
Mendengar pengakuan Kaisal tentang perasaannya dua jam yang lalu, membuat perasaan Nadyla campur aduk. Sudah cukup kisah percintaan dia yang tak seperti remaja pada umumnya. Kini Kaisal merasakan apa yang Nadyla rasakan. Menyukai seseorang yang jelas-jelas menyukai orang lain. Apalagi perjanjian dua tahun yang lalu menjadi penghalang kisah cinta dolphins.
“Apa yang harus gue lakuin?” tanya Nadyla pada dirinya sendiri, cuaca yang mendung seolah menggambarkan suasana hati Nadyla sekarang.
Angin yang mulai kecang dan rintikan air hujan mulai turun tak membuat Nadyla beranjak dari tempatnya.
Dia berada di taman dekat rumahnya, orang-orang mulai meninggalkan tempat. Namun Nadyla, pandangannya kosong. Seolah mati rasa, tak merasakan dinginnya angin dan air hujan.
Nadyla mendongak, menatap langit yang dihiasi goresan berwarna biru. Tak ada rasa takut sama sekali, gadis itu malah tersenyum. Tubuh Nadyla sudah basah kuyup, si keras kepala itu masih saja berdiri dan memandang langit yang menurut sebagian orang menyeramkan.
“Bego!” teriak seseorang, membuat Nadyla mencari suara itu. Tak perlu menebak siapa yang berteriak, Nadyla mengenali suara seseorang yang kini menetap di hatinya.
Rega menarik tangan Nadyla, membawa sahabatnya untuk berteduh.
“Lo jangan bikin masalah!” teriak Rega lagi, Nadyla menatap lelaki itu santai. Tubuhnya yang sudah basah, tapi dia tidak merasakan dingin sama sekali.
“Gue hanya berdiri di bawah hujan dan tidak merugikan orang lain, jadi masalah apa yang gue perbuat, Rega Nicholando?”
Rega tidak mengenal Nadyla setahun dua tahun, tapi belasan tahun. Dia tahu, sahabatnya itu sedang banyak pikiran. Nadyla yang terlihat kuat nyatanya dia yang paling rapuh di antara yang lain. Dia bisa saja melukai dirinya sendiri, bahkan Rega tahu saat Nadyla menonjok cermin toilet.
Rega membawa Nadyla ke pelukannya. Seolah lupa, bahwa Nadyla memiliki perasaan lebih padanya. Jelas, tubuh Nadyla menegang, tetapi pelukan Rega adalah pelukan ternyaman bagi Nadyla.
“Kalo ada masalah lo bisa cerita ke gue, Nad.”
Nadyla tidak menjawab, dia semakin mengeratkan pelukannya pada Rega. Lagi pula yang Rega katakan bukanlah pertanyaan melainkan pernyataan.
Hujan mulai reda, Rega membawa Nadyla ke mobilnya. Yah, Nadyla tertidur di pelukan Rega. Gadis itu mudah sekali tidur.
Rega mengedarai mobilnya dengan pelan, kemudian melajukan menuju rumah Nadyla. Tak butuh waktu lama. Mobil Rega terparkir rapih di perkarangan rumah Nadyla. Lelaki itu menggendong Nadyla dan membawa sahabatnya itu memasuki rumah bernuasa putih.
Keluarga Nadyla sedang berada di Bandung, mereka menjenguk nenek Nadyla yang sedang sakit. Hanya Nadyla dan pembantu yang masih tersisa di rumah ini. Setelah sampai di kamar Nadyla, Rega membaring tubuh gadis itu dan menyuruh pembantunya untuk mengantikan baju majikannya itu.
Lelaki itu menunggu di ruang tamu sembari memainkan ponselnya. Membalas chat dari kekasih yang tidak diingkan. Jika tidak dibalas, gadis itu pasti akan marah-marah yang akan membahayakan sahabat-sahabatnya.
Ketika saat Rega ingin pulang, hujan kembali hadir dengan deras. Membuat lelaki itu mengurungkan niatnya. Rega beranjak dan berjalan menuju kamar Nadyla. Lelaki itu membaringkan tubuhnya di samping Nadyla. Suasananya sangat mendukung untuk tidur, tak butuh waktu lama, Rega menyusul Nadyla ke alam mimpi.
0oOo0
Nadyla menatap Rega tajam, heran. Setelah membuka mata Nadyla dibuat terkejud dengan keberadaan Rega.
“Lo lupa, yah?” tanya Rega kesal, sahabatnya ini benar-benar membuat dirinya naik darah.
“Hah?”
Rega mengengus, tetapi dia tetap menjelaskan apa yang terjadi. Membuat Nadyla tersenyum malu.
