Dolphins

Dolphins
Janji Tetaplah Janji


__ADS_3

Setelah kejadian Rega memutuskan Aurelia di depan umum. Gadis itu memilih untuk pindah sekolah. Revan, lelaki itu menjadi seorang troublemaker. Bukannya menjadi lebih baik, malah semakin nakal dan melanggar aturan. Namun bagi Rega, selagi lelaki itu tidak mencari masalah dengan Dolphins Revan bukanlah serangga yang harus dimusnahkan.


“Gimana kalo kita ke taman?”


Dolphins tengah duduk di kantin. Mendengar ajakan Nadyla membuat Ida mengangguk setuju.


“Pulang sekolah kita ke taman dekat rumah Nadyla.” Rega berkata sembari tersenyum, Kaisal hanya terkekeh. Tidak percaya setelah melewati beberapa masalah dolphins masih tetap bertahan.


Masalah hati mereka, tentu masih sama. Rega yang mencintai Ida, Ida mencintai Kasial, Kaisal mencintai Nadyla, dan Nadyla mencintai Rega. Namun, mereka sepakat untuk memenuhi janji mereka dua tahun yang lalu.


Mereka yang akan menjadi sahabat selamanya. Tidak mudah memang, rasa sakit saat melihat orang yang dicintainya dengan orang lain, tapi apa boleh buat. Ini demi persahabatan mereka.


Tidak seharusnya cinta menghancurkan persahabatan yang telah dibangun lamanya.


“Btw ada satu pertanyaan dari gue, Ga. Lo kok bisa kerjasama sama Novaldo?” Jelas bukan Ida yang bertanya, ini adalah suara Kaisal. Lelaki itu menatap Rega penasaran. Ida dan Nadyla hanya memperhatikan mereka berdua.


“Bisalah, yang terpenting kita bisa kumpul gini lagi.”


Lagi, Rega seolah tidak ingin memberitahu apa yang telah terjadi. Namun, mereka tak memedulikan semua itu, benar kata Rega. Yang terpenting mereka masih bersama.


0oOo0


Gemericik air hujan turun membasahi keempat remaja yang tengah menikmati mangga. Mereka tak beranjak sedikit pun. Menikmati hujan yang mulai membesar.


“Gue rindu hujan-hujan gini sama kalian,” kata Ida dengan senyumnya.


Nadyla berdiri menarik tangan Ida untuk berdiri.


“Gimana kalo kita main bola aja, gimana?” usul Kaisal yang jawab anggukan.


Di bawah langit mendung, keempat remaja itu tengah asyik bermain bola layaknya anak sd. Canda dan tawa menjadi penghias. Baju mereka sudah basah dan kotor, tetapi belum ada tanda-tanda mereka menyudahi permainannya.


Ida seperti cewek pada umumnya, tidak menendang hanya berterial-teriak saja. Sedangkan Nadyla hanya menetertawakan sahabatnya itu.


“Lo main bola atau apa, Da. Teriak-teriak doang,” ejek Nadyla


“Gue takut bola.” Mendengar jawaban Ida, membuat semuanya tertawa.


Jadi inilah kebahagiaan sesungguhnya, kebersamaan bersama sahabat-sahabatnya adalah suatu anugerah yang seharusnya mereka syukuri.


Dalam hati mereka berharap. Kebersamaan ini akan selalu mereka rasakan.


Pelangi tidak akan kunjung datang ketika hujan tak reda. Sama seperti mereka. Kebahagiaan tidak akan kunjung datang, jika masalah terus saja menerpa.


Setidaknya masalah yang mereka lewati, akan menjadi pelajaran berharga di masa depan. Jangan sampai semuanya terulang kembali.


Masalah juga mengajarkan mereka banyak hal.


0oOo0


Nadyla, Kaisal, dan Rega mengunjungi rumah Ida ketika matahari sudah digantikan dengan satu bulan dan bintang yang bertaburan.


Nadyla mengetuk pintu rumah Ida dengan keras. Tak peduli pada Om Aldi yang akan marah. Nadyla yakin jika ayah Ida tersebut sudah benar-benar berubah. Tak kasar lagi seperti dulu.


"Ida! Ooo Ida!" Sedangkan ini adalah teriakan Kaisal yang mengiringi ketukan Nadyla. Rega hanya bisa geleng-geleng.


Ketika Ida keluar dengan rambut acak-acakan, Rega langsung berdiri tegak dan melempar senyuman manis.


"Main yook!" teriak Nadyla tepat di depan hidung Ida. Ida yang terkejut langsung memukul jidat Nadyla dengan keras.


