
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, gadis tomboi yang terkenal senang membolos sekolah bernama Nadyla itu terbaring lemah di UKS Wanareksa High School sebanyak dua kali. Biasanya, dia akan terbaring di sini jika diajak oleh Kaisal karena bosan pada pelajaran matematika.
Jangan tanya mengapa mereka bisa masuk pada kelas MIPA 3, sementara mereka termasuk pada bagian anak-anak pembangkang. Sebab, mereka juga tak paham mengapa bisa masuk pada jurusan itu.
Siang itu, Nadyla membuka matanya dan ruangan putih pun menyambutnya.
Nadyla bangkit dan bersandar pada ranjang UKS. Matanya menatap hampa pada sofa kosong yang ada di depannya.
Biasanya, ada Kaisal tidur di sana. Namun, kini? Tidak ada.
Biasanya, saat bel istirahat kedua berbunyi dan Kaisal serta Nadyla bolos ke UKS, Ida pasti akan datang dengan wajah kesal dan menyerahkan buku yang lengkap catatannya pada Nadyla.
Dan biasanya, tak lama setelah Ida tiba, Rega akan datang dengan plastik berisi minuman dan makanan ringan yang ia beli di kantin sekolah.
Tapi sekarang? Mengapa Nadyla merasa seperti ditinggal sendirian?
Mengapa Rega tidak menghampirinya ke sini? Dan siapa yang membawa Nadyla ke UKS ini?
Nadyla memegangi dadanya yang seperti dipukul palu itu. Kemudian dia menunduk dan menemukan tangannya yang lain sudah diperban. Terlihat jelas ada darah yang menghiasi tangannya. Membuat Nadyla tertawa tanpa suara.
"Apa Rega nggak ke sini karena lagi sama si cabe itu?" Nadyla bergumam. Diam-diam mengutuk dirinya yang bodoh karena lagi-lagi menangis.
"Tuhan, kenapa sesakit ini? Apa salahnya jika Rega memilih Aurelia? Apa salahnya?"
Ya, apa salahnya?
Nadyla menggeleng. Sesak di dadanya semakin membuncah dan air matanya semakin tumpah.
"Gue nangis karena apa, sih, ah, bangke!" teriaknya frustrasi sembari menghapus air matanya dengan kasar.
Namun nihil! Air mata itu justru semakin deras.
"Gue pasti nangis karena kangen Ida dan Kaisal, 'kan?" tanyanya pada diri sendiri kemudian mengangguk seorang diri. Namun, tetap saja hatinya tidak merasa tenang.
"Terus, gue pasti sakit hati kayak gini karena merasa bersalah atas kecelakaan itu, 'kan?" Tetap saja Nadyla tidak mendapat ketenangan. "Atau gue cemburu sama Aurelia?"
Tidak! Nadyla tidak boleh cemburu pada cabe itu.
"Gue ... suka sama Rega bukan sebagai sahabat nggak, sih?" tanyanya sambil memejamkan mata dan air mata yang terus juga mengalir. "Hah? Apa selama ini gue nggak nganggap Rega sebagai sahabat gue?"
Meski mati-matian meminta agar otaknya mengatakan 'tidak', tetap saja hatinya berbicara bahwa hal itu terjawab hanya dengan ... 'iya'.
Dan, iya ... Nadyla menyukai Rega.
Nadyla jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.
Sungguh! Ini payah!
0oOo0
Seharian ini Rega merasa hidupnya di sekolah seperti di neraka.
Karena Rega diketahui berpacaran dengan Aurelia, surat-surat berisi kata-kata sakit hati dan galau dari adik kelasnya pun datang silih berganti.
Tatapan kecewa dari teman cewek seangkatannya pun selalu menghujaninya.
Sungguh, Rega tidak peduli pada mereka. Yang dia inginkan hanyalah cinta dari Ida, bukan dari ratusan gadis-gadis di sekolah ini.
Maaf.
Rega akui, dia sepertinya tak bisa menepati janji dolphins dua tahun yang lalu andaikan Aurelia sekarang tidak menjadi pacarnya.
Karena percayalah, Rega benar-benar merindukan Ida dan rasanya ingin mengatakan pada dunia bahwa Rega hanya milik Ida.
Sayang sekali, janji untuk tidak lebih dari sahabat dua tahun yang lalu, dan Aurelia yang datang sebagai pengganggu membuat Rega harus rela menahan sakit di hatinya.
Bel pulang sudah berbunyi dan Rega rasanya ingin membunuh gadis yang bergelayut di lengan kanannya ini.
"Kita jalan-jalan ke mana hari ini, Ga? Gue nggak mau pulang dulu pokoknya!" ucap Aurelia. Sok manja.
Rega yang sedang memasukkan peralatan belajarnya ke dalam tas dengan satu tangan itu, hanya bisa mengeraskan rahang.
__ADS_1
Ah, demi sahabat-sahabatnya Rega rela bersabar dengan semua ini.
