
Ida berlari tergesa-gesa memasuki kelas, lalu duduk di samping Nadyla yang tengah menatapnya bingung.
“Seriusan gue bingung, Nad. Tadi pas mau ke kelas ada yang manggil gue, bilang sombong. Padahal gue nggak kenal, gue jawab kayak orang **** tahu, Nad.” Seperti biasa kalau cerita Ida seperti dikejar setan, nyaris tidak ada titik dan koma.
Sehingga pendengar harus menyimak apa yang dia katakan.
“Kayak orang **** atau emang **** beneran?”
“Minta ditampol emang yah lo.”
“Gue tadi malam nggak ngompol, masa mau kelas 9 ngompol.”
Nadyla menjawab tidak nyambung.
“Tampol woy bukan ngompol!” Ida mulai emosi. “Makanya kalo lebaran beli linggis, jangan baju mulu.”
“Linggis buat apa, Da?” tanya Kaisal yang entah datang dari mana.
“Buat bunuh Rega.” Ida menjawab dengan asal.
Rega tersedak mendengarnya, mereka bertiga menatapnya sebentar, lalu kembali larut dalam pembicaraan.
Bagi Kaisal dan Rega, tidak masalah walaupun mempunyai sahabat cerewat seperti Nadyla dan Ida. Mereka adalah sahabat terbaiknya, mereka mampu melengkapi kekurangan Rega dan Kaisal.
Nadyla menegak minuman di dekatnya.
“Minumnya pelan-pelan Nadyla.” Kaisal mendecak, tetapi Nadyla tidak peduli. Dia menempelkan bibir botol di bibirnya, menegak air putih itu dengan rakus.
Tersedak.
Nadyla terbatuk-batuk. Ida, Kaisal, dan Rega mendengus, Kaisal menepuki pundak Nadyla.
“Dibilangin lo mah ngeyel,” ujar Ida sembari menggelengkan kepalanya. Tingkah dan perilaku Nadyla seperti cowok, tidak ada anggun-anggunnya sama sekali. Walaupun begitu, dia manis dan cantik, tidak heran banyak cowok yang sering memperhatikan dia.
Tidak lama kemudian guru masuk ke dalam kelas, hanya memberi tugas. Setelah itu izin keluar karena ada kesibukan lain.
Namanya juga siswa SMP, guru keluar ya ikut keluar. Berbeda dengan Rega dan sahabat-sahabatnya, dia lebih memilih untuk tidur di kelas. Menjadikan meja sebagai tempat tidur dan tas untuk bantal. Sebelum tidur, Kaisal berjalan menutup pintu terlebih dahulu, kelas adalah rumah kedua mereka. Tidak ada yang berani mengganggu mereka tidur, jika ada mungkin Rega akan menjadi harimau dadakan.
0oOo0
__ADS_1
Rega Nicholando, lelaki itu berjalan dengan angkuh menelusuri koridor menuju kantin. Tidak ada senyum manis, tetapi tetap terlihat tampan seperti biasanya. Di usianya yang masih terbilang bocah, sudah mampu memikat ratusan gadis. Langkah lelaki itu berhenti tepat di depan kantin, matanya mencari ketiga sahabat dia. Di pojok terlihat dua gadis dan satu cowok, mereka menoleh ke arah Rega.
“Oy ke sini,” teriak Nadyla membuat semua orang memperhatikan dia, cewek tomboy itu sudah biasa ditatap sinis oleh sebagian orang. Rega melangkah munuju sahabatnya, lalu duduk dan minum minuman Kaisal. Membuat pemiliknya mendengus kesal.
“Lama banget sih, ngobrol apa lo sama Pak Kumis?” tanya Ida sembari melahap baksonya. Rega mengangkat bahu tidak acuh. Mereka berempat sudah bersahabat sejak mereka kecil, tidak heran sampai sekarang sedekat nadi. Perbedaan kepribadian mereka membuat persahabatan mereka semakin erat.
Di saat keempat sahabat itu tengah bercanda dan saling melontarkan lelucon satu sama lain, tiba-tiba ada seorang lelaki menendang meja mereka.
Sepertinya dia kakak kelas.
Semua orang di kantin menghentikan kegiatan mereka saat melihat Vito. Wajah datar Kaisal dan tatapan tajam Rega tertuju pada Vito—bad boy—di sekolah mereka.
“Maksud lo apa?!” tanya Vito geram sembari menarik kerah Kaisal.
Kerutan di dahi Kaisal terlihat, seakan tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Vito berdecih. “Maksud lo apa nolak adik gue hah?!” ulangnya sambil mendorong Kaisal sampai terjatuh. Bukannya marah, Kaisal malah tertawa. Membuat semua orang menatap dia heran.
Berbeda dengan Rega, tatapannya masih tertuju pada kakak kelasnya dengan tajam yang sudah lancang mendorong sahabatnya.
