Dirgantara Malik Alkeenan

Dirgantara Malik Alkeenan
T U J U H


__ADS_3

Wanita itu cukup lama terdiam. Mengamati seseorang yang ada di sampingnya. Bertanya-tanya dari mana ia muncul?


Dan begitu banyak pertanyaan yang membuat ia semakin bingung.


Tetapi dari banyaknya pertanyaan terimakasih kamu sudah ada buat aku lagi. Gumam Dinda.


Namun, Dinda langsung sadar diri ia mengangguk dan berjalan berdampingan. Ada rasa lega dan juga rasa aman.


Dinda membuka suaranya tanpa menghentikan langkah


"Aku lega dan asal Pak Dirga tahu ia adalah.... "


"Hmmmm, saya sudah mendengar. Kamu sudah menduduki tranding topik di perusahaan"


Langkah Dinda terhenti mendengar ucapan tak terduga dari seorang Dirga.


"Cepat!" Panggil Dirga menyembunyikan senyuman


"Iya"


Perlahan raut wajah Bayu mulai berubah ketika menyadari Dirga datang bersama Dinda. Kedatangan dua orang itu cukup mengundang banyak pertanyaan dari Luna dan Bayu.


Ya!


Bayu Tahu Dinda bekerja di perusahaan Alkee Group, sering kali ia menjemput Dinda. Tetapi ia tak pernah tahu anak Pak Malik adalah Dirgantara. Seseorang yang dulu ia kenal.


"Selamat siang Pak Dirga" Sapa Luna


Tanpa basa-basi Dirga langsung mengambil posisi duduk seraya tersenyum kecil. Tak lupa Luna menoleh ke arah Dinda


"Dirgantara?"


"Astaga! Ini saya Bayu teman seangkatan kamu dulu." Ucap Bayu begitu antusias


"Aaaa, sedikit lupa-lupa ingat" Balas Dirga berpura-pura tidak yakin

__ADS_1


Dinda menghela nafas dan bergerak mendekati Dirga seraya berbisik " Hati-hati dia lelaki berengsek Pak" Dirga yang mendengar itu memutar bola matanya menanggapi gerutuan Dinda.


Tanpa menunggu lama, Dinda menyodorkan map bewarna biru ke arah Bayu. Bayu membuka Map di hadapannya. Alisnya mengerut ketika melihat perjanjian kerja antar mereka. Ada secercah tulisan aneh yang terselip disana, tapi ia yakin itu ulah Dinda.


Setelah selesai membahas soal pekerjaan, mereka melanjutkan makan siang bersama


"Kamu kenal Dirga dari kapan?" Bayu menatap lekat-lekat gadis yang sudah ia kenali sejak mereka masih duduk di bangku SMA


"Itu bukan urusanmu! Kenapa ikut campur" Pria itu menelan kembali kalimat yang hendak ia lontarkan. Ia malas berdebat dengan Dinda saat ini


"Apa kabar Din?" Tanya Luna


"Tadinya baik sih tetapi setelah bertemu kalian langsung menjadi Kabar buruk!"


"Bukankah kamu sedikit keterlaluan?" Tanya Bayu


"Kenapa? Kamu tidak senang?" Pungkas Dinda seraya memutar garpu di piringnya


Tak lama kemudian Dinda langsung berdiri dengan beberapa berkas di tangannya.


Dirga hanya membalas dengan anggukan


Jam makan siang, Restaurant itu berangsur ramai. Bayu dan Dirga memanfaatkan waktu untuk bercerita perihal masa dulu dan sekarang.


Dirga mulai bosan. Ia menghabiskan minumannya dengan sekali tegukan. Dirga tidak peduli ia sopan atau tidak saat ini lagi pula ia datang ingin membantu Dinda. Bukan mau terlibat langsung oleh Bayu


"Kalau begitu saya permisi" Ucap Dirga


"Dirga tolong jaga calon istri saya, ini permintaan sebagai teman" Bayu mengucapkan itu ketika ia mengingat Anjar pernah mengatakan bahwa Dirga sempat menanyakan Dinda.


Bola mata Dirga langsung berputar kembali tidak percaya dengan apa yang di dengarnya


"Calon istri? Konyol! " Gumam Dirga berlalu meninggalkan mereka


Dinda mengerang frustasi, telapak tangannya mengcekram kuat, jika saja pikirannya tidak waras. Mungkin Dinda sudah membalikkan meja, melemparkan kuah sop panas ke wajah Bayu dan Luna.

__ADS_1


Dasar wanita ******


Omelnya seorang diri.


Menghela nafas Dinda mengarahkan mobil ke arah perkiraan perusahaan.


Begitu sampai di lobby, Dinda menggelengkan kepala tak habis pikir dengan Radit yang menyuruh ia menemui dua orang bedebah itu.


"Ooiii Radit?" Panggil Dinda ketika melihat pria itu menggenggam se-cup kopi


"Ooiii? Kamu mulai kurang ajar ya....."


"Akan kubunuh kau suatu hari nanti" Ucap Dinda berlalu pergi


"Ada apa dengan wanita gila itu" Gumam Radit kebingungan


"Rencana properti untuk hotel HW sudah sesuai. Baik tim atau pemiliknya sudah menyetujui. Saya dan tim pemasaran sudah mengestimasikan harganya. Dan jika kamu menyetujuinya bisa menandatangani sekarang"


"Pengiriman kapan?"


"Kami akan mengirim barangnya minggu depan" Dirga menyetujuinya dan bola matanya bergerak melihat Radit seperti tidak nyaman sedari tadi


"Apa Lagi?"


"Kamu tahu gadis gila di perusahaan ini?"


"Siapa?"


"Dinda,wanita yang gagal menikah itu! Katanya dia akan membunuhku" Dirga terkekeh geli mendengarnya. Radit hanya mengangkat satu alis merasa aura menyeramkan mulai menyerangnya. Di tambah Dinda masih terlihat frustrasi karena gagal menikah, dan ia selalu mengejek gadis yang terkenal aneh di kalangan Tim manajemen.


"Dirga nanti malam saya numpang menginap...." Pinta Radit seakan-akan Dinda akan mendatanginya. Mengingat wajah serius yang di lontarkan Dinda beberapa jam yang lalu.


"Saya yang akan membunuh kamu duluan! " Pungkas Dirga menahan kegeraman atas kelakuan sekretarisnya itu


"Lihatlah, saya begitu merinding" Ucap Radit memperlihatkan bulu tangannya berdiri

__ADS_1


"KELUAR!" Teriak Dirga.


__ADS_2