
Dinda merasa legowo atas kepindahannya dan tentu mereka akan jarang bertemu. Bagaimana pun juga ia telah menolak seseorang yang notabanenya tidak pernah di tolak oleh wanita lain.
Tetapi ini soal hati. Ia benar-benar tidak mencintai Dirga, sekeras apa pun! Masa lalu masih jadi pemenang mengisi hatinya. Kagum pasti ada. Namun, kembali lagi ini soal perasaan. Dinda tidak ingin menerima Dirga lalu melampiaskan kepada lelaki itu.
Sesuatu yang di paksakan, biasanya akan berakhir dengan sebuah kekecewaan, sekali lagi Dinda tidak ingin itu.
Dinda melangkah pergi setelah mengucapkan terimakasih kepada tim yang sudah bekerja sama selama dua tahun lamanya.
"Terimakasih ya guys, kita masih satu gedung kok kalian nggak usah sedih" Tutur Dinda
"Tetap saja itu tempat keramat Din, jarang orang mengunjungi tim itu jika tidak perlu-perlu amat" Keluh Anggun merasa iba
"Iya loh Din, biar pun kamu wanita aneh tetap saja kalau tidak ada kamu, kita bakalan sepi" Sambung Delon
Dinda tertawa lepas lalu berpamitan pergi meninggalkan ruangan yang mulai terasa sendu.
Dinda menatap ruangan di depannya dengan tatapan kosong. Masalah baru akan di mulai, rentetan perkerjaan akan bertambah. Rasanya ia tidak ingin melangkahkan kaki menemui orang-orang di dalam sana.
"Kamu tidak ingin masuk?" Dinda menoleh ke arah pintu yang terbuka, sosok lakk-laki yang tak lain adalah Bian Anggara
Dinda tersenyum lalu mengangguk cepat sebagai jawaban, ia juga menghela napas dalam-dalam untuk mengusir gelisah yang tiba-tiba melanda
Ayo Dinda, kamu pun tidak jauh lebih gila dari pada Bian. Dinda menyemangati diri sembari melangkah berani
"Rekan baru kalian, pengganti Mawar" Ucap Bian memperkenalkan Dinda
Dinda mengambil posisi duduk di meja kosong. Ruangan minimalis tertata rapi. Beranggotakan hanya delapan orang termasuk dirinya. Anehnya, mereka tidak begitu tertarik dengan kedatangan Dinda. Mereka hanya fokus ke monitor di depan. Wajah mereka terlihat serius. Tidak ada canda dan tawa seperti di tim manajemen.
"Kerjain kerjaan kamu" Suruh Bian. Dinda langsung melongo. Ia tidak mengerti sama sekali. Apa yang harus ia kerjakan.
"Tapi Pak saya belum..."
"Sarah Training dia, tidak lebih dari dua hari" wanita berambut ikal, berkacamata bulat itu langsung mengangguk dan mendekat ke arah Dinda
"Apa tidak ada penyambutan untuk rekan baru?" Tanya Dinda sambil berbisik
__ADS_1
"Jangan mimpi" Jawab datar Sarah
Sedangkan di tim Manajemen, meeting sedang berlangsung. Tatapan Rania dan Anggun seperti ingin menerkam Dirga. Andai dia bukan bosnya sudah pasti mereka berdua akan mengeluarkan sumpah serapah kepada lelaki itu. Mereka berdua merasa iba dengan Dinda. Baru selesai terguncang dari masalah pernikahan kini di hadapakn sama pekerjaan yang menyebalkan.
"Berkas untuk pengiklan di perusahaan Aditama mana?" Tanya Dirga
"Sama Dinda" Jawab ketus Rania
"Laporan dari majalah ZYN?"
"Masih sama Dinda juga" Jawab Anggun.
Dirga melemparkan map biru secara kasar. Setiap pertanyaan selalu di jawab Dinda yang mengerjakannya. Raut wajahnya mulai berubah, amarah tidak terbendung lagi. Mood Dirga dari kemarin sudah uring-uringan, hari ini memuncak keluar
"Apa yang bisa kalian kerjakan? Kenapa harus sama dia?"
"Kalian nggak punya mulut untuk meminta beberapa file dari dia?"
"Akhir-akhir ini kalian saya lihat banyak becandanya, ini perusahaan bukan wahana becanda kalian. Jika kalian tidak menyukai pekerjaan silahkan mengundurkan diri!"
"Waah, kenapa dia yang marah?" Tanya Raisa begitu kesal, yang lain hanya menghela napas kasar
Setelah kejadian kemarin
Dirga menghabiskan waktunya beberapa jam di taman itu, menyadarkan diri bahwa ia baru saja di tolak. Tak berapa lama ponselnya berdering tertulis Naysa di layar ponsel.
"Kamu dimana?" Tanya wanita itu
Sebenarnya Naysa sudah melihat Dirga tengah duduk seorang diri di taman yang tak jauh dari kantor Papanya.
"Di taman anggrek" Balas Dirga
Tak sampai beberapa menit Naysa menghampiri Dirga. Ia tersenyum melihat wajah lesu teman kecilnya dulu.
"Kantor Papa dekat sini loh"
__ADS_1
"Oh Ya"
"Kenapa? Kamu ada masalah?"
"Kenapa seseorang seenaknya saja, semua belum di mulai tapi sudah di putuskan"
"Maksud kamu?" Tanya Naysa sedikit kebingungan
"Tidak Ada, lupakan!"
"Kekasih kamu mana? Kalian bertengkar?"
Dirga terdiam, memandangi Naysa beberapa detik.
"Kekasih?" Ucap pria itu tertawa geli
"Hmmm, yang semalam itu"
"Dia wanita yang beberapa minggu lalu gagal menikah, dan saya hanya mencoba untuk menggodanya"
"Tunggu? Jadi maksud kamu?" Tanya Naysa seperti ada kelegaan.
Dirga mengangguk "Kekasih? Tidak ada, itu semua hanya untuk menyenangkan hati Mama"
"Dirga apa jangan-jangan?" Naysa menghentikan ucapannya. Ia menangkap bahwa Dirga menyukai wanita itu.
"Lupakan"
"Baik aku akan lupakan, tapi aku boleh minta tolong sebagai teman?"
"Apa?" Tanya Dirga
"Bekerja di perusahaan kamu, sepertinya Papa akan menutup usahanya, semua tak berjalan lancar" Dirga mengangguk bagaimana pun juga Naysa adalah teman kecilnya
"Kapanpun kamu mau silahkan datang" Suruh Dirga.
__ADS_1
Dan hari itu juga, Dirga terbesit untuk memindahkan Dinda. Setidaknya ia akan jarang bertemu. Hatinya benar-benar kacau. Jika terus bertemu perasaan itu semakin dalam. Dirga takut ia akan lepas kendali. Dan Dirga masih bisa memantau Dinda walaupun itu tidak sesering kemarin.