“Lo salah orang, yang nolak adik lo itu gue.” Rega berkata dengan senyum sinis, lalu melangkahkan kaki mendekati Vito, kemudian ia menonjok perut kakak kelasnya itu dengan keras. Membuat semua orang menatap ngeri pada Rega. Senyum miring tercetak di bibir Rega, tidak peduli yang dia lawan itu kakak kelas, yang jelas siapa pun yang menyakiti sahabatnya akan berurusan dengan dia juga.
“Gue nggak suka Aurelia paham!” tegas Rega, setelah itu meninggalkan kantin. Ketiga sahabatnya mengikuti.
Nadyla, Ida, Kaisal, dan Rega adalah empat sahabat yang dinamakan dolphins. Mereka seperti lumba-lumba, setia kawan.
“Lo mau ke mana, Ga?” tanya Ida memegang tangan Rega yang masih tegang.
Rega menghentikan langkahnya, kemudian menghela napas pelan.
“Gue mau bolos, kalian ikut?”
Kaisal menggeleng tidak setuju. “Jangan bolos di saat keadaan seperti ini, nanti memperkeruh suasana.”
“I don’t care, yang terpenting gue tenang. Kalo nggak mau ikut yaudah.” Jelas mereka tidak akan membiarkan Rega bolos sendiri, bisa-bisa anak itu membuat kekacauan lebih dari ini.
0oOo0
Rega membaringkan tubuhnya di atas kasur, mereka memutuskan untuk berhenti ke rumah Kaisal. Walaupun besar, tetapi selalu sepi.
__ADS_1
“Jadi tadi lo nolak Aurelia lagi?” tanya Nadyla sambil memainkan ponsel. Kaisal melepaskan dasinya, kemudian ikut membaringkan tubuh dia di samping Rega.
“Kenapa sih Aurelia ngebet banget pacaran sama lo?” Ida bertanya dengan penasaran.
“Padahal masih SMP, tapi pikiran dia udah pacar-pacaran,” lanjut Ida, membuat semuanya mengangguk setuju.
“Namanya juga cinta, manusia jika sudah merasakan cinta lupa segalanya.” Kali ini Kaisal bicara dengan mata tertutup.
Nadyla menyimpan ponselnya. “Yaudah, jangan sampai kita saling merasakan cinta satu sama lain. Kita harus menjadi sahabat selamanya.”
“Gue setuju, kita harus bersahabat sampai rambut kita memutih.” Rega dan Kaisal mengangguk setuju.
“Kita sahabat selamanya.” Janji mereka berempat.
Seharusnya mereka ingat, bahwa Tuhan mampu membolak-balikkan hati manusia. Mereka bocah SMP yang belum pernah merasakan cinta dengan mudah berjanji. Bukankah cinta datang karena terbiasa bersama?
Mereka memutuskan untuk bermain badminton agar menghilangkan rasa bosan, Mereka bercanda ria, sesekali melontarkan lelucon satu sama lain. Tawa mereka menghiasi rumah Kaisal yang sepi. Matahari hampir saja tenggelam, tetapi mereka masih asyik dengan permainannya itu. Saat bermain badminton Rega tidak sengaja menyenggol tubuh Ida sampai terjatuh. Membuat semuanya khawatir.
“Lo nggak apa-apa, Da?” tanya Rega sembari membantu Ida berdiri, Nadyla membawa minum dan diberikan kepada Ida, sedangkan Kaisal sibuk mencari obat merah untuk luka di tangan Ida.
“Kalian nggak usah panik, gue nggak apa-apa.”
Rega menggeleng tidak setuju. “Nggak apa-apa apanya, tangan lo berdarah.”
“Diminum tuh,” ujar Nadyla.
Kaisal dengan telaten mengobati luka sahabatnya, dari kecil mereka selalu seperti ini. Yang terluka satu orang, tetapi semuanya merasakan.
“Gue harap, kita akan selalu seperti ini. Menjadi sahabat selamanya.” Ida berkata sembari memeluk ketiga sahabat dia. “Gue sayang kalian,” lanjutnya dengan meneteskan air mata. Keempat remaja yang masih menduduki kelas 8 itu seperti saudara.
“Kita ke dalam yuk, udah mau magrib.” Perkataan Nadyla membuat mereka melepaskan pelukannya, lalu memasuki rumah Kaisal.
“Lo mau pulang nggak, Da?” tanya Rega setelah mereka ada di ruang televisi. Ida melihat Kaisal dan Nadyla berganti, mereka mengangguk pertanda keduanya mengizinkan Ida pulang bersama Rega.
“Kaisal nggak nginep di rumah Rega?” tanya Ida, mereka semua tahu orangtua Kaisal jarang ada di rumah.
“Hm gue yang nginep di sini, Da.” Rega yang menjawab, membuat Ida mengerutkan keningnya bingung.
“Gue sama Nadyla aja, tinggal pesan taxi online dari pada lo harus bolak-balik.”
__ADS_1
“Yaudah, hati-hati.”
Karena bagi mereka, persahabatan mereka lebih penting di atas segalanya.