Dolphins

Dolphins
Asing


__ADS_3

Kaisal dan Ida memang sudah tidak duduk sebangku semenjak masalah aib Nadyla yang katanya disebarkan oleh Ida.


Jika dulu saat dolphins masih berjaya, Nadyla memang duduk sendiri di belakang bangku Ida. Kaisal pun duduk di sebelah Ida. Namun, semenjak masalah Revan, Kaisal memilih duduk bersama Nadyla. Namun, kini mereka semua sudah hancur. Kaisal dan Nadyla juga bermasalah, membuat Kaisal tak kuat duduk lagi di sebelah gadis itu.


Sekarang, Kaisal duduk di depan Ida. Dia bersama Jaya, membuat kawan sebangku Jaya yang bernama Atila memilih mengalah dan duduk di samping Ida. Untung saja Atila tak pernah memandang Ida sebagai sampah hanya karena fitnah yang tersebar.


Kaisal menoleh ke belakang. Tiba-tiba matanya dan Ida beradu tatap. Ah, rasanya Ida seperti disengat listrik. Hubungannya dan Kaisal memang bisa dibilang sudah membaik, walau tetap saja ada dinding besar di antara keduanya.


Setelah tatapan mereka terkunci sesaat, Kaisal langsung kembali menghadap ke depan. Matanya sekarang tak lepas memandangi pintu kelas. Dia berharap Nadyla segera muncul dari sana, sebab sepuluh menit lagi bel berbunyi.


Namun, yang muncul dari sana justru sahabatnya yang lain.


Iya ... Rega.


"Kai," panggil Rega, "istirahat nanti temuin gue di UKS."


Kaisal hanya mengangguk tanpa semangat. Dia rindu. Rindu pada Nadyla. Sungguh.


"Da." Panggilan dari Rega kepada Ida itu membuat Kaisal juga ikut menatap Ida. "Ikut sama Kaisal nanti, ya."


Ida tidak bereaksi, tapi Rega tahu gadisnya itu akan menurut.


Rega pun keluar, membiarkan sahabatnya berpikir. Setiba di depan kelas MIPA 3, Aurelia langsung datang entah dari mana. Dia memeluk lengan Rega kuat.


"Ih, kangen banget, deh, sama kamu. Akhir-akhir ini kita jarang ada waktu, 'kan?" tanya Aurelia, membuat Rega tersenyum kecil.


Jangan pikir senyuman di wajah Rega adalah senyuman cinta. Ketahuilah, Rega muak dengan gadis itu. Langsung saja Rega menghempaskan tangan Aurelia dari lengannya. "Kamu, sih, sibuk banget akhir-akhir ini. Sibuk cari orang-orang buat hancurin persahabatan aku, 'kan? Kampungan!"


Rega pun meninggalkan Aurelia dalam keterdiaman gadis itu.


Rega berjanji, persahabatannya tak akan sampai di sini. Dan Rega pastikan, Aurelia akan bertanggung jawab dari semua masalah ini. Rega yakin, Aurelia penyebab semuanya.


0oOo0


Ida duduk di kasur UKS paling ujung, sedangkan Kaisal duduk di sofa dekat dengan pintu UKS. Jam istirahat telah tiba, beberapa anggota PMR sudah bolak-balik mencari obat atau keperluan lainnya. Mereka canggung karena melihat pemandangan Ida dan Kaisal yang kaku. Sebab, biasanya tak pernah mereka seperti ini.


Iya, dolphins sekarang memang sangat asing.


Ida meremas jemarinya, berharap Rega segera tiba. Sebab, Ida sudah tak kuasa menahan sesak dan menahan air mata yang ingin tumpah setiap kali melihat Kaisal itu. Rasa rindu dan rasa bersalah masih menghantui Ida.


Berbeda dengan Kaisal. Cowok itu menatap langit-langit UKS dengan tatapan kosong. Pikirannya justru terbang menuju Nadyla. Ke mana gadis itu? Mengapa tidak datang sekolah?


Di tempat lain, ada Rega yang sekarang napasnya naik turun sambil menggenggam kerah baju Revan secara kuat.


Revan dan Rega sudah berada di gudang sekolah yang cukup gelap. Tempat yang bisa meredam suara Rega jika Rega ingin berteriak sepuasnya.


