Dolphins

Dolphins
Bolos


__ADS_3

Jika hujan turun dengan deras begini, maka jangan salahkan Nadyla yang tertidur dan menjadikan Ida serta Kaisal sebagai bahan pelindung. Gadis tomboi itu menyembunyikan kepalanya di balik tas. Sebelum tidur, dia berpesan pada Ida dan Kaisal yang duduk di depannya agar tidak banyak bergerak hingga Nadyla tidak tertangkap basah oleh guru kimia di depan sana.


Jujur saja, Kaisal juga sudah mulai ingin terbang ke alam mimpinya. Namun, urung sebab takut diomeli oleh Nadyla dan tidak tega meninggalkan Ida sendirian untuk mendengar ocehan guru di depan sana.


Ida justru mengetuk pelan ujung pulpen pada dagunya, seolah-olah sedang berpikir keras. Tidak lama, gadis itu memejamkan matanya dengan kuat. Siap mengirim kode pada Rega melalui telepati dadakan.


Percaya tidak percaya, Rega tersentak di tempatnya. Cowok yang berada di kelas unggulan itu memegangi dadanya kemudian memutar bola mata. Kini dia yakin, bahwa sahabatnya yang lain tengah merencanakan sesuatu.


Rega menatap pada jendela kelas. Cowok itu melihat rintik hujan yang semakin deras, dan dia paham bahwa memang dirinya harus menuruti keinginan sahabatnya.


Sebagai siswa yang cukup teladan, Rega tentu tak begitu suka jika seperti ini. Namun, sahabat-sahabatnya jauh lebih penting.


Alhasil, Rega tersenyum kecil. Cowok itu mengangkat tangan kanannya, membuat Ibu Hildan menatapnya.


"Izin ke toilet, Bu," kata Rega. Saat Ibu Hildan mengangguk, Rega pun keluar kelas.


Bolos sekolah dan meninggalkan tas di kelas bukanlah suatu masalah. Asalkan, Rega bisa terus bersama sahabat-sahabatnya.


Di kelas yang berbeda, Ida langsung membuka matanya dan menepuk lengan Kaisal. "Gue keluar duluan, ya? Sepuluh detik setelah gue keluar, lo sama Nadyla harus nyusul."


"Rega udah?" tanya Kaisal.


"Udah, dong." Lalu Ida berdiri dan keluar kelas tanpa berniat pamit kepada guru yang mengajar.


Memang, seaneh itu gadis cantik tersebut.


Delapan detik setelah kepergian Ida, Kaisal segera membalik tubuhnya dan membangunkan Nadyla. "Oy! Lo masih mau tidur di sini sendirian, atau tidur nyenyak di kamar gue?"


Tidak butuh waktu yang lama hingga membuat Nadyla mengangkat kepala dan menatap Kaisal dengan sayu. "Gue mau tidur di kamar lo," ucap Nadyla serak. Ciri khas manusia bangun tidur. Kaisal pun menahan tawa kemudian menepuk pelan puncak kepala gadis itu.


"Pak, Nadyla izin ke toilet mau cuci muka. Ngantuk dia, Pak." Ini adalah ucapan Kaisal, membuat semua mata tertuju padanya.


Pak Ronal mengangguk pelan. Namun, ia protes, "Memangnya Nadyla tidak punya mulut untuk izin, sampai harus kamu yang ngomong?"

__ADS_1


Mendengar itu, Kaisal menggaruk kepalanya karena salah tingkah, sedangkan Nadyla mengangkat bahu dan berjalan keluar kelas.


Memang, sekurang ajar itu gadis tersebut.


Ketika Nadyla keluar, serta saat Pak Ronal kembali pada papan tulis dan memunggungi para murid, di situlah Kaisal diam-diam meninggalkan kelas. Teman-teman sekelasnya hanya mampu menahan tawa dan menggeleng. Mereka semua sudah tahu kelakuan empat sahabat yang random itu.


Hanya satu yang akan dituju oleh Ida, Kaisal, dan Nadyla ... yaitu mobil hitam milik Rega.


Kaisal adalah manusia terakhir yang memasuki mobil hitam itu. Saat masuk, ia sudah melihat ada Nadyla yang seperti biasa duduk di depan, tepat di samping kursi kemudi. Ida duduk bersamanya di belakang. Kali ini gadis dewasa, tetapi manja itu tengah memeluk tubuhnya yang kini berbalutkan jaket milik Rega.


Rega? Cowok itu tengah duduk dengan gagahnya di kursi kemudi.


"Gara-gara kasian sama si Samson tidur di kelas, jadinya kita harus pulang dan tidur nyenyak di kamar gue." Ini adalah kata-kata Kaisal seraya menyisir rambut basahnya dengan tangan.


