Dirgantara Malik Alkeenan

Dirgantara Malik Alkeenan
D U A B E L A S


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya, Rania lagi-lagi tertawa geli mengingat kejadian di restoran tadi. Masih segar di ingatannya bahwa seorang Dirga bertingkah konyol. Orang yang pembawaannya selalu dingin tiba-tiba berubah menjadi aneh. Namun, itu sangatlah menyenangkan dan menjadi hal langka untuk di lihat.


"Ada Apa?" Tanya Anggun penasaran


Rania menggigit jari jemarinya untuk menghentikan ucapannya, karena mendapatkan pelototan dari Dinda. Sebelum kembali ke kantor Dinda meminta Rania untuk tidak heboh. Padahal bagi Rania ini adalah gosip empuk yang akan membuat bibir karyawan berdecak tidak percaya, sangat di sayangkan gumam Rania.


"Apa kamu tidak punya pekerjaan?" Tanya Radit menggertakan gigi melihat Rania hanya bermain-main sedari tadi,


Rania menelan ludah, kesal menatap Radit "Punya malahan banyak banget!"


Memasuki pukul lima Dinda mematikan komputer. Proyek baru yang mereka kerjakan benar-benar menumpuk. Dinda memegang bahunya yang terasa seperti habis di gebukin oleh beberapa orang. Ia benar-benar lelah. Dan untung saja besok adalah hari libur.


#


Dinda berdiri di bahu jalan tanpa mempedulikan kebisingan di sekitarnya. Mata menatap kosong, rambut panjangnya terlihat sedikit berantakan. Wajah di liputi kebingungan. Ia menatap jalanan di iringi suara derai kendaraan berlalu lalang. Membuat pikiran Dinda kembali membayangkan kejadian satu jam yang lalu.


Satu jam sebelum kejadian..


Dinda tersenyum menyebalkan ketika melihat sosok yang tak ingin di lihatnya. Ya! Bayu Aditama? Wajah tampannya tak berhasil lagi meluluhkan hati Dinda.


"Aku perlu bicara"


Dinda menghela napas "Tak ada yang perlu di bicarakan"


Dirga sedari siang masih berkeluyuran diluar. Terlihat baru saja kembali dengan mobilnya. Lagi-lagi ia menyaksikan Dinda sedang bersama Bayu. Bayu memaksa Dinda untuk ikut dengannya. Perdebatan sekitar lima menit, akhirnya Dinda menyetujui.


Dirga mengikuti kemana mobil Bayu membawa Dinda


Mereka berhenti di sebuah taman yang menghadap langsung ke sebuah danau lepas. Disana sudah ramai di kunjungi oleh muda-mudi yang menikmati waktu sore mereka.


"Sekarang kamu puas?" Tanya Dinda ketika mereka sudah duduk di bangku taman. Sedangkan Dirga memilih bersembunyi di balik pohong rindang tak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Bagaimana cara menjelaskan sama kamu, aku dan Luna tidak ada hubungan apa-apa"


"Karir Luna hancur, Papa memecat dia secara tidak hormat"


"Kamu ngajak aku kesini cuman buat membahas wanita ****** itu?"


"Ayolah Dinda, bukannya kamu yang bilang hubungan kita telah usai tapi kamu juga yang membuat masalah"


"Kamu udah gila ya, kamu yang nyari masalah terus sama aku".


"Dan kamu berharap hari ini? Aku membahas soal kita? Di saat aku meminta untuk kembali kamu sok jual mahal"


"Bayu, kamu benar-benar pria berengsek!"


"Ternyata benar, tidak ada yang bisa di harapkan dari kamu" Dinda membalas dengan ekpresi seperti sedang melihat musuh


"Karir wanita ****** itu hancur, apa urusannya sama aku?"


"Dan wanita ****** itu juga yang menghancurkan hidupmu Bayu" Walaupun Dinda mengatakan dengan wajah emosi. Namun, terdapat gurat kesedihan di wajahnya.


"Kenapa harus aku?"


"Kita lihat saja, Aku pastikan kalian berdua benar-benar hancur, karena hukum tabur tuai itu benaran ada" Ucap Dinda dan langsung membuat Bayu kesal


"Tapi setelah aku pikir-pikir tak ada yang spesial lagi di antara kita" Balasan menohok Bayu, ia melampiaskan kekesalan yang terjadi hari ini kepada Dinda,


"Hmmm kamu benar! Karena yang spesial tidak pantas di miliki oleh seorang pencundang seperti kamu!"


"Aku menyesali air mata yang terbuang sia-sia, dan hari ini aku bersyukur Tuhan menunjukkan siapa kamu sebenarnya"


"Dinda!!"

__ADS_1


"Haaaa, aku tidak pernah berharap untuk kembali bersama kamu, perihal sedetik pun tidak akan pernah. Kata kamu jual mahal? oh tentu? Untuk orang yang rendahan seperti kamu."


Bayu terdiam memandangi Dinda, emosinya sesaat. Ia kembali menyakiti Dinda dengan kata-kata, seraya menggenggam tangan Dinda ia momohon "Din maafin aku, aku salah, aku tadi benar-benar terbawa emosi, kumohon lihat aku jangn benci kepadaku!",


"Iya aku juga akan membencimu,aku juga akan membenci dia juga, apapun yang kalian lakukan, aku tidak akan memaafkankannya"


"Jika kamu ingin minta maaf, jangan pura-pura tidak bersalah dan menghilang saja, kumohon menghilang dari pandanganku!" Bayu berdiri menatap wajah gadis itu beberapa detik. Tak berselang lama ia meninggalkan Dinda seorang diri.


"Gagal menikah bukan sebuah patokan untuk tidak bahagia lagi, di luar sana masih ada laki-laki yang akhirnya memang tulus mencintai" Suara yang mengatakan itu terdengar tidak asing di telinga Dinda.


Dinda mengalihkan pandangannya dan menatap orang yang sudah duduk di sampingnya tanpa di minta


Dinda ragu atas ucapan lelaki itu, ragu akan ada seseorang yang mencintainya dengan tulus. Bahkan saat ini membayangkan bersama orang lain tidak pernah ada dalam pikirannya. Sudah cukup sekali!


"Awalnya aku pikir dia segalanya"


"Tapi... Ngomong-ngomong Pak Dirga ngapain disini?" Tanya Dinda seraya menyeka air matanya


"Berhentilah terluka dan menyakiti diri untuk seseorang yang tidak menginginkan kehadiran kamu lagi"


"Pak Dirga tahu apa?"


"Tahu segalanya!" Dinda membalas dengan senyuman sumbing, seakan ia merasa paham dengan jalan pikir Dinda.


"Kamu pernah menanyakan siapa wanita yang aku cintai semasa kuliah?"


Dinda mengangguk "Hmmmm"


"Dinda Anatasya Wibowo"


Dinda terlonjak kaget mendengar pengakuan seorang Dirga. Seperti sudah di timpa beban berat tapi ada yang ikut menopang.

__ADS_1


Kenapa harus aku?


__ADS_2