
Rega manatap Aurelia tidak percaya. Gadis ini tak bisa dibiarkan. Nadyla—sahabatnya tak bisa sendiri. Dia rapuh, dia bisa berbuat yang tidak-tidak. Rega harus cepat meyingkirkan Aurelia sebelum gadis ini berbuat lebih jauh.
Rega melihat Nadyla dari jauh, terlihat jelas kesedihan di dalam matanya. Dengan berat hati Rega melangkah pergi.
Nadyla sendiri sekarang. Satu persatu sahabatnya mulai pergi meninggalkan. Hidupnya terasa hampa. Tak pernah terbayangkan semuanya benar-benar hilang. Gadis tomboi itu beranjak pergi. Tentu bukan kelas tujuannya sekarang. Gadis itu memutuskan untuk bolos sendirian. Yah, sendirian. Karena sahabatnya tak lagi ada. Hilang dalam hitungan hari.
Pantai.
Hanya pantai yang bisa Nadyla jadikan penenang di saat sahabat-sahabatnya menghilang. Tak butuh waktu lama Nadyla sudah berada di tempat yang sering dia kunjungi. Semilir angin menyambut kedatangannya.
Ombak-ombak berjalan dengan tenang. Nadyla berjalan mendekati bibir pantai.
Memejamkan mata berharap semuanya hanya mimpi belaka. Rasanya percuma. Ini semua nyata. Nadyla sendiri.
“Arggh!” teriak Nadyla melampiaskan emosinya pada semesta. Memberi tahu pada dunia jika dia terluka.
“Lihat semesta. Penghunimu ini begitu rapuh.”
Nadyla yang selalu terlihat kuat dan ceria, sebenarnya begitu rapuh.
“Hey.” Suara seseorang membuat Nadyla menoleh, Nadyla hanya mengernyitkan kening bingung.
“Gue Oliv.”
Gadis di depan Nadyla mengulurkan tangannya. Gadis itu terlihat kurus, rambutnya acak-acakan, kantung matanya begitu terlihat. Seperti orang depresi.
Tak mendapat respon dari Nadyla, gadis bernama Oliv itu tersenyum hangat. Namun Nadyla tahu, gadis itu tidak baik-baik saja.
“Gue memperhatikan lo dari tadi, lo terlihat frustasi.”
Nadyla masih diam, masih menunggu kelanjutan perkataan Oliv.
“Lo sama kayak gue, tapi mungkin gue udah benar-benar nyerah. Sedangkan lo pasti kuat.”
Oliv menepuk pundak Nadyla membuat Nadyla menatap dia heran.
“Lo akan tahu gue kalo lo mau datang ke alamat ini besok.”
Oliv menyerahkan kertas pada Nadyla.
“Gue cuma orang asing, tapi lo pasti enggak ngerti kenapa gue kasih alamat itu. Yah, semoga aja lo mau datang di hari yang mungkin paling terkesan bagi gue. Terserah mau datang jam berapa, jangan lupa nanti lo harus berdoa buat gue.”
Aneh.
Jelas Nadyla tak mengerti ucapan orang yang baru ditemuinya. Oliv tersenyum dan berjalan meninggalkan Nadyla dengan tanda tanya.
Nadyla melihat kertas di tangannya, terdapat tulisan tangan yang berupa alamat rumah.
0oOo0
Pagi yang sepi bagi Nadyla. Bundanya sedang berada di luar kota. Gadis itu tidak menggunakan seragam sekolah, melainkan baju santai. Nadyla penasaran dengan Oliv—gadis yang di temuinya kemarin.
__ADS_1
Dia mengeluarkan motor metiknya dari bagasi. Kemudian melajukan menuju alamat yang tertera di kertas yang diberikan Oliv.
Hampir 30 menit Nadyla mencari alamat tersebut akhirnya menemukan juga.
Rumah bernuasa biru dan hijau terlihat ramai. Ada bendera kuning di depan rumah tersebut. Nadyla mendekat dan memasuki rumah yang sudah dipenuhi orang-orang.
Apa hari terkesan bagi Oliv? Apa acara syukuran sampai suara orang mengaji terdengar begitu pilu.
Suara isak tangis menjadi pelengkap rumah tersebut.
Apa yang terjadi?
Nadyla dibuat bingung. Kemudian dia memutuskan untuk bertanya.
“Pak ini ada acara apa?”
“Anak pemilik rumah ini meninggal.”
Nadyla tak bisa menyimpulkan.
Maksud hari terkesan Oliv kematian seseorang? Rasanya tidak mungkin.
