Dolphins

Dolphins
Kisah Dolphins Dengan Sang Mantan part 2


__ADS_3

Ternyata, meskipun Ida sudah memiliki pacar, Nadyla akan berganti status dari jomlo menjadi berpacaran, dan Kaisal sedang berjuang mendapatkan pacar, tetap saja Rega tidak akan mereka lupakan.


Seperti saat ini, mereka tetap berkumpul di kantin dan memesan makanan masing-masing.


Sayangnya, tidak lama kebahagian itu bertahan pada Rega, sebab lagi dan lagi, Ida beserta Nadyla harus pergi bersama pasangan mereka masing-masing sementara Keisha kini bergabung di antara Kaisal dan Rega.


Oh Tuhan, seburuk ini, ya, nasib Rega?


Mengapa begitu miris?


"Ga, gue tau lo lagi ngenes banget. Mending lo sama gue."


Rega mendongak, di hadapannya kini berdiri gadis cantik, gadis berpipi tembam dengan bentuk wajah menawan.


Dia ... Aurelia.


Rega sempat ingin memutar bola mata, tetapi gagal karena Kaisal yang memberi gerakan isyarat agar Rega segera pergi bersama gadis cantik tadi. Sepertinya Kaisal tidak ingin diganggu saat bersama Keisha.


Dengan berat hati dan terluka batin, Rega pun beranjak. Aurelia yang melihat itu langsung ingin melompat. Pasalnya sejak SMP, Rega tidak pernah menurut padanya.


Hari ini, Tuhan benar-benar berpihak kepada Aurelia.


Ketika Aurelia sudah bersisian bersama Rega, di situlah Kaisal mendekatkan kursinya pada Keisha.


"Kei, kok kamu cantik banget, sih?" tanya Kaisal, membuat pipi Keisha segera merona.


"Karena Kai ganteng banget." Itu yang dijawab Keisha. "Kan kemarin Kai udah nanya gitu ke Kei. Terus, jawabannya seaneh itu juga."


Kaisal berpura-pura menepuk jidatnya dan berkata, "Oh iyaa. Lupa!"


Sungguh, ketika ia bersama Keisha, maka sikap kekanak-anakan itu akan timbul. Sebab, lihat saja betapa pemalu dan polosnya gadis mungil berambut panjang dan bermata coklat bening itu. Kaisal bahkan takut mengeraskan suaranya. Takut jika tulang Keisha remuk detik itu juga.


"Yaudah, ganti, deh." Kaisal tersenyum manis. "Kenapa Keisha nggak pernah jelek?"


Keisha tersenyum semakin malu. Kemudian mengucek matanya layaknya anak paud. "Anu," ucapnya masih mengucek mata.


"Karena mami dan papinya Kei cantik juga ganteng."


Kaisal mengangguk pelan. Seolah berperan sebagai kakak yang mengajari adiknya membaca dan menulis. "Tapi salah. Yang benar itu, karena kecantikan Kei yang nggak ada habisnya buat Kai selalu terpesona dan nggak bisa jauh-jauh dari Kei."


Di situlah Keisha ingin tumbang. Betapa bergetarnya hati seorang yang mirip boneka ini. "Ah, Kai! Kei jadi malu," ucapnya pelan seraya memukul dada Kaisal. Pelan. Sangat pelan.


Kaisal tertawa. Kemudian ia menahan tangan kecil dan lentik itu di dadanya. Ia genggam erat seraya menatap bola mata gadis manis bernama Keisha itu. "Kei ...," ucap Kaisal amat lembut.


Keisha berkedip entah berapa kali. Debaran jantung mengusai gadis itu, tetapi ia tetap mampu bicara dengan terbata. "Ap ... aa, Kai?"


"Kai mau, deh, Kei jadi pacar Kai." Ucapan itu seketika membuat Keisha menunduk dalam dan menarik tangannya dari genggaman Kaisal. Sayangnya tidak berhasil sebab Kaisal mampu menahan itu.


"Kita baru kenal. Kei nggak mau disakitin."


"Kai nggak bisa nyakitin Kei. Kei terlalu patut Kai jagain, bukan Kai sakitin."


Kemudian, ucapan Kaisal kali ini mampu membuat Keisha mendongak dan menatap mata cowok itu. "Kai serius?"


Anggukan pasti dari Kai membuat Keisha semakin berdebar. "Kei takut. Kei ... nggak pernah pacaran."


Kaisal segera mengusap kepala Keisha dengan begitu sayang. "Beruntung banget dong Kai kalau diterima sama Kei."


