Dolphins

Dolphins
Sendiri


__ADS_3

Melihat Ida dan Kaisal terbaring tak berdaya, membuat Rega merasa bersalah. Ini semua salah dia yang tak memedulikan ancaman Aurelia. Sengaja Ida dan Kaisal berada di satu ruangan, Rega meminta pihak rumah sakit untuk tidak memisahkan mereka. Dengan begitu, Rega dapat menjaga mereka tanpa berpindah-pindah ruangan. Tangannya menggenggam erat tangan Ida yang dingin, Rega akui. Dia menyayangi Ida bukan sebatas sahabat, tetapi perempuan. Namun, takdir seolah berkata lain, Rega harus menjadi pacar Aurelia dan dia juga masih ingat janji Dolphins dua tahun yang lalu.


Lima menit yang lalu, Rega memberi tahu orangtua Ida dan Kaisal. Walaupun mereka terlihat tak peduli, Rega paham. Orangtua mana yang tidak menyayangi anaknya.


Terdengar pintu berderit. Rega menoleh mendapati Aldi  memasuki ruangan, dia terlihat kacau. Rega bergeser, membiarkan ayah sahabatnya itu mendekat. Lelaki paruh baya itu mendekati Ida, memeluk dan menumpahkan air matanya.


“Om, saya nitip Kaisal sama Ida, yah. Nadyla masih ada di sekolah.”


Setelah pamit, Rega memutuskan untuk menjemput Nadyla. Dia takut Aurelia melakukan yang tidak-tidak pada sahabatnya yang satu itu. Rega mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Keselamatan sahabatnya adalah prioritas dia, tak ada yang bisa Rega salahkan selain dirinya sendiri, karena penyebab utamanya adalah Rega.


Sesampai di sekolah, Rega memarkirkan mobil dengan asal, dia berlari menuju UKS. Melihat tidak ada siapa-siapa di UKS, membuat Rega khawatir.


“Nadyla!” teriak Rega untuk kesekian kalinya, tetapi sang pemilik nama tak kunjung merespon. Lelaki itu mencoba menghubungi ponsel Nadyla, sayangnya hanya terdengar suara operator.


“Argh!” teriaknya frustasi sembari mengacak rambut.


“Rega.” Mendengar suara Nadyla membuat Rega mendongat dan memeluk erat sahabatnya itu.


“Lo ke mana aja?” tanya Rega memandang Nadyla khawatir.


“Gue tadi ke toilet.”


Melihat Nadyla masih memegangi perutnya, membuat Rega menggapai dan mengangkat tubuh Nadyla, berjalan menuju mobil hitam miliknya. Gadis itu bergeming, masih terkejut dengan tindakan Rega yang tiba-tiba.


“Kita ke rumah sakit sekarang, sekalian periksa perut lo.”


Jika saja Nadyla tidak memikirkan kedua sahabatnya yang sedang sekarat, pasti dia akan salah tingkah diperlakukan seperti ini oleh Rega.


0oOo0


Rasa bersalah menyelimuti hati Rega. Langit gelap, awan-awan terlihat kelabu, angin terus meniupkan hawa dingin. Rega memikirkan cara untuk membuat Aurelia jera. Bahkan dia tidak sadar ada Nadyla di hadapannya.


“Rega ...,” panggil Nadyla lirih

__ADS_1


Rega mendongak. “Ini semua salah gue, Nad.”


Nadyla menggeleng tidak setuju, yang telah terjadi saat ini karena takdir.


“Ini mumgkin salah gue. Atau lebih tepatnya, semua kehendak Sang Maha Kuasa, Ga.” Nadyla menggenggam tangan Rega. “Yuk, lihat Kaisal dan Nadyla.”


Mereka berdua berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan hening, suasana hati mereka bisa dikatakan sedang tidak baik-baik saja. Rega membuka pintu ruang rawat sahabatnya. Terlihat kedua lelaki dan wanita paruh baya tengah berdiam diri menatap anak mereka.


“Setelah kalian bangun, kalian pasti senang lihat orangtua kalian peduli,” batin Nadyla.


Kedua wajah sahabatnya begitu tenang, seolah mereka nyaman dengan alam mimpi yang mereka alami. Nadyla melangkahkan kaki menuju Kaisal, memandangnya dengan padangan tak bisa ditebak.


“Gue lebih suka kalian ribut dari pada diam-diam gini.” Nadyla berkata sembari menundukan kepalanya, kelemahan terbesar dia adalah melihat sahabat-sahabatnya terbaring tak berdaya seperti ini. Nadyla bukan sosok gadis yang lemah, sekali dia menangis, dia benar-benar hancur.


