
Dosa apa yang sudah diperbuat Aurelia sebenarnya? Mengapa Rega benar-benar tidak menyukai dirinya dan tidak menghargainya?
Aurelia sungguh kesal. Rencana jalan ke mal bersama Rega harus diganggu oleh Kaisal yang saat ini menelepon Rega.
Aurelia pun hanya bisa mengepalkan tangannya di belakang Rega.
"Lo di mana, sih, Kai? Udah jemput Nadyla sama Ida belum? Mereka tadi ke toko buku, 'kan?"
"..."
"Kenapa? Bukannya tadi lo udah janji mau jemput mereka?"
"..."
"Gue nggak bisa." Rega menoleh menatap Aurelia kemudian menjauh. Hanya ingin pembicaraannya tidak didengar oleh Aurelia.
Namun, Aurelia mengikuti Rega tanpa cowok itu sadari. "Gue, 'kan, lagi sama si Aurelia. Pokoknya lo jemput mereka, ya. Tadi siang juga gue sempat lihat Nadyla nerima telepon dari Revan. Lo nggak mau, 'kan, Revan mencoba lecehkan Nadyla lagi?" Itu yang didengar Aurelia dari mulut Rega.
Aurelia menggelombangkan alisnya. Revan siapa yang dimaksud? Anak IPS 2? Setahu Aurelia, memang hanya satu orang bernama Revan di Wanareksa High School.
"Gitu, dong. Oke gue tutup!" Perkataan dari Rega membuat Aurelia gelagapan.
Saat Rega memasukan ponselnya ke dalam saku, saat itulah Aurelia memilih menjauh. Berharap Rega tidak menyadari bahwa Aurelia mendengar semua pembicaraannya tadi.
Diam-diam Aurelia tersenyum. Ternyata Nadyla punya aib yang bisa dia sebarkan.
Jangan salahkan Aurelia yang menjadi iblis seperti sekarang. Sebab, Aurelia sungguh tak bisa melupakan segela perbuatan tiga sahabat pacarnya itu.
Seberapa seringnya Aurelia dikasari. Seberapa seringnya Aurelia disudutkan. Seberapa seringnya dia dianggap penjahat. Sungguh, sampai detik ini Aurelia sangat dendam.
"Jadi jalan nggak?" tanya Rega setelah tiba di samping Aurelia. Aurelia langsung tersenyum lebar dan menggapai lengan Rega untuk dia peluk.
Ah, bahagianya Aurelia saat menemuka satu langkah untuk menghancurkan persahabatan dolphins itu.
0oOo0
Keesokan harinya, Rega merasa bebas di sekolah. Entah mengapa hari ini Aurelia tidak lagi menempel padanya layaknya ulat bulu. Bahkan ke kantin seperti saat ini Aurelia memilih menyuruh Rega duluan saja. Katanya gadis itu ada urusan.
Senanglah Rega. Kini dia bisa berkumpul bersama ketiga sahabatnya di kantin. Hal yang sederhana tapi membuat Rega rindu tak terkira.
"Hm, gue ke toilet dulu, ya, gais. Udah kenyang," kata Ida di sela-sela kegiatan makan mereka. Gadis itu mendorong mangkok baksonya yang tersisa setengah. Bersamaan dengan Kaisal yang mendorong juga mangkok baksonya. Bedanya, bakso Kaisal sudah kandas tanpa sisa.
Cowok yang memiliki senyum manis itu mengelus perutnya karena terlalu penuh.
"Gue juga mau ke toilet. Kepenuhan," kata Kaisal, membuat Nadyla berdeham karena ingin menggoda. Tangan Nadyla menarik mangkok bakso Ida.
"Aduh sehati banget. Ida sama Kaisal ke toilet berdua, Ga," ucap Nadyla membuat Rega tertawa tapi rasanya ingin menelan bulat-bulat baksonya.
Ida menarik rambut Nadyla. Dia salah tingkah. "Apaan, sih, lo. Gaje."
Nadyla tertawa. "Btw, lo udah kenyang, Da? Bakso lo ini gue habisin, ya?" Lalu Nadyla sudah menyantap sisa bakso Ida tanpa menunggu sahabatnya itu mengatakan 'iya'.