"Kenapa ... lo bertingkah sejauh ini?" tanya Rega. Dingin.
Aurelia tersenyum. "Sejauh ini?"
"Ya. Lo itu jadiin Vito bahan buat ngancam gue. Lo bahkan pertama kali turun tangan sendiri buat ngancam gue dengan bawa-bawa Ida. Lo bilang mau nyakitin Ida. Dan sekarang apa? Demi status pacaran sama gue, lo rela sakitin tiga sahabat gue sekaligus."
"Karena gue suka dan cinta sama lo."
"Gue nggak butuh jawaban yang seperti itu!"
"Udahlah, Ga. Yang penting kita udah pacaran. Buat apa, sih, nanya-nanya lagi?!"
Rega menarik napas. Mencoba membuat dirinya agar semakin sabar.
"Oke!" bentak cowok itu. Membuat semua mata teman-teman yang masih berada di kelas menatapnya heran. Rega tidak peduli. "Kalau lo beneran cinta sama gue, biarin gue jemput Nadyla di UKS. Lo dengar, 'kan, apa kata teman sekelasnya tadi? Nadyla sempat pingsan dan dia di UKS. Gue seharian nggak pernah ke sana, dan apa lo tahu segusar apa gue karena nggak lihat tiga sahabat gue seharin hanya karena lo?"
"Sekali nggak ya nggak! Pokoknya, gue sekarang yang harus jadi prioritas lo!" balas Aurelia, sedikit berteriak.
Rega menatap Aurelia tajam kemudian menghempas tangan gadis itu dengan kasar.
Aurelia melotot. "Oh, lo mau kasar lagi sama gue? Hal parah apa lagi yang harus gue lakuin untuk buat ketiga sahabat lo menderita, hah?!"
"Lo ini bukan cinta! Obsesi lo buat milikin gue itu udah parah banget!"
"Terserah gue! Pokoknya, mulai sekarang lo nggak boleh pentingin sahabat-sahabat lo daripada gue."
Rega lemas rasanya menghadapi semua ini. "Gue mohon. Gue mohon sama lo. Biarin gue jemput Nadyla di UKS dan biarin gue jenguk Ida sama Kaisal di rumah sakit."
"Nggak!"
"Gue mohon." Suara Rega benar-benar lirih. Permohonannya benar-benar tulus. "Lo pacar gue. Lo pacar gue, Aurelia. Pacar lo ini mohon supaya bisa ngumpul lagi sama sahabat-sahabatnya. Gue mohon."
Ya Tuhan, Aurelia sebenarnya memang lemah jika Rega di hadapannya.
"Oke. Gue pulang tanpa lo antar untuk hari ini. Ingat, ya, cuma hari ini gue izinin lo kayak gini. Cuma hari ini gue ngalah buat nggak diantarin lo pulang."
Aurelia tidak ingin menangis. Akhirnya tanpa menunggu jawaban, gadis itu memilih membawa langkahnya menjauh.
Rega terdiam. Dia mencerna.
Kemudian, tak lama setelah itu, dia sadar bahwa Aurelia pasti sudah jauh. Akhirnya, Rega menggapai tasnya dengan kasar dan berlari ke UKS.
Tiba di UKS dia langsung disuguhkan pemandangan di mana Nadyla hendak turun dari ranjang.
"Nad! Lo kenapa? Apanya yang sakit?" tanya Rega beruntun. Tangannya memegangi bahu kiri Nadyla, tapi langsung dihempas oleh gadis itu.
"Gue nggak apa-apa," kata Nadyla dan tidak menatap Rega. Hal itu membuat Rega paham bahwa Nadyla marah padanya.
"Gue minta maaf karena nggak ke sini lebih cepat. Semua ini ada alasannya, Nad."
"Aurelia, 'kan, alasannya? Gue tahu, kok, tenang aja."
"Nad ... gue minta maaf."
"Nggak apa-apa." Lalu Nadyla pergi dari sana.
Rega dengan cepat mengejar Nadyla dengan menggapai tangan kanan gadis itu. Nadyla meringis, bahkan hampir berteriak. Sebab, tangan kanannya yang diperban itu masih terlampau perih.
"Nad! Tangan lo? Ini kenapa?" Rega tidak mampu menutupi keterkejutannya.
"Bukan urusan lo!" balas Nadyla dan menarik tangannya dari genggaman Rega. Entah kenapa Nadyla semarah ini. Dia hanya berharap, dengan marah sakit di hatinya bisa berkurang.
"Gue mau ke rumah sakit, Ga," kata Nadyla dan diangguki oleh Rega.
"Kita bakalan ke rumah sakit, Nad. Tenang aja."
"Tapi nggak sama lo, Ga. Gue mau sendiri."
Nadyla melanjutkan langkah, meninggalkan Rega dengan alis yang berkerut.
__ADS_1
"Nggak. Lo harus sama gue," kata Rega di belakang Nadyla.