"Ngapa jadi gue, sih?" tanya Nadyla dengan kesal sambil memejamkan mata, bersiap tidur kembali.


"Ya emang karena lo!" ucap Ida tegas, dia menahan tawanya.


Rega tersenyum kecil kemudian mengangguk dan melajukan mobilnya.


Rasanya puas saat melihat sahabat sendiri bahagia.


Bagi Rega, sahabatnya adalah harga paling berharga setelah keluarganya.


Bagi Kaisal, sahabatnya adalah poros bahagianya. Manusia yang selalu ada di saat orang tuanya tak memikirkan dia.


Bagi Ida, tanpa sahabatnya, maka dia tidak tahu bagaimana cara mencari bahagia.


Sedangkan bagi Nadyla, tidak ada manusia yang bisa menerima kekurangannya dan melengkapinya, kecuali mereka semua ... sahabatnya.


Karena dolphins adalah pusat segala bahagia mereka.


0oOo0

__ADS_1


Tidak butuh waktu yang lama dalam mengendarai mobil dari sekolah menuju rumah Kaisal. Kini, mereka semua telah turun dari mobil dan membawa masing-masing plastik makanan di tangan.


Sayangnya, ketika mereka turun, mereka baru sadar bahwa mobil orang tua Kaisal sudah terparkir rapi di garasi rumah.


Seketika wajah Kaisal pucat. Ekspresi Nadyla yang semula mengantuk, kini tegang. Ida yang merasa kedinginan, sekarang merasa ada aura yang sangat panas, sedangkan Rega yang bersandar di bagian depan mobil hanya mampu bersedekap, tidak mampu bereaksi berlebihan.


"Kai, ke rumah gue aja, yuk. Cuma bunda yang di rumah palingan." Di saat seperti ini, Nadyla akan selalu siap mengalah demi menghibur Kaisal sahabatnya.


Ida pun mendekat, mengelus punggung Kaisal. Bersamaan dengan itu, suara teriakan demi teriakan dari dalam rumah menjadi pendukung derasnya hujan kali ini.


"Ada kita, kok, Kai. Selalu." Ida sudah menangis. Menangis memang kebiasaan Ida jika dirinya melihat kerapuhan Kaisal. Nadyla pun semakin mendekat pada Kaisal, membuat Kaisal tanpa pikir panjang menggapai jemari gadis itu dan menggenggamnya kuat, seolah meminta kekuatan besar dari sana. Padahal, ada Ida yang lebih dulu menyalurkan semangat melalui elusan pada punggungnya.


Melihat itu, Rega yang masih menikmati hujan sambil bersandar pada mobil pun berdeham. "Yuk, ke rumah Nadyla. Gue antar."


Sahabatnya justru tidak ada yang bergerak.


Semua masih di posisi semula. Di mana Ida mengelus punggung Kaisal. Di mana Kaisal yang tegang sembari menggenggam tangan kiri Nadyla. Dan di mana Nadyla menurut saja sambil ikut mengeratkan genggamannya dengan Kaisal.


Akhirnya, Rega mendekat. Cowok itu berdiri di samping Ida yang menangis. Tangan kokohnya perlahan mengacak rambut Ida yang basah kemudian berbisik, "Masih cengeng aja lo. Buruan masuk mobil."


Suara bisikan yang berat itu justru membuat Ida semakin menangis dan semakin mengelus punggung Kaisal.


Memang, Ida yang paling terluka jika Kaisal kembali dihadapkan oleh masalah orang tuanya.


Rega pun menarik napas saat sadar Ida semakin menangis. Cowok idola para gadis di sekolah itu segera memperbaiki letak jaket miliknya di tubuh Ida. Rega tak kuat setiap kali Ida menangis seperti itu.


Setelahnya, Rega menarik tangan Ida yang bebas. Menggiring cewek itu masuk ke dalam mobilnya. Namun, Ida justru memindahkan tangannya. Dari yang semua mengelus punggung Kaisal, menjadi menarik tangan Kaisal yang tidak menggenggam Nadyla. Karena tarikan dari Rega pada Ida, dan Ida yang menarik Kaisal, otomatis membuat Kaisal bergerak dan ikut menarik Nadyla.


Keempat remaja itu pun sama-sama masuk ke dalam mobil milik Rega dengan emosi yang berbeda-beda. Namun, dengan luka yang sama.


Ingat, satu saja yang terluka maka mereka semua akan merasakan sakitnya.


Sampai di sini, apa sebenarnya yang sedang hati mereka sembunyikan tentang rasa?

__ADS_1


__ADS_2