
Mobil yang dikendarai oleh Rega sudah terparkir rapi di sekolah. Keempat manusia yang berada di dalamnya pun turun, tentu dengan aura memikat yang berbeda-beda seperti biasanya.
Hari ini, wajah Nadyla tampak selalu tegang. Ida, Kaisal, dan Rega bahkan bingung pada sahabatnya yang satu itu.
"Nih, gue kasih permen karet," ucap Kaisal di samping wajah Nadyla yang tegang. "Tegang amat muka lo. Kenapa? Masih karena masalah kita kemarin? Maafin gue, dong."
Nadyla menggeleng. Dia melirik Rega sekilas lalu menggigit bibir bawahnya. Kemudian, cewek itu melirik Ida, berpura-pura mencari kawan.
"Gue udah maafin lo. Kita kemarin udah damai, 'kan? Anu ... gue cuma, nggak enak badan aja."
Mendengar itu, Rega segera meletakkan punggung tangannya pada jidat lebar Nadyla. "Nggak panas, kok."
Langsung saja mata Nadyla melotot. Cewek itu yakin, matanya melotot bukan karena marah, melainkan karena degupan di jantungnya yang menggila.
Ah, sejak kemarin Rega mengantar Nadyla pulang menggunakan sepeda, Nadyla pun merasakan ada yang tidak waras pada dirinya.
"Udah ah buruan!" Karena salah tingkah, cewek tomboi itu segera mempercepat langkah.
Sayangnya dari arah depan tiba-tiba muncul sosok perempuan yang baru saja keluar dari star class dan menabrak tepat pada bahu kiri Nadyla. Hampir membuat Nadyla terhuyung ke belakang andai tidak ada Kaisal yang menahan tubuh gadis itu
Gadis penabrak, siapa lagi kalau bukan Aurelia?
"Kalau jalan hati-hati, dong!" bentak Kaisal langsung. "Mata segede itu masih aja buta!"
Tangan Aurelia terkepal. Demi apa pun, dia sangat membenci Kaisal!
"Heh, lo banci?! Suka banget teriak-teriak di depan muka gue kayak cewek!" Balasan dari Aurelia membuat Kaisal menarik napas gusar.
Kaisal baru ingin berucap lagi, tapi Rega berdiri di tengah-tengah dirinya dan Aurelia. Bersiap menjadi penengah.
"Masih pagi, Aurel. Dan lo udah mau cari masalah sama gue dan sahabat-sahabat gue?" tanya Rega, membuat senyuman miring Aurelia terbit.
Aurelia menyentuh dada Rega, mendekatkan sedikit tubuhnya pada cowok itu kemudian berbisik pelan. "Gue udah cukup sabar sama sahabat-sahabat lo itu. Tapi, mereka masih juga terlalu semena-mena ke gue. Ingat, ya, Ga ... gue bisa lakuin apa pun untuk menyakiti salah satu dari mereka." Aurelia tersenyum layaknya iblis.
"Atau ...." Suaranya dia buat semanja mungkin. "Gue nyakitin mereka bertiga langsung?"
Tak ingin mendengar balasan dari Rega, Aurelia memilih pergi dengan gaya angkuhnya.
Dan, baru kali ini Rega melihat Aurelia benar-benar seperti iblis.
Rega bahkan tidak mampu berkedip. Ancaman itu sungguh menusuk tepat pada jantungnya.
Ida maju dan menyentuh punggung Rega. "Kenapa? Cewek itu ngomong apa?"
Rege menelan salivanya kemudian menggeleng cepat. "Nggak. Nggak ada. Gue ... gue masuk, ya."
Lalu Rega benar-benar masuk ke kelasnya dengan perasaan gelisah. Namun, cowok itu menggeleng kuat.
"Memangnya, apa yang bisa dilakukan cewek kayak Aurelia?" Ada tawa di akhir kalimat Rega. Meskipun tak bisa dia pungkiri bahwa dirinya gelisah.
0oOo0
Siang ini kantin sangat ramai, tapi di salah satu meja yang diisi oleh dolphins entah mengapa seperti hampa.
Nadyla yang sejak pagi tadi tegang, kini sama saja. Cewek itu mendadak jadi pendiam.
Entah kenapa pula Rega jadi sangat dingin. Padahal biasanya, jika sudah bersama sahabat-sahabatnya maka Rega akan begitu hangat.
Jika begini, bagaimana bisa Ida tidak ikut diam? Cewek itu selalu menjadi manusia paling payah jika sahabat-sahabatnya tak ada selera. Ida tidak mampu mencairkan suasana.
Bahkan Kaisal, yang biasanya paling hebat mencairkan suasana, kini mendadak diam juga. Cowok itu menikmati baksonya sembari menatap wajah sahabat-sahabatnya secara bergantian.
"Kenapa, sih, jadi diem-dieman gini?" Ida tak tahan jika tidak bertanya.
