
Hari Minggu adalah hari yang menyeramkan bagi Ida. Ayahnya akan menghabiskan waktu di rumah saja dan tak akan membiarkan Ida ke mana-mana.
Akhirnya, tepat di pukul empat sore seperti ini, Ida hanya bisa menggapai ponselnya dan melakukan video call bersama keempat sahabatnya.
Ketika semua sudah terhubung, Ida langsung menampilkan cengiran lebarnya.
Ah, manis sekali.
"Biasa ... gue cuma boleh tinggal di rumah, hari ini ayah nggak akan keluar dari rumah kayaknya."
"Yah, padahal, 'kan, kita mau main." Yang berbicara layaknya anak kecil dan menampilkan wajah sok imut ini adalah Kaisal. Ampuh sekali membuat Ida memutar bola mata walau tertawa.
"Kita nekat aja, deh." Sedangkan ini adalah kata-kata dari Rega. Saat paham maksud Rega, Ida seketika menghentikan tawa, Nadyla mengangguk cepat, dan Kaisal pura-pura memasang wajah bodohnya.
"Setuju gue, setuju. Itu tangga yang kemarin masih di samping rumah lo, 'kan, Da?" tanya Nadyla dengan semangat. Ida masih membulatkan mata. Ia benar-benar ingin menangis, sebab para sahabatnya selalu berani mempertaruhkan segalanya demi dirinya ini.
"Lo mau naik tangga lagi, Nad? Jangan, dong, kalau kamu jatuh aku nggak bisa tolong nanti, Nad. Aku nggak mau." Andaikan mereka seudah berkumpul, sudah Nadyla cabut gigi kelinci Kaisal sialan itu!
"Kelakuan lo tiap hari makin menjijikkan tau nggak, Kai!" ucap Nadyla sambil memutar bola matanya. Kaisal pun tertawa kuat, sedangkan Ida dan Rega terdiam. Mengamati tingkah dua sahabatnya yang lain.
"Mati aja sana, *******!" teriak Nadyla menggebu-gebu.
"Stop! Ebeya Stikhouse nunggu kita, asal lo mau tau aja." Karena tak tahan, Rega akhirnya membuka suara.
"Sok penting banget lo jadi human," bentak Kaisal kemudian. Entahlah. Entah kenapa cowok itu hari ini mendadak alay.
"Kalian ... jangan suka buat hal nekat demi gue." Suara Ida yang keluar setelah lama diam membuat ketiga sahabatnya menatap dia heran.
"Kita, 'kan, sahabat, Da. Lo kayak ngomong sama orang lain aja." Entahlah. Entah mengapa Kaisal tiba-tiba berubah dewasa hanya dengan waktu tiga detik saja.
"Pokoknya lo nggak boleh ngomong kayak gitu, Da!" Dan yang ini adalah perintah Nadyla. "Kita, tuh, harus selalu kompak."
Semua mengangguk, kecuali Ida. Ida justru semakin ingin menangis.
"Nah, gue otw, ya." Rega bersuara. Nadyla dan Kaisal lagi-lagi mengangguk. "Tapi hari ini gue naik motor. Mobil lagi di bengkel. Gimana?"
"Ya tenang. Kayak biasa ajalah. Susah amat lo!" Sekali lagi, entah kenapa Kaisal mendadak sensi. Hehe.
Rega mengangguk. "Yaudah gue berangkat."
"Lo, Nad. Siap-siap buruan. Motor gue mogok kalau lo bau." Ucapan Kaisal dihadiahi tatapan mata tajam oleh Nadyla.
"Siap-siap gimana, bangke? Gue ginian aja udah."
Ginian yang dimaksud Nadyla adalah menggunakan kaos kebesaran, celana pendek di atas lutut, serta nanti akan menggapai topi hitam bertuliskan hoax.
"Berpenampilan manis dikit kayak Ida, kek!"
