Dolphins

Dolphins
Pertemuan


__ADS_3

Di sebuah taman yang cukup indah, terdapat seorang anak lelaki yang sembilan bulan lalu memasuki usia ke delapan tahun. Ia menggiring bolanya kemudian menendang benda tersebut penuh amarah, lantas ia mengejarnya kembali. Begitu seterusnya. Tidak ada yang berbeda dari emosinya sejak ia mendatangi taman 10 menit yang lalu. Semuanya penuh dengan amarah.


Di taman yang indah, tetapii seperti penuh dengan gundah.


Di taman yang cukup mempesona, tetapi seperti tidak ada yang menginginkannya.


Di taman yang sangat sepi, sehingga tampak seperti dipenuhi misteri.


Di taman ini, ia meluapkan semuanya.


Ya, taman ini membuat bocah itu merasa sama. Gundah, tidak ada yang menginginkannya, karena entah misteri apa yang selalu ingin ditutupinya.


Bolanya ia tendang lagi. Benda itu melayang jauh. Sejauh mungkin. Sang anak kecil tidak berselera lagi. Ia membiarkan bolanya hilang kemudian ia terduduk pada rerumputan dengan lemas. Kaki kecilnya yang berdarah tidak ia pedulikan.


“Kenapa mama sama papa harus nikah kalau ujung-ujungnya berantem terus!” teriak bocah itu membabi buta.


“Kaisal nggak suka mama sama papa berantem. Kaisal mau tenang kayak Randi!” teriaknya lagi. Ketika menyebutkan satu nama kawannya, ia langsung merasa pilu. Randi selalu tampak ceria. Hidupnya seperti begitu sempurna. Bocah bernama Kaisal bahkan yakin bahwa Randi tidak pernah mendengar kalimat “Pergi kamu anak  nggak berguna! Jangan ikut campur urusan orang tua!”  dari mamanya.  Jika ditanya tentang Kaisal, maka itulah makanan yang harus ditelannya setiap kali mengintip pertengkaran orang tuanya.


Dunia ini sungguh tidak adil. Mengapa di saat bocah delapan tahun sedang sibuk bermain, Kaisal justru dibuat teriris karena cobaan hidupnya? Kaisal masih kelas 3 SD, mengapa ia harus menghadapi ini? Kaisal seharusnya masa bodoh, ia harusnya tidak tahu apa-apa. Namun, entah kenapa ia begitu perasa, serta tekanan itu sangat menyiksa.


Kaisal menangis seperti sekarang pun tidak akan pernah ada gunanya.


Di saat Kaisal sibuk dengan tangisannya, di saat itu pula ada gadis kecil menggemaskan yang mengamati Kaisal sejak tadi bersama kebingungan.


Bibir kecil itu maju lima senti ketika mencari jawaban atas pertanyaan mengenai bocah lelaki yang mungkin seumuran dia. Namun, tidak ada jawaban dari semua itu.


“Ida, ayo ke bawah, Nak. Mama baru selesai buat kue. Kamu harus cicipin.” Gadis kecil yang rupanya bernama Ida itu menoleh. Rambut kucir kudanya bergerak indah.


“Boleh ajakin anak itu nggak, Ma?” tanya Ida penuh harap seraya menunjuk ke arah taman.


Tamara--mama Ida—menyusul putrinya ke balkon. Lantas di taman yang berhadapan langsung tidak jauh dengan rumahnya, ia menemukan anak lelaki kecil yang tengah menangis tanpa menggunakan alas kaki.


“Dia kenapa, ya, Ma? Tadi dia teriak sambil marah-marah nyebut mama papanya.”


Tamara langsung tersenyum mendengar itu. Ia tahu alur cerita yang seperti ini.


“Dia lagi ada masalah. Kasian, ya? Yaudah, yuk ajakin dia cicipin kue mama.” Selesai berucap,  Tamara langsung menggendong Ida. Ida yang di dekap itu memeluk leher sang mama kemudian menggeleng cepat. “Nggak jadi, deh. Dia pasti anak durhaka. Masa orang tua sendiri diumpat-umpat? Ihhhh ilfil deh, Ida.”


Tamara langsung tertawa dengan cantiknya. Ternyata putri semata wayangnya sangat ahli bertingkah genit layaknya orang dewasa.