Nadyla memasuki rumah tersebut, melihat tubuh seseorang terbaring tak berdaya di lantai dengan kain yang menutupi orang tersebut.
Nadyla mendekat, di samping jenazah tersebut yang mungkin kerabatnya menangis segugukan. Nadyla membuka kain yang menutupi wajah jazanah tersebut. Terlihat jelas dia begitu kaget. Gadis yang terbaring itu adalah Oliv. Dia begitu tenang. Nadyla mendekati wanita paruh baya yang tengah menatapnya.
“Dia Oliv?” tanya Nadyla tak percaya.
“Kenapa?” mengerti maksud pertanyaan Nadyla wanita itu menyuruh Nadyla duduk di sampingnya.
“Oliv meninggal semalam pulang dari pantai.”
Nadyla syok mendengar itu.
“Dia memotong urat nadinya.”
Mendengar itu Nadyla melihat tangan Oliv.
“Oliv merasa sendiri hidup di dunia. Itu alasan utamanya bunuh diri.”
Nadyla tak kuat mendengar cerita Oliv. Dia berdiri dan meninggalkan rumah Oliv tanpa permisi.
Mengendarai motor dengan kecepatan di atas rata-rata. Tak peduli kendaraan lain.
Apa Tuhan mempertemukan Nadyla dengan Oliv agar Nadyla juga mengambil jalan seperti Oliv?
Motor Nadyla memasuki sebuah gang. Nadyla berhenti di sekumpulan cowok yang tengah mengisap rokok dan meminum minuman keras.
“Tumben lo ke sini, Nad,” ujar seorang cowok yang tengah memperhatikan Nadyla.
“Ada masalah sama sahabat-sahabat lo?”
__ADS_1
Nadyla tak menjawab, dia berjalan ke arah cowok itu dan mengambil satu potong rokok.
“Jangan ngerokok, bisa digorok gue sama Rega kalo ngebiarin lo ngerokok.” Cowok itu mengambil rokok di tangan Nadyla. Tak peduli gadis itu akan marah atau tidak, dia tidak ingin mendapat amukan dari seorang Rega Nicholando.
“Kasih gue penenang, entah itu rokok atau minuman keras.”
Gio menggeleng, dia sudah diperingati oleh Rega.
“Mending lo pulang.”
Nadyla tersenyum sinis, lalu menatap Gio tajam.
“Dibayar berapa lo sama Rega, hah?!” teriak Nadyla.
“Pulang, Nad!” bentak Gio membuat Nadyla berdecih dan berjalan ke arah motornya.
0oOo0
Nadyla memasuki rumahnya dengan suasana hati yang tidak dapat didefinisikan. Gadia itu berjalan ke arah dapur. Mengambil sebuah pisau dan pergi ke kamarnya.
Gadis tomboi itu mengunci kamar, lalu berjalan ke arah jendela. Matanya manatap tangan dan pisau yang di pegangnya.
Apa yang akan Nadyla lakukan?
“Apa gue harus sama seperti Oliv?”
Nadyla mengarahkan pisau pada pergelangan tangannya.
“Gue capek.”
Nadyla mengesekan pisau tersebut, sembari memejamkan matanya rapat-rapat menahan rasa sakit yang dibuatnya sendiri.
Darah mulai menetes, lama kelamaan semakin banyak. Pandangan Nadyla mulai samar dan buram. Sampai akhirnya penglihatan dia gelap.
Di sisi lain Rega baru saja memasuki perkarangan rumah Nadyla, lelaki itu memasuki rumah tersebut tanpa permisi.
Tepat di depan kamar Nadyla, Rega mencoba mumbukanya. Namun nihil, kamar Nadyla terkunci.
“Nadyla gue Rega.”
Rega berteriak sembari mengetuk pintu dengan keras. Rega panik dan mencoba mendobrak pintu. Pintu kamar Nadyla terlalu kuat. Rega keluar mencari bantuan. Mencegat seseorang yang tengah lewat rumah Nadyla.
Brak.
Rega berhasil membuka pintu kamar Nadyla. Mereka menemukan Nadyla terbaring lemas di lantai dengan keadaan lemas dan tangan yang mulai bercucuran darah.
Tanpa ragu Rega menggendong tubuh Nadyla dan membawanya ke rumah sakit. Sebelum itu dia mengucapkan terima kasih pada orang yang membantunya tadi.
Sesampai di rumah sakit Rega membawa Nadyla ke ruangan untuk diperiksa. Rega panik di luar ruangan tersebut. Dia terduduk lemas dan berpikir kalau semua ini salahnya. Dia gagal menjadi sahabat yang selalu melindungi sahabat-sahabatnya yang lain.
0oOo
__ADS_1