Saat Nadyla memutar bola mata, Ida justru menahan lagi gejolak aneh di dadanya mendengar semua ucapan Kaisal.
Ida sudah mulai merasakan perasaan aneh itu semenjak sadar bahwa kali ini saat keluar, Ida akan duduk naik di motor Rega, sedangkan Nadyla bersama Kaisal.
Memang begitu kebiasaan mereka. Dan Ida benci ketika sekarang ada rasa aneh yang menggerogotinya saat tahu Kaisal lagi-lagi akan menjemput Nadyla.
"Gini aja gue udah manis, kok." Ucapan Nadyla menyadarkan Ida kembali.
Kaisal baru ingin membalas Nadyla, tapi Rega lebih dulu bersuara, "Da, tunggu gue, ya." Lalu Rega meninggalkan kegiatan video call mereka. Menyisakan Nadyla, Kaisal, dan Ida.
"Oke, Nadyla yang merasa manis padahal nggak manis... tunggu gue, ya?" Lalu Kaisal menatap Ida. "Bye, Da."
Lihatkan? Ida bahkan merasa sakit lagi mendengar Kaisal seperti itu. Jika Kaisal berkata demikian untuknya, pasti ia akan merasa berdebar. Tak seperti jika Rega yang mengucapkan itu padanya. Ida sungguh dapat mengetahui perbedaannya.
Sebenarnya, ada apa ini?
"Oy! Diem aja dari tadi!" Nadyla sungguh mengagetkan Ida.
"Gue siap-siap dulu, Nad. Lo pake waju warna hitam itu, ya?" tanya Ida sambil tersenyum.
Nadyla mengangguk.
"Yaudah biar kita kompak, gue ganti baju warna hitam dulu. Dadah, Nad."
__ADS_1
Maafkan Ida, kembali melanggar aturan ayahnya demi bersenang-senang dengan sahabatnya. Sebab, kembali diingatkan bahwa mereka semua sangat berharga.
0oOo0
Ketika ujung tangga sudah berdiri di depan jendela kamar Ida, saat itulah jantungnya seperti ingin meledak.
Gadis manis itu langsung berlari pada pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat. Saat dia berbalik lagi melihat jendela, sudah ada Nadyla yang menyambutnya sambil mengunyah permen karet.
Memang, jika mereka nekat lagi maka Nadyla yang akan menaiki tangga dengan Kaisal dan Rega yang menahan tangga tersebut di bawah.
"Buruan." Ida melihat gerakan bibir Nadyla itu. Ida pun mengangguk dan berlari. Nadyla dan Ida melakukan tos saat Ida membuka jendela. Setelah itu Nadyla turun duluan dan Ida menyusulnya.
Setibanya gadis itu di bawah dengan selamat, Kaisal langsung membawa lagi tangga rahasia itu untuk menepi, sedangkan Rega tersenyum dan menepuk puncak kepala Ida.
Saat Kaisal sudah kembali tiba di antara mereka, cowok itu langsung menggapai tangan Nadyla dan menggenggamnya. Hal itu seperti kebiasan Rega pula, tapi bukan menggenggam tangan Nadyla, melainkan tangan Ida.
Mereka pun segera berlari menuju tembok samping rumah milik Ida. Kedua cowok gila bernama Rega dan Kaisal langsung jongkok, memudahkan Ida yang naik di bahu Rega untuk melompati dinding, sedangkan Nadyla yang naik pada bahu Kaisal. Saat kedua gadis itu sudah tiba di luar rumah, Kaisal dan Rega pun langsung melompat ala cowok keren yang mampu membuat gadis pingsan di tempat.
Nadyla dan Ida akui, bahwa mereka berdua beruntung karena bisa menjadi manusia yang dilindungi oleh dua cowok tampan itu.
Sungguh, mereka berdua beruntung.
Ida dan Nadyla saja yang tidak tahu, bahwa Rega dan Kaisal jauh merasa lebih beruntung.
0oOo0
Hal yang paling dibenci Nadyla saat ini ialah Kaisal!
