
“Kamu mau pindah kelas?”
Bu Tri selaku ketua penegak disiplin dan kesiswaan sekolah menatap Rega dengan kening berkerut.
“Saya enggak nyaman di star class, Bu. Saya mau pindah ke Mipa 3 aja,” Jawab Rega tegas.
Bu Tri menghela napas pelan, lalu menggeleng kecil.
“Kamu mau pindah karena sahabat kamu ada di sana, kan?” tanyanya dengan santai, “padahal banyak yang pengen masuk kelas unggulan, sedangkan kamu malah ingin pindah. Kamu pikir pindah kelas enggak ribet?”
Cowok itu merapatkan bibir, tetapi masih tegak mempertahankan protesnya.
“Intinya saya mau pindah, Bu.”
Bu Tri berdecak pelan, “Kamu kembali ke kelas, saya tidak akan mengabulkan permintaanmu.”
“Bu.”
“Keluar Rega, saya masih ada urusan yang lain.”
Dengan berat hati cowok itu keluar ruangan kesiswaan, apa salah jika dia ingin sekelas dengan sahabat-sahabatnya?
“REGA!”
Rega terperanjat, melihat Aurelia yang tadi memekik namanya dengan cempreng. Cowok itu hanya memutar bola mata malas, lalu melanjutkan langkah kembali.
“Rega tungguin.”
Cewek yang mengejarnya dari SMP ini benar-benar tak kenal lelah, mengejar terus menerus. Saat Aurelia sudah berada di samping Rega, dia langsung memeluk lengan cowok di sampingnya itu.
“Lepas.”
Cewek itu seolah tuli, membuat Rega melepaskan tangannya dengan kasar. Aurelia terlonjak, dia melebarkan mata dengan bibir agak terbuka kaget. Tak peduli dengan cewek itu, Rega berjalan meninggalkannya begitu saja.
“Rega, jika gue nggak bisa memiliki lo, orang lain juga tidak akan pernah milikin lo.”
Aurelia berdiri sembari tersenyum sinis, memikirkan rencana untuk mendapatkan cowok itu. Bahkan dirinya tak habis pikir dengan Rega. Apa yang kurang dari seorang Aurelis, dia cantik, pintar, dan kaya.
0oOo0
Kedua gadis itu berhenti di tengah koridor, membiarkan teman-temannya berjalan lebih dulu untuk menyeberang lapangan upacara menuju lab komputer. Mereka berdua gadis cantik yang memiliki daya tarik sendiri. Ida sibuk merapikan rambut Nadyla. Kemudian meraih tali rambut yang dijadikan gelang di lengan kiri, lalu kedua tangannya menarik rambut Nadyla untuk diikat.
Terlihat biasa, tetapi membuat para murid lelaki menoleh begitu saja dan terpaku ke arah mereka. Kedua gadis itu mendongak, menegaskan figur sempurna tubuh yang mereka miliki.
Kemudian melanjutkan langkah dengan tenang, masih diikuti tatapan pesona lelaki di sekitarnya. Apalagi yang baru pertama kali mendapat serangan pesona dari mereka, sekali toleh tak akan berpaling dengan mudah.
“Lama banget sih kalian,” ujar Kaisal setelah mereka berdua sampai.
“Kenapa? Rindu?” tanya Nadyla, lalu duduk di samping Kaisal.
“Rindu pala domba,” celetuk Kaisal yang sekarang sibuk menghidupkan komputer.
“Lo rindu kepala domba?” tanya Ida, membuat Nadyla ketawa. Kaisal hanya mendengus.
__ADS_1
“Ini gimana?” tanya Nadyla dengan cengiran khasnya. Kaisal menoleh dan melihat layar komputer cewek tomboi itu.
“Makanya kalo di kelas itu dengarin, bukan tidur.” Walau pun ngomel, dia tetap memberi tahu Nadyla.
Ida hanya menatap kedua sahabatnya, ada apa dengan hati dia? Kenapa rasanya sakit, nyesek, dan kecewa.
“Ida.”
Gadis itu terlonjak kaget, lalu menatap kedua sahabatnya dengan pandangan bertanya.
“Lo mikirin apa? Lagi ada masalah atau sakit?” tanya Nadyla khawatir.
Ida menggeleng. “Gue enggak apa-apa.”
0oOo0
Kaisal berjalan tenang, menunduk melewati koridor sambil memandangi ponselnya.
Mendongak melihat Rega tengah latihan basket. Sejak dipilih menjadi ketua basket, Rega semakin aktif di eskulnya itu. Mau tak mau Kaisal harus menunggu Rega latihan. Lelaki itu berdiri dengan tenang, lalu duduk di pinggir lapangan. Biasanya Kaisal menunggu Rega dengan Ida dan Nadyla. Namun sekarang Nadyla tengah menunggu Ida menyelesaikan tugas di lab. Iya, dia lelet dan selalu menjadi terakhir jika dikasih tugas.
