Dolphins

Dolphins
Siuman


__ADS_3

Seperti sore-sore biasanya, Rega dan Nadyla menghabiskan waktu di ruang rawat Ida serta Kaisal yang sepi. Namun, sore ini tak sepi lagi sebab hampir seluruh penghuni MIPA 3 datang menjenguk dua kawannya itu.


Ida masih seperti biasa. Belum membuka mata. Berbeda dengan Kaisal yang sore ini sudah tampak lumayan segar, meski bawah mata cowok itu terlihat jelas warna kehitaman. Kaisal seperti tak pernah tertidur, padahal seminggu ini mata jenaka cowok itu selalu tertutup.


Semakin berjalannya waktu, semakin berkurang penghuni MIPA 3 di ruang rawat ini. Satu persatu pamit pulang, tersisa dua orang cowok yang kini masih bercanda bersama Kaisal.


"Ida, bangun, dong. Lo nggak kangen sama ayah lo? Semuanya udah berubah, lho, Da. Ayo bangun." Jika tadi Nadyla memilih banyak diam, berbeda dengan sekarang. Dia tampak putus asa, genggamannya pada tangan Ida seperti tidak ingin dia lepaskan begitu saja.


Rega yang duduk di samping Nadyla itu memilih mengelus punggung sahabatnya.


Oh lupa! Tak hanya penghuni MIPA 3 di sini, ada Aurelia juga. Pantas saja Nadyla terlihat sangat gusar.


Aurelia yang melihat tangan pacarnya mengelus punggung Nadyla langsung melotot dan menarik lengan kekar itu.


Rega mengerutkan kening.


"Nadyla sahabat gue!" bisik Rega. Namun, terkesan seperti menahan teriakan.


Mata Aurelia semakin melotot dan kedua alisnya terangkat tinggi, pertanda Rega ada salah bicara. Rega pun menghela napas. "Dia sahabat aku!"


Ya, Aurelia memang ingin mereka terbiasa akan panggilan itu. Sungguh-sungguh membuat Rega ingin mengubur dirinya hidup-hidup.


"Dia sahabat kamu, tapi aku pacar kamu."


"Mendingan kalian berdua keluar!"


Rega dan Aurelia seketika menatap ke satu sosok itu.


Siapa?


Nadyla Fionica.


"Nad," panggil Rega. Nadyla tidak bergerak, tapi rahangnya seperti mengeras walau matanya tertuju pada wajah Ida.


"Lo nggak tau, 'kan, Ga, seberapa cemburunya gue lihat kalian berdua?" Mendengar pertanyaan Nadyla, membuat Aurelia ingin bertepuk tangan. Ah, puas rasanya jika sahabat-sahabat Rega merasa sengsara. Bukannya dulu yang selalu disudutkan adalah Aurelia? Lihat sekarang, Rega tak bisa berkutik darinya.


"Cemburu gimana, ya, maksud lo?" Dan ini pertanyaan Aurelia.


Kaisal yang berada di belakang Rega, Nadyla, dan Aurelia itu mendadak tegang di atas kasur rawatnya. Iwan dan Farhan yang baru saja hendak pamit itu seketika sadar bahwa ada hal tidak beres yang akan terjadi di sini.


"Keluar, Ga." Bukannya menjawab pertanyaan Aurelia, Nadyla justru mengeluarkan kata-kata itu.


Rega hanya bisa mengangguk dan mengalah. Cowok itu berdiri, membuat Aurelia ikut melakukan hal yang sama. Namun, mata Aurelia masih tak lepas mengamati Nadyla yang kini memusatkan perhatian pada Ida.


"Jangan bilang ... di sini lo yang ada rasa sama pacar gue," kata Aurelia tertuju untuk Nadyla, membuat Rega, Kaisal, dan dua temannya yang lain langsung membulatkan mata.


Nadyla langsung menoleh kemudian mendongak. "Iya! Gue ...." Nadyla menunjuk dirinya sendiri. "Suka sama Rega lebih dari sahabat. Dan lo dengan kurang ajarnya datang sebagai penganggu tau nggak?!"


Tak ada yang bisa berkata-kata lagi sekarang. Oh, kecuali Kaisal. Cowok itu langsung menegakkan tubuhnya. "Rega, Aurel, mending kalian keluar dulu. Gue mohon."