Tertawalah Rega dan Kaisal. Setelah puas melihat tingkah kedua sahabat ceweknya, Rega dan Kaisal langsung menggapai tangan masing-masing dari mereka. Seperti biasa, Rega menarik Ida dan Kaisal menarik Nadyla.


Satu tujuan mereka ... taman di samping rumah Ida. Tiba di taman, Rega langsung menghempaskan tubuhnya ke atas rumput. Dia berbaring di sana, membuat Ida, Nadyla, dan Kaisal melakukan hal yang sama. Mereka berbaring dengan rapi di atas tanah.


"Akhirnya kita bisa tiduran bareng di sini lagi, ya." Itu suara Kaisal. Seketika membuat kepala ketiga sahabatnya menoleh ke arah dirinya yang saat ini memusatkan perhatian ke langit malam.

__ADS_1


"Gue harap, masalah yang kita lewati kemarin nggak akan merubah apa pun dalam persahabat kita," ucap Ida. Merasa terharu jika mengingat semua yang dirinya dan dolphins lewati kemarin.


"Nggak!" bantah Rega. "Gue mau ada perubahan di dalam dolphins." Jika tadi seluruh kepala menoleh pada Kaisal. Kini semua ke arah Rega.


"Perubahan apa?" tanya Nadyla penasaran.


Rega tersenyum kecil seraya menutup mata. "Gue mau pacaran sama Ida."


Di situlah Ida memukul hidung Rega, walau tak keras. Melihat tingkah Ida dan Rega, Nadyla hanya bisa meremas dadanya dengan gaya tidak kentara.


"Kalau gitu, gue juga mau pacaran sama Nadyla!" ucap Kaisal tegas. Nadyla langsung mendaratkan kelima jari tangan kanannya di atas wajah Kaisal. Membuat Kaisal tertawa dengan heboh.


"Bercandaan kalian nggak lucu tahu, nggak?!" sentak Nadyla. Dan Kaisal masih juga tertawa.


"Jangan gini, ah!" teriak Ida kemudian.


Kali ini tawa Rega ikut pecah. Tawa Kaisal dan Rega tersebut tak ada merdunya sama sekali. Demi apa pun!


Ida dan Nadyla saling tatap. Mengapa kedua sahabat cowoknya itu mendadak horor?


"Kenapa, sih?" tanya Rega setelah puas tertawa. "Nggak ada salahnya kita semua pacaran. Orang Aurelia udah hilang dan Revan nggak gangguin kita lagi."


"Ingat, deh, Ga, sama--"


"Sama janji kita dua tahun yang lalu," potong Rega cepat. Ida yang kalimatnya dipotong begitu saja oleh cowok di sampingnya ini memilih memutar bola mata.


"Iya, Da, iya. Tenang aja. Gue sama Kaisal ingat, kok. Tadi becanda doang."


Mendengar ucapan Rega, membuat Ida dan Nadyla merasakan perasaan yang sulit didefinisikan.


Entah mereka harus lega, atau justru merasakan kesedihan yang luar biasa.


Kaisal bangkit dari tidurnya. Kini kedua tangannya dia gunakan untuk menyanggah berat badannya. Kedua tangan cowok itu berada di belakang punggungnya dan sepuluh jemarinya rapat pada tanah.


Nadyla yang masih berbaring dan sekarang menatap bagian belakang kepala Kaisal, diam-diam mengakui jika cowok yang menyukainya itu sebenarnya adalah satu manusia yang hampir sempurna.


Ternyata, hati memang serumit itu.


Ida juga bertanya-tanya. Mengapa dirinya justru mengharapkan Kaisal? Padahal ada Rega di sampingnya yang sosoknya justru bagaikan pangeran. Banyak gadis yang mengharapkan Rega, tapi mengapa Ida tidak bisa memilih cowok itu?


Lihatlah! Bahkan sekarang Rega mengelus kepala Ida dengan sayang. Namun, Ida hanya ingin Kaisal yang melakukan itu.


Ah, rumit sekali hati mereka ini.


"Kita harus tetap jadi sahabat, gais." Ucapan Kaisal menyadarkan semua orang.


"Kita udah saling memiliki, 'kan? Nggak perlu dengan ikatan pacaran. Cukuplah kita bersahabat ... sahabat lebih dari selamanya." Kaisal menoleh ke belakang. Dia menatap sahabatnya satu persatu. Membuat ketiga orang yang ditatap langsung bangun dan duduk.


"Kita saling memiliki. Gue miliknya Nadyla. Gue miliknya Ida. Rega miliknya Ida. Rega miliknya Nadyla. So, percaya aja ... kedua cowok ini milik lo berdua." Kaisal menunjuk Ida dan Nadyla. Membuat kedua cewek itu tersenyum dengan bangga.


