tetangga dan teman-teman mereka.

__ADS_1


Tak ada lagi pintu untuk menerima mereka. Yang usai biarlah hilang di makan waktu.


__ADS_2