
Keempat remaja duduk lesehan sambil bersandar pada pinggiran kasur Nadyla. Padahal ada sofa di kamar ini, tetapi mereka lebih sering menggunakan lantai.
Hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak biasanya mereka seperti ini. Kaisal terus saja menggenggam tangan Nadyla, Ida hanya menatap tangan mereka dengan pandangan kosong. Rega memeluk tubuh Ida dari samping, mengelus lembut rambut panjang gadis itu. Sedangkan Kaisal sibuk memikirkan kedua orangtuanya yang tak pernah memikirkan dia. Niat mereka ke sini adalah untuk tidur, tapi rasa kantuk itu seolah hilang begitu saja.
Ida berdiri dan membaringkan tubuhnya di atas kasur Nadyla.
“Kenapa pada diam?” tanya Ida membuat mereka menghela napas pelan. “Kaisal, lo nggak pernah sendiri. Lo masih punya kita,” tambahnya.
“Katanya mau tidur,” kata Nadyla dengan cengiran khasnya.
“Gue beruntung punya kalian.” Kaisal tersenyum dan ikut membaringkan tubuhnya di samping Ida, membuat jantung Ida berdetak tidak karuan.
Ponsel Ida bergetar, terlihat tulisan ayah. Dia berdiri dan menjauh dari sahabat-sahabatnya. Ketiga sahabat Ida hanya mengerutkan kening bingung, kenapa harus menjauh? Bukannya dalam persahabatan tidak boleh ada yang dirahasiakan.
“Guys, gue pulang yah,” kata Ida setelah mengangkat telepon dari ayahnya.
“Mau diantar, Da?” tanya Kaisal.
Ida menggeleng. “Gue sendiri aja, bye.”
0oOo0
Ida turun dari taxi. Dia memasuki rumah sambil mengusap pergelangan tangannya. Merasakan dinginnya udara pertanda hujan akan segera datang. Terlihat lelaki paruh baya menyambut Ida dengan tatapan tajam.
Ida terdiam, dia tidak berani mengeluarkan suara. Dilirik jam tangan yang melingkar di pergelangannya, menunjukkan pukul enam sore. Sudah pasti ayahnya menunggu dia pulang sejak tadi.
“Mangkal di mana kamu?”
Ida mengangkat kepala dan menatap sang ayah dengan pandangan tidak percaya. Lelaki itu mendekat dan melangkah pasti ke arah Ida. Setetes air bening menetes dari mata gadis manis itu, tubuhnya gemetar menahan suara tangis.
“Jam berapa ini?!” bentak Aldi membuat putrinya semakin ketakutan.
“Aku tadi main di rumah Nadyla, yah,” jawab Ida pelan sembari menundukkan kepalanya.
“Saya enggak mau dengar alasan!” Aldi berteriak, Ida memejamkan mata dia. Berharap ini hanyalah mimpi.
Ida tidak membalas perkataan ayahnya lantaran tidak mau dianggap anak tidak tahu diri. Maka, gadis itu memilih untuk berlalu dari hadapan Aldi dan berlari ke kamarnya.
Aldi berbalik badan, mengamati pergerakan Ida menuju kamar. Dia menyeletuk,”Nangis aja sana! Benar-benar enggak berguna. Mati aja sana.”
Cepat-cepat Ida masuk dan menutup pintu, tidak lupa dia kunci karena takut tiba-tiba Aldi masuk dan menyakiti hatinya lagi.
__ADS_1
Gadis itu duduk pada kasur degan mata yang digenangi air. Ketika Ida menunduk, buliran air itu jatuh bersamaan dengan lirihan dia yang terdengar menyedihkan.
Ida tidak tahu harus bersyukur atau tidak masih memiliki seorang ayah. Ida tahu, di luar sana banyak orang yang tidak mempunyai ayah, bahkan ada yang sejak kecil tidak bisa hidup tanpa seorang ayah.
Semenjak ibunya meninggal, sifat hangat dan penuh kasih sayang sang ayah menjadi kasar. Seolah membenci anaknya sendiri. Tidak mau larut dalam kesedihan Ida menghapus air mata dan menarik dalam-dalam agar perasaannya kembali tenang. Dia lalu menoleh ke arah cermin di meja rias, lalu menatap bayangannya di sana dan tersenyum sedih.
Beranjak dari kasur, Ida mendekati meja itu dan membuka salah satu laci.
Kemudian mengambil tumpukan foto dan surat orang lain berikan padanya. Lalu membawa semua itu ke kasur dan mengamati satu-satu. Yang pertama dia lihat adalah foto dengan ketiga sahabatnya yang diambil kemarin lusa, ada juga foto dengan Kaisal, di foto itu Kaisal mengusap rambutnya membuat Ida cemberut. Entah apa yang sedang Ida rasakan. Kaisal selalu hadir di pikiran dan hatinya, dia menggeleng. Mengingat janji yang telah disepakati dua tahun yang lalu untuk tidak menyimpan rasa lebih dari sahabat.
