
17 | Tahu?
Sudah satu minggu setelah kecelakaan Kaisal dan Ida, hidup Nadyla begitu sepi. Rega sibuk dengan Aurelia, gadis itu seolah tak membiarkan Rega sendiri. Sekarang, Nadyla hanya bisa termenung mengamati matahari senja yang beranjak besar, memerah penuh rona yang tak terbendung, bersiap menenggelamkan dirinya untuk memberi kesempatan pada malam yang kelam datang.
Drtt drtt drtt
Getaran di ponselnya membuat dia mengalihkan perhatian pada benda pipih berwarna putih. Melihat nama Ibu Kaisal, dia langsung mengangkat dan beranjak dari tempat duduknya. Nadyla sedang berada di sebuah pantai untuk menenangkan pikirannya.
“Halo, Tan.”
“....”
“Nadyla ke sana, sekarang. Terima kasih infonya, Tan.”
Dengan cepat dia mengambil tas dan menaiki motor metiknya dengan semangat, senyum terbit di wajah gadis remaja itu. Mendengar kabar Kaisal telah siuman, kesedihan yang dialami Nadyla meluap begitu saja. Kini berganti dengan kebahagiaan.
Sesampai di rumah sakit dan memakirkan motornya dengan rapih, gadis itu berlari menuju ruang rawat sahabatnya. Tepat di depan pintu, Nadyla membukanya pelan. Terlihat Kaisal tersenyum hangat, melihat ke arah Ida yang masih memejamkan mata membuat Nadyla tersenyum miris.
“Kapan lo bangun seperti Kaisal, Da?” batin Nadyla
Nadyla tersenyum dan berjalan mendekati Kaisal. Kemudian duduk di sampingnya.
“Apa kabar?” tanya Kaisal pasa Nadyla membuat gadis itu mengerutkan kening. Apa tidak terbalik?
“Dasar aneh,” jawab Nadyla terkekeh, lalu memeluk lelaki yang sudah seminggu ini tak terdengar suaranya. “Gue rindu lo.”
Nadyla tak tahu, bahwa darah Kaisal berdesir mendengar kata rindu dari dia.
“Tante Farah dan Om Aldi mana?” tanya Nadyla sembari melepaskan pelukannya, membuat Kaisal salah tingkah.
“Lo kenapa?” tanya Nadyla lagi, Kaisal menggeleng kuat.
“Mama sama Om Aldi lagi ke dokter, Rega mana?”
Mendengar nama Rega, Nadyla terlihat sedu.
“Lagi sibuk sama Aurelia. Mereka jadian satu minggu yang lalu.”
“Oh mereka jadian.” Kaisal mengangguk berulang kali, kemudian menatap Nadyla yang sepertinya tidak suka dengan hubungan sahabatnya itu. Sejujurnya Kaisal juga bingung. Kenapa Rega bisa jadian dengan Aurelia yang jelas-jelas terlihat Rega tidak menyukainya. Namun, melihat Nadyla yang tidak senang membahas Rega membuat Kaisal mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh.
“Kaisal.”
Nadyla memanggil sahabatnya itu sembari menunduk. Paham, Nadyla ingin mengatakan sesuatu. Kaisal tersenyum dan memegang tangan gadis itu.
“Mau cerita apa?” tanya Kaisal membuat Nadyla mendongak.
“Gu-e suka sama Rega.”
Kaisal menegang, Nadyla dapat melihatnya.
“Gue suka sama Rega lebih dari seorang sahabat.”
Jantung Kaisal seakan berhenti berdetak. Senyum di wajahnya hilang, apa ini yang dinamakan sakit hati? Kaisal menggeleng kuat. Nadyla menyukai Rega.
__ADS_1
“Gue sakit hati lihat Rega sama Aurelia, Kai.”
Gadis itu menunduk, tak sanggup menatap Kaisal. Nadyla yakin, dia tidak salah bercerita pada Kaisal.
“Sejak kapan?”