“Suatu saat nanti, kalau Ida diuji dengan hal seperti anak itu, Ida nggak boleh nangis-nangis, ya?”


“Kalau ngamuk kayak dia sambil nendang bola, boleh?”


Betapa polosnya pertanyaan itu?


Reda dengan tawanya, Tamara langsung menggesekkan hidungnya kepada hidung mancung putrinya. Kemudian wanita itu meninggalkan balkon. Ida segera menoleh pada anak lelaki tadi. Rupanya sudah ada anak gadis yang mungkin lebih muda dari Ida itu menemani Kaisal.


“Nggak boleh ngamuk juga , Sayang. Ida hanya perlu kuat, tersenyum, berdoa dan selalu bahagia.”


“Memangnya, suatu hari nanti Ida akan kayak bocah jelek itu?”


Tamara menuruni tangga seraya tersenyum. “Pokoknya Ida harus selalu bahagia. Janji?”


“Hmm, janji, deh,” jawab Ida sangat malas. Pembicaraan ini begitu membingungkan dan membosankan. “Tapi, Ma, ayah hari ini pulang buat cicipi kue mama, ‘kan?” Pertanyaan itu dijawab dengan senyuman oleh Tamara. Di situlah Ida paham bahwa dirinya kali ini akan mencicipi kue sang mama sendirian saja.


Ida kembali kebingungan, berbeda dengan Kaisal yang kini tambah kesal atas ulah gadis kecil berpenampilan mirip lelaki di depannnya itu.

__ADS_1


“Kamu emang menyedihkan banget, ya, Kai? Di sekolah murung, di sni juga gitu.”


Pertanyaan kedua setelah tadi bertanya tentang mengapa Kaisal tidak pernah ganteng. Kaisal tetap tidak mengangkat kepalanya.


“Bisu nih anak, nih! Udah bisu, jelek lagi!”


Di situlah Kaisal mengangkat wajahnya. “Apa kita kenal, Nad? Aku bahkan nggak pernah ngomong sama kamu di sekolah, tapi kenapa ngejek aku di sini?”


Nad ... tepatnya Nadyla Fionica. Gadis itu mengangkat bahu sambil mengunyah permen karetnya, kemudian turun dari sepeda dan mendekati Kaisal. Ia berdiri sangat dekat di depan bocah lelaki itu.


“Kamu sekalinya ngomong ngeselin, ya? Pantas aja nggak punya temen!”


“Teman kamu sebanyak apa, sih?” Kaisal perlahan maju, ingin mendorong kepala Nadyla jika gadis itu semakin menjengkelkan. “Kamu aja cewek jadi-jadian tapi kurang kerjaan ngurusin aku.”


Nadyla yang justru mendorong kepala Kaisal hingga Kaisal hampir terhuyung ke belakang.


Bagaimana Kaisal tidak semakin terbakar kemarahan? Setelah kurang ajar sepert itu, Nadyla langsung mengambil permet karet dari mulutnya menggunakan telunjuk dan ibu jari tangan kanan, lalu ia buang ke sembarang tempat. Menjijikkan! “Yang penting aku punya dua teman akrab. Kamu? Nggak ada satu pun, hahahaa. Weeeek!” Juluran lidah Nadyla tunjukkan, menampilkan warna kebiru-biruan pada lidah tersebut. Kaisal bergidik melihatnya.


“Dasar jorok! Pergi kamu jelek, bau, jorok! Kalau nggak, aku tendang nih!” teriak Kaisal membabi buta hingga tidak segaja lendir sehabis menangis keras tadi langsung keluar melalui lubang hidungnya. Cepat-cepat Kaisal menghapusnya karena malu yang luar biasa.


Nadyla tertawa keras lagi. “Kamu ... yang jo ... rok!” Ucapannya terputus –putus karena tawa yang meledak. “Jorok! Kaisal jorok dan ingusan!”


Sadarlah! Kalian berdua yang sangat jorok!


“Kamu nantangin, ya? Mau aku tendang beneran? Aku sering liat mamaku ditendang sama papa, jadi aku pasti jago nendang juga!”


“Ih, nggak boleh kasar gitu!”


“Tahu apa kamu tentang kasar, bodoh?"