Ida harus meyakinkan dirinya, bahwa kebingungan ini hanya karena dia sadar jika dirinya dan Kaisal memiliki luka yang sama.
Iya, ‘kan?
Bukan perasaan lebih terhadap sahabatnya sendiri.
0oOo0
“Lo benaran ajak kita ke sini, Ga?” tanya Nadyla begitu sampai di Dufan.
Rega hanya mengangguk.
“Ayo! Mau naik apa dulu?” melihat Ida yang begitu antusias membuat ketiganya tersenyum bahagia. Semalam Ida video call mereka dengan mata sembab, menceritakan ayahnya yang semakin menjadi lebih galak dari biasanya.
Ida menunjuk wahana Gajah Bledug yang tak jauh dari mereka berdiri sekarang. “Ayo, ih! Ayo, Nad!”
“Ayo!” Nadyla mengenggam tangan Ida lalu mengajaknya berjalan duluan ke sana. Sementara Rega berjalan bersama Kaisal.
“Menurut lo apa yang Om Aldi katakan pada Ida sampai nangis seperti semalam?”
“Entah, yang pasti itu udah keterlaluan,” jawab Kaisal sembari mengamati Ida yang kini sedang mengantre bersama Nadyla.
Seperti keinginan Ida, mereka pun menaiki wahana Gajah Bledug. Awalnya, di putaran pertama mereka tampak antusias, tetapi ketika putaran makin cepat, Rega teriak tidak jelas. Membuat yang lain tertawa.
“Lain kali gue enggak naik gituan lagi,” kata Rega yang masih lemas begitu dia turun dari wahana.
“Most wanted di sekolah takut naik Gajah Bledug, cemen lo,” celetuk Kaisal yang otomatis membuat semua tergelak.
Nadyla cuma bisa menatap datar perdebatan sahabatnya. Walau pun terkenal cuek, tapi Rega dan Kaisal terlihat tak bisa diam jika sudah bersama sahabat-sahabatnya.
“Ya udah, sekarang kita naik Hysteria, yuk,” usul Kaisal, yang langsung disambut ngeri oleh ketiga sahabat dia.
__ADS_1
“Kenapa? Takut?” tanya Kaisal kepada ketiga sahabatnya.
“Nggak!” bantah mereka bersamaan.
“Siapa bilang takut. Nggaklah!” seru Rega yang meskipun dengan nada lemas.
“Cuma diputar-putar gitu doang mah kecil!” timpal Nadyla sambil memaksakan tawa.
Sementara Ida hanya bisa menyengir kaku dan pura-pura tidak takut.
“Let’s go!” teriak Kaisal semangat, yang malah menjatuhkan mental ketiga sahabatnya secara bersamaan.
Ide Kaisal yang ingin menaiki wahana Hysteria memang bukan ide bagus. Terbukti, ketika akhirnya mereka naik dan dimulai, Ida dan Rega sudah berteriak minta diturunkan. Sementara Nadyla, dia memejamkan matanya rapat-rapat dan memeluk besi pengaman yang melilit tubuhnya kuat-kuat. Kaisal yang melihat itu tidak bisa menahan tawanya.
“ASTAGFIRULLAH! JANTUNG GUE KETINGGALAN!” teriak Ida saat wahana Hysteria sudah mulai memaksilmalkan geraknya.
“KAISAL LO MAU BUNUH GUE, HAH!”
“ALLAHU AKBAR!”
“MAS, UDAH. MAS! TURUNIN SAYA!”
“MATI GUE!”
Teriakan Ida dan Rega itu berhasil membuat Kaisal terngakak. Bahkan ketika wahana sudah selesai dan ketika dia sudah berada di luar, sementara Ida, Rega, dan Nadyla sibuk menetralkan detak jantung masing-masing, Kaisal tak henti-hentinya tertawa.
“Payah kalian.”
“Ini manusiawi, Kaisal! Cuma manusia normal yang ketakutan pas diputar-putar macam sosis panggang begitu,” bantah Nadyla yang disetujui Ida.
“Cemen-cemen kalian!” tukas Rega kemudian, membuat mereka menjitak kepala lelaki itu.
Jika dia berani, yang teriak mati siapa tadi? Hantu Rega?
Mereka tersenyum samar. Jika saja mereka tahu berkumpul dengan sahabat-sahabatnya akan membuat mereka sebahagia ini, mereka harusnya tidak susah-susah mencari kebahagiaan dari orang lain.
“Guys foto bareng, yuk!” seru Nadyla mrngagetkan ketiga sahabatnya.
“Ah, yuk.”
Saat seorang fotografer keliling datang dan bersiap memotret, keempatnya langsung bersiap ambil posisi. Rega di kanan, Kaisal di kiri, Nadyla dan Ida di tengahnya. Pada foto pertama, mereka bergaya hanya tersenyum, tapi pada foto berikutnya gaya mereka sudah aneh-aneh. Para pengunjung di sekitarnya ikut tersenyum geli. Mayoritas dari mereka menganggap keempatnya adalah dua pasangan yang sedang double date.
__ADS_1