"Sekali lagi, bilang sama gue ... apa motiv lo sampai lo berbuat sejahat ini ke Nadyla dan kami semua?!" teriak Rega. Dia sudah benar-benar marah.


Revan menghempas tangan Rega. Dia menatap cowok itu sama marahnya. "Diputusin secara sepihak oleh Nadyla dan selalu dianggap brengsek sama lo serta sahabat-sahabat lo itu buat gue sejahat ini, Ga."


"Bullshit, Van!"

__ADS_1


"Gue cuma mau Nadyla tunduk sama gue. Minta maaf sama gue. Dan ... jadi milik gue lagi!"


Mendengar itu, Rega mati-matian menahan diri agar tidak meninju Revan. "Setelah dia jadi milik lo lagi, lo mau apa?" tanya Rega. Dingin.


"Ya gue bakalan hempasin dialah. Sama seperti dia yang tiba-tiba putusin gue tanpa alasan. Gue? Gue akan putusin dia di lapangan dan di depan banyak orang! Puas lo?!"


Rega menggeleng kuat. Sungguh, ternyata ada manusia yang sejahat ini.


"Ngaku ke gue. Selama ini lo bekerja sama dengan Aurelia, 'kan?"


"Kalau iya kenapa?" tanya Revan.


"Apa urusan lo? Ingat, ya, Aurelia itu berbahaya, bray!"


Sekali lagi Rega menggeleng secara pasti. "Dan Ida ... lo, 'kan? Lo yang fitnah dia?"


Revan tertawa. Kuat sekali. "Iya! Gue. Gue dan Aurelia yang atur semuanya, bro. Hebat, 'kan?"


Satu nama hewan langsung disebutkan oleh Rega. Sialnya, hal itu membuat Revan semakin tertawa. "Mulai sekarang, gue minta lo berhenti ngelakuin hal konyol ini. Berhenti, Van, sebelum gue bener-bener muak dan dengan terpaksa gue bilang ke bokap gue untuk mecat bokap lo dari perusahaannya."


Di situlah Revan tegang dan membulatkan mata. Mengapa Revan lupa jika ayahnya adalah bawahan ayah Rega di kantor?


Sialan! Ini sialan!


"Lo mau ngaku sendiri ke orang-orang, atau gue yang mempermalukan lo langsung? Atau ...." Rega sengaja menggantungkan kalimatnya. "Besok bokap lo langsung jadi pengangguran aja?"


Revan diam. Tangannya terkepal. Mengapa Revan tidak berpikir sejauh ini?


Saat cahaya menyambut matanya, Rega segera berlari kencang. Cowok dengan fisik hampir sempurna itu langsung menuju UKS sekolah. Rambutnya bergoyang karena terpaan angin. Bibir tipisnya terkatup rapat karena tegang. Dia ... benar-benar ingin segala masalah antara sahabatnya selesai dalam waktu dekat ini. Sungguh.


Saat Rega tiba di pintu UKS, dia sudah melihat Ida yang duduk dengan gelisah di salah satu ranjang, sedangkan Kaisal memejamkan mata di sofa dekat pintu.


Ida langsung mendongak saat mendengar suara benturan di pintu UKS. Ternyata Rega sudah bersandar di sana dengan napas terengah.


Melihat mata Ida menatapnya, Rega langsung merasa lemah.


Rindunya pada gadis tersebut benar-benar hampir membunuh Rega.


"Gue cuma mau ngomong ...."


Lagi-lagi Rega menggantung kalimatnya. Mendengar suara itu, Kaisal membuka mata. Tadi dia pikir, suara benturan pada pintu hanya karena anak PMR yang kembali masuk. Rupanya Rega yang di sana. "Gue kangen bolos bareng kalian. Dan gue mau sekarang kita bolos. Tapi bukan ke rumah Kaisal atau ke tempat lain. Kita ke rumah sakit. Rumah sakit di mana kalian sempat koma."


Ida langsung berdiri, sedangkan Kaisal menegakkan punggungnya.


"Ngapain ke sana? Siapa yang sakit?" tanya Ida dan Kaisal secara bersamaan. Intonasi mereka hampir sama. Dan Rega dapat tangkap kekhawatiran yang sama.


