Dirgantara Malik Alkeenan

Dirgantara Malik Alkeenan
L I M A B E L A S


__ADS_3

Ketika malam tiba. Dirga duduk di tempat favoritnya sembari menghilangkan penat. Balkon yang menyunguhkan pemandangan yang indah. Sembari menghangatkan tubuh dengan segelas teh hangat. Dirga seperti kembali ke dunianya. Menyendiri dari orang-orang yang tak sepaham dengan dirinya.


Ya!


Kembali sedikit tertutup kepada wanita.


Ia pintar hanya saja lemah jika sudah jatuh cinta. Kerlap-kerlip lampu gedung-gedung yang menjulang tinggi sedikit membias di jalanan yang basah akibat hujan. Dirga memejamkan mata membiarkan angin malam membelai kulitnya.


Mata masih terpejam dan sebulir air mata jatuh begitu saja. Seutas kenangan ketika ia memendam perasaan hanya terbuang sia-sia. Dirga menyapu air matanya seraya menarik nafas dalam-dalam.


Dinda membuka pintu kamar. Ia berjalan begitu lesu. Semangat hilang entah kemana. Ia melihat lelaki yang sering ia kecewakan. Cinta pertama yang tak akan tergantikan kapan pun.


Dinda berlari, membenamkan wajah di dada Papanya. Ia sangat menyukai posisi ini. Seakan ia merasa terlindungi. Dinda merasakan kehangatan yang tak akan ia temui dari lelaki lain.


"Berhenti memikirkan hal yang menyakiti dirimu nak, Papa tahu apa yang kepala cantikmu itu pikirkan?"


Dinda mengernyitkan dahinya dan menatap Papanya "Selain berprofesi menjadi dokter Papa juga jadi cenayang kah?"


"Ha-ha-ha.. Feeling Papa tidak pernah salah, tepat sasaran jika itu menyangkut putri kesayangan Papa"


"Percaya sama Papa nak, suatu hari nanti kamu akan di cintai dengan hebatnya oleh seseorang. Cinta yang begitu tulus sampai kamu lupa rasa sakit itu apa"


"Dia akan datang dengan gagahnya menemui Papa, mengatakan tidak akan pernah meninggalkan kamu, sesulit apa pun itu jalannya ia tetap akan menggenggam kamu"


Dinda kembali melingkarkan tangan ke tubuh Papanya. Dalam pelukan seorang Ayah. Ia merasa hari ini benar-benar membahagiakan. Hingga ia lupa segala kekhawatirannya tadi.


"Menjadi bahagia atau sedih, muram atau bersemangat, murung atau stabil adalah pilihan yang disajikan kepadamu setiap hari. Kamu hanya harus membuat pilihan yang tepat."


Selalu ada mentari baru, setiap pagi. Selalu ada kesempatan baru, tiap hari .

__ADS_1


Setiap hari, ada hal istimewa yang menunggu dirimu. Kamu hanya perlu memanfaatkannya sebaik mungkin.


Dinda membiarkan rambutnya terurai bebas. Ia menengadahkan wajahnya ke langit. Good morning, Tim perencanaan. Gumam Dinda seraya menghempaskan napas kasar


"Apa lagi?" Tanya Andre melihat adiknya sudah galau sepagi ini


"Ayo bareng" Ajak Andre


Dinda mengangguk setuju. Dari rumah sampai lampu merah. Kakaknya tidak berhenti tersenyum. Ia seperti lelaki yang tengah jatuh cinta.


"Kakak sudah gila? Senyum-senyum sendiri?"


"Tentunya tidak dong"


"Adekku yang cantik, adekku yang malang.. Sepertinya kakakmu ini akan melepas masa lajang"


"Why? Kamu meragukan Kakakmu ini?"


Dinda mengangguk tanpa ragu


"Dasar adek durhaka!" Andre tersenyum seraya melambaikan tangan ketika sampai di perusahaan tempat adiknya bekerja


Pagi ini Dinda tidak perlu berebut lift dengan karyawan yang lain. Ya! Tim mereka terletak di lantai dasar. Sebelum masuk Dinda menyempatkan diri mengunjungi kafe mini yang di sediakan perusahaan itu.


Seraya menunggu pesanan ia juga sibuk memainkan ponselnya.


"Kamu ada masalah apa sama Pak Dirga?" Tanya Radit tiba-tiba


Dinda menoleh kesal "Bisa nggak kalau ngajak orang bicara permisi dulu?" Radit langsung mundur sebelum cubitan Dinda mendarat di lengannya

__ADS_1


"Aku yang salah, pagi-pagi membangunkan singa betina" Dinda melotot menatap kepergian Radit


Aiiiis sial, dasar jomblo berdarah dingin. Omel Dinda seraya menatap layar ponsel


"Kamu ngatain saya?" Tanya seorang karyawan yang saat itu berjalan di samping Dinda


Dinda menggeleng dan langsung bersuara "Bukan, maaf!".


Ternyata pekerjaan di tim perencanaan sedikit melelahkan. Prosesnya begitu banyak. Tidak bisa berleha-leha. Seutas senyum di saat jam kerja pun sangat sulit untuk terukir.


Dinda cukup menikmatinya, karena tidak ada proses yang mudah untuk bisa di lewati.


Di tempat lain.


"Luna mulai besok kamu tidak perlu datang ke kantor"


Luna yang berdiri di ujung meja tersentak mendengar sederet kalimat itu. Kepala yang sedari tadi menunduk segera mendongak untuk menatap Bayu. Luna baru saja mengantarkan rekap laporan mingguan dan sangat tidak menduga Bayu mengatakan itu lagi. Padahal lelaki itu pernah mengatakan lupakan soal pengunduran diri, tetapi hari ini.


"Maaf, bagaimana?" Luna berkedip, mencoba memahami apa yang baru saja di dengarnya. Ia berharap yang ia dengar adalah kekeliruan tapi wajah Bayu tampak menunjukkan keseriusan.


"Ini perintah dari Pak Robi Aditama langsung"


"Tapi kamu..."


"Luna, Papa sudah tahu bahwa kamu perempuan yang mengacaukan pernikahan. Saya sudah berusaha untuk mempertahankan tetapi kamu tahu sendiri bagaimana kerasnya Papa"


Luna terdiam, tidak lagi membantah. Karena ia juga tahu bagaimana kalau Pak Robi sudah bertindak. Sekarang ia baru menyesal, kehilangan pekerjaan dan juga tidak mendapatkan hati Bayu. Luna mengambil surat yang di sodorkan ke arahnya


"Baiklah" Katanya pamit lalu undur diri. Keluar dari ruangan Bayu.

__ADS_1


__ADS_2