
Lift berhenti di lantai paling atas dari gedung itu, Dinda yang sedari tadi keluar menemui beberapa klien langsung saja melangkah cepat dan menduduki kursi sekretaris yang berada tepat di depan ruangan kerja Dirga.
Ia melirik ke arah pintu beberapa kali sampai memutuskan untuk melihat ke dalam.
"Tolong di biasakan untuk berkata jujur" Ucap Dirga dengan raut wajah tidak bisa di jelaskan, sedangkan matanya masih terfokus menatap layar laptop yang berada di hadapannya
Dinda yang sudah mengerti alasan dari ucapan Dirga, langsung saja berdiri dan menatap ke arah kekasihnya itu, namun ia masih belum berani untuk bertanya.
"Apa kamu masih tidak mengetahui kesalahanmu?" Tanya Dirga, kemudian ia mengalihkan pandangannya menatap ke arah Dinda
"Aku tahu, pasti Bayu cerita yang aneh-aneh"
"Dinda mau kamu apa?" Tanya Dirga, kemudian ia bangkit dari kursi kebesaran miliknya, berjalan dan menyenderkan badannya kemeja sebagai tumpuan untuknya bersandar
Dinda masih memilih untuk diam
"Diluar apapun itu kamu harus bersikap profesional sebagai sekretaris"
"Lalu kenapa kamu tidak bisa untuk bersikap profesional sebagai presdir?"
"Kamu pasti menolak kerja sama itu, tolong pikirkan resikonya"
Dirga tersenyum mendengar ucapan kekasihnya "Kamu tidak perlu khawatir, dan satu lagi mau kamu karyawanku atau kekasihku kamu bukan untuk di jadikan jaminan agar kita bisa mendapatkan keuntungan, itu salah besar"
"Pak Dirga tolong, aku juga nggak bakal mau menerima tawarannya"
"Tetapi dia akan merasa menang dan membuat kamu tidak aman" Ia menatap ke arah Dinda dengan tatapan dalam
__ADS_1
"Dinda hari ini aku begitu kesal, entah karena aku menemui orang di masa lalumu atau karena aku terlalu takut kehilanganmu lagi" Ucapan itu membuat Dinda kembali tertegun, ia berjalan beberapa langkah lalu memeluk pria yang selalu menjaganya
"Terimakasih untuk apapun itu, aku tidak akan mengecewakan kamu lagi"
"Aku pernah berjanji tidak akan meninggalkan kamu, jadi kamu tidak perlu takut" Mendengar ucapan Dinda, Lelaki itu semakin erat memeluk tubuh kekasihnya.
Dinda tahu kekecewaan Dirga saat ini bukan itu saja, melainkan ia gagal lagi dalam proyeknya. Dan Dinda akan menyaksikan kembali dimana Dirga harus bekerja lebih ekstra lagi demi menyelamatkan hak karyawan dan menutupi kerugian perusahaannya.
Tiba-tiba pintu di buka secara kasar, Dirga dan Dinda sampai tersontak kaget lalu melihat ke arah pintu yang baru saja di banting oleh seseorang yang sangat di kenal di perusahaan itu.
Pak Malik datang dengan emosi berapi-api, ia mengetahui kontrak yang di kerjakan putra sulungnya tidak berjalan dengan mulus.
Perhatian Pak Malik teralihkan kepada mereka berdua,
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Pak Malik menurunkan nada suaranya
"Dia kekasihmu? Kerja bagus Dirga! Secepatnya jadikan dia menantu Mamamu" Ucap Pak Malik begitu bersemangat
Kemudian lelaki paruh baya itu tersenyum lebar, ia melupakan emosinya begitu mengetahui anaknya masih menyukai seorang wanita.
"Lupakan proyekmu yang gagal, Papa akan membantu semua kerugiannya"
"Pa tenang dulu" Ucap Dirga sembari menyuruh Papanya untuk duduk
"Kamu menyukai anak saya?" Tanya Pak Malik mendekati Dinda yang masih menundukkan kepala menahan gejolak malu di hatinya
"Dengarkan, anak saya sedikit lambat jika berurusan dengan seorang wanita tetapi jika soal mencintai dengan tulus tidak usah kamu ragukan lagi, jika nanti kamu disakiti saya yang akan membunuh dia pertama sekali" Pak Malik tersenyum menatap Dinda, meyakinkan gadis itu bahwa mereka sudah di restui.
__ADS_1
Di sisi lain, Bayu Aditama sedang di interogasi oleh Pak Robi Aditama. Orang tuanya sendiri. Pak Robi merasa benar-benar tidak ada yang berubah dari anaknya. Masih suka membuat onar, kesempatan yang selalu di berikan tidak pernah ia hargai.
Zayn Aditama mencoba membujuk Papanya kembali untuk memberikan kesempatan kepada adiknya
"Kamu akan Papa pindahkan keluar kota mulai minggu depan" Ucap Pak Robi
"Bayu silahkan memohon dan minta maaf sama Papa" Suruh Zayn kepada adiknya yang hanya diam membisu
"Anak perusahaan kita yang berada di kalimantan sedang ada problem kamu akan Papa kirim kesana"
"Pa yang itu sudah di handle oleh Om Dito" Ucap Zayn
"Iya, biarkan dia belajar dari Om Dito" Om Dito adalah adik dari Pak Robi sendiri, ia memiliki watak yang keras melebihi lelaki itu
Pak Robi tidak ada pilihan selain mengirim Bayu kesana, ia ingin anaknya belajar untuk lebih menghargai orang lain dan lebih bertanggung jawab dalam bekerja. Bayu hanya mengangguk setuju, kali ini ia juga ingin pindah keluar kota untuk melupakan semua kenangannya bersama Dinda.
Karyawan Alkee grup kembali ke mode serius, dan sesuai instruksi Dirga, semua karyawan di wajibkan untuk lembur, tidak ada yang membantah demi keamanan bersama.
Memasuki pukul tujuh malam satu persatu karyawan mulai meninggalkan kubikel Mereka masing-masing.
Dinda menoleh sekilas dan memberikan seulas senyuman pada sosok yang saat ini masih sibuk dengan laptopnya. Kemudian Dirga mengalihkan pandangannya menatap gadis yang sudah menggenggam tasnya.
"Sayang bagaimana kalau kita tidur disini aja" Goda Dirga sembari memejamkan kedua matanya
"Kamu mau di suntik mati sama Papaku?"
"Kenapa begitu?"
__ADS_1
"Menculik putri kesayangannya" Dirga tertawa lepas, Lalu meninggalkan meja kerjanya.