Lihat, 'kan? Dolphins masih sekompak itu, kawan!


"Orang yang kalian rindukan juga. Gue yakin ada satu nama di kepala kalian saat ini. Dan itu memang benar. Yuk, ke sana. Gue juga mau kalian dengar sebuah rekaman."


"Rekaman?" tanya Ida.

__ADS_1


Rega hanya tersenyum.


Iya, rekaman. Rekaman suara saat di gudang tadi.


0oOo0


Saat tiba di rumah sakit, mata Ida sudah bengkak. Ida menangis di sepanjang perjalanan mereka menuju rumah sakit. Sekarang mereka sudah tiba di depan ruangan rawat Nadyla. Namun, tangan Rega masih ragu memutar engsel sebab Ida masih menangis hebat.


Kaisal tak tahan. Dia segera memutar engsel pintu dan masuk lebih dulu.


Hingga, lututnya langsung lemas saat melihat tangan Nadyla telah terpasang infus dan alat bantu pernapasan juga menyertainya. Dari jauh saja wajah gadis pujaannya itu sudah sangat pucat, bagaimana jika dekat?


Ida yang melihat Nadyla terbaring di sana langsung menangis dengan kuat lagi. Bibir bawahnya dia gigit agar tidak menjerit. Melihat itu, Rega langsung menggapai kepala Ida dan menempatkannya pada dadanya yang nyaman.


"Jangan nangis terus, Da. Tenang," kata Rega. Berharap Ida-nya benar tenang. "Yuk, ke dekat Nadyla."


Mereka pun berjalan dan mendekat pada kasur Nadyla. Langsung luruh air mata Kaisal di sana.


"Kita benar-benar hancur, sob." Suara Rega membuat Ida tambah menangis. "Dolphins nggak pernah kayak gini. Gara-gara kehancuran dolphins, salah satu sahabat kita mencoba bunuh diri."


"Maafin gue. Gue mohon. Kalian ... kalian tolong dengerin penjelasan gue. Gue nggak pernah nyebarin aib Nadyla." Ida berucap dengan terputus-putus. Sebab, air mata masih juga setia untuk tumpah.


Rega mengangguk. "Gue percaya." Lalu Rega merogoh sakunya dan mengambil ponsel dari sana.


Tak lama, suara teriakan Rega dan Revan saling bersahutan dari dalam ponsel Rega.


Ya, itu pembicaraan Rega dan Revan saat di gudang tadi.


"Lihat, 'kan? Kita cuma mau dihancurin oleh Revan dan Aurelia. Seharusnya kita kuat buat ngelawan," kata Rega setelah rekamannya selesai terputar.


"Dan lihat, 'kan? Gue cuma difitnah." Ini ucapan Ida. Sengaja agar Kaisal mendengarnya dan cowok itu sadar.


Kaisal justru mengepalkan tangan. Perlahan, air matanya menetes. Dia mati-matian berpegangan pada ranjang milik Nadyla agar dia tidak tumbang.


"Nad ... bangun. Apa gue juga salah paham mengenai Vito? Maafin gue karena biarin lo sendirian, Nad. Ayo bangun." Kaisal menangis, kawan.


Tangisan Kaisal membuat Ida teriris. Ida juga butuh kata-kata seperti itu dari Kaisal. Bukankah selama ini yang selalu sendiri adalah Ida? Lalu mengapa Kaisal begitu merasa bersalah pada Nadyla? Bahkan setelah tahu yang sebenarnya, Kaisal tak berniat menatap Ida sebentar saja untuk menenangkan gadis itu.


Malang sekali.


Ida benar-benar merasa akan selalu sendiri.


"Maafin gue, ya, Da. Selama ini gue biarin lo sendirian. Gue nggak ada di saat lo benar-benar kesulitan. Maafin gue." Dan rupanya, kata-kata itu tercetus dari mulut Rega sembari membawa Ida lagi dalam pelukannya.


Ida tidak tahu harus senang atau bagaimana.


Dia terharu.


Dan tanpa mereka sadari, Nadyla juga menangis di alam bawah sadarnya.


Karena dolphins, memang sedang dalam fase serindu-rindunya

__ADS_1


__ADS_2