Rega berjalan mendekati Kaisal, tubuhnya penuh keringat dan senyum di wajahnya membuat siswi yang masih di sekolah terpesona.
“Kayak jomlo lo,” ujar Rega sembari duduk di samping sahabatnya.
Kaisal mendengus. “Ngaca dulu, Ga. Lo juga jomlo.”
“Rega.” Suara cewek yang begitu Rega hindari kini menganggunya lagi.
Rega berdiri dan manarik Kaisal pergi menjauh dari cewek tak punya urat malu itu.
Tiba-tiba Kasial menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Aurelia. Rega menatap heran Kaisal.
“Rega udah punya cewek, dia enggak bakal nyesel udah nyia-nyiain lo. Cabe.”
Setelah mengatakan itu Kaisal membawa Rega melanjutkan langkahnya.
“Siapa cewek yang berani narik perhatian Rega selain gue?”
Aurelia mendecak, dia tak akan rela kasih membiarkan Rega bahagia selain bersamanya.
0oOo0
“Ida cepat! Rega sama Kaisal udah nunggu!” teriak Nadyla yang sudah di pintu lab.
“Iya, gue save dulu. Duluan deh,” jawab Ida tanpa mengalihkan pandangannya pada monitor.
“Mau duluan gimana, kita harus bareng.”
Ida merilirik ke arah Nadyla, diam-diam takut juga kalo ditinggal sendirian.
“Ida, ayo.”
Ida mengangguk, lalu mematikan komputer dan mengemasi barang-barangnya. Nadyla keluar memandang awan yang sudah gelap dan perlahan mulai jatuh tetesan air.
__ADS_1
“Yah, gerimis,” kata Ida mendekat sambil memeperbaiki ransel pinknya.
Nadyla meraih tas, mengeluarkan jaket dari sana. “Lo sih enggak dari tadi,” omel gadis tomboi itu membuat Ida mendelik.
Ida terkejut, ketika tubuh Nadyla merapat padanya, merentangkan jaket ke atas kedua kepala mereka.
“Cepetan nanti deras.”
Andai Nadyla cowok, pasti Ida sudah baper. Membayangkan dia masuk di dalam film drama-drama Korea. Keduanya berlari kecil menyusuri gerimis.
Tetesan air makin ramai, membuat keduanya bersadar dan mempercepat lari.
“Ini mah kayak drama Korea, kita kayak lesbi Nad,” celetuk Ida yang malah tertawa geli membayangkan keduanya berlari menembus hujan menyeberangi gedung sekolah.
Setelah sampai di koridor Nadyla langsung melepaskan jaketnya.
“Harusnya tadi ada yang foto, Nad,” celetuk Ida lagi, tertawa riang, “lucu deh lari-lari kehujanan dipayungin jaket gitu,” katanya geli membayangkan kerjadian tadi.
“Nanti dikira kita pasangan lesbi lagi,” balas Nadyla sembari tertawa.
“Hahaha.” Mereka menyusuri koridor dengan tawa, membuat siapa pun yang melihatnya terpana.
Sesampai di parkiran, Ida dan Nadyla langsung memasuki mobil hitam yang di dalamnya sudah ada Kaisal dan Rega.
“Lama banget sih, Da?” tanya Kaisal.
Ida menyengir, “Tadi tuh sebenarnya udah selesai, terus kehapus. Jadi gue bikin lagi.”
“Ceroboh,” celetuk Rega membuat ida cemberut.
“Kalian tahu enggak?” tanya Nadyla sembari tertawa mengingat kejadian tadi.
“Enggak,” jawab Kaisal dan Rega secara bersamaan.
Nadyla mendengus dan tak melanjutkan ucapannya.
“Baperan,” ejek Kaisal
“Apaan sih.”
“Sayang Nadyla.”
Deg. Jantung Nadyla berdetak tak karuan, Rega memanggilnya sayang. Kemudian tertawa, menyembunyikan apa yang sedang terjadi dengan jantungnya.
“Lah gila, tadi ngambek sekarang ketawa,” celetuk Kaisal.
“Lo kok ngeselin sih.”
Tanpa mereka sadari, Ida sudah ada di alam mimpi. Mereka terlalu sibuk beradu argumen, sampai tak sadar salah satu dari mereka sedang berada dalam hidup dan mati.
“Ida kok diam, yah.”
Perkataan Rega membuat semua menatap gadis yang tengah menutup matanya.
__ADS_1
“KEBO!” teriak mereka serentak membuat Ida membuka mata terkejud dan linglung sendiri.