Rega mengenggam tangan Nadyla, mencoba menguatkan padahal dirinya juga rapuh.


“Om Aldi tahu? Ida pernah nangis di depan kita hanya karena ayahnya yang kasar.” Nadyla menatap Aldi dengan tajam, dia ingin membuat lelaki paruh baya itu sadar. Bahwa selama ini, dia ayah yang buruk bagi Ida. Kemudian dia menatap kedua orangtua Kaisal.


“Kaisal yang gila saat bersama kita, menjadi rapuh dan tak berdaya melihat kalian bertengkar.”


Mereka semua diam, Rega hanya bisa menggenggam erat tangan Nadyla.


“Nadyla mohon, jadi orangtua yang baik untuk mereka.” Tangis Nadyla benar-benar tumpah, dia bersujud di antara kaki ayah Ida dan kedua orangtua Kaisal. Rega mencoba membangunkan Nadyla, tetapi gadis itu kukuh dengan pendiriannya.


“Nadyla mohon sama kalian, Nadyla rela lakuin apa aja demi kebahagiaan sahabat-sahabat Nadyla.”


Ibu Kaisal berdiri, membantu Nadyla berdiri. Terlihat jelas, Farah—Ibu Kaisal—juga menangis. Farah memeluk sahabat anaknya itu, mereka sama-sama menangis.


“Saya tahu salah, saya akan memperbaiki semuanya.”


Mendengar perkataan Farah, Nadyla melepaskan pelukan wanita itu. Matanya melihat ke arah Rega.


“Rega, Kaisal sama Ida enggak bakal ngeluh karena keluarganya lagi.” Nadyla tersenyum dan memeluk Farah kembali.

__ADS_1


“Terima kasih, Tante.”


Nadyla berharap, semoga setelah ini semuanya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tak bisa dipungkiri, gadis tomboi itu begitu senang.


“Kaisal, Ida. Cepat bangun. Semuanya sudah berubah. Kalian pasti senang.”


Rega memeluk Nadyla terharu, benar-benar besyukur memiliki sahabat seperti mereka. Harus berapa banyak dia berkata terima kasih pada Tuhan atas kehadiran sahabat-sahabat yang telah diberikan untuk dia.


0oOo0


Rega duduk di kursi sambil termenung. Wajahnya datar dan matanya menerawang kosong. Orang-orang menatapnya heran. Beberapa kali ada yang menegur Rega. Namun, Rega tak meresponnya. Hari ini dia harus bertemu Aurelia, seseorang yang sudah melukai sahabat-sahabatnya.


Tepat, saat Aurelia memasuki kelas. Rega berdiri dan menarik tangan Aurelia dengan kasar.


“Mau lo apa, hah?” teriak Rega, tak peduli jika yang ada di hadapannya itu seorang perempuan.


“Mau gue, lo jadi pacar gue.”


Aurelia menjawab dengan santai sembari tersenyum manis, tetapi terlihat menjijikkan di mata Rega.


“Setelah gue jadi pacar lo, apa yang akan lo lakuin?” tanya Rega sedikit pelan, terlihat putus asa.


“Gue enggak bakal bikin sahabat-sahabat lo celaka lagi.”


Rega mendongak, menatap Aurelia dalam. Bukannya dia jatuh cinta pada gadis itu, tapi mencari kebohongon di matanya.


“Oke, kita pacaran. Jangan sentuh sahabat-sahabat gue lagi.”


Mendengar keputusan Rega, Aurelia langsung tersenyum sumringah. Tanpa malu-malu dia memeluk tubuh tegap lelaki yang sudah resmi jadi pacarnya. Rega hanya pasrah, ini semua demi keselamatan sahabat-sahabatnya. Nadyla melihat Rega berpelukan dengan Aurelia tanpa perlawanan seperti biasa membuat hati Nadyla hancur.


Tes


Air mata Nadyla jatuh tanpa diminta, dia berbalik dan berlari menuju toilet.

__ADS_1


“Kenapa rasanya sakit, kecewa, dan nyesek?!” teriak Nadyla setelah sampai di toilet. Dia menatap tubuhnya di cermin. Tak berpikir panjang, Nadyla menonjok kaca itu dengan keras. Tangan gadis itu berdarah, kaca tersebut juga pecah. Darah Nadyla keluar semakin banyak, tubuhnya lemas, seketika pandangan dia gelap. Nadyla pingsan di toilet dengan darah yang terus keluar dari tangannya. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu.


__ADS_2