Nadyla langsung gelagapan layaknya orang bodoh. "Hah? Hah? Kenapa?" tanya cewek itu.
Matanya tak sengaja menatap Rega, membuatnya salah tingkah lagi.
Tuhan, kenapa hari ini Nadyla benar-benar payah?
"Apa, sih, Nad?" tanya Ida, tak habis pikir.
__ADS_1
"Nggak. Nggak!" Nadyla menepuk jidat kemudian melanjutkan untuk menghabiskan baksonya. Namun, ketika baksonya tinggal setengah, tiba-tiba perut Nadyla mendadak seperti dililit.
"Aw! Akh! Ini ... perut gue. Lho? Aduh!" Nadyla benar-benar tampak kesakitan. Ida segera berdiri, bunyi kursi yang bergesekan dengan lantai membuat penghuni kantin menatap ke arah meja dolphins.
"Kenapa, Nad? Kenapa?" tanya Ida. Benar-benar khawatir.
"Perut gue, Da. Perut gue." Mata Nadyla bahkan sudah merah karena menahan sakit.
Kaisal dan Rega mendekat. Mereka berdua membulatkan mata, selalu tak tahu harus bagaimana jika terjadi hal seperti ini.
"Gue bawa ke UKS. Ayo, Nad," kata Kaisal. Membuat Ida dan Rega mengangguk.
"Bentar," kata Ida. Ikat rambut kecil yang melingkari pergelangan tangan kanannya pun dia ambil lalu dia gunakan untuk mengikat rambut sebahu Nadyla. Sebab, Nadyla sudah dibanjiri oleh keringat dingin.
Saat rambut sahabatnya sudah terikat, Ida pun memberi kode pada Kaisal untuk segera membawa Nadyla.
"Gue gendong," ucap Kaisal. Dia pun menggapai Nadyla dan mengangkatnya.
Bagimana bisa penghuni kantin tidak iri setiap kali melihat dolphins seperti itu.
"Nadyla kenapa, ya?" tanya Ida pada Rega setelah mereka berjalan untuk membayar semua pesanan mereka.
"Nggak tahu. Kalau dari bakso, masa cuma Nadyla doang yang kena. Pesanan kita, 'kan, semua sama," balas Rega, kebingungan sendiri.
Namun, tiba-tiba Aurelia melambaikan tangan padanya tepat di meja yang tak jauh dari tempat Rega dan Ida berjalan.
Rega mengabaikan gadis itu. Namun, botol obat yang ditunjukkan Aurelia pada Rega, membuat cowok itu tidak bisa mengabaikannya.
Apa maksud Aurelia?
Rega baru paham ketika Aurelia memasang wajah kesakitan sambil memegangi perutnya. Persis seperti Nadyla tadi.
Sialan! Jadi yang melakukan semua ini adalah Aurelia!
"Itu baru buat Nadyla, Ga. Tunggu apa yang akan terjadi sama dua sahabat lo yang lain." Itu adalah ucapan yang bisa Rega baca dari gerakan mulut Aurelia.
Tangan Rega terkepal kuat.
Aurelia benar-benar ancaman!
0oOo0
Ida izin tidak masuk kelas demi menemani Nadyla di UKS. Hal itu membuat Kaisal sumringah. Cowok itu tentu saja membuat berbagai macam alasan pada guru agar bisa ikut bersama Ida ke UKS. Tentu saja Kaisal tak mendapat izin. Sayangnya, bukan Kaisal namanya jika tidak membangkang. Cowok tinggi itu berlari keluar kelas ketika Pak Siswanto menulis rumus-rumus fisika di papan tulis.
Dan sekarang dia berdiri di depan kelas Rega. Sebenarnya bisa saja cowok itu masuk kelas dan izin untuk memanggil Rega, sayangnya guru yang berada di dalam adalah guru matematika yang paling Kaisal takuti.
Sungguh, lebih baik Kaisal mengubur dirinya sendiri daripada harus berhadapan dengan guru itu.
Jadi, bagaimana caranya Kaisal meminta kunci mobil Rega?
"Ngapain lo di sini?" Saat mendengar pertanyaan itu, Kaisal langsung menoleh dan menemukan Aurelia berdiri di depannya. Langsung saja Kaisal tersenyum. Kali ini, Aurelia bisa dia andalkan.
"Lo yang ngapain di luar? Bolos juga, ya, lo?"
"Gue habis dari toilet!"
Kaisal mengangguk. "Buruan masuk. Terus, panggilin Rega ke sini, gue mau ambil kunci mobil."
"Emang lo mau ke mana?" tanya Aurelia.
"Bukan urusan lo, cabe!"
Aurelia mengepalkan tangannya.
"Yaudah, nggak gue panggilin."
"Eh. Anu, gue mau ke minimarket. Disuruh penjaga UKS yang baru itu, lho. Katanya stok obat sakit perut di UKS habis, jadi harus beli di luar. Buruan, elah! Sahabat gue nanti sekarat lo mau tanggung jawab?"