Rega yang sangat terkejut itu langsung mengangguk. Dia pun segera menarik Aurelia, cewek yang kini mengeluarkan lagi senyum iblisnya.


Tiba di luar ruangan, Aurelia langsung berucap dengan nada rendah pada pacarnya.


"Seharusnya yang aku buat koma adalah Nadyla, ya, Ga. Ternyata ... dia selama ini suka sama kamu lebih dari sahabat."

__ADS_1


Rega mengusap wajahnya secara kasar. "Aku mohon, berhenti libatkan sahabat-sahabat aku. Berhenti untuk punya niat sakitin mereka."


"Aku akan sakitin mereka kalau kamu ada niat ninggalin aku, Ga."


Rega terdiam lagi.


Bagaimana bisa dia lolos dari ular seperti Aurelia jika sahabatnya yang akan terluka?


0oOo0


Sudah sepuluh menit Aurelia dan Rega duduk di kursi tunggu tepat di depan ruang rawat Ida dan Kaisal. Hal ini membuat Aurelia kesal bukan main.


"Ayo, dong, pulang, Ga. Ngapain masih di sini?" Sudah sebanyak tiga kali Aurelia bertanya demikian dan Rega tidak kunjung menjawabnya. Bahkan menatap Aurelia saja, Rega enggan.


Hingga tiba-tiba, pintu ruang rawat dua sahabat Rega berderit, memunculkan Iwan dan Farhan dari sana.


"Rega, Aurel, gue sama Farhan cabut dulu, ya," kata Iwan.


Rega mengangguk dan tersenyum kecil, sementara Aurelia berwajah datar.


"Btw, Ida baru aja sadar, Ga." Lalu ini adalah ucapan Farhan.


Mendengar itu, Rega langsung berdiri dengan tergesah, kemudian masuk ke dalam ruangan tanpa peduli pada Aurelia di belakangnya.


Astaga.


Aurelia benar-benar dibuat panas.


"Ida! Ida!" panggil Rega setibanya di samping Ida. Kelakuan cowok itu membuat Ida tersenyum geli. Ida benar-benar bisa membaca bahwa Rega sungguh khawatir padanya.


"Sori," balas Ida, serak.


Ingin rasanya Rega memeluk erat gadis itu dan mengatakan betapa rindunya dia. Namun, Ida masih terbaring lemah dan keadaan sekarang masih tidak mendukung Rega untuk melakukan hal itu. Apalagi saat mengetahui bahwa ternyata Nadyla menyimpan perasaan lebih pada Rega.


Bagaimana jadinya jika Nadyla dan Kaisal tahu bahwa Rega mencintai Ida?


Serta bagaimana reaksi Ida ketika tahu bahwa Rega mengharapkan dirinya?


"Gue ... gue ke kantin rumah sakit dulu, ya. Kalian ... kalian mau nitip apa? Gue traktir. Lagi banyak duit, nih, gue. Hehe."


Ketahuan sekali bahwa Nadyla menyembunyikan sikap salah tingkahnya. Bahkan tawa gadis itu terdengar hambar.


Ida mengangkat alis karena menyadari hal itu.


Rega yang paham juga hanya bisa menggaruk tengkuknya.


Sedangkan Kaisal menahan napasnya. Dadanya pun sesak karena mengingat rupanya Nadyla menginginkan Rega. Jadi, tahu, 'kan, bagaimana sakitnya Kaisal yang justru ternyata menyimpan rasa pada gadis tomboi itu?


"Nggak ada yang mau nitip sesuatu?" tanya Nadyla lagi. "Yaudah gue beliin terserah aja, ya?" Lalu Nadyla membawa kakinya menjauh. Saat berbalik, Aurelia pun sudah ada di depannya.


Nadyla menghela napas, diam-diam menyembunyikan kepalan tangannya di punggung. Kenapa gadis gatal bernama Aurelia masih di sini?


Nadyla melanjutkan langkah karena tidak ingin lama-lama menatap wajah menyebalkan milik Aurelia itu.


Namun, Kaisal langsung bangkit dan mengejar Nadyla. Meningglkan dua sahabatnya bersama satu ular buas itu.