__ADS_1
“Lo ada masalah?”
Mendengar pertanyaan Rega membuat gadis itu kembali serius.
“Masalahnya hanya tentang hati gue, lo, dan Kaisal.”
Rega mengerutkan kening, dia tahu Nadyla menyukainya, tapi apa ada hubungannya dengan Kaisal?
“Maksud lo?”
Nadyla menghela napas pelan.
“Lo tahu gue suka lo, ‘kan?”
Rega menangguk.
“Kaisal juga suka sama gue, Ga.”
Rega menyipitkan matanya.
“Serius?”
Nadyla mengangguk, Rega tertawa ngakak. Menertawakan kisah cinta dia dan sahabat-sahabatnya. Nadyla menatap heran lelaki di hadapannya.
“Kaisal suka lo, lo suka gue, dan gue suka Ida.” Rega berkata sembari berdiri berjalan ke arah jendela. Menatap rintikan air hujan yang sudah sedikit reda.
Nadyla hanya diam, mencerna perkataan Rega. Kenapa kisah percintaan mereka serumit ini?
Ida, kira-kira dia menyukai siapa?
Rasanya kepala Nadyla ingin pecah sekarang juga, dia terlalu syok mengetahui Rega yang menyukai Ida. Pantas saja Rega akan mengikuti apa yang Ida katakan. Bagaimana Nadyla tidak menyadarinya sejak dulu?
“Ga, mending lo pulang.” Nadyla menyadarkan Rega yang tengah melamun. Lelaki itu mendekati Nadyla dan duduk di dekatnya.
“Gue minta maaf, tanpa sadar gue bikin lo terluka, Nad.”
“Pergi, Ga.”
Nadyla belum bisa menerima semuanya, terlalu rumit bagi dia yang baru merasakan jatuh cinta.
“Pergi.”
Rega bergeming, dia tahu. Nadyla sakit, sama seperti dirinya. Yang sakit satu, yang lain juga merasakan. Begitulah dolphins.
0oOo0
__ADS_1
Di ruangan bernuasa putih, terdapat keempat remaja yang sibuk dengan pikiran masing-masing. Raga mereka memang ada di sini, tapi pikiran mereka melayang entah ke mana.
“Kalian kenapa?” tanya Ida memecahkan keheningan, heran pada sahabat-sahabatnya yang tak mengeluarkan suara sama sekali.
“Ida.” Nadyla memanggil Ida sembari menatapnya. “Jujur sama kita, hati lo buat siapa sekarang?”
Tubuh Ida menegang, gadis itu menatap sahabatnya satu persatu. “Maksud lo, Nad?”
Nadyla menghela napas pelan. “Bukannya sahabat itu tidak boleh ada rahasia? Jadi gue tanya hati lo sekarang buat siapa?”
Pertanyaan Nadyla terlihat lebih menuntut, Rega sangat menanti jawaban Ida. Ida menunduk, tangannya keringat dingin.
Haruskah dia jujur sekarang tentang perasaannya?
“Kaisal.”
Hening! Mendengar jawaban Ida membuat mereka syok.
“Lucu kisah percintaan kita.” Rega berkata sembari terkekeh.
“Gue suka Ida, Ida suka Kaisal, Kaisal suka Nadyla, dan Nadyla suka gue. Lucu!”
Rega berkata lucu dengan raut wajah sendu, mereka semua masih syok dengan kenyataan yang baru mereka tahu.
Kaisal memenjamkan mata, berharap apa yang dia dengar hanyalah mimpi belaka. Sedangkan Ida hanya mampu menitikan air mata, Nadyla duduk melamun.
“Gue harap kalian enggak lupa janji kita dua tahun yang lalu.” Rega berkata sembari duduk dan menatap sahabat-sahabatnya.
“Apa janji itu masih berlaku setelah tahu perasaan kita masing-masing?” tanya Nadyla dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Gue mau kita menjadi sahabat selamanya,” jawab Ida yakin.
“Gue setuju sama Ida, lebih baik kita bersahabat.” Kali ini Kaisal yang berkata.
“Gue mau cari bukti tentang kejahatan Aurelia. Gue risih sama dia.” Rega berujar sembari memijat hidungnya.
Nadyla mengangguk semangat.
“Gue juga risih.”
“Lo risih atau cemburu, Nad?” tanya Kaisal membuat yang lain tertawa. Pipi Nadyla merah merona.
“Nadyla bisa salting juga,” seru Ida yang kini sudah tersenyum.
Demi mempertahankan persahabatannya mereka mencoba bersikap biasa-biasa saja, padahal jelas, hati mereka tersiksa dengan perasaan yang tumbuh tak diundang ini.
__ADS_1