Dolphins

Dolphins
Bermuka Dua


__ADS_3

Rega saat ini menatap Aurelia dengan pandangan yang sangat berbeda.


Dia ingin marah besar, tapi terikat oleh janji agar tidak menyakiti dalam bentuk apa pun dengan manusia ular itu.


Dia ingin memukulnya, tapi dia sadar bahwa orang jahat di depannya ini tetaplah seorang wanita.


Dan dia sungguh ingin berteriak mengatakan agar Aurelia berhenti menghacurkan persahabatan mereka.


Sialnya! Rega tidak memiliki kuasa apa-apa.


"Maaf, ya, kamu harus selalu sama aku padahal sahabat kamu lagi ada masalah. Aku cuma nggak mau mereka buat kamu berpaling lagi dari aku."


Perkataan Aurelia itu membuat Rega menatapnya horor. Diam-diam Rega sangat menahan bibirnya agar tidak berteriak mengatakan bahwa Aurelia gadis murahan.


"Ohya, Kaisal, kok, lebih pilih Nadyla daripada Ida, ya, Ga? Kasian juga, sih, aku, lihat Ida kayak gitu."


Rega benar-benar tidak tahan di sini. Cowok itu ingin melepas pelukan Aurelia pada lengannya, tapi cewek itu tak ingin. Ah, andai Rega tidak sedang mencari bukti-bukti kejahatan Aurelia, sudah dipastikan cowok itu bangkit sekarang juga.


Peresetan dengan janji dan ancaman gadis ular itu.


"Nadyla bakalan tinggalin kalian, Ga. Nggak lama lagi Nadyla akan bersatu sama Revan dan lupain kamu, Ida, sama Kaisal." Di akhir kalimat itu, Aurelia melemparkan tawanya. Persis seperti ibu tiri jahat yang terkadang membuat Ida menangis setiap kali menonton di rumah Nadyla.


"Maksud lo apa?"


"Apa kamu bilang, Ga? Lo?!"


Rega pun tersadar. Sialan! Aurelia banyak mau sekali. "Maksud kamu apa?!"


Lalu Aurelia tersenyum. "Ya, dari yang aku dengar, sih, Revan bakalan kejar Nadyla sampai Nadyla jadi miliknya dia."


"Itu nggak bakalan terjadi!"


"Kenapa? Apa selama ini kamu suka sama Nadyla? Seperti Nadyla yang suka sama kamu?! Iya?!"


"Bukan urusan kamu, Aurelia!" Rega berdiri. "Awas! Aku harus ke kelas Revan!"


"Eh ngapain?!" Sangat jelas bahwa Aurelia khawatir. "Jangan macam-macam kamu di sana." Sudah sangat jelas pula Rega paham bahwa dalang dari semua ini adalah Aurelia!


Rega pun menghempas tangan Aurelia kemudian berjalan ke kelas XI IIS 2.


Aurelia hanya bisa menahan diri agar tidak berlari mengejar pacarnya. Hari ini dia biarkan Rega ke sana. Sudah cukup lelah Aurelia mengurus semua ini. Dia yakin bahwa Revan mampu mengatasinya.

__ADS_1


Hahaha. Sekali lagi dan sediki lagi ... dolphins benar-benar hanya akan tinggal nama!


0oOo0


Di tempat lain, Ida terus saja menikmati kesendiriannya yang pahit ini. Jika biasanya dia membaca buku di UKS, sekarang dia hanya bisa duduk dan membaca buku di perpustakaan. Posturnya memang sedang membaca buku, tapi pikirannya hanya berputar pada Kaisal dan Nadyla yang masih dengan tega tidak percaya padanya. Serta pikiran Ida juga berporos pada Rega. Ke mana cowok itu? Apakah Rega juga benar-benar menyudutkan Ida?


Tanpa Ida ketahui, di jendela perpustakaan ada Nadyla yang diam-diam memperhatikan Ida. Sesak dada Nadyla membayangkan kehancuran dolphins sudah di depan mata. Namun, sakit hati karena Ida mengkhianatinya kini membuat Nadyla seoalah menutup mata dan tak peduli pada persahabatan mereka lagi.


"Mungkin persahabatan kita memang harus berakhir menyakitkan dan sememalukan ini, Da," gumam Nadyla. Gadis itu tersenyum pahit. Hingga tiba-tiba ada tangan yang menarik pergelangan tangan miliknya agar menjauh dari perpustakaan Wanareska High School. Nadyla di bawa ke tempat yang lebih sepi.


"Kak Vito apa-apaan, sih?!" sentak Nadyla langsung. Matanya membulat besar saat sadar kakak dari cabe Aurelia itu yang menariknya.


"Gue udah dengar berita yang lagi hangat-hangatnya, Nad."


Nadyla memutar bola mata.


"Terus, lo mau hina gue juga? Hina, deh, hina! Udah kebal gue."


