
Naysa sudah menduga siapa wanita yang diam-diam menatapnya dari kejauhan. Naysa berjalan cepat untuk menemuinya, kemudian Naysa tersenyum sambil menatap gadis itu dari kepala hingga ujung kaki. Naysa tidak mempedulikan orang-orang yang melewatinya.
Tak berapa lama gadis itu memilih untuk pergi, mengabaikan tatapan Naysa
"Akh, hidup ini terasa adil" Naysa tertawa melihat musuh dalam selimut
"Ternyata kucing liar ini masih belum bisa mengeluarkan suara?" Sambung Naysa
Gadis itu mulai tidak peduli, bahkan ia nampak biasa saja. Menatap layar ponselnya dan memasang earphone di kedua telinganya.
Naysa menarik kabel earphone hingga putus
"Anda kenapa?" Ucapnya seraya membentak tak lama sebuah tamparan mendarat di pipinya. Orang-orang yang berada di kafe perusahaan mulai melirik ke arah mereka
"Perempuan tidak tahu malu, saya sudah menyuruh kamu menghilang dari hadapan saya" Sekali lagi tamparan mendarat di pipi kiri dengan tatapan sengit
"Saya mengira kamu teman yang baik, tapi perbuatanmu!"
Gadis itu tersenyum tanpa rasa bersalah "Kamu menyuruhku mengakui perbuatanku, padahal kamu yang tidak bisa menjaganya"
"Aku yang bodoh melindungi kalian berdua, lalu aku pergi salahnya dimana?"
"Salahnya saya pernah mengenal wanita busuk sepertimu dan mempertahankan laki-laki sialan demi wanita ****** sepertimu!"
"Saya sudah pernah bilang, menghilang dari pandanganku atau saya akan membunuhmu!"
Beberapa tahun yang lalu, sebelum Naysa memutuskan untuk tinggal di jerman. Ia memiliki kekasih yang sangat di cintainya sampai pada akhirnya pria itu menghianatinya. Ia tetap tersenyum di saat ia kesakitan demi mempertahankan pria itu.
Dia sudah cukup menderita ketika mengetahui kekasihnya menjalin hubungan dengan wanita yang di kenalinya
Di hari ulang tahunnya, lelaki itu kembali menyakitinya "Itu sebabnya aku harus berhenti sebelum ini terlalu jauh"
Naysa masih berpura-pura untuk tidak peduli
"Berhentilah bersikap seperti kamu baik-baik saja, kamu tidak perlu pengertian dan mengerti pecundang seperti diriku"
"Kenapa kamu tidak melepaskanku, disaat kamu mengetahui semuanya"
"Sayang!" Ucap Naysa begitu lembut
__ADS_1
"Ini bukan salahmu, aku melakukan sesuatu yang tidak bisa di maafkan, aku berbuat salah kepadamu"
"Aku mengerti, tetapi hal itu sudah terjadi, kita tidak bisa memutar kembali waktunya. Kita hanya perlu memperbaikinya" Kata Naysa menggenggam tangan pria di depannya
"Maafin aku, tapi aku tidak mencintai kamu lagi, mari kita putus!"
Naysa mulai meneteskan air mata, bibirnya berkedut beberapa kali "Tidak, aku membutuhkanmu"
Namun lelaki itu tidak mempedulikannya. Ia meninggalkan Naysa seorang diri. Hingga Naysa tahu orang yang merebut kekasihnya adalah temannya sendiri. Yaitu Aluna putri dan setelah beberapa tahun gadis itu muncul lagi di hadapannya. Membuat Naysa semakin muak.
"Wah luar biasa,wah,aku tidak tahu harus memulai darimana?" Kata Aelin ketika ia sampai di ruangannya
"Gosip terus" Pungkas Delon
"Apa, seseru itukah?" Tanya Rania penasaran, Aelin mengangguk serius
"Naysa lagi ribut sama seorang karyawan di perusahaan ini"
"Hah!" Respons mereka semua
"Namanya kalau nggak salah Luna dan kalian tahu dia merebut kekasih Naysa" Ucap Aelin berapi-api. Dinda ikut menyimak lalu mengalihkan pandangan ke arah Naysa yang sudah berdiri di belakang Aelin
Menyadarinya Aelin menutup mulut, dan berlari ke kubikelnya. Ruangan itu berubah menjadi canggung. Naysa hanya terdiam, mengambil tasnya dan pergi meninggalkan mereka semua
"Yang aku bilang fakta bukan gosip semata!"
Dinda menutup laptopnya, ia kembali ke ruangan Dirga, roal gorden di ruangan itu tertutup semua. Dinda membuka pintu secara perlahan dan menyaksikan pemandangan Naysa dan Dirga kembali berpelukan.
Dinda tersenyum sumbing seraya menutup kembali pintu itu.
Setengah jam kemudian
"Jika perusahaan kalian seperti ini terus, saya akan memotong anggaran dari penjualannya dan menyudahi kerja sama kita" Ucap klien pria separuh baya memarahi Dinda
"Saya sangat setuju, tapi tujuan utama perusahaan kami untuk menciptakan hal yang baru dan ingin berbagi keuntungan bersama kalian"
"Dan sekarang sedang tren desain yang unik dan mewah, dan tentuya semua orang mau memiliki sesuatu yang tidak di miliki orang lain, termasuk perusahaan Bapak juga mau seperti itu bukan"
"Iya, saya sedikit setuju"
__ADS_1
Berbincang cukup lama, akhirnya mereka menyudahinya. Dinda dan klien itu keluar bersama, dan sama-sama berhenti melangkah ketika melihat hujan sudah mulai turun.
"Akh saya meninggalkan mobil di kantor" Ucap pria itu memberi kode kepada Dinda
"Saya akan segera membeli payung" Ucap Dinda mulai berlari ke sebuah supermarket di dekat sana
Dinda menutupi kepalanya dengan tas dan baru beberapa langkah, seseorang memayunginya begitu saja "Kenapa Pak Dirga ada disini" Dinda kaget melihat bossnya ada di dekatnya
"Ini sudah larut malam dan perkiraan cuaca akan turun hujan tiba-tiba"
"Siapa dia?" Tanya klien itu ikut berteduh di payung yang di genggam Dirga
"Aaa,, dia adalah.."
Dirga langsung memotong pembicaraan Dinda
"Saya hanya sopir di kantor"
Dinda kembali melongo "Apa?"
"Ayo pergi" Ucapnya, lalu klien itu ikut bersama mereka menuju tempat parkir mobil
Dinda masih di hantui kebingungan, sedangkan klien itu kembali tersenyum "Kalian tidak perlu melakukan ini" Ucapnya
Dirga membukakan pintu "Tidak, Dinda kamu boleh masuk" Dirga menatap mereka bergantian, kemudian memberikan payung ke pria itu "Kamu bisa ambil ini"
"Kamu hanya memberiku payung bukan tumpangan?"
"Kamu mau kupanggil taksi?"
"Tidak perlu, kantor kami di dekat sini"
"Kalau begitu hati-hati"
"Astaga! Apa tidak masalah melakukan ini" Tanya Dinda ketika mereka sudah meninggalkan tempat itu
"Kupikir rapatmu sudah selesai"
"Ya, tapi aku tidak pantas di perlakukan seperti ini"
__ADS_1
"Kamu bertemu dia menggantikan tugas saya, kamu pantas di perlakukan seperti ini karena menjalankan tugas" Dirga lalu tersenyum menatap wanita di sampingnya yang sudah bekerja keras
Tak lupa tangan Dirga membelai lembut poni Dinda "Kerja bagus" Sambungnya kembali tersenyum.