"Iya. Kita saling memiliki. Meski suatu saat kita punya pasangan masing-masing, tetap aja di hati kita masing-masing ada ruang yang hanya bisa di isi oleh kita semua. Dolphins." Rega merasa lega setelah selesai mengatakan kalimatnya.


"Kalian berdua benar," sahut Ida. "Kalau memang kita nggak bisa lebih dari sahabat, itu nggak masalah. Mungkin, nanti anak-anak kita yang bisa buat kita semua jadi besan."


Tawa Nadyla, Kaisal, dan Rega langsung pecah.


Iya, ya ... bahagia sekali jika nanti anak-anak mereka yang meneruskan perasaan orangtuanya. Mereka saling berpasang-pasangan dan membuat dolphins besanan.


Lucu.


Menggemaskan.


Dan semoga saja dikabulkan.


"Semoga aja, deh, anak gue nanti jodoh sama anaknya Rega," kata Nadyla pelan. Sialnya ketiga sahabatnya mampu mendengar itu.

__ADS_1


Ida pun menyenggol lengan Nadyla. Dia menggoda. "Miris lo, Nad."


Nadyla melotot. "Apaan lo, bangke? Bilang aja mau besanan sama Kaisal juga."


Ida cemberut. Sementara Kaisal dan Rega kembali tertawa.


Astaga. Berapa lama tawa dolphins tertahan akibat masalah yang diperbuat Aurelia? Sekarang lega rasanya berkumpul kembali.


"Udah, udah. Kita semua besanan aja nanti. Aamiin." Ah, Rega memang selalu mampu menengahi masalah di antara mereka.


Pantas saja Nadyla jatuh cinta.


"Kai, mah, balikan aja sama Kei," ledek Ida tiba-tiba, membuat Kaisal melotot tidak terima.


"Kok jadi Kei?" tanya Kaisal. Sedikit sewot. "Lo cemburu, ya? Mentang-mentang Novaldo lagi dekat sama Kei?"


Gantian Ida yang melotot. "Enak aja! Ngapain gue cemburu! Gue udah move-on dari orok kali!"


Melihat perdebatan Kaisal dan Ida, membuat Rega menatap Nadyla dengan melempar kodenya. "Ehem. Nad ... ini judul sinetronnya apa, nih?"


"Judulnya ... diperebutkannya masing-masing mantan, padahal salah satu yang berebut itu menyukai cowok yang mantannya sedang dekat dengan si mantannya juga," jawab Nadyla ambigu.


"Sumpah nggak ada nyambungnya dan maknanya sama sekali, Nad," protes Rega.


Nadyla mengangguk cepat. "Gue aja ngomongnya pusing."


"Sialan lo berdua!" teriak Ida dan Kaisal.


Rega dan Nadyla lagi-lagi tertawa. "Apalah daya kita, ya, Nad ... mantan kita malah kerjasama buat hancurin kita."


"Bener banget, Marco!"


Sekarang giliran Ida dan Kaisal yang tertawa kala mengingat Aurelia dan Revan


Benar-benar lucu.


"Udahlah. Pokoknya, dolphins selamanya akan menjadi?" tanya Rega. Dia menaikkan alisnya. Meminta agar tiga sahabatnya menerusakan yang dia ucapkan.


"Sahabat!" teriak Ida, Nadyla, dan Kaisal secara bersamaan.


Lalu tertawalah mereka berempat.


Ida langsung memeluk Nadyla. Membuat Rega yang berada di samping gadis itu ikut memberikan pelukan. Kaisal tentu tak mau kalah. Dia yang berada di samping Nadyla itu langsung menghambur dalam memeluk sahabatnya.


Ah, lega sekali yang dirasakan ke empat remaja ini.


Ikatan persahabat mereka benar-benar kuat. Bahkan cinta yang katanya bisa menjadi pedang untuk menghancurkan apa pun, tetap tak mampu merobohkan ikatan mereka.


Sebab, dolphins memang sepakat untuk memenuhi janji mereka dua tahun yang lalu.


Mereka akan menjadi sahabat untuk selamanya. Meski rasa sakit akan menghantam ketika melihat orang yang dicintai bersama dengan orang lain, tapi apa boleh buat.


Ini demi persahabatan mereka.


Tidak seharusnya cinta menghancurkan persahabatan yang telah mereka bangun lamanya.


Apa pun akhirnya ... inilah yang terbaik.


Meski tetap saja Rega mencintai Ida.


Tetap saja Ida mencintai Kaisal.


Tetap saja Kaisal mencintai Nadyla.


Tetap saja Nadyla mencintai Rega.

__ADS_1


Namun mereka tetap saja sahabat untuk selamanya.


Ya, dolphins sekuat itu.


__ADS_2