Dirgantara Malik Alkeenan

Dirgantara Malik Alkeenan
E N A M B E L A S


__ADS_3

Meskipun baru satu minggu bekerja di tim perencanaan. Sedikit banyak Dinda mengerti alasan Bian menjadi karyawan terbaik. Bian bukanlah tipe yang suka membuang waktu. Satu detik bahkan sangat berharga di matanya. Tetapi satu faktanya, satu kesalahan bisa membuat laki-laki itu mengomel lebih dari satu jam.


Dinda tahu, semenjak pertama kali di pindahkan orang-orang disana sikapnya terlihat tidak peduli, tapi nyaris semua tim disana menatapnya sedikit aneh. Mungkin karena gosip tentang dirinya yang gagal menikah telah menyebar begitu saja.


Setelah makan siang, Dinda langsung kembali ke ruangannya. Tiba di meja kerja. Dinda menumpu lengan di atas kubikelnya. Dia mengerutkan kening, menghela napas begitu panjang dan mengambil posisi duduk.


Semenjak kepindahannya juga, ia tak pernah lagi melihat sosok Dirga. Lelaki itu sengaja datang lebih lama dan pulang lebih cepat. Namanya bos, perusahaan Bapaknya, suka-suka dia bertindak semaunya.


"Ayo Din" Ajak Sarah ketika melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul satu lewat lima menit


"Oh Iya" Balas Dinda mengingat mereka ada Meeting bersama dengan tim lain di lantai lima


Dinda memasuki lift bersama tiga rekannya yang masih tertinggal, Dinda mengambil tempat di paling sudut. Baru beberapa saat lift bergerak naik. Dinda merasakan lift yang mereka naiki berhenti dan pintunya membuka. Ada satu orang yang menunggu di depan lift ikut masuk.


Satu sosok yang sudah satu minggu tidak pernah terlihat. Siang ini, tampak sedang mengotak-atik ponsel. Degup jantung Dinda naik beberapa kali. Refleks Dinda memundurkan tubuh hingga menyentuh pembatas lift. Dia menunduk dan menelan ludah


"Selamat siang Pak Dirga" Sapaan ramah dari orang di sebelahnya


"Siang"


"Tumben Pak Dirga naik lift umum" Tanya Sarah, Dinda hanya mengangkat bahunya


Rasanya Dinda ingin bersembunyi. Berharap bisa menembus dinding agar tidak berada dalam satu lift yang sama. Kepalanya semakin menunduk. Ia berharap semoga Dirga tidak menoleh ke belakang. Dinda bingung harus bersikap apa setelah menolak pria itu.


Lift berhenti tepat di lantai lima. Dinda melangkah dengan hati-hati berjalan keluar lift dan melewati Dirga. Perempuan itu baru saja mendesah lega saat kakinya berhasil keluar. Namun, terenggut oleh ucapan Sarah.

__ADS_1


"Biasanya Pak Dirga juga ikut Meeting sama kita kan?"


"Sepertinya" Balas Fani


Dinda menutupi wajahnya dengan kertas. Berusaha untuk menghindar malah terlibat satu ruangan. Jangan sampai Dirga menjadikan ia bulan-bulanan karena masih merasa kesal.


Di ruangan itu sudah berkumpul dari beberapa tim, seperti tim pengembangan, pemasaran dan tak lupa tim mereka juga.


Tak berselang lama, tim manajemen juga ikut masuk beberapa orang.


"Dinda" Panggil Anggun begitu pelan


Dinda tersenyum melihat kedatangan mereka. Disana juga ada Naysa, ia terlihat mulai akrab dengan Anggun dan Delon.


"Rania nggak ikut"


Bian mulai membuka suaranya menandakan meeting akan di mulai. Bian menjelaskan beberapa permintaan pelanggan. Mulai dari furniture sederhana sampai mewah.


Ketukan pintu membuat ia berhenti dan menoleh, ternyata Dirga dan Radit. Dirga terlihat cuek tetapi ia mencuri pandang menatap Dinda, tak lama seutas senyum kecil terlihat di bibirnya.


"Lanjutkan" Suruh Dirga, dan mengambil posisi duduk di kursi kebesaran bos


"Biasanya mebel mewah sering di cari pelanggan karena bentuknya yang klasik"


"Tetapi mebel minimalis juga dapat mewah jika bahannya mahal seperti yang sudah kita tahu yakni kayu jati"

__ADS_1


"Dan target pemasaran kita yang paling populer itu di kalangan furniture rumah tangga,hotel, dan saat ini beberapa restaurant juga mulai masuk dalam incaran kita"


"Tambahannya kita harus mencari lokasi yang strategis, contohnya saja perumahan elite"


"Dan juga beberapa investor mulai berdatangan untuk bekerja sama dengan kita" Sambung Radit


Dirga mengangguk setuju. Ia juga sibuk membaca beberapa rekap laporan dari ketua tim.


Dirga mengalihkan pandangannya lagi ke semua karyawan yang ada di ruangan itu. Ia lagi-lagi melihat Dinda tengah asyik mengotak-atik laptop. Naysa yang menyadari itu tersenyum kecil.


Satu jam setelah meeting, satu persatu mulai meninggalkan ruangan.


Dinda membereskan beberapa map dari timnya, ada kelegaan di hatinya melihat Dirga baik-baik saja, tak lama Naysa masuk sambil berdecak "Hah, ternyata tidak ada yang spesial dari kamu!"


Dinda menoleh karena hanya tinggal mereka berdua "Maksud kamu?"


"Beraninya kamu menolak Dirga?"


"Aaa, desas-desus kamu di tinggal nikah? Ternyata, setelah aku pikir-pikir tidak salah ia meninggalkanmu"


Dinda menghela napas kasar "Kenapa itu menjadi urusan anda?"


"Apakah kita saling mengenal? Apa menurut anda hidup saya seasyik itu sampai ada saja yang mengusik" Tanya Dinda sekali lagi


"Tidak, tetapi apapun yang mengusik Dirga saya tidak akan tinggal diam"

__ADS_1


"Bagi saya Dirga adalah orang yang spesial, dia baik dalam hal apapun, sekali pun kamu orang yang di cintainya saya tidak akan tinggal diam"


"Oh ya" Tutur Dinda malas berdebat dan berlalu meninggalkan Naysa.


__ADS_2