Dolphins

Dolphins
Kejutan Untuk Aurelia


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Rega. Rencananya hari ini benar-benar harus berjalan lancar. Sebab, sudah cukup dirinya dan sahabat-sahabatnya yang tersiksa. Sekarang, biarkan si ular itu merasakan hal yang sama.


Bel pulang sudah berbunyi, membuat Rega mengelus tangannya layaknya penjahat masa kini. Tak lama, cowok itu berdiri dan mendekati kursi Aurelia.


"Kamu mau aku langsung antar pulang atau kita jalan-jalan dulu. Ke mana gitu?" tanya Rega, tepat di depan wajah Aurelia.


Aurelia tentu saja sumringah. Dengan cepat gadis itu memasukan peralatan belajarnya. "Kita harus jalan-jalan dululah. Kan jarang-jarang kamu mau ngajakin aku jalan duluan."


"Iya. Aku mau buat hari ini berkesan banget buat kamu."


Aurelia rasanya ingin menangis. Sungguh, dia terharu. Sebab, hal sederhana seperti inilah yang dia inginkan dari Rega. "Kamu baik banget, deh, Ga, hari ini." Aurelia berdiri. "Tapi, Kaisal, Nadyla, dan Ida, nggak ikut, 'kan?"


Rega mengangguk cepat. "Nggak, dong. Ini, 'kan, hari spesial kita berdua."


Langsung saja Aurelia maju dan memeluk lengan Rega dengan sayang. "Ya ampun, Rega. Kenapa nggak dari dulu aja kamu buat aku kayak gini?"


Rega hanya diam. Dia menuntun Aurelia untuk berjalan. Aurelia melewati koridor dengan gayanya yang begitu bangga, sedangkan Rega mati-matian menahan tawa.


Hingga dari depan, Novaldo meneriaki nama Rega. Membuat si punya nama tersenyum puas dan Aurelia ingin marah karena merasa terganggu. Apalagi sekarang Aurelia membenci Novaldo, sebab mantan Ida itu secara terang-terangan menghinanya kemarin.


"Ke aula bentar, ya, Ga!" teriak Novaldo lagi. Rega mengacungkan jempol tangan. Jempol tangannya langsung diturunkan oleh Aurelia.


"Kamu mau ke aula? Kamu nurutin permintaan dia?" tanya Aurelia bertubi-tubi.


Rega mengangguk. "Sebentar aja, kok. Lagian di sana ada kejutan buat kamu."


Tidak jadilah Aurelia marah hanya karena mendengar kata kejutan. Senyumnya langsung mengembang. "Serius ada kejutan buat aku?"


"Seriuslah, Sayang." Rega merinding ketika memanggil Aurelia dengan sebutan sayang. Sungguh!


Setibanya mereka di aula, Aurelia langsung mengerutkan kening. Sebab, banyak anak-anak Wanareksa High School di sana. Mereka seperti hendak menonton konser.


Sangat riuh.


"Mereka yang akan menjadi saksi untuk kejutan aku ini, Sayang," kata Rega di samping telinga Aurelia.


Aurelia pun paham. Dia mengangguk. Ah, tidak sabar dirinya akan kejutan yang diberikan Rega untuknya.


Aurelia dan Rega kini berdiri di tengah aula. Mereka saling menggenggam, hingga tiba-tiba dua orang cowok datang membawa papan besar yang dibalik. Karena papan itu dibalik, Aurelia jadi tidak dapat melihat apa yang ada di papan tersebut. Dia hanya melihat bagian belakang saja. Berbeda dengan kawan-kawannya yang lain, mereka terkejut sambil menahan tawa melihat papan itu.


Dan bodohnya, Aurelia tidak sadar.


Lantas, ruangan tiba-tiba berubah gelap. Kemudian di sebuah layar yang lebar, yang biasanya digunakan untuk presentasi besar pun menyala. Di sana, tampil dua orang manusia yang sedang bertos ria.


Mata Aurelia langsung membulat melihat itu.

__ADS_1


Itu dirinya dan Revan.


“Jadi setelah ini rencana lo apa?” Suara Aurelia sangat terdengar jelas pada cowok di depannya, Revan. Membuat lelaki itu tersenyum sinis.


“Gue ingin rencana kita besok membuat gadis tomboi yang belagu itu tidak punya siapa-siapa," jawab Revan pada rekaman itu.


Wajah Aurelia langsung merah. Itu adalah video di mana Aurelia sedang berada di belakang sekolah bersama Revan.


Sialan! Siapa yang merekam ini semua?


Wajah terkejut siswa dan siswi Wanareksa High School memenuhi aula. Mereka tidak menyangka jika Aurelia, si gadis terpintar di kelas unggulan itu ternyata sekejam dan semunafik ini.


Dia rela melakukan apa saja hanya demi cinta. Bodoh sekali rupanya.


"Kejutan, Sayang," bisik Rega dan melepas genggamannya pada Aurelia.


Aurelia benar-benar kehilangan kata-katanya. Semakin hilang ketika dari pengeras suara terdengar lagi teriakan dua orang cowok yang saling bersahutan.


"Sekali lagi, bilang sama gue ... apa motiv lo sampai lo berbuat sejahat ini ke Nadyla dan kami semua?!" Itu teriakan Rega. Semua orang mengenalinya.


"Diputusin secara sepihak oleh Nadyla dan selalu dianggap brengsek sama lo serta sahabat-sahabat lo itu buat gue sejahat ini, Ga." Dan ini suara Revan. Siapa lagi orang diputuskan oleh salah satu anggota dolphins dan mendadak terkenal itu jika bukan Revan? Ya, ini suara Revan.


"Bullshit, Van!"


"Gue cuma mau Nadyla tunduk sama gue. Minta maaf sama gue. Dan ... jadi milik gue lagi!"


