Dirgantara Malik Alkeenan

Dirgantara Malik Alkeenan
T U J U H B E L A S


__ADS_3

Sebelum memasuki restoran yang sudah Luna kirimkan alamatnya, Dinda membenarkan rambutnya yang di terbangkan angin. Hari ini sepulang dari kantor, Dinda terpaksa menemui wanita itu. Luna memohon lewat pesan karena ada hal penting yang ingin di bicarakan.


Kemudian Dinda langsung ke ruangan yang di pesan Luna secara privat


"Terimakasih sudah datang" Luna menyapa sambil menebar senyum ramah


Di atas meja sudah di penuhi oleh beberapa makanan,


"Ada apa?" Tanya ketus Dinda


Luna menghela napas kasar "Aku di pecat Pak Robi" Raut wajahnya begitu menyedihkan


"Kenapa dari semua hal yang aku lakukan tidak ada yang berhasil, salah satunya mendapatkan Bayu" Dinda mendongak menatap wajah yang semakin menyedihkan itu


"Sekeras apapun aku berjuang hasilnya selalu mengecewakan"


"Hubungannya sama saya apa?" Tanya Dinda kemudian


"Aku wanita yang selalu iri sama kamu Din, kamu di cintai dengan hebatnya oleh Bayu. Tetapi yang namanya lelaki tetap saja tergoda,pria berengsek itu" Omel Luna semakin frustasi, tangannya mengeram menahan amarah


Dinda tertawa sumbing, seakan dialah gadis yang paling menderita


"Kenapa pencuri itu sulit sekali mengucapkan kata maaf?" Sambung Dinda menyadari ucapan Luna yang sudah di luar batas


"Maaf kata kamu, aku tidak salah, aku dan Bayu sudah tidur bersama" Luna tertawa menyebalkan ia ingin memancing emosi Dinda


"Hah!" Dinda tersontak kaget mendengar penuturan gadis gila itu

__ADS_1


Ia menghentikan tawanya dan menatap Dinda "Aku mencoba menyelamatkan kamu dari lelaki bajingan itu, seharusnya kamu yang berterimakasih sama aku Dinda"


Luna merebahkan kepalanya tak lama ia mendongak kembali menatap Dinda "Setelah aku berikan itu semuanya dia tetap memilih kamu Din. Aku benar-benar membenci kamu" Tunjuk Luna, dan nada suaranya mulai meninggi


"Saya juga membenci kamu, membenci dia juga, apapun itu tidak akan saya maafkan kalian berdua"


"Lagian kucing mana yang menolak jika di berikan ikan"


Luna menatap tajam ke arah Dinda, seolah ia sedang di ejek


"Andaikan pun kamu bersama Bayu, kamu akan terus di bayang-bayangi rasa bersalah"


"Kenapa?" Tanya Luna kesal


"Luna, aku mengenal Bayu bukan tiga hari yang lalu, tetapi sudah bertahu-tahun, dan kamu tahu tipe Bayu bukan seperti kamu"


"Kalian melakukan hal bodoh itu, percayalah, di pikiran Bayu saat itu bukan kamu orangnya" Luna semakin terdiam.


"Saya permisi, malas membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna" Dinda beranjak pergi meninggalkan Luna. Isi kepala Luna seperti memaki diri sendiri. Menyalahkan atas kebodohannya selama ini.


Tiga hari yang lalu. Bayu menatap Luna dalam-dalam, mendengarkan penjelasan gadis itu, bahwa ia menyukai Bayu sudah dari lama. Tak bergeming sedikit pun. Bagi Bayu, Luna hanya teman tak lebih dari itu. Sedetik pun ia tidak pernah menyukai gadis itu. Jika dulu ia tergoda, itu karena Luna selalu menempel kepadanya. Bayu Hanya menjadikan Luna untuk tempat bersenang-senang bukan untuk serius.


"Aku tahu kamu kesal mendengar pengakuanku.."


"Jika kamu tahu itu, kenapa kamu lakukan?" Bantah Bayu


"Bayu, hubungan kamu sama Dinda telah selesai, aku benar-benar menyukai kamu, aku ingin kamu menjadi pendamping aku, bukan hanya rekan kerja, memang permintaan aku sedikit gila tapi aku benar-benar tulus".

__ADS_1


Bayu tertawa sumbing "Pendamping?"


"Luna kamu tahu hal apa yang saya benci, berpura-pura menjadi teman lalu menginginkan hal yang lebih dari saya"


"Mau sampai kapan kamu menunggu Dinda untuk kembali?"


Bayu mendongak, ia kembali tersenyum getir lalu berdecak "Hmm, bisa di katakan penantian saya telah usai"


"Bayu please? Lihat aku"


"Luna kamu pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik dari saya"


"Saya ini lelaki bajingan, sejujurnya jika saya bertemu dan menatap Dinda saya begitu malu. Kamu tahu..."


Bayu menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya "Dia selalu memberikan cinta yang tulus, selama enam tahun lebih dia selalu memperlakukanku dengan sangat baik, dia selalu memaafkan kesalahan saya. Selalu memberikan kesempatan"


"Hari ini penyesalan itu benar-benar datang kepadaku, saya kira kesempatan dan kata maaf itu masih ada, ternyata itu sudah terkunci rapat. Aku menyakitinya berulang kali"


"Dan yang bisa saya lakukan, hanya membuat ia untuk semakin membenci saya"


"Bayu dengarin aku..."


"Luna cinta itu tidak bisa di paksa, saya tidak ingin menyakiti kamu juga, silahkan pergi, saya bukan laki-laki yang baik"


"Temukan jalanmu, temukan orang yang mencintaimu,yang menerima kamu, dan temukan orang yang memeluk kamu di saat kamu begitu lelah"


Luna menyeka air matanya, ia menatap kesal ke arah lelaki yang menunduk menatap lantai "Bayu kamu benar-benar pria berengsek, aku harap kamu tidak akan pernah bahagia"

__ADS_1


Bayu hanya terdiam. Makian itu, sangatlah pantas untuk dirinya. Namun benar, di hati lelaki itu tidak ada Luna. Dinda masih menduduki puncak pertama. Bahkan setiap ruang hatinya masih di isi oleh Dinda


Katanya akan ada seseorang yang tidak akan pernah bisa kamu lupakan biarpun kamu sudah memiliki pasangan sekaligus.


__ADS_2