"Tapi, apa Kai beneran serius?"


Kaisal menarik napas pelan sambil tersenyum kecil. "Serius, Kei. Nggak percaya? Terus, apa yang harus Kai lakuin biar Kei percaya? Kai harus nyium bi-"

__ADS_1


"Nggak boleh!" Keisha histeris seraya menutup mulut Kaisal dengan telapak tangan kanannya. Mata gadis itu terpejam rapat karena ketakutan menguasainya.


Di situ, wajah Kaisal memerah karena begitu gemas dan sedang menahan tawa. Kaisal menurunkan tangan Keisha dari bibirnya, kemudian ia maju mendekatkan bibirnya pada telinga Keisha. "Kalau nggak mau dicium, terima Kai dong jadi pacar Kei."


Masih terpejam, Keisha langsung mengangguk pasti. Keningnya berkerut karena masih takut.


"Kita pacaran, deh, Kai sayang."


Langsunglah tawa Kaisal pecah tak tertahankan. Betapa menggemaskannya Keisha ini. Kaisal tidak tahan jika tidak mencubit pipi gadis itu yang bulat.


Detik di mana Kaisal mencubit pipi Keisha dan manja kepadanya, di detik itu juga ada Ida dan Novaldo yang tengah menikmati teh kotak dan sebungkus roti di taman sekolah. Jam istirahat akan berakhir sepuluh menit lagi. Itu membuat Novaldo tak berselera.


"Bolos aja, yuk, Da."


Ida melotot. "Kok bolos?"


Novaldo sedikit cemberut dan memperbaiki letak kacamatanya.


"Pengin lama-lama sama kamu."


Di situlah Ida tersenyum dan mengoleskan selai coklat rotinya pada pipi sang pacar yang entah kenapa akhir-akhir ini begitu manja.


"Lebay banget, sih."


Novaldo masih cemberut. "Serius tau. Kita, kan, nggak pernah jalan berdua selain kemarin. Ketemu, kan, saat sekolah doang, Da. Kamu nggak kangen apa sama aku?"


"Kangen, dong." Ida mengapit lengan Novaldo kemudian meminum teh miliknya. "Tapi nggak boleh bolos."


Novaldo diam. Diamnya sambil menaruh pipi kirinya pada kepala Ida yang kini bersandar pada bahunya. Wangi sampo Ida menusuk indera penciumnya. Itu membuat Novaldo tenang dan bertanya mengapa Ida begitu menyenangkan?


"Eh gimana kalau kita bernostalgia?" tanya Ida antusias. Mendengar itu membuat Novaldo menjawab iya dengan tak kalah antusiasnya. "Saat masa-masa kamu deketin aku, ya?" pinta Ida begitu manja.


"Kamu tahu nggak, Val, kalau awal-awal dideketin kamu, tuh, aku agak ... jijik. Hehe."


Novaldo langsung bergeser mendengar itu. Ida agak terkejut.


"Kok jijik?" tanya Novaldo, merasa tersinggung.


Ida memperbaiki sedikit tatanan rambutnya yang ditiup angin. "Iyalah, masa kamu datang bawain aku buku kuno tentang apa kemarin, ya?" Ida berpikir. Namun, nihil. "Lupa! Pokoknya di depan perpus kamu datang terus tiba-tiba ngasih buku itu tanpa kata-kata. Terus? Pergi nggak pake permisi. Pengin ngumpat, deh."


Novaldo mulai tersenyum. Mengingat itu memang lucu juga.


"Tapi kan yang ada di dalam buku itu poin pentingnya. Selembar kertas yang apa tulisannya coba? Masih inget nggak?"


"Ingat, dong! Tulisannya cuma kalimat 'Hai, temenan, yuk. Aku Novaldo. Kelas Sepuluh Mia 2."


Novaldo tertawa keras, lantas mendekat lagi pada Ida dan menggenggam tangannya. "Jadi, gara-gara itu kamu jijik?"


"Lumayan, sih. "


Setelah senang, Novaldo kembali kecewa. Walau tidak parah. "Abis itu, apa lagi?"


Ida suka ketika harus mengingat hal-hal berkesan seperti ini.


Dan tiba-tiba Ida menceritakan semuanya. Tanpa jeda.


Dua hari setelah memberikan buku kuno yang rupanya berisi selembar kertas, Novaldo pun kembali hadir pada Ida tanpa sepatah kata pun. Ia menemui Ida di depan toilet wanita kemudian memberika ice cream yang mulai cair.