Nadyla tambah kesal. Ia memilih berjalan pada sepedanya dan naik di sana. “Ayo temenan, ayo jalan-jalan, ayo mulai senang-senang! Sini naik.”


“Aku nggak mau jadi teman kamu!” teriak Kaisal seraya menatap kakinya yang telanjang dan berdarah. “Kamu nyebelin!”


Nadyla yang sudah duduk di sepeda mulai membesarkan matanya. “Jangan bawel, deh. Kamu harus jadi teman aku, mulai besok setiap jam istirahat kamu ke kelas aku aja biar kita bareng ke kantin.”


“Nggak mau! Dibilang nggak mau! Kelas 3B orangnya rese-rese tau! Kayak kamu!”


“Heh, mendingan 3B rese, daripada 3C orangnya menyedihkan semua! Kamu yang paling parah!” Nadyla sudah benar-benar teriak. “Buruan ke sini nggak? Ih bikin emosi aja!”


Entah kenapa, Kaisal tiba-tiba menurut. Ia tidak merasa menjadi manusia menyedihkan, ia hanya merasa tidak dibutuhkan. Lalu mengapa Nadyla datang dan bertingkah seolah ingin menggapai Kaisal?


Ketika Kaisal duduk di belakang Nadyla, gadis itu langsung tersenyum lebar. “Hai teman baru.”


Namun,  Kaisal tidak menjawab, ia hanya memutar bola mata. Hingga tiba-tiba di depan mereka ada seoang ibu dan anak yang hampir ditabrak oleh sepeda Nadyla. Karena ketakutan Nadyla pun kehilangan keseimbangannya dan membuat dirinya beserta Kaisal jatuh meski tidak apa-apa. Anak lelaki yang hampir ditabrak oleh Nadyla tadi hanya terpaku, membiarkan sang mama membantu dua bocah tadi bangkit dari jatuh mereka.


“Dasar Rega jahat!” teriak Nadyla. Ia menunjuk bocah lelaki yang sedari tadi berdiri sambil bersedekap dada. Nadyla memang memusuhi banyak orang.


“Ma, mereka teman sekolah Rega. Tinggalin aja.” Rega sangat malas meladeni gadis tomboi tadi.


“Kalau teman sekolah kenapa ditinggalin?” tanya mama Rega kebingungan.


Rega tidak menjawab, ia segera menarik mamanya agar pergi dari sana.


“Ih! Dasar anak 3A sombong-sombong! Rega paling sombong!” teriak Nadyla, dan Rega masih mampu mendengarnya.


“Udahlah, kamu memang secerewet itu, ya? Kita, ‘kan, sama sekali nggak luka. Kok, kamu sewot banget!” Ini adalah ucapan Kaisal.

__ADS_1


Nadyla hanya melempar pelototan matanya.


Hari itu, banyak yang mereka alami. Rupanya tidak hanya sampai di sana, sebab hari itu justru menjadi permulaan dari kisah mereka. Hingga mulai dari keesokan harinya, perlahan selalu ada hal yang berubah dari mereka berempat. Anak yang berusia rata-rata delapan tahun itu dipersatukan dengan cara yang tidak terduga.


**


Keesokan hari itu, adalah hari ini ... di sekolah.


Kaisal benar-benar ke kelas 3B untuk menemui Nadyla, sebab setelah kemarin menghabiskan waktu dua jam bersama, Kaisal jadi sadar bahwa tenyata Nadyla hanya memiliki ucapan yang pedas, tetapi tidak dengan hatinya. Hati Nadyla rupanya lumayan lembut sebagai manusia.


Kaisal datang pagi-pagi untuk menghampiri Nadyla, membuat Nadyla terkejut hingga hampir menelan bulat-bulat permen karetnya. Pasalnya, kemarin Nadyla mengatakan agar Kaisal datang saat jam istirahat, tetapi mengapa justru pagi sekali?


Semakin ingin tertelan permen karet milik Nadyla saat sebuah plaster luka mengambang di depan matanya dalam tangan seseorang.  Nadyla mendongak, rupanya tangan itu milik cowok kelas unggulan yang bernama Rega Nicholando.


Apakah Rega ternyata tidak sekaku dan sedingin yang Nadyla pikirkan?