Dasar Nadyla.
Kaisal bahkan menahan senyumnya melihat sahabat sekaligus pujaan hatinya itu.
"Yuk, Kai ... ke toilet nggak?" tanya Ida. Dia mengabaikan Nadyla yang rakus itu.
__ADS_1
"Ayuklah."
"Jangan salting, Da." Nadyla masih saja menggoda. Cewek itu benar-benar tahu bahwa semenjak Kaisal tahu mengenai perasaan Ida, membuat Ida tak sesantai biasanya.
Sayangnya, Nadyla tidak tahu bahwa Rega menahan sesak di dadanya.
Kaisal dan Ida pun beranjak, meninggalkan Nadyla dan Rega dalam keheningan.
"Jangan diam mulu. Gue tahu lo yang salah tingkah karena berduaan sama gue. Saking saltingnya, udah kenyang pun masih maksa makan punyanya Ida."
Nadyla memaksa menelan makanannya. Lalu berucap, "Sok tahu lo, Bambang!"
Rega hanya terkekeh.
Di tempat lain, Aurelia yang seharian tidak bersama Rega itu melihat Kaisal dan Ida yang berpisah di toilet. Cewek itu kini berjalan bersama Revan.
"Itu Ida, Van. Lo ke sana sekarang," kata Aurelia, membuat Revan segera berlari sebelum Ida memasuki toilet wanita.
"Ida! Ida!" Revan memanggil. Seketika menghentikan langkah Ida.
"Gue ... gue bisa minta tolong?" tanya Revan membuat alis Ida naik.
"Minta tolong sama gue?"
Bukannya menjawab, Ida justru bertanya balik.
"Iya. Tentang Nadyla."
Mendengar itu, Ida langsung menggeleng. "Nggak, Van. Gue nggak bisa."
"Lo ... lo serius cuma mau minta maaf?"
"Gue serius. Tapi gue mohon Kaisal sama Rega jangan sampai tahu. Mereka posesif, dan gue yakin mereka nggak bakalan ngizinin."
Ida tampak berpikir. Dari ekspresinya, Revan memang tampak sangat tulus.
"Ida!" Teriakan ini dari Kaisal. Membuat Ida tidak jadi membalas perkataan Revan. Saat Kaisal berjalan mendekati Ida dan Revan, saat itulah Revan menggenggam tangan Ida.
"Gue mohon mereka jangan sampai tahu. Dan kalau lo mau bantu gue, segera kabari gue, ya. Gue pamit." Lalu Revan berlalu ke kelasnya.
Ida bingung dibuatnya.
"Ngapain lo sama Revan?" Ini pertanyaan Kaisal. Entah mengapa Ida sangat salah tingkah.
"Eng ... anu ... dia, dia cuma titip salam ke Nadyla. Katanya dia minta maaf. Itu aja, kok." Ida menjawab dengan terbata, membuat dahi Kaisal terlipat karena curiga.
"Ah, yuk, kek kelas, nggak jadi gue ke toilet." Dan Ida sudah menarik pergelangan tangan Kaisal. Menggiring cowok itu menuju kelas mereka.
Setibanya di kelas, seluruh perhatian teman-temannya membuat Ida dan Kaisal mengangkat alis.
Tatapan mereka aneh. Sungguh aneh, membuat Ida atau pun Kaisal tidak bisa mengartikan tatapan mereka.
"Kenapa woy?" tanya Kaisal saat sudah duduk di tempatnya. Ida hanya bisa menggaruk hidung.
"Nadyla mana, wok?" tanya Dewi, ketua kelas mereka.
"Masih di kantin kali bareng Rega." Ini Ida yang menjawab.
__ADS_1
"Oy. Gue di sini! Tumben dah nyari-nyari gue. Ngapa?!"
Kehebohan ini berasal dari ambang pintu. Dan itu memang Nadyla. Jika biasanya teman-teman sekelasnya tertawa akan ulah Nadyla, kali ini justru berbeda. Tatapan mereka menghunus Nadyla layaknya iblis.
