
Tak seperti biasa. Dolphins berangkat sendiri-sendiri. Tak ada lagi kerusuan di koridor karena ulah mereka. Melihat kejanggalan itu, menjadi tanda tanya bagi penghuni Wanareksa High School.
Nadyla memasuki kelas tanpa mengucapkan apa-apa, dia langsung duduk di kursinya.
Kaisal dan Ida menatap Nadyla dengan pandangan berbeda, bahkan sedari tadi. Kaisal dan Ida tidak saling menyapa. Sepertinya kejadian kemarin berdampak buruk pada mereka.
Ida menarik napas sedalam mungkin, lalu berdiri dan manarik tangan Nadyla untuk segera beranjak pergi. Kaisal hanya melirik sekilas, seolah tak peduli apa yang akan terjadi pada kedua sahabatnya itu.
Tepat di belakang sekolah, Ida menghentikan langkahnya. Kemudian memeluk Nadyla sembari menangis. Yang dipeluk hanya mengerutkan kening bingung.
“Lo kenapa, Da?” tanya Nadyla sambil melepaskan pelukan Ida.
Ida menunduk. “Maafin gue, Nad. Maaf, gue enggak tahu kalo Revan hampir—“
“Lo enggak salah,” potong Nadyla.
“Lo enggak perlu minta maaf, gue yang salah. Gue enggak cerita sama kalian.”
“Gue salah, Nad. Seharusnya gue selalu sama lo.”
Nadyla menghela napas pelan, menarik lengan Ida untuk duduk di kursi panjang sebelah dia.
“Lagian itu udah lama.”
Ida memeluk Nadyla, jujur dia merasa bukan sahabat terbaik untuk Nadyla.
0oOo0
Keempat remaja itu berjalan memasuki rumah Nadyla, mereka diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Setelah sampai di kamar Nadyla, mereka semua duduk tanpa mengatakan apa pun. Ida mengajak mereka kumpul untuk menyelesaikan masalah yang tengah terjadi.
“Gue pengen kita tuh enggak diam-diam kayak gini.” Suara Ida bergetar, dia tak ingin melihat sahabat-sahabatnya perang dingin.
“Tapi dia kasar sama lo, Da!”
Tangisan dan air mata Ida kemarin, membuat darahnya kembali mendidih.
“Gue kemarin enggak sengaja, Ga.”
Kaisal mendongak menatap Rega, Nadyla yang tidak tahu apa-apa hanya mengerutkan kening bingung.
“Lo juga yang bikin Nadyla ingat perlakukan brengsek Revan. Gue tahu Revan mau ngerusak Nadyla, gue tahu!” terika Rega, “Dan lo dengan sok tahunya pengen Nadyla sama Revan. Lo gila, hah?!”
“Udah, jangan dibahas.”
__ADS_1
Rega tertegun. Dua tangan kecil memeluk lengannya, membuat dirinya membeku. Rega menoleh, Ida tersenyum hangat dan menggeleng.
“Kaisal enggak salah, dia kemarin cuma emosi.”
Nadyla hanya mampu menatap mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia tidak terlalu marah atas kejadian kemarin. Hanya kecewa pada Kaisal dan Nadyla juga tidak tahu, jika Rega tahu kejadian di mana Revan hampir saja merusak dirinya.
“Dia bikin dua cewek yang selama ini gue lindungin nangis.”
Rega bergumam pelan. Dia tidak suka melihat air mata kedua gadis yang selalu dia lindungi jatuh, apalagi yang menyebabkannya adalah Kaisal, yang selama ini juga mencoba melindungi mereka.
“Gue minta maaf, gue ngaku salah.” Kaisal menghela napas pelan, dia juga tak habis pikir dengan dirinya kemarin.
Bagaimana bisa, dia melukai dua gadis yang selalu dia lindungi selama ini secara bersamaan.
Nadyla menggenggam tangan Kaisal, tersenyum hangat dan memeluk sahabatnya itu.
“Gue juga minta maaf, enggak cerita sama kalian semua.”
Akhirnya Nadyla mengeluarkan suaranya lagi, Rega tertegun. Dia tersenyum tipis, mau semarah apapun dia pada Kaisal, tetap saja cowok itu adalah sahabatnya juga.
“Jadi, kita akur nih?” tanya Ida, membuat Nadyla melepaskan pelukannya pada Kaisal. Tak bisa dipungkiri hatinya sakit melihat itu semua, tapi dia juga bahagia. Melihat sahabat-sahabatnya akur seperti biasa.