“Ini plaster luka buat kamu, mungkin kemarin tubuh kamu ada yang luka gara-gara aku,” ucap Rega cukup lembut.


“Makasih.” Nadyla mengambilnya, mendadak dia yang menjadi kaku.


Rega tidak menjawab, ia hendak pergi, tetapi ketika melihat Kaisal juga ada di sana, Rega pun merogoh kantongnya dan memberikan satu plaster luka juga untuk Kaisal. Rega tidak mengatakan apa-apa, Kaisal yang menerima benda itu diam juga. Hingga tiba-tiba datang satu orang yang langsung merebut plaster luka tadi dari tangan Kaisal.


Kaisal, Rega dan Nadyla tentu saja terkejut. Siapa bocah perempuan yang menggunakan bando, sepatu, dan gelang-gelang yang serba merah muda itu? Nadyla bahkan merinding, baginya perempuan di hadapannya ini tidak normal karena begitu feminin.


“Maaf, plaster ini buat aku, ya? Aku siswa baru, sekarang cuma tahu kelas aku doang, di kelas 3C ini. Aku nggak tahu UKS di mana sementara tanganku luka karena nggak sengaja kena pecahan gelas di meja kepala sekolah yang belum sempat dibersihin tadi,” kata gadis kecil itu panjang lebar.


“Belingnya masih nancap di tangan kamu. Kamu mau plaster tangan itu sekaligus dengan belingnya? Apa kamu juara terakhir di sekolah lama kamu?” Ini adalah ucapan Rega. Ini rasanya pedas sekali. “Sini biar aku bawa kamu ke UKS.”


Rega segera menarik gadis yang bahkan tidak ia ketahui namaya. Namun, sebelum berlalu ia juga memberikan lagi paster luka yang masih tersisa di kantongnya untuk Kaisal tanpa berkata-kata. Kaisal tetap terpaku. Ternyata rasanya dipedulikan sungguh menakjubkan.


“Regaaaaa, temenan, yuk!” teriak Nadyla ketika Rega mencapai pintu kelas. Ia pun berhenti bersama gadis kecil tadi yang kini sudah menoleh pada Nadyla. “Aku mau temenan sama orang baik.”


Di situlah Rega baru menoleh.


Lantas suara Kaisal langsung terdengar. “Temenan sama aku juga, kamu bisa jadi adek atau abang aku.”


Rega masih terdiam. Justru yang berbicara adalah gadis di sampingnya. “Kalau gitu, aku mau, dong, ikut temenan sama kalian. Kenalin, namaku Ida Berliana. Ini namanya Rega, ya?” tanya gadis kecil tadi. Kaisal yang mengangguk ringan.


“Hai Rega, kita semua mulai sekarang temenan, yuk, setiap aku luka kamu yang nemenin ke UKS, deh, soalnya aku tuh ceroboh tau. Mau nggak?”


Entah. Entah kenapa Rega tersenyum pada Ida dan berkata, “Iya, kita temenan. Berempat.”


Lalu Rega kembali membawa Ida ke UKS. Ida yang digiring segera melambai ke arah Nadyla dan Kaisal. “Dadah, nanti pas istirahat aku yang neraktir kalian bertiga. Aku dikasih uang jajan banyak sama mama hari ini.” Lalu Rega dan Ida hilang.


“Bunda ngasih aku uang jajan banyak tiap hari, kalik!” ucap Nadyla tidak mau kalah. meski begitu, ia tersenyum kecil.


Berbeda dengan Kaisal yang merasa bahwa mulai hari ini hidupnya akan berubah, kesedihannya akan tidak begitu terasa dan pribadinya akan berubah. Sebab, hari ini ia menemukan apa itu bahagia. Ia juga mendapatkan apa itu kenyamanan.


Sepertinya menyenangkan jika setiap hari bersama Nadyla yang bermulut pedas, tetapi penuh kasih sayang.


Sepertinya menyenangkan jika setiap harinya bersama Rega yang kaku dan terlihat sombong, tetapi dipenuhi kepedulian.


Serta, sepertinya menyenangkan jika setiap harinya bersama Ida yang polos, tetapi begitu ceria.


Rasanya, Kaisal dilengkapi oleh ketiga manusia itu.


Ah, ini ... awal yang indah.

__ADS_1


__ADS_2