Aurelia mengangguk beberapa kali sambil tersenyum licik.
Kebetulan yang sangat menguntungkan sekarang baginya. Semua rencananya akan berjalan lancar sekarang.
__ADS_1
"Oh gitu. Kasian banget sahabat lo, ya. Siapa yang sekarat? Nadyla, 'kan? Aduh." Aurelia memasang wajah sedihnya. Kaisal memutar bola mata karena itu.
"Ohya, tadi nggak sengaja gue ketemu Ida. Dia bilang, kalau keluar beli obat lo nggak boleh sendiri. Lo, 'kan, ceroboh, nanti salah beli obat buat Nadyla lagi. Jadi, lo harus bareng Ida."
Ida? Berbicara begitu pada Aurelia? Ah, rasanya tidak masuk akal bagi Kaisal.
Tapi, apa salahnya juga?
Kaisal pun memilih mengangguk saja. "Iya, memang gue akan bawa Ida. Udah, buruan masuk lo, bawa Rega ke sini."
Tanpa banyak bicara lagi, Aurelia melangkah masuk ke kelasnya. Dan tak lama Rega datang dengan gagahnya.
"Nih. Jangan lupa minta surat izin keluar sama guru piket," kata Rega sembari memberikan kunci mobilnya.
"Siap!" jawab Kaisal dan berlari menuju UKS untuk menjemput Ida.
Rega pun kembali ke kelasnya. Dan Aurelia tiba-tiba keluar kelas lagi sambil membawa senyuman iblisnya.
Satu tujuan Aurelia sekarang. Yaitu memanggil Vito dan mereka akan mendatangi mobil Rega yang akan dibawa oleh Kaisal dan Ida.
"Rega, tunggu kabar miris selanjutnya dari dua sahabat lo itu, ya. Sorry, gue harus jadi orang jahat sekarang. Bukannya selama gue masih baik kalian selalu menganggap gue orang jahat? Oke, gue buktiin sekarang bahwa gue memang jahat."
0oOo0
Beberapa menit lagi bel pulang akan berbunyi, tapi Kaisal dan Ida belum juga kembali.
Sejauh apa toko perbelanjaan yang kedua manusia itu kunjungi?
Rega sudah gelisah di dalam UKS. Nadyla juga menangis karena perutnya benar-benar seperti terlilit.
"Sabar, ya, Nad," kata Rega, mengelus puncak kepala Nadyla pelan.
Rega sekarang berada di UKS sebab star class jam terakhir kosong. Rega pun menggunakan itu dengan menemani Nadyla.
Hingga tiba-tiba satu orang adik kelas datang dengan tergesah, tepat di hadapan Rega.
"Kak Rega. Anu ... mobil Kakak nabrak tiang listrik yang nggak begitu jauh dari sekolah. Semua gempar karena itu, Kak."
"Hah?!" Rega hampir berteriak. Nadyla bahkan ingin pingsan mendengarnya.
"Kaisal sama Ida, gimana?"
"Kondisi mereka parah. Sekarang di bawa ke rumah sakit."
Rega mengacak rambutnya lalu meninju dinding UKS, membuat adik kelasnga ketakutan dan berlari keluar. Nadyla bahkan menutup mulutnya karena keterkejutan, perutnya semakin tidak bisa diajak bekerja sama juga.
"Rega ...," panggil Nadyla sambil menangis.
"Lo tunggu di sini, Nad. Gue akan kembali secepatnya."
"Gue mau ikut. Ini semua salah gue."
"Lo sakit."
"Iya, karena gue sakit mereka jadi kayak gini.Ida sama Kaisal juga sahabat gue, Ga. Gue harus ikut."
"Gue mohon, lo di sini aja dulu, tunggu gue datang lagi."
Mendengar permohonan Rega, akhirnya yang bisa dilakukan Nadyla hanya menutup matanya rapat-rapat dan mengangguk pelan.
Rega pun segera berlari keluar UKS.
Namun Aurelia muncul dengan senyuman iblisnya. "Gimana? Udah puas? Ini akibat karena kalian terlalu semena-mena sama gue, Ga. Andai dari awal kalian baik ke gue, ini semua nggak akan terjadi." Aurelia menyentuh dada Rega. "Lo ... harus jadi pacar gue, atau Nadyla yang cuma sakit perut itu gue buat lebih parah dan Ida sama Kaisal gue buat mati aja langsung? Hah?!"
"Sialan lo!"
Aurelia tertawa. "Iya ... so, gue tunggu jawaban lo paling lambat besok. Oke? Selamat merawat sahabat lo yang sekarat."
Lalu Aurelia pergi, meninggalkan Rega dengan kepalan tangannya.
Jadi, Rega harus menerima Aurelia sebagai pacaranya? Jika tidak, sahabatnya akan lebih terancam.
__ADS_1