“Akur dong,” jawab mereka serempak.
0oOo0
Nadyla mengayuh sepeda, tujuannya kali ini menuju taman. Tak butuh waktu lama, hanya lima menit Nadyla sampai di taman. Dia turun dari sepeda kemudian duduk di bangku panjang di bawah pohon mangga.
Nadyla melihat jam yang melingkar di tangannya, pulul 16:05. Pantas saja begitu tenang, matahari pun sudah mulai keorenan. Dia mendongak ke atas, melihat pohon mangga yang lebat buahnya.
“Kayaknya enak sore-sore gini makan mangga,” ucap Nadyla sembari tersenyum sumringah. Dia beranjak, melangkah mendekati buah yang dia incar.
Nadyla berjinjit susah payah, sesekali melompat untuk mengambil buah mangga hingga dirinya merasa lelah. Di sebrang sana, Rega terkekeh melihat tingkah Nadyla yang menggerutuk kesal hanya karena buah mangga. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi membuat Nadyla susah payah untuk mendapatkannya.
Rega beranjak, menyeberangi jalan untuk mendekati Nadyla berniat untuk membantunya. Nadyla mendengar kekehan kecil, membuat dia membalikan tubuhnya. Saat melihat Rega, kedua mata Nadyla tidak berkedip membuat Rega melebarkan senyumnya.
“Gue tahu, gue ganteng,”celetuk Rega, lalu mengambil kayu di dekatnya, bagaimana bisa Nadyla tidak melihat kayu itu.
“Makanya jadi orang tuh jangan kecil-kecil amat, amat aja enggak kecil.” Rega menyerahkan dua buah mangga segar yang mengoda untuk dimakan.
Nadyla mendengus kesal. “Lo aja yang ketinggian, segini gue udah tinggi kali.”
Mereka berdua duduk di kursi panjang, Rega meminta mangga yang sedang Nadyla ciumi untuk dikupas.
__ADS_1
“Dapat pisau dari mana?” tanya Nadyla heran.
“Tadi sebelum ke sini, gue di suruh mama ngupas apel.”
Nadyla memperhatikan Rega yang sedang mengupas mangga dengan telaten, wajah tampannya membuat jantung Nadyla lari maraton. Sahabatan sejak lama, kenapa dia baru menyadari kegantengan Rega?
“Aw!” Rega memekik kesakitan saat pisau tajam menggores jarinya.
“Hati-hati dong, Ga. Tuh, kan, berdarah.”
Nadyla meraih jari Rega yang sedikit terluka. Dengan cepat dia mengambil tisu pada tas yang selalu dibawanya. Nadyla membersihkan darah di jari Rega dengan hati-hati. Saat mendongak bola matanya bertemu dengan boleh mata Rega. Nadyla melepaskan jari Rega yang semula dia genggam.
“Sini biar gue aja yang ngupas.”
Nadyla mengambil alih mangga yang berada di tangan Rega, mengupasnya secara perlahan. Lalu memakan mangga yang sudah dia potong kecil.
“Nad, gue harap. Lo jangan pernah pergi-pergi sendiri. Gue takut Revan nyakitin lo.”
Mendengar perkataan Rega membuat Nadyla menoleh, kemudian cewek tomboi itu tersenyum hangat.
“Iya, gue janji enggak akan pergi ke mana-mana sendiri.”
Rega berdiri dan menarik tangan Nadyla untuk segera mengikutinya.
“Rega, mau bawa gue ke mana?”
Rega menaiki sepeda Nadyla, kemudian menarik lengan Nadyla untuk duduk di depannya.
“Pulang,” jawab Rega singkat, tetapi mampu membuat jantung Nadyla berdetak dengan cepat.
Nadyla berharap waktu berhenti, membiarkan dia menikmati momen dengan sahabatnya ini. Sungguh dia tak mengerti dengan perasaannya, perasaan bahagia saat bersama Rega terasa berbeda.
“Turun, Nad.”
Nadyla masih melamun, dia sibuk dengan pikirannya sembari tersenyum.
“Nad, udah nyampe.”
Rega menepuk pundak Nadyla, membuat gadis itu terlonjak kaget.
“Udah nyampe, ngelamunin apa sih?”
Nadyla menggeleng, tak mungkin dia memberi tahu Rega bahwa dia memikirkannya.
__ADS_1