
Aura masakan memasuki indera penciuman Nadyla. Perutnya yang menahan lapar sejak semalam kini semakin keroncongan dan sudah tidak sabar menerima jatah. Dia menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
“Bunda.” Nadyla berteriak pada sosok wanita paruh baya yang tengah sibuk memasak. Ia menoleh, tersenyum hangat pada putri satu-satunya itu. Nadyla menempatkan diri di kursi untuk melaksanakan sarapan. Lalu mengambil makanan dan mulai memakannya.
“Bun, yang lain ke mana?” tanya Nadyla sembari makan.
“Mereka udah berangkat.” Nadyla mengangguk-agukan kepala. Kemudian melihat jam tangannya.
“Bun, Nadyla pergi dulu yah. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Tepat Nadyla membuka pintu, mobil Rega terpakir di depan rumah Nadyla. Tanpa basi-basi ia berjalan memasuki mobil Rega yang sudah ada ketiga sahabatnya. Rega langsung melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata, selang beberapa menit mobil hitam itu memasuki parkiran sekolah. Mereka keluar dari mobil setelah Rega memarkirkannya dengan rapi.
0oOo0
Bunyi ‘krauk-krauk' terdengar ketika Kaisal melahap keripik singkong yang ia taruh di laci meja. Ia memakan diam-diam, takut ketahuan Pak Roni yang sedang mengajar. Ida yang duduk di sebelah cowok itu ikut memakan keripik singkong tersebut. Bahkan Nadyla yang di belakang mereka pun ikut menikmati keripik singkong itu, mereka bertiga tidak memperhatikan Pak Roni yang tengah menjelaskan rumus-rumus yang membuat mual. Bahkan Nadyla sampai keselek ketika menguyah keripik yang membuat kedua sahabatnya tertawa. Yang paling berisik adalah Kaisal, cowok itu tertawa ngakak melihat wajah menderita Nadyla. Tanpa mereka sadar, Pak Roni dan teman sekelasnya memerhatikan mereka bertiga.
“Muka lo melas banget,” kata Kasial di sela-sela tawanya.
“Masa, sih?” tanya Nadyla polos membuat kedua sahabatnya tertawa semakin keras.
“Kaisal, Ida, Nadyla!” tegur Pak Roni.
Tawa dan wajah panik mereka seketika lenyap. Mereka menoleh dengan cengiran polosnya, lalu menyatukan kedua telapak ke arah Pak Roni sebagai tanda minta maaf.
“Kalian ribut apa, sih, kenapa kita enggak diajak?”
“Cukup kami dan Tuhan yang tahu, Pak.” Nadyla menjawab sembari menggelengkan kepalanya. Membuat semua murid di kelas tertawa.
“Pak, saya izin ke kantin dulu, yah. Keselek nih.
"Assalamualaikum.” Sambung Nadyla, lalu pergi meninggalkan kelas begitu saja. Pak Roni hanya menggelengkan kepala melihat siswi tomboi itu.
Tiba di kantin, Nadyla langsung membeli mineral. Namun, ia lupa uangnya ada di dalam tas.
“Bu, uang saya ada di tas,” ucap Nadyla cengengesan. Tiba-tiba ada seseorang memberikan uang sepuluh ribuan padanya, Nadyla menoleh. Kemudian tersenyum melihat Rega yang memberikan ia uang.
__ADS_1
“Nih, Bu. Nggak jadi utang.” Setelah mengatakan itu, mereka berdua duduk di pojok kantin seperti biasa.
“Kenapa ada di kantin?” tanya Rega bingung.
“Gue keselek, daripada mati keselek makan keripik mending gue ke kantin beli air—“
“Dan enggak bawa uang,” potong Rega, Nadyla hanya tersenyum tanpa dosa.
“Kalo makan, tuh, hati-hati dan belajar yang benar. “ Mendengar nasihat Rega membuat Nadyla bergeming, jantungnya berdetak tidak karuan. Lalu menggeleng, membuat Rega mengerutkan keningnya.
“Nadyla!” teriakan Ida membuat mereka berdua menoleh, terlihat Ida dan Kaisal berjalan mendekati mereka.
“Lo kenapa ninggalin kita berdua di kelas, kalo mau ke kantin seharusnya bilang dulu. Supaya kita juga ikut.” Kali ini Kaisal yang berbicara, lalu ia duduk di samping Nadyla, sedangkan Ida di samping Rega.
“Salah siapa ketawa lihat gue keselek?” tanya Nadyla sambil meminum minumannya, lagi-lagi dia keselek. Kaisal dan Ida tertawa, walau begitu Kaisal menepuk pundak Nadyla.
