
Bertahun-tahun telah berlalu.
Tepatnya, sudah tujuh tahun lamanya waktu dihabiskan oleh Rega, Ida, Kaisal, dan Nadyla untuk bersama-sama.
Hidup mereka benar-benar memiliki banyak perubahan. Tidak terasa, semenjak kelas 3 SD hingga kelas 1 SMA seperti sekarang persahabatan keempat remaja itu tampak semakin erat.
Bahkan, dolphins adalah nama andalan yang ditempelkan di diri mereka. Tidak ada yang tidak mengenal dolphins sekarang. Rasanya begitu menakjubkan.
Kaisal Lucero yang dulunya cengeng dan suka buang lendir sembarangan, kini mendadak berubah menjadi cowok tampan dengan rambut cukup panjang dan lebat yang sering jatuh indah ke dahinya. Kaisal yang banyak diam karena tertekan di saat kelas 3 SD dulu kini begitu aktif dan cerewet karena bahagia. Semua disebabkan oleh sahabat-sahabatnya. Jika pun Kaisal sedih, maka kesedihan itu tidak akan berlangsung lama.
Nadyla Fionica si gadis tomboi tukang ngegas saat bocah, kini berubah menjadi gadis tomboi yang lebih pedas lagi ucapannya. Tingkahnya semakin menjengkelkan, tetapi ketika ia diam maka Rega, Kaisal dan Ida akan merasa kurang. Rupanya, sifat Nadyla yang dulunya begitu Kaisal benci, kini berubah menjadi kelakuan yang mengesalkan, tetapi menggemas serta selalu dirindukan.
Begitu pun dengan Rega Nicholando. Bisa dibilang, tidak banyak yang berubah dari dirinya. Dia selalu mempesona, diamnya membuat siapa saja jatuh cinta. Rega memang memiliki sifat sedikit angkuh, tetapi kepeduliannya membuat sifat angkuh itu menjadi wajar. Semua orang begitu senang melihat Rega semenjak bersama dengan dolphins, sebab cowok amat tampan itu akan selalu tertawa lebar asalkan dengan ketiga sahabatnya. Namun, jangan harap senyum itu terbagi jika tidak ada Ida, Nadyla, dan Kaisal di antara mereka. Sungguh, karakter pujaan seluruh siswi Wanareksa High School.
Berbeda lagi jika membicarakan tentang Ida Berliana. Gadis manis tukang tidur itu kini berubah menjadi gadis manja pengagum warna biru. Jika dulu ia maniak merah muda, sekarang ia begitu malu mengingat benda-benda merah muda yang diadobsinya dulu. Meski begitu, kecerewetan dan manjanya adalah hal yang tak pernah berubah. Oh satu lagi, Ida kini menjadi lebih cengeng.
Sekedar informasi, Kaisal sebenarnya tipe cowok yang senang tidur hingga siang hanya karena malas mendengar pertengkaran. Namun, semenjak bersama dolphins, ia rela menjadi remaja yang disiplin.
Seperti sore ini selepas pulang sekolah, ia rela menahan kantuk demi selalu melempar lelucon garing pada sahabatnya di mobil milik Rega.
Hari ini tanggal 1 mei, bagaimana bisa jalanan akan aman-aman saja sementara para buruh melalukan long march? Hampir seluruh ruas jalan diserang kemacetan dan itu membosankan.
"Ga ... Rega, boleh turunin gue di sini aja nggak?" Ida bertanya dengan ragu-ragu. Mengabaikan Kaisal di sampingnya yang sibuk menjahili dia.
"Emang mau ke mana bocah?!" teriak Kaisal di samping telinga Ida. Langsung saja Ida memukul kepala cowok lebay itu.
"Diem dulu, ih! Lagi serius gue!" kata Ida, agak melotot. Kaisal hanya tertawa seraya membenarkan rambutnya sehabis dipukul Ida, kemudian ia berpindah tempat menuju kursi depan samping pengemudi. Di sana ada Nadyla yang sibuk dengan ponsel.
"Heh, ikan bandeng! Bisa nggak lo itu kagak grasak-grusuk? Diem dulu, kek!" protes Nadyla karena merasa pengap akibat Kaisal mengambil sebagian tempat duduknya yang sedari tadi sejahtera.
"Kan yang ngajarin gue kayak gini itu lo, Samson. Lagian, di belakang si monyet sensi banget."
Monyet yang dimaksud Kaisal adalah Ida. Gadis itu bergeser ke samping kanan, tepat berada di belakang kemudi Rega. Hingga ia dengan mudah memajukan kepalanya dan berbicara pada cowok itu. "Ya, Ga, ya? Gue turun sini, dong."
Rega menoleh sekilas. "Buat apa, sih? Tumben amat?"
"Tau, nih, si marmut, sok sibuk!" Kembali Kaisal mengeluarkan suara menyebalkannya sambil mengamati wajahnya pada kaca tengah.
__ADS_1
"
Gue ... gue mau pulang bareng Novaldo." Ida tersipu kala mengucapkan itu.