"Lho? Kenapa, sih, kalian?"
Nadyla bertanya sambil berjalan ke kursinya. "Da, Kai, mereka kenapa?"
Kaisal mengangkat bahu dan Ida lagi-lagi menggaruk hidungnya.
"Enak, ya, godain kapten basket Wanareksa di ruang musik? Ululu." Itu suara April. Gadis dengan polesan bedak tebal yang memang anti pada Nadyla hanya karena Nadyla tak peduli pada penampilannya.
Mendengar itu Kaisal langsung menegang karena tidak terima. Ida melotot karena terkejut. Lalu Nadyla menggulung lengan seragamnya karena amarah.
"Maksud lo apa, kampret?! Gue? Godain siapa? Revan?"
"Iyalah! Siapa lagi? Kita semua udah tahu, ya, kebusukan lo! Malu-maluin MIPA 3 tahu nggak! Seluruh penghuni sekolah udah koar-koar dan jelek-jelekin MIPA 3 karena kelakuan murahan lo itu!"
Mendengar kalimat pedas dari April membuat Kaisal tidak bisa tinggal diam. Cowok itu berdiri dengan gagahnya. "April, kalau ngomong, tuh, difilter dulu."
Tangan April menyapu udara.
"Alah, nggak usah sok ngebela lo! Kalian itu sahabat saling tusuk tahu nggak. Bukannya Ida juga yang ngancam Revan sampai-sampai buat Revan datang ke kelas tadi dan mengaku sama kita-kita?
Ida melotot. Tuduhan macam apa itu?
Ida langsung bergetar ketika berdiri. Apalagi saat Nadyla dan Kaisal menatapnya secara bersamaan.
"Maksud lo apa, sih, April? Kok gue? Gue ngancam Revan? Nggak masuk akal banget tahu nggak. Untungnya buat gue apa?"
"Ya mana kita tahu. Itu urusan kalian. Yang jelas tadi Revan masuk ke sini dan bilang kalau MIPA 3 tuh kampungan. MIPA 3 nggak terdidik. Katanya Ida ngancam, dan Nadyla penggoda. Nggak terimalah kita-kita. MIPA 3 dianggap kotor banget karena kalian berdua tahu nggak!" April masih emosi. Seluruh yang berpihak pada April langsung mengangguk, bahkan banyak yang mengeluarkan kalimat frontalnya.
Kaisal pun menggeleng karena tidak habis pikir. "Apa selama ini lo sama Revan ngerencanain sesuatu, Da? Selain tadi di toilet, apa lo emang sering diam-diam ketemu sama dia? Buat apa, Da?" Kaisal berbisik. Namun bisikan itu Ida tahu bahwa ada ancaman di dalamnya. Ida tak tahu lagi harus membela dirinya seperti apa. Dia hanya bisa menangis dan menggeleng.
"Ida! Jujur sama gue!" teriak Nadyla.
Siapa yang bisa menerima, jika dirinyalah yang menjadi korban tapi dianggap sebagai penyebab?
Siapa?
"Gue nggak ngelakuin apa-apa." Ida berucap di tengah tangisannya. Gadis itu langsung terduduk lemah di kursinya.
"Gue nggak bisa percaya, Da. Karena gue tadi udah lihat sendiri lo berinteraksi sama Revan dan lo salah tingkah saat gue tanya."
Kaisal menjeda. "Gue nggak nyangka lo bisa kayak gini. Entah atas dasar apa, Da, sampai lo sekejam ini. Tapi gue benar-benar kecewa."
Ida menggeleng kuat. Bukan dirinya. Bukan!
Bel masuk berbunyi. Seolah mengatakan bahwa Ida memang tidak pantas membela dirinya.
Kaisal tidak ada selera sekarang. Dia pun menggapai tangan Nadyla dan membawanya ke UKS. Lagi-lagi bolos bersama.
Tak jauh dari kelas MIPA 3, ada Aurelia dan Revan yang bertos ria.
Ya, kehancuran dolphins berada di tangan kedua orang itu sekarang.
Sungguh menyenangkan.
__ADS_1