“Hobi kok keselek,” kata Rega yang hanya tersenyum kecil melihat semuanya.
0oOo0
Rintik gerimis mulai turun membasahi bumi, buliran airnya menapak di kaca mobil hitam milik Rega. Ida dan Kaisal tengah sibuk beradu mulut, sedangkan Nadyla sibuk memainkan game online di ponsel Rega. Mengutak-atik game yang sebenarnya tidak ia pahami sama sekali.
“Iya, bawel.”
Rega berdecak ringan dan kembali fokus pada jalanan.
“Ga, nanti makan dulu yah, perut gue laper.” Ida berkata sembari memegang perutnya yang demo ingin diberikan jatah.
“Perutnya lagi tawuran,” ledek Kaisal membuat Ida memukul lengan cowok itu, pukulan tanpa tenaga. Berbeda jika Nadyla yang memukulnya, tangannya langsung biru.
“Mau makan apa?” tanya Rega melirik Ida yang ada di belakang.
“Hm apa aja, gue laper.”
Rega mengangguk.
Ketika restoran cepat saji sudah ada di depan mata, mobil Rega pun belok ke sana dan memasuki area restoran tersebut. Perut Ida mulai berisik dan mengeluarkan suara mengerikan dari dalam sana. Ia mengelus dan menyengir kepada sahabatnya. Mereka menertawakan Ida, padahal tadi mereka sudah makan. Suka makan, tetapi badan tetap segitu-gitu saja.
__ADS_1
Sambil menunggu giliran untuk memesan makanan, mereka terus saja mengejek Ida. Mobil Rega bergerak maju, lalu berhenti.
“Mau pesan apa?” Rega bertanya pada ketiga sahabatnya.
“Apa aja,” jawab Ida cepat.
Rega fokus ke sebuah mesin yang menampilkan berbagai menu makanan. Lalu menyebutkan menu-menu yang ingin dibeli dan secara otomatis apa yang Rega pesan langsung tertera di layar berserta harga dan total semuanya.
Mobil itu bergerak maju lagi, kali ini yang melayaninya manusia. Sementara Rega sibuk bertransaksi. Ketiga sahabatnya sibuk bercanda. Beberapa saat setelahnya mobil Rega meninggalkan tempat. Lalu menyerahkan makanan pada ketiga sahabatnya. Ida begitu semangat, matanya berbinar seolah baru menemukan makanan.
0oOo0
Mobil hitam itu memasuki parkiran rumah dan melaju ke garasi untuk parkir di sini. Hujan telah reda, menyisakan udara segar yang menjadi ciri khasnya. Mereka keluar mobil dan membawa bungkusan makanan. Rumah Kaisal sudah menjadi rumah kedua bagi mereka. Kali ini mereka memutuskan untuk menonton film horor.
Tujuan mereka sekarang adalah kamar Kaisal. Pintu kamar Kaisal terbuka ketika Rega mendorong. Mereka masuk, Kaisal menutup pintu kamarnya.
“Mau nonton film apa?” tanya Nadyla kepada sahabat-sahabatnya.
“Ini aja.” Rega menunjuk kaset dengan judul Angker.
“Serius?” Ida menatap Rega ragu, ia takut horor. Apalagi kaset yang di pegang Rega gambarnya begitu menakutkan.
“Iya, kayaknya seru.” Rega mengangguk yakin.
“Ida takut, Ga.” Nadyla berkata sembari tersenyum geli.
“Gue nggak takut, Cuma a-nu."
“Kalo takut lo bisa peluk gue, Da.” Kaisal berujar, lalu duduk di samping Ida. Entah kenapa ada perasaan aneh pada Rega hanya karena melihat Ida dan Kaisal yang begitu dekat. Kemudian dia menggeleng. Mengenyahkan pikiran aneh itu.
Film berjudul Angker itu sudah mulai, Ida terus saja menjerit dan menutup matanya. Mereka lagi-lagi menertawakan Ida, film yang mereka tonton tidak ada seram-seramnya sama sekali. Setan yang muncul hanya tuyul, tetapi Ida terlalu berlebihan.
“Apa yang serem, Da?” tanya Nadyla di sela-sela tawanya, Rega membawa Ida ke dalam dekapannya, Kaisal terus saja tertawa melihat raut muka ketakutan Ida yang berlebihan.
“Itu tuyulnya pake celana dalam doang,” ujar Ida semakin memeluk Rega erat, tidak berani melihat layar televisi mereka.
“Namanya juga tuyul, Ida.” Kali ini Kaisal yang berbicara, suasana kamar Kaisal menjadi ramai.
__ADS_1
Persahabatan mereka itu seperti warna pelangi, berbeda tetapi saling melengkapi untuk menjadi indah.
0oOo