__ADS_1


Terserah, Kaisal hanya tak tahan karena melihat tingkah Nadyla hari ini.


Ida yang melihat Kaisal mengejar Nadyla itu hanya bisa menggigit bibir. Semenjak dia sadar beberapa menit yang lalu, Kaisal tidak pernah mengajaknya berbicara. Cowok itu hanya melambai pelan ke arahnya dan melempar senyuman kecil.


Sungguh, Ida seperti tidak melihat Kaisal yang dirinya cintai itu. Kaisal seperti raga yang berbeda.


Bahkan Ida sadar, Kaisal hanya fokus pada punggung Nadyla sejak tadi.


Selama Ida koma, apa yang sudah dilalui dolphins tanpanya? Mengapa sahabat-sahabatnya seperti terkurung dengan luka?


Jika di ruang rawat Kaisal dan Ida diisi oleh keheningan, itu tak jauh berbeda dengan Kaisal yang kini mensejajarkan langkah dengan Nadyla. Langkah mereka berhias keheningan. Hanya suara langkah kaki yang terdengar.


Dolphins tidak pernah sehening ini dulu. Sungguh ini seperti bukan dolphins.


"Nad." Kaisal tak tahan jika terus dalam diam.


"Ngapain ngikutin gue, lo masih sakit!"


Kaisal terkekeh pelan. Ini baru Nadyla-nya. "Ini baru Nadylanya gue. Galak."


Nadyla melotot dan meninju perut cowok itu dengan pelan.


"Nadylanya lo? Geli, *******!"


'Kasar banget, 'kan, mulutnya? Kok gue bisa jatuh cinta sama makhluk kayak begini?' batin Kaisal.


"Lo masih aja kasar, ya. Nggak ada kalem-kalemnya."


Nadyla hanya membalas perkataan itu dengan mata yang semakin melotot. Hal tersebut membuat Kaisal merangkulnya.


"Gue kangen sama lo. Kangen sekangen-kangennya." Kaisal menjeda. Langkahnya dan Nadyla kian melambat. Kantin rumah sakit seperti harus mereka tempuh dengan sangat jauh.


"Makasih, ya, Nad ... makasih karena berhasil buat Om Aldi sadar sama kesalahannya ke Ida dan makasih udah buat mama kembali jadi mama yang selama ini gue rindukan."


"Santai aja kali," balas Nadyla. Entah mengapa dirinya salah tingkah.


"Gue seharusnya bahagia dengan semua itu, Nad. Tapi entah kenapa saat lo jujur satu hal ke gue, gue jadi pengin koma lagi."


Belakang kepala Kaisal dipukul oleh Nadyla. "Ngomong apa, sih, lo! Lo pikir lo ganteng karena koma? Dih!"


Dulu, Kaisal akan selalu terbahak jika Nadyla sudah mengomelinya, tapi sekarang dipukul seperti tadi oleh cewek itu hanya membuat luka di hatinya semakin terbuka lebar.


"Sakit banget di sini, Nad." Kaisal memegangi dadanya. Dan Nadyla menatap dada Kaisal itu dengan alis kiri yang terangkat. Dia bingung pada sahabatnya yang satu ini. "Gue bocorin rahasia, ya," kata Kaisal lagi. "Tau nggak? Cuma lo cewek yang selalu buat gue degdegan. Cuma lo yang paling sering hadir di mimpi gue. Dan cuma lo yang bisa buat gue merasa kuat. Gue ... gue selama ini belum yakin sama perasaan gue sendiri. Tapi setelah kemarin lo jujur bahwa lo suka sama Rega ... sakit yang luar biasa dahsyatnya itu datang, Nad. Sakit itu buat gue yakin bahwa gue benar-benar mengharapkan lo, gue nganggap lo lebih dari sahabat, Nad. Gila, ya?"


Langkah Nadyla langsung berhenti. Begitu pun Kaisal.


"Kai ...." Nadyla syok.


“Maafin gue karena gue juga nggak nepatin janji kita dua tahun yang lalu, Nad."


Hening!


Dan, ya!


Dolphins telah mengkhianati janji mereka dua tahun yang lalu.

__ADS_1


Kaisal, Nadyla, Ida, dan Rega ... kalah!


__ADS_2