Dolphins

Dolphins
Ancaman Aurelia


__ADS_3

Saat sudah lapar begini, dan Aurelia mengeluarkan kelakuan sok manisnya lagi, maka rasanya Rega ingin menyembelih sesuatu.


"Rega, janji adalah utang. Lo udah punya banyak utang janji sama gue." Aurelia menatap Rega penuh permohonan. Di mata Rega, itu memuakkan.


Rega menampilkan senyuman miringnya. Namun, dia tetap berpikir tentang mengapa tak sedikitpun dirinya tertarik pada gadis berlesung pipi di depannya ini.


"Lo ada niat apa, sih? Dari SMP ngejar-ngejar gue, buat apa?"


"Gue tulus suka sama lo, Ga."


Rega baru ingin membalas lagi, tetapi suara agak serak dari seorang cewek membuatnya membatalkan niat.


"Oy!" Siapa lagi yang suka menyapa dengan satu kata itu kecuali Nadyla?


Nadyla kini sudah bersedekap dan bersandar pada pintu star class. Mulutnya bergerak tak karuan karena mengunyah permen karet.


"Aurelia ... lo sekali aja bisa nggak, sih, jadi cewek baik-baik?"


Pertanyaan Nadyla membuat tangan Aurelia terkepal.


"Memangnya selama ini gue bukan cewek baik-baik?!" Aurelia membentak. Matanya sangat jelas menggambarkan betapa marahnya dia sekarang. "Lo sadar diri, dong. Diciptain jadi cewek malah bertingkah kayak cowok. Itu namanya lo nggak bersyukur diciptakan sebagai cewek. Apa itu yang lo sebut baik-baik?!"


Punggung Nadyla seketika panas. Dia berdiri tegak sekarang, kemudian menggulung lengan seragamnya. Seketika, gelang-gelang hitam yang seharusnya digunakan oleh cowok  kini menjadi benda-benda mencolok di pergelangan tangannya.


Rega yang melihat itu, diam-diam tersenyum. Dia selalu senang melihat Nadyla membela dirinya sendiri.


Kita lihat saja, sejauh mana Aurelia berani melawan Nadyla.


"Setidaknya, gue nggak pura-pura polos dan gue nggak pernah ngerayu cowok yang jelas-jelas nggak mau sama gue!"


Menjadi pusat perhatian begini bukanlah hal yang disukai Nadyla. Namun, Aurelia benar-benar menguji kesabarannya.


"Jaga, ya, mulut lo!"


Nadyla semakin mendekat. Permen yang tak lagi manis masih setia di dalam mulutnya, menambah kesan menyeramkan pada dirinya.


"Lo pikir, cowok sempurna kayak Rega mau sama cewek manja yang sukanya ngadu sama abangnya kayak lo?"


Langsung saja napas Aurelia naik turun. Apa salah jika dirinya meminta perlindungan pada kakaknya sendiri?


"Lo nggak perlu banyak bacot!" teriak Aurelia. Dia benar-benar murka. Ampuh sekali membuat Rega dan Nadyla menahan kekehannya. Aurelia pikir, Nadyla akan menciut begitu saja?


Saat Nadyla sudah berdiri sangat dekat di depan Aurelia, dia pun mengangkat dagunya tinggi kemudian tertawa meremehkan.


"Mulai sekarang, berhenti, deh ngejar-ngejar sahabat gue. Berhenti juga jadi manusia yang setiap jam istirahat nahan Rega di kelas dan buat gue harus capek-capek jemput ke sini lagi cuma buat bawa Rega ke kantin."


Rega kembali tertawa. Bagi teman sekelasnya, tawa dari Rega terlampau langka. Rega akan seperti itu jika di sekitarnya ada Nadyla, Ida, dan Kaisal. Hal seperti itu benar-benar membuat iri.


Bagi mereka, sebesar apa pengaruh ketiga manusia itu dalam hidup Rega yang sempurna?

__ADS_1


"Dan ... berhenti ngancam Rega, berhenti juga buat Vito selalu cari masalah sama dua sahabat gue. Rega dan Kaisal!"


Napas Aurelia semakin memburu. Dia melirik Rega sebentar, berharap Rega segera membawa manusia tomboi ini dari hadapannya. Karena jujur saja, berdebat bukan keahlian Aurelia.


Namun, tetap saja Rega berdiri di tempatnya, seolah sangat senang setiap kali Nadyla mempermainkan Aurelia.


Hingga tiba-tiba, pahlawan Aurelia datang dan menepuk keras bahu Nadyla. Mendengar suara tepukan itu yang keras, membuat Rega berdiri tegak karena amarah.


Sialan!


Berani sekali Vito menyakiti sahabat Rega.


"Lo apain lagi adik gue, wahai cewek jadi-jadian?" tanya Vito, menajamkan penglihatannya.


Nadyla membalas tatapan tajam itu. Dia menahan denyutan pada bahunya akibat tepukan dari Vito.


"Lo semakin hari semakin bertingkah nggak wajar, Vit. Jangan pikir karena lo senior, gue jadi takut, ya!" Rega mengeluarkan suara dinginnya. Suasana kini sangat tegang, penghuni star class yang tidak ke kantin tentu saja sangat menikmati adegan ini.


Rega yang marah adalah pemandangan yang sangat nikmat menusuk mata.


Semua semakin terlihat sempurna.


"Gue selama ini diam karena memang seharusnya gue tetap diam, tapi kalau lo udah nyakitin salah satu atau bahkan semua sahabat gue, jangan harap gue masih tetap diam!"