Kenapa? Kenapa cowok itu harus memberhentikan motornya di saat Nadyla mengatakan jangan berhenti.
"Lo, kok, ngeselin banget, sih?! Gue bilang jangan berhenti, ya, jangan berhenti!"
"Kasian mantan lo, Nad. Ngejar-ngejar mulu. Lo harusnya bicara baik-baik dulu."
Dan Revan--mantan Nadyla--sudah berhenti tepat di depan Nadyla dan Kaisal. Tak lama, Rega dan Ida ikut berhenti di sana.
Nadyla hanya bisa menarik napas panjang. Diam-diam ingin membunuh Kaisal.
"Gue ada urusan sama Nadyla, dan gue minta tolong untuk kali ini aja biarin gue bareng dia. Dia naik di motor gue." Ucapan Revan membuat Nadyla memutar bola mata.
"Nggak akan!" bentak Nadyla.
"Boleh, kok." Tebak siapa yang mengatakan ini?
Rega? Bukan.
Ida? Mungkin bisa jadi. Namun, untuk sekarang bukan Ida-lah orang itu.
Berarti, Kaisal. Iya, Kaisal.
"Lo boleh bareng dia. Sekali ini doang, 'kan?" tanya Kaisal kemudian. Revan hanya diam.
"Lo gila?!" teriak Nadyla, tak habis pikir. "Ngapain gue ikut sama dia sementara kita punya agenda! Waras banget lo!"
"Sekali ini doang katanya, Nad."
"Sekali doang pantat lo kurapan!"
"Nad, Nad. Sabar, Nad." Ida akan selalu takut jika terjadi hal seperti ini.
"Nggak! Nadyla tetap sama Kaisal dan lo ...." Rega menggantung kalimatnya sambil menunjuk Revan. "Nggak perlu gangguin Nadyla lagi."
Saat Rega selesai dengan ucapannya, saat itu juga Nadyla memegangi dadanya yang berdenyut.
Mengapa selalu Rega yang bisa membuatnya seperti ini?
Mengapa selalu Rega yang bisa untuk sangat dia andalkan?
"Sebelum gue jadi orang gila karena amarah, lo sebaiknya pergi dan nggak ganggu sahabat gue lagi!"
“Oke! Untuk kali ini gue malas jadi orang kampungan," kata Revan, membuat Rega dan Ida melotot.
__ADS_1
"Kampungan?" tanya Rega.
"Iya, lo kampungan. Bisa kali ngomong baik-baik. Gue cuma ada perlu sama Nadyla, bukan ngajak lo berantem. Gue ... nggak sekampungan itu!"
Langsung saja Rega mengumpat. Ia sebutkan satu nama hewan dan maju mendekati Revan. Revan langsung mundur dan mengangkat kedua tangannya seolah sedang berhadapan dengan polisi.
Andai saja bagian belakang jaket Rega tidak ditarik oleh Ida, maka sudah dipastikan Rega semakin maju dan menghajar cowok sialan di depannya itu.
"Jangan gampang emosi, Ga," kata Ida. Langsung melemahkan organ tubuh Rega.
Di situlah Rega biarkan Revan pergi. Saat mantan Nadyla itu berlalu, Kaisal langsung menatap Nadyla dengan sendu.
"Padahal, Nad, kalau lo ikut untuk kali ini, pasti urusan lo sama dia selesai," kata Kaisal.
"Selesai apa? Lo itu sok tahu banget, Kai. Apa lo tahu seberapa bahayanya cowok itu?" Nadyla bertanya dengan nada biasa.
Mati-matian dia menahan jeritannya di depan Kaisal.
"Dia baik, 'kan? Lo aja yang terlalu kasar saat pacaran sama dia, Nad."
"Oh? Selama ini di mata lo gue yang salah? Gue yang terlalu kasar, gitu? Ya ampun. Salah, ya, gue, berpikir bahwa lo juga termasuk satu manusia yang paling mengerti gue. Ternyata ... lo nggak tahu apa-apa."
