Dolphins

Dolphins
Dolphins Dengan Sang Mantan part 3


__ADS_3

Rega tidak pernah tahu alasan apa di balik dirinya itu dihadirkan di dunia ini. Hingga dirinya beserta tiga manusia asing dipertemukan dengan cara tak terduga, dan berusaha untuk saling melengkapi.


Saling melengkapi, menyayangi, membutuhkan, dan menyelamatkan.


Rega tidak pernah merasa sekesepian sekarang. Tujuh tahun menjalin persahabatan, baru sekarang ia merasa terabaikan.


Di detik terakhir kelas 10 ini, Rega tidak pernah ingin membukakan pintu rumahnya untuk ketiga manusia itu. Berkali-kali Ida, Nadyla, dan Kaisal datang ingin belajar untuk ujian penaikan kelas, tetap saja Rega tak membiarkan.


Di sekolah, Rega seperti patung berjalan.


Terserah, toh ketiga sahabatnya sudah memiliki seseorang di hati mereka masing-masing.


Penaikan kelas sudah berada di depan mata. Dan penaikan kelas ini adalah masa-masa terburuk yang pernah Rega rasa.


Rega membencinya.


"Rega," panggil Nadyla di belakang kepala Rega. Cowok itu tidak menoleh. Ia tetap sibuk menulis entah apa.


"Rega." Ini panggilan dari Ida di telinga kanan Rega, suaranya lebih lembut daripada milik Nadyla. Namun, tetap saja Rega seolah tuli.


"Woy, Rega!" Kali ini Kaisal yang bersuara di telinga kiri Rega.


Membuat Rega tambah malas dan memutar bola mata kemudian berdiri lalu pergi dari sana.


Hal itu membuat Nadyla, Ida, dan Kaisal merasa ingin tumbang di tempat mereka masing-masing.


Ada apa?


Ada apa dengan sahabat mereka yang satu itu?


0o0o0


"Ya ampun, kita benar-benar udah naik ke kelas dua, tapi Rega masih nggak mau ngomong sama kita. Sebenarnya ada apa, sih?" Ida mengeluh.


Kini, di kelas Sebelas Mia 3, ada Ida, Kaisal, Nadyla, dan Novaldo. Novaldo adalah anak Sebelas Mia 2. Seperti biasa, selesai pada kegiatan penaikan kelas, maka sistem belajar mengajar masih tidak efektif. Hal itu digunakan Novaldo untuk menghampiri pacarnya. Namun, Ida justru tidak peduli akan kehadiran Novaldo.


Semenjak ujian penaikan kelas, Ida berubah menjadi sosok yang tidak dikenali Novaldo lagi.


Ida tampak murung, dihibur pun ia enggan. Ida bahkan tidak seperhatian seperti kemarin.


Itu ... membuat Novaldo kurang nyaman.


"Gue masih bertanya-tanya, apa salah kita sebenarnya?" tanya Nadyla pelan.


Kaisal yang sedang memotong kukunya itu mengangkat bahu. Ia diam saja. Namun, diam-diam Kaisal juga kebingungan dan terpukul.


"Gue mau ke kelas Rega lagi. Kita nggak bisa kayak gini terus." Baru saja Ida hendak bangkit, tetapi tangan kanannya ditahan oleh Novaldo yang sejak tadi memang hanya diam.


"Kita harus ngomong, Da," ucap Novaldo parau.

__ADS_1


"Nggak sekarang, Val. Aku harus ngurus persahabatanku dulu." Ida melepaskan tangannya dari genggaman Novaldo. Akan tetapi Novaldo tidak akan melepaskan itu dengan mudah.


"Val, tolong ngertiin aku untuk kali ini aja."


Novaldo berdiri, masih menggenggam tangan kekasihnya.


"Aku kurang ngerti gimana lagi? Udah berapa minggu kamu nyuekin aku? Udah berapa minggu, Da? Dan aku pernah protes nggak?"


Melihat kemarahan yang ada di dalam bola mata Novaldo, membuat Nadyla menarik Kaisal agar pergi dari sana. Memberi ruang untuk sepasang kekasih itu.


"Kamu, kan, tahu kalau aku, Nad, sama Kai, lagi ada problem sama Rega. Jadi tolong, kamu jangan nambahin beban aku, Val."


"Jadi ...." Novaldo mengusap wajahnya menggunakan telapak tangan kiri. Pertanda cowok itu sudah benar-benar frustrasi. "Aku cuma jadi beban buat kamu?"


"Nggak gitu, Val." Ida mengelus wajah kekasihny,  tetapi Novaldo justru menghindar dan melepaskan tangan Ida dari genggamannya. Karena itu, Ida mendadak kecewa berat.


Mengapa Novaldo tidak pengertian begini?