"Lo marah, 'kan? Semarah itu juga gue saat lihat betapa lo nyakitin dan nolak cinta adik gue."


"Berhenti libatkan gue dalam drama murahan lo ini, Aurelia!" katanya dengan nada rendah. Dan sungguh, itu menakutkan. "Berhenti ngancam gue dengan sahabat gue sebagai bahan ancaman lo itu."


Lalu Rega menggapai tangan Nadyla dan membawanya keluar dari kelas.


Melihat itu, tangan Aurelia terkepal. Vito segera mendekat. "Jangan pernah lo diam aja saat mereka nyakitin lo abis-abisan. Selalu bilang sama gue, ya? Gue akan ngelindungin lo dengan cara gue sendiri."


Aurelia mengangguk patuh.


Mengapa? Mengapa cintanya pada Rega serumit ini?


0oOo0


Di kantin, makanan Kaisal dan Ida sudah tinggal setengah. Ida pun memutar bola mata ketika dari kejauhan melihat Rega dan Nadyla yang sudah hendak memasuki kantin. Bakso milik Rega dan Nadyla sudah hampir dingin dan kedua manusia itu baru saja hendak tiba?


Astaga, drama apa lagi yang tercipta di kelas unggulan hari ini?


"Ada badai apa lagi di kelas lo, Ga?" Ini adalah pertanyaan Kaisal saat Rega dan Nadyla duduk di kursi kosong yang tersedia.


"Biasalah ... cinta ditolak abang pun bergerak!" Dan yang ini adalah ucapan Nadyla. Setelah berucap, segelas es jeruk sudah habis diminum oleh gadis itu.


Kaisal tertawa, Ida membulatkan mata, sedangkan Rega langsung menyantap baksonya.


"Kalian nggak kasar-kasar, 'kan, sama Aurelia?" tanya Ida, membuat ketiga sahabatnya mengernyit.

__ADS_1


"Lo kenapa kayak ngelindungin Aurelia banget, sih?" Pertanyaan Kaisal membuat Ida mengangkat alis.


"Gue? Ngelindungin Aurelia? Ya nggaklah, Kai. Gue cuma kasian aja. Dua tahun ditolak sama Rega nggak seharusnya kita ikut-ikutan menyudutkan dia. Kalian marah, 'kan, kalau gue sama Nadyla dikasarin?"


Rega dan Kaisal mengangguk.


"Marahlah! Nggak ada yang boleh sakitin sahabat-sahabat gue," kata Rega, penuh keseriusan.


Mendengar pembicaraan sahabat-sahabatnya, Nadyla hanya mengangkat bahu dan melahap baksonya. Sungguh, tenaganya seperti dikuras habis di kelas Rega tadi.


"Gue nggak suka, ya, kalian kasar-kasar sama cewek. Kalau kayak gini terus, gue sama Kaisal harus ikut ke kelas lo setiap istirahat. Gue tau Nadyla pasti jadi singa jahat di kelas lo." Ida berkata lagi. Sangat ampuh membuat Rega tersenyum kecil dan menggengam tangannya erat.


"Nggak kasar, kok. Dan gue bisanya, tuh, neglindungin lo sama Nadyla. Bukan kasar-kasar. Eak!"


Nadyla tersedak kuah baksonya sendiri karena mendengar gombalan receh Rega. Dadanya entah kenapa berdenyut lagi.


Iya! Lagi! Biar Nadyla bocorkan sebuah rahasia. Bahwa, entah sejak kapan Rega selalu bisa menjadi makhluk yang berpengaruh pada gemuruh dadanya.


Sungguh, Nadyla tak tahu entah sejak kapan itu.


"Najis! Najis! Najis!" Rasanya Nadyla ingin berteriak.


Rega menahan tawa. Dia melirik Nadyla sekilas lalu melempar kode pada Kaisal. "Kalau lo, Kai, bisanya apa?"


"Bisa gue, tuh, manja ke Ida, minta perhatian lebih dari Nadyla, dong. Ida, lo pokoknya harus selalu manjain gue. Dan lo Nad, harus selalu perhatian ke gue."


"Ih, apa, sih, kalian? Gaje!" Ida berseru. Membuat Rega dan Kaisal kompak tertawa. Nadyla bahkan menyodorkan garpu tepat di depan mata Kaisal, membuat Kaisal mundur karena terkejut.


"Jangan galak-galak, dong, Sayang," ucap Kaisal dengan nada menggoda pada Nadyla.


Sekali lagi Nadyla bocorkan sebuah rahasia, bahwa dadanya tak berdebar jika Kaisal yang seperti itu padanya. Namun, jika dia adalah Rega, sudah pasti Nadyla sulit mengedipkan mata.


Ada apa ini?


Berbeda lagi jika itu Ida. Melihat Kaisal yang selalu manis pada Nadyla, mengapa dia selalu merasa hampa?


Tuhan, Ida berdoa, semoga persahabatan mereka akan tetap baik-baik saja hingga selamanya.


Dan Tuhan, Ida berharap, getaran di dadanya setiap kali ada hal yang berhubungan dengan Kaisal, bukanlah perkara yang akan menghancurkan persahabatan mereka.


"Da ... lo, kok, pucat?" tanya Rega, membuat lamunan Ida pecah.


"Pucat? Gue? Masa?" Ida tentu saja terkejut. Mengapa dirinya pucat?


"Gue antar ke UKS, yuk. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa."


Dan Rega, di hatinya ini sebenarnya kenapa jika Ida yang menjadi objeknya?


Sungguh, mereka semua hanyalah sahabat, 'kan, Tuhan?

__ADS_1


__ADS_2