"Ya gue bakalan hempasin dialah. Sama seperti dia yang tiba-tiba putusin gue tanpa alasan. Gue? Gue akan putusin dia di lapangan dan di depan banyak orang! Puas lo?!"


"Ngaku ke gue. Selama ini lo bekerja sama dengan Aurelia, 'kan?"


"Kalau iya kenapa?" tanya Revan. "Apa urusan lo? Ingat, ya, Aurelia itu berbahaya, bray!"


"Dan Ida ... lo, 'kan? Lo yang fitnah dia?" Masih suara Rega yang terdengar paling merdu. Meski dia marah, tetap saja wibawanya tak terelakkan.


Revan tertawa. Kuat sekali. "Iya! Gue. Gue dan Aurelia yang atur semuanya, bro. Hebat, 'kan?"


"Mulai sekarang, gue minta lo berhenti ngelakuin hal konyol ini. Berhenti, Van, sebelum gue bener-bener muak dan dengan terpaksa gue bilang ke bokap gue untuk mecat bokap lo dari perusahaannya." Mendengar kalimat Rega ini, semua orang semakin terkejut. "Lo mau ngaku sendiri ke orang-orang, atau gue yang mempermalukan lo langsung? Atau ...." Rega sengaja menggantungkan kalimatnya. "Besok bokap lo langsung jadi pengangguran aja?"


Rekaman pun berhenti.


Ya, Rega harus sejahat ini. Sebab, Revan tidak memilih apa pun. Dia tidak memilih untuk membongkar kejahatannya sendiri. Jadi, maafkan Rega karena menjadi sekejam ini. Dia yang membongkarnya sendiri.


"Jadi selama ini, gue dipaksa pacaran sama dia, gais!" teriak Rega. Dia menunjuk Aurelia dengan tajam. Sebab, Rega sudah sangat-sangat muak sekarang.


"Dia goda gue, dia ngancam gue, bahkan dia sama kakaknya yang buat rem gue blong sampai-sampai dua sahabat gue koma! Kurang jahat apa lagi dia?"

__ADS_1


Aurelia sudah menangis sekarang.


"Waduh, malah nangis! Gimana rasanya? Hah? Yang lo rasain sekarang itu nggak ada apa-apanya dibanding yang lo lakuin ke gue dan sahabat-sahabat gue. Lo ...." Rega lagi-lagi menunjuk Aurelia. "Lo buat tiga sahabat gue ganti-gantian masuk rumah sakit. Setelah lo buat Kaisal dan Ida koma, lo juga penyebab Nadyla mencoba bunuh diri dan kemarin dirawat. Cuma karena pengin dapetin cinta gue seutuhnya,lo jadi sejahat itu? Lucu banget!"


Sungguh, Aurelia mengaku kalah sekarang. Teriakan makian dari penghuni sekolah benar-benar melukai Aurelia.


"Jadi sekarang, semua orang udah tahu kebusukan lo. So ...." Rega menjeda, kemudian papan yang dibawa tadi kini dibalik untuk dilihat oleh Aurelia.


Mata Aurelia langsung membulat besar.


Di sana, berbagai macam foto wajahnya diambil secara asal. Aurelia yang terkenal cantik kini dipermalukan dengan wajah paparazi di papan itu. Benar-benar dipermalukan Aurelia sekarang.


Di bawah fotonya yang tak ada cantiknya sama sekali, terdapat tulisan yang semakin menyakiti Aurelia.


'Hai Aurelia yang cantik tiada tandingan. Gue Rega yang jelek ingin mengatakan sesuatu ... yaitu, gue mau kita PUTUS!'


Aurelia langsung menutup mulutnya saat selesai membaca tulisan itu.


Sedangkan Rega sudah tertawa bersama teman-temannya yang lain.


"Oke, Aurelia? Gue putusin lo detik ini dan gue nggak akan takut lagi sama apa pun ancaman lo!"


Setelah mengatakan itu, Rega keluar dari Aurelia.


Segala makian dari orang-orang untuk Aurelia, masih mampu Rega dengar. Ya, maafkan Rega karena sejahat itu pada Aurelia.


Di depan pintu aula, Rega pun bertemu Novaldo. Cowok yang sangat berjasa dalam membantu misinya ini. Di samping Novaldo ada Keisha ... mantan Kaisal.


Kei dan Kai. Ya, Rega ingat betapa dibanggakannya pasangan itu ketika kelas sepuluh dulu. Sayangnya hubungan mereka harus kandas. Dan sekarang, Rega melihat Keisha tengah memeluk lengan Novaldo. Aroma-aroma jadian masuk pada indera penciuman Rega.


Semoga ... semoga Novaldo bisa melupakan Ida dan membuka hatinya untuk Kei.


"Thanks, bro. Lo membantu banget," kata Rega sambil menepuk pundak Novaldo. Novaldo hanya mengangguk.


Rega pun pergi. Satu tujuannya, yaitu parkiran. Sebab, ketiga sahabatnya pasti sudah menunggu di sana.


Ida adalah dalang dari semua ini. Dalang di mana Rega berjuang sendiri di aula. Sebab, Ida memaksa untuk tidak menonton hal itu. Ida tidak ingin melihat betapa sakitnya Aurelia yang diputuskan di depan banyak orang.


Akhirnya, mereka bertiga menunggu di mobil dan Rega menjalankan misinya.


Langkah Rega sangat ringan. Sebab, dolphinnya mulai hari ini resmi untuk benar-benar kembali.


Lihatlah, tak mudah mereka dirobohkan, bukan?


Bagaimana dengan kisah persahabat kalian? Sekuat dolphinskah?

__ADS_1


Ah, semoga lebih kuat dari itu, ya.


__ADS_2