"Aku janji, setelah Rega mau ngomong lagi sama kami, aku enggak akan abaikan kamu lagi." Meski kecewa, Ida tetap memilih mengalah.


Namun, nampaknya Novaldo sudah begitu muak. Buktinya, cowok itu menggeleng kuat dan tersenyum miring. "Pentingin aja terus sahabat-sahabat kamu dibanding aku."


"Val, jangan kayak gini, deh."


"Kamu yang jangan kayak gitu!" Bentakan itu membuat Ida tersentak dan hampir menangis.


"Udahlah, Da. Udah." Karena tahu Ida akan menangis, Novaldo pun mengalihkan pandangan ke arah pintu kelas kekasihnya.


"Udahan. Udahin semuanya. Udah! Kita selesai."


Lalu Novaldo pergi dari sana. Meninggalkan Ida yang melotot kuat.


"Val!" teriak Ida. "Kamu serius?" Suara itu masih bergetar, membuat Novaldo merasa bersalah. Namun, gengsi menguasai dirinya.


"Aku serius. Makasih untuk setahun ini, ya," balas Novaldo tanpa menoleh.


Di belakang, Ida menelan salivanya susah payah. Sebab, gadis itu sangat terluka. "Oke. Sama-sama. Karena keputusan ini adalah keputusan kamu, jadi jangan harap ada kata maaf dari aku."


Novaldo terpaku.


"Jangan pernah datang dan meminta untuk memulai apa pun lagi dari aku, Val."


Mendengar itu, Novaldo memejamkan matanya kuat.


Lantas, dia pergi tanpa menoleh dan tanpa kata-kata lagi.


Di situlah Ida luruh dan menangis di bangkunya.


Novaldo ... benar-benar pergi darinya.

__ADS_1


0o0o0


Seminggu berlalu setelah putusnya Ida dan Novaldo. Seminggu ini benar-benar membuat Ida terpuruk. Rega masih tak ingin membuka mulut, sementara Ida dan Novaldo kembali asing seperti awal permulaan mereka jumpa.


Dan itu sungguh memilukan.


Memikirkan semua itu membuat Ida beberapa hari ini menjadi lemas dan kurang sehat. Bibirnya pucat, kepalanya sering sakit, dan terkadang menggigil. Meski sedang mengalami hal itu, Ida tidak pernah absen dari sekolah.


Nadyla sudah mengomel setiap hari, Kaisal pun begitu. Namun, tetap saja Ida keras kepala.


"Lo, ya, Da, dari dulu keras kepala banget!" bentak Kaisal. Sudah lelah.


"Udah tau, tapi masih repot-repot lo!" balas Ida tidak mau kalah.


"Serah lo dah serah lo!"


Mendengar itu, Ida langsung mengeratkan jaket yang membalut tubuhnya dan meletakkan kepalanya di meja kemudian memejamkan mata.


"Gue kangen ... Rega." Suara Ida benar-benar lemah. Selemah itu, tetapi Kaisal dan Nadyla masih mampu mendengarnya.


Suara yang lemah itu justru membuat tangan Kaisal terkepal kuat. Cowok itu berdiri dan berjalan angkuh menuju kelas seseorang.


Rambutnya yang lumayan panjang jatuh indah ke depan dahi dan segera ia pindahkan lagi ke belakang. Kaisal benar-benar marah. Semarah ketika melihat pertengkaran orangtuanya. Sungguh ini menyiksa. Tiba di depan star class, Kaisal langsung menendang pintu kelas itu dan mengangetkan seluruh penghuninya.


"Rega, ke sini lo!" teriak Kaisal.


"Punya nyali, kan? Ngomong lo! Jangan diem aja sok ganteng!"


"Apa?" Mencengangkan. Lama diam, sekalinya berbicara, Rega hanya mengeluarkan satu kata itu dengan nadanya yang sangat dingin.


Kaisal benar-benar marah. Ia segera mendaratkan kepalan tangannya pada rahang kanan Rega. "Lo mikir nggak? Diamnya lo ini nggak buat kita paham sama masalah apa yang sebenarnya terjadi!"


Rega menyentuh rahangnya yang ngilu kemudian tersenyum miring.


"Pergi lo dari sini!" ucap Rega.


Semakin dingin. "Gue ... muak!"


"Banci!" teriak Kaisal kemudian mendaratkan lagi kepalan tangannya ke rahang Rega. Kini rahang sebelah kiri sahabatnya itu. "Ida sakit gara-gara kangen sama lo sialan."


Kaisal pun pergi tanpa ingin mendengar suara Rega lagi.


Di situ Rega tertegun.


Ida sakit?


Jauh di dalam lubuk hati Rega, Rega amat terluka mendengar sahabatnya ada yang terluka hanya karena keegoisannya.


Namun, luka Rega sendiri pun belum ada obatnya.

__ADS_1


Lantas, ia harus bagaimana?


__ADS_2