Mendengar hal tersebut, Nadyla langsung histeris. "LO BENERAN DEKET SAMA DIA, DA? WEEE!"
"APA, SIH, LEBAY!"
Seketika mobil Rega begitu rusuh hanya karena dua gadis itu.
"Mereka udah pacaran kali dari seminggu setelah PLS."
Rega dan Nadyla seketika terkejut mendengar penuturan Kaisal.
"Si Ida rese banget. Oh gitu, diem-diem, ya, lo sekarang. Nggak gue bagi permet karet lagi ah!" Nadyla pura-pura tidak ingin diganggu. Memang, gadis itu cukup kesal. Ia pikir, ia sudah tahu semua tentang sahabatnya, ternyata banyak yang disembunyikan darinya.
"Nggak ada yang main rahasia-rahasiaan sama lo," ucap Kaisal dan meletakkan tangannya pada bahu Nadyla. Ia tahu, gadisnya yang satu itu sedikit kecewa. "Ida belum sempat doang. Gue aja yang hobinya ngintipin urusan orang, ya jadi gue tau duluan, deh."
Nadyla tetap diam. Sibuk mengunyah permen karetnya.
Mendengar itu, Rega segera memberhentikan mobilnya, kemudian Ida turun dari sana setelah berpamitan. Rega belum beranjak sebelum Novaldo datang dengan motor matic-nya kemudian melaju bersama Ida.
Rega melihat Ida memegang pundak Novaldo dengan malu-malu. Apalagi ketika cowok ganteng dan sederhana itu melempar senyuman, Rega yakin Ida sudah begitu tersipu.
Saat kedua orang itu hilang, Rega pun hendak melajukan mobilnya untuk kembali pada kemacetan yang ada, tetapi seketika kegiatan itu terhenti karena Nadyla yang turun tanpa permisi.
"Nad, ngapain lo?" tanya Kaisal.
Rega kebingungan juga di tempatnya.
"Gue juga mau jalan sama cowok, kayak Ida. Gue nggak mau kalian mikir kalau gue itu nggak normal. Sorry, man! Banyak yang ngantri ke gue, termasuk ketua tim basket Wanareksa!" Nadyla berucap dengan begitu bangganya. Ampuh membuat Kaisal membuka mulutnya lebar-lebar karena tidak percaya.
Keterkejutan Kaisal belum berhenti, ketika sebuah motor besar berwarna merah ada di depan matanya, menghalangi pandangannya pada Nadyla.
"Untung lo dekat dari sini juga, Van. Gue bosen banget di mobil Rega kalau macetnya separah ini," ucap Nadyla seraya tersenyum.
Revan, si ketua tim basket andalan itu menjilat bibirnya kemudian mengacak rambut sebahu Nadyla dengan gemas.
__ADS_1
"Yaudah, yuk, naik. Tumben-tumbenan, nih, kamu ngajak aku jalan duluan."
Nadyla naik. "Bye-bye para cowok jomlo."
Lantas, cewek tomboi dan cowok badboy itu hilang juga dari pandangan Kaisal pun Rega.
Kaisal menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Masih tidak percaya kedua sahabat gadisnya memiliki pacar dengan secepat ini.
Rega pun melajukan lagi mobilnya, tidak juga berkata-kata. Sebab, ia merasa menjadi orang paling miris karena ditinggalkan berdua bersama Kaisal.
Tidak ada yang berbicara antara dua remaja tampan itu. Hingga akhirnya Kaisal memilih turun juga meski mobil Rega masih melaju pelan di kemacetan yang ada.
Rega langsung menginjak rem dengan mendadak karena terkejut lagi oleh kelakuan satu sahabatnya itu. Mobil yang berada di belakang mobil Rega langsung membunyikan klakson panjang.
"Gue turun di sini, Ga. Ini deket dari rumah Keisha," kata Kaisal di samping jendela mobil yang terbuka. Wajahnya datar. Entah mengapa.
"Sejak kapan lo deket sama anak padus itu?" tanya Rega, sedikit linglung.
"Kan gue sering gombalin dia pas PLS." Kaisal masih berwajah datar.
"Kenapa lo harus ninggalin gue juga?" Rega pun memilih berwajah miris.
"Gue sama lo satu mobil tanpa Nadyla dan Ida, rasanya gue terfitnah!"
Rega menganga. "Maksud lo?"
Kaisal melambaikan tangannya. "Gue terfitnah, setan. Gue dikira homo bareng lo!" Lalu Kaisal menyebrangi jalan menuju rumah berlantai dua milik Keisha.
Rega segera geleng-geleng kepala. Kemudian, kepala tersebut ia benturkan pada setir mobil.
"Sialan, kenapa jadi gue yang jomlo sendirian!"
Karena, meski Rega termasuk manusia paling tampan, ia tidak merasa harus terjerumus pada hal-hal yang tidak bermanfaat seperti berpacaran.
Entah tidak akan pernah, atau belum tertarik saja.
Sebab, takdir Tuhan, siapa yang tahu, bukan?
__ADS_1