"Lo selalu nurutin kemauan sahabat-sahabat lo, 'kan?" tanya Nadyla. "Dan kemauan gue sekarang adalah ke rumah sakit sendiri tanpa lo. Dan gue mohon, lo jenguk Ida sama Kaisal saat gue pulang jam lima sore nanti. Sumpah, Ga, hari ini gue nggak mau banyak berinteraksi sama lo."
Pergilah Nadyla.
Rega tidak lagi mengejarnya. Karena ingat, 'kan, sahabat Rega adalah yang utama?
0oOo0
Nadyla langsung disambut senyuman manis dari Farah, ketika Nadyla membuka pintu ruangan yang dihuni oleh Kaisal dan Ida.
Nadyla membalas senyuman itu dan menghampiri Farah kemudian menyium punggung tangannya.
"Lho, ini tangan kamu kenapa?" tanya Farah, terkejut.
Tidak mungkin Nadyla mengatakan bahwa dia meninju kaca toilet karena kecemburuannya terhadap Aurelia dan Rega.
"Nggak apa-apa, Tante. Nggak apa-apa, beneran. Eh anu ... tante sendirian aja jagain Kaisal sama Ida?"
Farah yang mendengar Nadyla terlampau cepat berbicara itu hanya bisa mengangguk. "Iya. Papanya Kaisal baru pulang, kok, nggak ketemu di luar?"
Nadyla menggeleng. Dia memang tidak bertemu Wira--papa Kaisal--ketika tiba di rumah sakit.
"Papanya Ida juga pulang setengah jam yang lalu. Dan tante juga harus pulang sekarang, Nak. Boleh, 'kan, titip mereka?"
Nadyla mengangguk sambil tersenyum. "Itu di meja tante udah beliin makanan buat kamu sama Rega," kata Farah sembari menunjuk meja. "Eh tapi, Rega mana?"
"Rega ke sini jam lima sore, Tante. Nadyla pulang jam lima.”
"Oh, gantian berarti jagain Kaisal sama Ida, ya?"
Nadyla pun hanya bisa mengangguk. Lemas rasanya setelah menyebut nama Rega tadi.
"Yaudah tante pulang dulu, ya. Tante ke sini lagi nanti malam."
"Iya, Tante. Hati-hati."
Setelah mengangguk, Farah pun pergi.
Nadyla semakin lemas rasanya. Dia mendekati Kaisal dan merapikan rambut-rambut di dahi cowok itu. "Bangun, ******! Jelek banget kalau lo tidur lama kayak gini!"
Tapi tetap saja Kaisal tak bergerak.
Nadyla pun menuju tempat tidur Ida. Dia menggapai kursi dan duduk di sana sembari menggenggam tangan Ida.
"Heh cewek loyo ... bangun, dong. Gue nggak ada teman, nih, lo nggak kasian?" Air mata Nadyla tumpah lagi. Seketika Nadyla mengingat kalimat bundanya setiap kali dia jatuh sakit.
‘Bunda mau, bunda aja yang sakit, gantiin posisi kamu, Sayang.'
"Gue mau, gue aja yang sakit, gantiin posisi lo, Da. Lo kayak gini karena gue."
Cewek itu mengutuk kembali dirinya karena menangis lagi.
Dasar lemah.
"Da, lo tau nggak? Nggak, ya? Huhu, Aurelia sama Rega pacaran, Da." Nadyla meremas dadanya saat sadar Ida tidak menunjukkan reaksi apa-apa. "Lo nggak marah, Da? Rega pacaran sama cabe dan lo diam aja, Da? Bangke lo!"
Lalu Nadyla menoleh pada tempat Kaisal. "Kai! Bangun! Yok pacaran sama gue saat lo bangun. Emang si Rega aja yang bisa pacaran! Ah kampret!"
Selesai dengan ucapannya, Nadyla langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan. Gadis itu menangis sekuat-kuatnya di sana.
Tanpa dia sadari, setetes air mata mengalir dari mata Ida saat Nadyla mengatakan kalimat itu pada Kaisal. Namun, gadis itu tidak mampu membuka matanya.
Ida tak bereaksi saat mendengar kabar Rega berpacaran dengan Aurelia. Namun, air matanya jatuh hanya karena kalimat asal dari Nadyla untuk Kaisal.
Jika begitu ... untuk siapa hati Ida telah jatuh?
Nadyla juga tak tahu bahwa kalimatnya tadi berpengaruh pada Kaisal. Saat Nadyla selesai dengan kalimatnya, jemari kanan Kaisal bergerak. Namun, cowok itu terlalu lemah untuk membuka mata.
Sampai di sini, apa bisa disimpulkan jika Ida menyukai Kaisal, Kaisal menginginkan Nadyla, Nadyla mengharapkan Raga, dan Rega hanya mau Ida?
__ADS_1
Apa dolphins serumit itu?