
Robi Aditama mengetuk ujung penanya di meja, setelah ia tahu wanita yang menjadi orang ketiga dalam hubungan anaknya. Rencana bertahun-tahun hancur dalam waktu beberapa menit. Geram dan marah bercampur menjadi satu.
"Bawakan saya arsip ALuna Putri!" Ayu sekretaris pribadi Pak Robi yang baru masuk langsung melongo
"Maksud Bapak? Luna karyawan di Aditama Entertaiment?" Tatapan sinis Pak Robi membungkam mulut Ayu
"Segera Pak"
Tidak lama Ayu muncul di depannya. Pak Robi membuka map cokelat. Ternyata wanita itu sudah bekerja selama dua tahun di Aditama Group. Aditama Entertaiment adalah anak perusahaan sang ayah yang telah di ambil alih oleh Bayu. Mengingat usianya yang tak muda lagi, Pak Robi sudah membagikan beberapa perusahaan kepada anak-anaknya.
Lobby kantor begitu sangat rusuh. Setiap karyawan terlihat mondar mandir dengan membawa laporan beserta map yang berada di tangan mereka.
Bayu satu jam yang lalu mendapatkan pesan dari Papanya, langsung menuju keruangan yang berada di lantai paling atas.
"Ada apa Ay? Tumben Papa" Tanya Bayu ketika berpapasan dengan sekretaris Papanya
"Langsung aja masuk,aku juga bingung"
Bayu membuka pintu dan mendapati raut wajah marah. Belum saja masuk aura dingin sudah menggema di seluruh tubuhnya. Ruangan itu seperti tempat intograsi orang yang akan di hukum mati.
"Pecat wanita ini atau kamu yang mengundurkan diri" Pak Robi melempar map cokelat yang berisi data-data Luna
Bayu menyadari ini masih soal pernikahannya. " Tapi Pa tidak semudah itu" Bayu mencoba mencari pembelaan
"Oh begitu kamu lebih mengutamakan wanita itu, baiklah Kakak kamu lebih memiliki potensi besar untuk memajukan Aditama Entertaiment"
"Aku mundur kalau itu mau Papa!"
__ADS_1
"Bagus, sekalian keluar dari rumah dan bayar hutang-hutang kamu"
"Bukankah Papa sedikit keterlaluan, aku juga anak Papa" Rengek Bayu seperti anak-anak
"Dinda? Bagaimana dengan anak itu? Bukankah kamu juga keterlaluan. Jika ini menyangkut soal menyakiti seseorang Papa tidak pilih-pilih"
"Mau kamu anak saya atau bukan, saya akan bersikap tegas. Papa mempercayai kamu sebagai pemegang saham karena kamu akan menikah dengan wanita yang menurut Papa bisa menjaga kamu tetapi kepercayaan Papa kamu abaikan."
Bayu terdiam tak lama kemudian Pak Robi melemparkan surat pengunduran diri untuk Luna. Pak Robi tidak ingin anaknya semena-mena terhadap wanita. Rentetan kejadian itu terjadi dalam waktu kurang dari satu jam. Pernikahan hancur karena hal yang tidak mendasar.
"Surat Resign akan di kirim dari perusahaan ini"
Bayu terlonjak kaget, Bagaimana pun juga akar permasalahan ada pada dirinya. Kemarin Bayu menganggap masalah ini telah selesai. Namun, Pak Robi diam-diam masih mencari tahu. Bayu hanya terdiam meninggalkan kantor Papanya. Jika Pak Robi sudah mengatakan iya. Itu tidak bisa lagi di ganggu gugat.
Di lain sisi Dinda dan Rania melanjutkan makan siangnya. Dari kejauhan Dirga terus menatap gadis itu. Tak lama kemudian ia tersenyum. Mengundang perhatian Naysa
"Kenapa?"
Setelah menyelesaikan makannya Dinda dan Rania angkat kaki dari restoran itu. Begitu juga Dirga mengikuti langkah mereka ke arah parkir
"Ini dia kekasih saya" Ucap Dirga meracau seraya menggenggam tangan Dinda secara tiba-tiba
Selama beberapa menit Dinda dan Rania diam tanpa berkedip. Ucapan Dirga ingin membuat ia menyumpal mulut bosnya. Bagaimana bisa ia menyeretnya ke dalam masalah percintaan mereka
Sedangkan Rania masih melongo.
Ya!
__ADS_1
Gila, siapa yang tidak ingin di akui menjadi kekasihnya Dirga. Siapa yang tidak mau?
Wajah tampan, kaya, tubuhnya sempurna, terus apa lagi yang kurang?
Tunggu! Bukankah kurangnya ia penyuka sesama jenis. Akh tapi itu tidak menjadi masalah.
Apa ini hanya alibi saja, untuk menutupi keburukannya di depan wanita itu.
Belum sempat berbicara, Dirga kembali bersuara "Sayang, ini teman kecil yang aku ceritain ke kamu" Dinda dan Rania semakin kebingungan
"Dirga aku langsung pamit ya" Ucap Naysa mulai tidak nyaman
"Hmmm, kamu hati-hati" Tutur Dirga seraya melambaikan tangan
"Muka kalian pada biasa aja bisa nggak, ini namanya marketing dalam penolakan" Ucap Dirga melepas tangan Dinda
"Kenapa harus saya yang jadi kelinci percobaan Pak Dirga?"
"Iya? Kenapa nggak saya aja?" Pungkas Rania tidak peduli ia penyuka sesama jenis atau bukan
Dirga mencondongkan badannya lalu mendekatkan wajahnya ke arah wajah Dinda,sehingga mereka saling bertatapan "Atau kamu mau menjadi kekasih benaran?"
Dinda batuk-batuk lalu berdecak "Pak Dirga sudah gila!"
"Kenapa? Jantung kamu berdetak kencang? Seperti berteriak pria tampan ini akan menjadi kekasihku? Sungguh dunia ini adil?"
"Haaa!!" Dinda semakin kaget mendengar lelucon pria aneh itu.
__ADS_1
"Cepat! Jika kalian terlambat tiba di kantor surat cinta akan segera mendarat" Teriak Dirga memasuki mobilnya.
Wong edan omel Rania kesal melihat mereka di permainankan.