
Setelah berdebat dengan Bian pada akhirnya Dinda hengkang dari tim perencanaan.
Sebelum ke ruangan Dirga.
Dinda merapikan kemeja bewarna biru muda lengan panjang yang ia masukan ke dalam rok spam selututnya, tak lupa jemarinya juka ikut menyibak rambut yang di gerai bebas.
Baru berjalan beberapa langkah Dinda kembali berhenti seraya berpikir sejenak Ada apa Dirga menyuruh ke ruangannya?
Persekian menit Dinda tiba di lantai khusus CEO dan sekretarisnya, Dinda mengetuk pintu beberapa kali sebelum ia membukanya.
Seketika Dinda melihat pemandangan indah. Dirga sedang duduk di kursi kebesarannya. Sudah lama ia tidak melihat senyum di wajah pria itu. Tanpa sadar ia menelan ludah, sinar matahari dari balik jendela besar di belakangnya jatuh tepat di sisi wajah pria itu.
Membentuk bayangan yang meninggalkan garis-garis wajah tegas nan hampir sempurna, tatapan tajam di tambah bibir tipis yang membuat Dinda kagum kembali
Akh... Makhluk tampan yang selalu berseliweran di majalah bisnis karena kemampuannya
"Sepertinya kamu sudah tahu apa yang harus di kerjakan!" Kata Dirga perlahan tersontak membuat Dinda sadar
Kemudian mata bening Dinda membulat besar, heran dan bingung mendengar ucapan Bossnya. Tak lama kemudian wajah tampan itu kembali terangkat menatap Dinda, bibir berkedut sedikit "Pertama menggantikan tugas Radit"
"Kedua saya tidak suka orang lelet dan banyak tanya!" Sambungnya tanpa peduli raut wajah kebingungan Dinda
Apa dia mau balas dendam?? Batin Dinda bergejolak
"Tapi Pak..."
"Dan satu lagi tidak ada kata tapi" Potong Dirga sebelum Dinda memulai protesnya
Punggung Dirga menyandar ke kursinya lalu membolak-balik lembaran kertas berisi tugas hari ini
Entah kenapa melihat lembaran setebal itu membuat Dinda merasa kuduknya merinding. Ada sesuatu yang seperti sedang menunggu untuk menyiksanya. Firasatnya mengatakan berulang kali
"Dan siapa suruh kamu menolak saya!" Dirga bergumam pelan namun tetap terdengar oleh Dinda
__ADS_1
Tuuh kaaaan balas dendam??
Dirga kembali menyodorkan Tablet. Dan beberapa dari aplikasi itu begitu banyak kata Privacy, otak Dinda mendadak kembali buntu.
Tiba-tiba saja ia harus menjadi sekretaris, beban pekerjaan di tim perencanaan saja belum selesai. Ini di tambah beban baru lagi
Di sudut lain, tim manajemen terlihat tengah sibuk mengerjakan sebuah proyek tender
"Anggun kenapa kamu berdandan? Apa kamu memiliki kekasih disini, tentu tidakkan?" Tanya Delon melihat Anggun sibuk memoles wajahnya sedari tadi
"Berhenti mengamati dan menertawakan orang lain, urus saja hidupmu mengerti!" Balas menohoknya
"Tapi.."
"Diam, oh ya Radit kemana ya?" Tanya Anggun ketika Delon memperlihatkan draft quatation yang baru di cetaknya
Kening Delon kembali berkerut curiga "Tumben? Ada apa kamu sama dia? Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi di antara kalian?"
Anggun berusaha bersikap tenang sambil melayangkan senyum lalu ia menegakkan punggungnya. Melihat itu senyum Delon semakin melebar "Kamu menyukai Radit?"
Tiba-tiba Rania ikut tersenyum manis menambah kecurigaan Delon "Ran kamu tahu sesuatu?"
"Nggak tahu tuh!" Balas Rania tersenyum semakin manis seraya menekuri kertas-kertas di hadapannya
Dua hari yang lalu Anggun dan Radit sama-sama lembur di ruangan yang sama, hanya tinggal mereka berdua. Tepat jam tujuh malam di saat Anggun ingin hengkang dari kantor tiba-tiba Radit mencegatnya
"Anggun, aku tidak ingin bertele-tele!" Katanya, lalu matanya menatap tajam pada wanita itu
"Apa?" Membuat Anggun sedikit risih melihat tatapan pria ity
"Aku menyukaimu? Kamu mau berkencan denganku?"
Anggun terdiam kaget mendadak lidahnya menjadi kelu, pupil matanya kembali membesar, sejak kapan itu di mulai. Hari-hari pria itu selalu mengomelinya dan sekarang ia menyukainya. Omong kosong apa ini!
__ADS_1
"Akhh, kok bisa?" Tanyanya masih tidak percaya
Wajah tampan Radit terangkat ketika mendengar jawaban cuek
"Maksudnya, alasan kamu menyukai aku apa?"
"Dengarin aku, jika kamu menyukai seseorang maka kamu tidak butuh alasan untuk mencintainya, yang terpenting kamu nyaman dan aman saat bersamanya!"
Kepala Anggun miring, berusaha sadar atas apa yang di dengarnya. Aneh! Tapi ia juga tidak ada alasan untuk menolak Radit, sayang ajakan, pria setampan itu di lewatkan. Apa salahnya mencoba pikir Anggun dengan percaya diri.
Tanpa keraguan Anggun menjawab dengan anggukan meyakinkan sekali lagi "Iya, aku mau!" Seketika senyum Radit melebar
Dan setelah malam itu, yang membuat pikiran Anggun pelik, Radit tidak pernah menghubunginya sekali pun. Apa pria itu lupa sudah memiliki kekasih? Pacaran apa namanya?
"Keluar dari sini, hubungi Radit nanti ia akan menjelaskan detil pekerjaanmu" Suruh Dirga melihat Dinda diam membisu
Pekerjaan apa ini???
Dinda mengangguk dan hendak berbalik keluar dari ruangan itu sesegera mungkin
"Oh ya, saya lupa satu hal" Suara itu membuat kaki Dinda berhenti melangkah ia berbalik dengan wajah kembali senyum
"Lupakan kejadian waktu itu!"
"Ya Pak baiklah dan aku juga minta maaf, bagaimana orang sepertiku bisa membuat kesalahan besar yang seharusnya tidak aku lakukan!" Toh itu juga yang di inginkan Dinda, dan minta maaf adalah salah satu cara meredakan kecanggungan di antara mereka, ia mengangguk setuju
Bisakah aku terus di sampingnya jika tetap menajaga jarak. Gumam Dirga.
Setelah menelepon Radit dan mendengarkan penjelasan. Dinda melangkah masuk dengan beban berat sekretaris. Kakinya setengah lesu saat melewati pintu yang membuka secara otomatis.
Lirikan dari tim manajemen membuat ia kaget
"OMG siapa ini?" Tanya Aelin
__ADS_1
"Kamu kembali Din?" Sambung Rania tersenyum lebar
Namun ada satu orang yang melihat Dinda dengan tatapan tidak suka.