Dirgantara Malik Alkeenan

Dirgantara Malik Alkeenan
S E M B I L A N B E L A S


__ADS_3

Dirga keluar dari lift. Ia tampak begitu gagah dengan lengan kemeja yang di gulung sesiku dan satu kancing kemeja bagian atas sudah terbuka. Dirga datang ke kafe yang jaraknya tidak begitu jauh dari apartemennya.


Beberapa menit yang lalu Radit menghubungi lelaki itu untuk memberikan berkas yang di minta Dirga.


Dan sebelum pulang, Andre mengajak sang adik untuk mampir ke salah satu kafe tidak jauh dari tempat ia bekerja. Dan itu juga dekat dengan tempat tinggal Dirga.


Beberapa kali Andre membawa adiknya kesana, karena Dinda menyukai coffe yang mereka sajikan.


Andre memesan Dalgona Coffe yang membuat Dinda mengerling kegirangan.


Tadi sore, selepas dari kantor Dinda mengajak Andre untuk pergi ke swalayan membeli beberapa kebutuhannya.


Beberapa menit yang lalu juga, Dirga telah sampai ke tempat yang di pesan Radit. Setiap mereka bertemu yang di bahas hanya soal pekerjaan.


Radit mulai bosan, ia menyapu pandangannya ke seluruh penjuru kafe.


"Itu bukannya Dinda?" Tanya Radit menangkap wanita itu tengah duduk di paling sudut bersama seorang pria


"Pacar barunya kah?" Sambung Radit. Dirga yang menoleh sekilas langsung terdiam dan melanjutkan mengaduk minuman yang telah di pesan Radit sebelum ia datang


Andre memutar bola matanya ke arah pintu masuk. Tak jauh dari sana, ia juga melihat Dirga bersama seorang pria. Ia kembali tersenyum. Ketika mengingat ucapan Dinda yang mengatakan bahwa bosnya seorang gay.


"Ada apa" Tanya Dinda penasaran


"Itu bukannya bos kamu?" Dinda menoleh, mengikuti lirikan sang kakak


"Haa, Iya"

__ADS_1


"Dia benaran gay?" Tanya Andre tertawa geli. Dinda hanya mengangkat bahu. Ia tak menyadari keberadaan Radit, karena lelaki itu menggeser kursinya membelakangi Dinda


"Kamu menyukai Dinda?" Tanya Radit sontak membuat Dirga kaget dan kikuk sendiri


"Sejak Dinda masuk ke perusahaan, kamu tidak pernah lagi membahas wanita bahkan memakai model perempuan pun kamu enggan? Apa itu karena dia?" Dirga terdiam lalu menyeruput minumannya


Tak lama Dirga mendecap "Ya, tapi saya di tolak mentah-mentah" Lalu ia tertawa getir.


Mendengar pengakuan Dirga, Radit melongo tidak percaya. Apa yang salah? Pikirnya "Apa alasan itu juga kamu menyuruh ia pindah?" Dirga mengangguk karena tidak ada pilihan selain itu.


"Bedebah kamu Ga, saya kocar-kacir di tim manajemen" Keluh kesah Radit karena sejak kepindahan Dinda ia bekerja dua kali lebih keras


Dirga dan Radit sama-sama terdiam, tak lama kemudian Radit tertawa lepas. Ia menertawakan kehidupan percintaan Dirga. Secara fisik tidak ada yang kurang, dan perkara kekayaan tidak usah di ragukan lagi.


Dirga melotot menatap Radit, dan langsung si pria itu terdiam seraya bertanya "Ada apa?"


Radit menatap sekilas ke arah Dirga dan kembali menunjukkan senyuman aneh "Aku masih tidak percaya kau menyukai Dinda" Ujarnya sambil menyeruput kopi.


Dirga tersenyum receh, kemudian berkata "Hmmm, dari sekian banyaknya gadis yang menggoda"


"Makanya, kamu itu perlu belajar dari pawangnya, saya, sekali kedip mata langsung dapat wanita yang saya incar" Dirga hanya tertawa kecil mendengar bualan Radit


"Cool boleh bro tapi jangan sampai kebablasan juga"


Tak lama setelah memberikan wewejangan Radit berpamitan. Sepanjang perjalanan ia sibuk memikirkan bagaimana cara membuat Dinda menyukai Dirga. Lalu Pria itu tersenyum lebar di karenakan Dirga sudah mulai terbuka kembali soal wanita.


Radit menepikan mobil. Ia mendapati telepon dari adiknya.

__ADS_1


"Halo kak Radit" Bunyi suara wanita dari balik ponsel


"Kenapa Sa?"


"Mama penyakitnya kambuh lagi"


Radit adalah tulang punggung keluarganya. Ia tinggal bersama Mama dan Adik perempuannya. Tiga tahun yang lalu Papanya menghembuskan nafas terakhir karena penyakit jantung.


Dan sejak kepergian Papanya, Mamanya mulai sakit-sakitan. Radit menarik pedal gas, melajukan mobil ke rumah sakit biasa tempat Mamanya di rawat.


Dirga termenung sambil menatap layar ponsel. Ia membaca pesan dari Radit yang memberitahu bahwa Mamanya kembali di rawat, dan beberapa hari ke depan pria itu meminta cuti


Dirga turun dari mobil, namun baru dua langkah ponselnya kembali berdering Radit kembali mengirimkan pesan


"Minta Dinda untuk menggantikanku!'


Dirga menghela napas lalu menghubungi Radit untuk tidak perlu memikirkan hal itu


Waktu sibuk, setiap karyawan berjibaku di depan layar monitor mereka. Tak ada celah untuk tertawa.


Bian menghampiri kubikel Dinda, tak lama kemudian Dinda terdiam begitu Bian menyuruhnya ke ruangan presiden direktur


Wajahnya berubah menjadi murung, tatapannya sedikit sendu. Ia takut menemui Dirga setelah kejadian hari itu


"Tanpa alasan apapun silahkan temui Pak Dirga"


Dinda hanya menuruti apa kata atasan.

__ADS_1


__ADS_2