Bukannya membuka mulut untuk menghina Nadyla, Vito justru melempar senyuman hangatnya. "Apa lo pikir gue percaya sama berita itu? Gue tahu, kok, seberapa brengseknya si Revan."


Nadyla terdiam.


"Gue di sini bukan untuk menyalahkan lo, Nad. Tapi gue akan bela lo sebisa gue."


Vito maju dan memeluk Nadyla. "Maafin gue soal itu, Nad. Tapi andai lo sadar, setiap gue nyakitin lo, di mata gue pasti ada penyesalan. Maafin gue. Papa gue terlalu nuntut untuk jagain Aurelia. Jadi, karena tuntutan itu gue harus rela sakitin diri gue sendiri dengan menahan perasaan gue ke lo."


Apa hanya dengan pelukan seperti ini sudah mampu membuat Nadyla luluh? Tubuhnya benar-benar kaku. Pelukan dari Vito entah kenapa membuatnya merasa lebih aman dibanding dalam pelukan Rega atau Kaisal.


Oh Tuhan, mengapa Nadyla seperti ini?


"Nad!" Teriakan itu langsung membuat Nadyla dan Vito melepaskan pelukan.


Nadyla menoleh ke belakang. Rupanya Kaisal di sana.


Bukan Kaisal yang Nadyla khawatirkan sekarang, tapi beberapa siswi Wanareksa yang berlalu-lalang itulah yang membuat Nadyla ingin memukul kepalanya.


Mengapa Nadyla tidak sadar bahwa tempat ini bukanlah tempat yang pas untuk berinteraksi dengan orang lain seperti Vito?


Gosipnya dengan Revan belum juga redah. Namun sekarang, banyak yang melihatnya berpelukan dengan senior bernama Vito ini.


Jadi, gosip yang mengatakan Nadyla adalah perempuan penggoda memang akan semakin dipercayai saja.

__ADS_1


Sialan!


Tatapan hinaan dari kawan-kawannya itu membuat Nadyla merinding. Melihat itu, Kaisal pun mendekati Nadyla dan Vito.


"Ngapain kalian pelukan di sini?" Sebenarnya Kaisal sudah ingin membentak. Namun, karena melihat tatapan Nadyla. Dia pun tak kuasa. "Dan lo ...." Kaisal menunjuk Vito. "Ngapain lo peluk-peluk sahabat gue?!" Kaisal berteriak dan meninju rahang kanan Vito. Seketika Nadyla berteriak karena terkejut.


"Kaisal! Vito cuma nenangin gue!" teriak Nadyla. Entah mengapa tangannya mendarat pada pipi kiri Kaisal.


Sungguh, pertama kalinya dalam sejarah, Nadyla kasar pada sahabatnya hanya karena membela orang lain.


"Nad! Kai!" Sedangkan ini adalah teriakan dari Ida yang keluar dari perpustakaan. "Kalian apa-apaan?" tanya Ida lagi setelah berlari dan berdiri di samping Kaisal. Tanpa sadar Ida memegangi lengan Kaisal.


"Gue ... gue nggak sadar, Kai. Maafin gue." Nadyla maju dan mendekati Kaisal, tapi Kaisal justru mundur. Otomatis Ida ikut mundur sebab tangannya masih terpatri pada lengan Kaisal.


"Gue kecewa banget, Nad." Lalu Kaisal pergi dari sana dengan membawa Ida ikut serta.


Kepergian Kaisal dan Ida membuat Nadyla luruh ke tanah. Suara tawa teman-teman yang menyaksikan drama dadakan itu sungguh memekkan telinga Nadyla.


Vito pun tersenyum puas.


Ah, keinginan adik kesayangannya pun terpenuhi. Vito baru sadar, bahwa dia ternyata dapat diandalkan dalam bermuka dua.


Vito segera berjongkok di samping Nadyla dan mengelus punggungnya.


Kasihan sekali Nadyla. Tak lama lagi gadis itu akan berkeliaran hanya seorang diri. Tiada lagi Rega, tidak ada lagi Kaisal, tak ada pula Ida.


Semua hilang.


Dan dari jauh, Aurelia yang melihat kakaknya berjuang demi dirinya pun tersenyum kemenangan.


Beruntung sekali Aurelia ini.


Tak jauh di depan Aurelia, ada Rega yang tadi menghentikan langkahnya dalam menyeret Revan.


Aurelia tahu bahwa Rega juga melihat semua kejadian yang dialami sahabatnya.


"Makanya, Ga ... kamu sama sahabat-sahabatmu jangan macam-macam sama aku," kata Aurelia pelan kemudian berbalik setelah bertepuk tangan kecil.


Langkahnya sebagai orang jahat kini sangat ringan.


Aurelia hanya tidak tahu bahwa kejahatan tidak akan pernah menang.

__ADS_1


Aurelia juga tak tahu bahwa ada seseorang yang mengetahui kejahatannya itu.


__ADS_2