Dirgantara Malik Alkeenan

Dirgantara Malik Alkeenan
T I G A B E L A S


__ADS_3

"Oh wanita itu... Tunggu?"


"Bukankah itu saya?" Tanya Dinda melongo


Kenapa dari sekian banyak wanita yang mengaguminya. Mulai dari anak pengusaha, artis, model dan karyawan yang berparas cantik di perusahaan. Kenapa harus saya? WHY? Definisi wanita biasa-biasa saja, wanita yang banyak kurangnya. Dan wanita yang di sakiti di hari pernikahannya.


Kenapa?


Tidak masuk akal!


Dinda tersenyum tipis untuk menyadarkan diri.


"Pak Dirga mencoba menghibur sayakan?" Tanya Dinda memastikan kembali


"Dinda..." Lelaki itu menatap Dinda sangat dalam. Di matanya tidak ada kebohongan, tetapi Dinda tidak ingin melibatkan siapa pun untuk menyembuhkan lukanya, tidak ada orang baru.


Di hatinya pintu terbuka lebar, tetapi Kepingan demi kepingan terlalu berserakan untuk di masuki. Genangan air mata belum mengering. Lukanya terlalu menganga dimana-mana. Terlalu sakit untuk percaya kembali.


"Pak Dirga masih ingat ketika mengatakan apa jantung kamu berdebar..


Ya untuak menit ini.."


"Tapi aku tidak mau mempercayai siapa pun lagi"


"Lukaku belum sembuh"


"Aku tidak tahu kapan itu di mulai tetapi aku menyukaimu, mencintaimu. Lebih dari yang kamu tahu" Lagi-lagi Dinda terdiam ketika Dirga memotong pembicaraannya.


Dinda menarik nafas lalu berkata "Apapun tindakanmu, jawabanku tetap sama, aku tidak berniat menjalin hubungan lagi"


"Kenapa? Kamu akan membenci semua laki-laki hanya karena satu orang yang menyakitimu?"


Dinda terdiam


"berkencanlah denganku, lalu tinggalkan aku jika kamu tidak menyukaiku nanti"

__ADS_1


"Aku tidak sempat berkencan, aku tidak ingin mempercayai siapapun! Jadi hentikan Pak Dirga"


"Akan aku tunggu, akan aku tunggu hingga kamu sempat dan bisa mempercayai siapapun lagi!"


"Jangan menunggu!"


Mendengar itu, Dirga berkata dengan meninggikan nada suaranya "Aku ingin menunggu, ingin menunggu! Apa itu juga tidak boleh?"


"Apakah aku orang yang bahkan tidak mau kamu pikirkan? Begitukah?"


Dinda hanya terdiam


"Baiklah aku mengerti, akan aku hentikan, aku akan berhenti menyukai mu" Tutur Dirga.


Dinda terdiam cukup lama, bingung, tidak percaya apa yang di dengarnya "Aku percaya bahwa akan ada wanita yang lebih baik dari aku Pak"


"Aku minta maaf aku tidak bisa untuk semua itu"


Dirga diam membisu. Jawaban dari penantiannya sudah terjawab, butuh beberapa tahun ia menyembunyikan perasaannya. Menyukai wanita itu setiap hari. Menjaga dari kejauhan. Dan butuh keberanian untuk mengungkapkannya. Namun, dalam hitungan detik cintanya di tolak. Bahkan yang namanya kesempatan tidak ada.


Sampai di rumah Dinda melihat langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Tanpa di sadari air mata menetes dari matanya. Ia membekap mulut dengan tangan untuk menahan suara isakan yang keluar dari bibir. Ia tidak ingin keluarga mendengarnya. Dinda tidak mengerti alasan ia menangis untuk apa.


Entah karena ucapan Bayu yang kembali menyakitinya


Atau karena ia mendengar ungkapan dari Dirga yang secara tiba-tiba lalu ia menolak begitu saja.


Dan seharusnya hari itu aku tidak melepaskannya.


Minggu pagi Dinda menemani Mama ke pusat perbelanjaan. Dari kemarin Bu Anggi menyadari putrinya banyak diam dan melamun. Setiap di tanya Dinda selalu menjawab tidak apa.


"Ma bagaimana kalau ada lelaki lain yang mencintai Dinda?"


"Ikutin kata hati, kalau yakin dia baik dan tulus dengan kita. Kenapa tidak mencoba"


"Tapi Ma..."

__ADS_1


"Luka di masa lalu pasti ada, tetapi mau sampai kapan berlarut-larut"


"Kenapa? Ada yang menyukai anak Mama?"


"Tidak!" Ucap Dinda langsung mendorong troli belanjaan Mamanya


Jika kamu tidak menyukai hari senin, berarti kamu belum menyukai pekerjaan mu. Tetapi ini bukan tentang pekerjaan. Dinda bingung jika bertemu dengan Dirga. Sikap apa yang harus di tunjukkan. Canggung sudah pasti.


Dinda melangkahkan kakinya ke Lobby kantor. Tak lama ia ikut berdesakan dengan karyawan yang lain memasuki lift. Seperti senin biasanya. Beberapa orang dari tim manajemen sudah bermunculan satu persatu.


Jam kerja pun di mulai, setiap karyawan sibuk di depan monitor mereka. Tak lama kemudian Radit masuk bersama seorang wanita. Ya! Dinda dan Rania pernah melihat wanita itu. Naysa. Terlihat membawa beberapa berkas dan tas kecil.


Radit menghela nafas "Rekan baru kalian"


Yang lain mulai bertanya-tanya. Tim manajemen sudah cukup orang. Bahkan dari awal, tim manajemen cuman beranggotakan sepuluh orang.


"Pertanyaan kalian akan terjawab"


Entah kenapa perasaan Dinda semakin tidak enak. Apa perihal ia menolak Dirga sehingga talentanya di abaikan begitu saja.


"Hari ini dan seterusnya, kamu, Dinda akan di pindahkan ke tim perencanaan di lantai dasar"


Keributan mulai terjadi. Bagi Dinda ini sebuah bencana. Ternyata benar, Dirga balas dendam, pria itu tidak ingin lagi melihat wajahnya. "Kenapa harus Dinda, kamukan tahu disana kandang harimau" Bela Rania tidak ingin Dinda pergi.


Tim perencanaan. Tim yang di ketuai oleh Bian Anggara. Pria berusia dua puluh tujuh tahun. Terkenal suka menindas karyawan. Apalagi anggota baru.


Andai kalian tahu.


Kotak saran pengaduan di perusahaan itu, semua berisi keluh kesah terhadap dirinya.


Tetapi dia adalah karyawan kesayangan Pak Malik karena kinerjanya tidak di ragukan lagi.


"Kalau kalian mau protes, langsung kepada Pak Dirga" Ucap Radit seakan kebingungan juga.


Pagi-pagi, tanpa hujan dan petir. Dirga menelfon Radit untuk memindahkan salah seorang dari tim manajemen ke tim perencanaan. Radit menanyakan alasannya dan Dirga Pun hanya diam membatu.

__ADS_1


"Hari ini kamu nggak usah ikut meeting, langsung saja bereskan berkas kamu dan langsung pindah" Tutur Radit yang merasa iba melihat raut wajah sedih Dinda.


__ADS_2