Melihat dua sahabatnya berdebat, Ida langsung mengeratkan genggamannya pada jaket Rega.
Rega bahkan hanya diam saja. Dia tahu, dua sahabatnya itu bisa mengatasi ini.
Dan Kaisal? Cowok itu menarik napas panjang kemudian berucap, "Gue cuma mau urusan kalian selesai sampai di sini. Gue mau lo selesaiin, Nad. Gue juga cape lihat dia ngejar-ngejar lo terus."
"Lo nggak tahu seberapa bahayanya dia saat cuma berdua sama gue!" Nadyla berteriak.
Bahkan ia mendorong dada Kaisal dengan kuat. "Terakhir kali gue kasih kesempatan buat dia ngomong berdua sama gue ... dia justru ngurung gue di ruang musik. Andai si Arum anak MIPA 4 nggak masuk ke ruang musik waktu itu, gue nggak tau lagi nasib gue harus gimana, Kai. Lo nggak tahu, 'kan?" Rasanya Nadyla ingin menangis. "Dan tadi lo nyuruh gue ikut sama dia? Astaga, padahal kita pengin ngumpul dan rela berjuang jemput Ida di rumahnya. Sebegitu nggak maunya lo kumpul sama gue hari ini?! Terus kenapa lo nawarin jemput gue?!"
"Gue cuma ...." Belum selesai Kaisal dengan ucapannya, Nadyla justru sudah berlari dan menghentikan taxi.
Kaisal benar-benar frustrasi.
Ida yang melihat itu langsung mendekati Kaisal dan mengelus punggungnya. "Gue tahu lo cuma mau yang terbaik buat Nadyla. Dan lo harus tahu, gue bahkan juga mungkin Rega, sama-sama nggak tahu kalau Nadyla pernah hampir dilecehkan di ruang musik. Lo nggak perlu merasa bersalah. Tenangin diri aja dulu, dan besok minta maaf sama Nadyla walau sebenarnya lo nggak salah."
Kaisal bergeser. Hal itu membuat tangan Ida di punggungnya terjatuh. "Pikiran gue lagi kacau sekarang. Lo nggak usah banyak ngomong. Urus aja mantan lo juga yang masih ngejar-ngejar itu, Da.”
Ida tersekat.
Sekasar itu Kaisal padanya hari ini?
Mengapa?
Rega yang mendengarnya pun maju. Selama ini dia tak pernah ingin kasar pada sahabatnya, tapi kali ini Kaisal benar-benar keterlaluan pada Ida.
"Hari ini lo keterlaluan banget, Kai. Lo nyakitin dua hati cewek yang selama ini mati-matian lo jaga. Lo mikir nggak?!"
Kaisal hanya menatap Rega tanpa nyawa. Lalu, cowok itu naik ke motornya dan pergi begitu saja.
Melihat sahabatnya seperti ini, bagaimana bisa Ida menahan tangisannya?
Rega yang melihat Ida menangis seperti itu segera memeluknya erat.
"Jangan nangis. Gue nggak bisa lihat lo kayak gini."
"Rega ...." Ida semakin menangis.
"Jangan nangis lagi, Da. Gue ... gue nggak tahu kenapa sesakit ini setiap lihat lo kayak gini. Entah karena lo sahabat gue, atau karena gue lihat lo sebagai cewek yang bisa gue miliki. Gue bingung, Da. Plis jangan nangis."
Mendengar itu, napas Ida seperti berhenti.
Jika Rega mampu melihat dirinya bukan sebagai sahabat. Apa itu juga yang dirasakan Ida pada Kaisal?
Jika iya. Apa yang akan terjadi nantinya?
Jika Rega menginginkan Ida, dan Ida menginginkan Kaisal yang tak menginginkan dia, maka apa yang akan terjadi pada persahabatan mereka nantinya?
0oOo
__ADS_1