Cowok itu kembali pergi. Namun, kepergiannya hari itu berbeda dari dua hari yang lalu. Di punggungnya yang berbalut seragam batik terdapat kertas yang tertempel menggunakan double tip.


'Aku suka kamu.' Begitu isi kertas tersebut.

__ADS_1


Semenjak hari itu, Ida jadi kepikiran. Setiap ke sekolah, orang yang ingin ditemuinya adalah Novaldo. Namun, Novaldo tidak pernah menghampiri Ida lagi semenjak memberikan ice cream.


Ida sempat merasa dipermainkan. Namun, seminggu setelah masa perkenalan lingkungan sekolah, Novaldo hadir lagi. Ia menghampiri Ida yang makan siang di kantin bersama dolphins.


Masih dengan tanpa kata-kata, Novaldo langsung membawa Ida ke UKS.


"Kamu mau nggak jadi pacar aku?" Itu yang ditanyakan Novaldo sedetik setelah mendudukkan Ida di ranjang UKS.


Ida seperti dihipnotis. Ia langsung mengangguk dan mengatakan, "Iya, aku mau asal kamu nggak kaku lagi."


Mendengar itu, Novaldo tersenyum dan mengatakan, "Terima kasih."


Setelah mengucapakan dua kata tersebut, Novaldo memberika Ida flashdisk yang berisi foto-foto Ida yang diambil secara diam-diam oleh cowok itu saat sedang sibuk-sibuknya di kegiatan sekolah sebagai angkatan baru.


Rupanya, meskipun kaku, Novaldo juga cukup romantis.


Di situlah awal mula kisah mereka.


"Nah, sekarang aku nggak kaku lagi, kan?" tanya Novaldo saat Ida selesai menceritakan kejadian itu.


"Nggak dong!" ucap Ida sambil mencubit kedua pipi pacarnya.


Di situlah bel berbunyi. Pertanda jam pelajaran ketiga akan segera dimulai. Ah, Novaldo kecewa, kawan-kawan.


Akhirnya, Ida dan Novaldo beranjak ke kelas masing-masing. Namun, di koridor kelas sepuluh ada Nadyla dan Revan yang sibuk layaknya anjing dan kucing.


"Gue udah bilang jangan mesum, ya, jangan mesum lo, kampret!" teriak Nadyla seraya menyeret Revan dengan menarik telinga kanan cowok itu. "Tobat nggak? Tobat nggak?"


"Iya, Nad, aku tobat. Aku tobat!" balas Revan. Begitu miris kelihatannya. Mereka sudah tiba tepat di depan kelas sepuluh Mia 3. Kelas Nadyla, Ida, dan Kaisal.


Nadyla pun melepaskan jewerannya dan tersenyum. "Gitu, dong, anak manis." Gadis tomboi itu segera merapikan rambut Revan. Cowok yang entah sekarang menjadi kawannya saja atau pacarnya.


"Tapi, kita pacaran, kan?" Nah, dari kemarin-kemarin seharusnya Revan menanyakan ini. Hadeh.


"Nggak mau, ah! Males banget gue." Dan Nadyla pura-pura jual mahal.


"Yaudah, mau mesum!" Di situlah Nadyla langsung menutup bagian depan tubuhnya menggunakan tangan.


"Sialan lo ah, nggak lucu!!"


Revan hanya tertawa. "Jadi gimana penawarannya?"


"Iya, iya, kampret, kita pacaran!"


"Gitu, dong." Dan Revan langsung mengecup dahi Nadyla singkat kemudian berlari secepat kilat. Semua orang yang menyaksikan interaksi Revan dan Nadyla hanya bisa berteriak menyebutkan cie dengan panjang.


"Revan gilaaaa!" teriak Nadyla membabi buta sambil membersihkan dahinya bekas bibir Revan tadi.


Ida dan Novaldo yang paling dekat dengan mereka hanya bisa menahan tawa. Sedangkan Rega yang memang berada di depan kelasnya, yaitu kelas unggulan bersama Aurelia hanya berwajah datar.


Sungguh, Rega kini terlupakan. Ida tadi bahkan hanya melewatinya, tanpa menyapa. Ia hanya terus bergandengan dengan Novaldo.


Sedangkan Nadyla, sepertinya juga akan sibuk dengan dunianya. Tidak jauh berbeda dengan Kaisal.


Jadi, Rega memang tidak diperlukan.


Rega sepertinya memang layak untuk dilupakan.


Sekarang, yang mereka maksud dengan selamanya, apakah akan tetap menjadi hak mereka?


Atau Rega akan menjadi kepingan masa lalu saja?

__ADS_1


__ADS_2