Nadyla menggeleng, Kaisal tak tahu harus berkata apalagi. Dia tidak masih syok apa yang didengar dari mulut Nadyla.
“Lo lagi enggak prank gue, ‘kan?”
Mendengar pertanyaan Kaisal, Nadyla mengangkat kepalanya. “Apa gue terlihat becanda?”
Nadyla serius, Kaisal menggeleng kuat. Hatinya seperti dicubit melihat mata sahabatnya itu.
Pintu berderit.
“Hai,” sapa Rega yang muncul di balik pintu. Nadyla manatap Kaisal, lalu mengeleng memberi kode tidak memberi tahu apa yang Nadyla katakan. Kaisal yang paham hanya mengangguk.
“Gimana kabar lo, Kai?” tanya Rega dan duduk di samping Nadyla sembari merangkul pundak gadis itu. Nadyla hanya diam, merasakan jantungnya yang tak terkontrol. Hubungannya dan Rega memang sudah membaik. Sebab, Nadyla sadar bahwa marah terhadap Rega lebih dari sehari membuat dirinya tersiksa sendiri.
“Baik, Ga.”
Rega manoleh ke arah Ida, gadis itu masih setia tertidur. “Kenapa lo enggak ngajak Ida ikut bangun, Kai?”
Rega bertanya tanpa mengalihkan pandangannya. “Lihat, dia sepertinya lebih nyaman terbaring.”
“Ini semua salah gue. Kalian terluka karena gue. Gue sahabat yang buruk buat kalian.”
“Ini bukan salah siapa-siapa, ini takdir.”
Kaisal berkata sembari bangun dari tempat tidurnya, walau pun tubuhnya masih lemah. Dia mampu berdiri. Kemudian Kaisal menepuk pundak Rega dan memeluk sahabatnya itu.
“Mending lo baringan lagi, lo masih lemah,” kata Rega sembari melepaskan pelukan Kaisal dan membantu lelaki itu.
“Lo tuh jangan banyak gerak.” Nadyla berkata dengan menatap Kaisal tajam. Membuat lelaki itu mendengus.
0oOo0
Rega berjalan di koridor dengan mimik muka yang tak bisa ditebak, Aurelia memeluk tangan lelaki itu dengan erat. Orang-orang di sekiling mereka menatap rendah Aurelia, tapi gadis itu tak memedulikan semua itu. Bagi dia, selagi Rega sudah menjadi miliknya, dia tidak butuh siapa pun.
“Rega, aku belum sarapan.” Mendengar suara Aurelia yang dibuat-buat manja membuat lelaki itu jijik, tapi apa boleh buat. Dia harus bertahan, karena dia tidak ingin sahabat-sahabatnya terluka lagi.
“Yaudah, kita ke kantin,” jawab Rega datar. Tetap melewati kelas XI Mipa 3, terlihat Nadyla tengah berdiri di depan pintu menatap Rega dengan pandangan yang sulit diartikan. Dengan cepat, Nadyla memasuki kelas. Tak tahan melihat pasangan yang membuat hatinya panas.
Sesampai di kantin, Rega memasankan makanan untuk Aurelia. Sungguh, dia merindukan kecerewetan Ida, rindu kebersamaan bersama sahabat-sahabatnya. Dia berharap semoga semuanya akan kembali seperti semula.
“Bu, nasi goreng satu.” Setelah mengatakan pesanananya pada pedagang kantin, Rega menunggu sembari memainkan ponselnya. Melihat foto-foto dengan sahabat-sahabatnya. Apalagi dengan Ida, yang telah mengisi hatinya sekarang. Rega mengambil dan membayar nasi goreng yang tadi dia pesan, lalu berjalan menuju kekasihnya.
“Nih.” Rega menyerahkan nasi goreng pada Aurelia, tetapi Aurelia malah menatap Rega dengan senyuman sok manis.
“Suapin.”
Manja sekali gadis ini, demi sahabatnya Rega sabar dan menuruti apa yang gadis itu inginkan. Walau pun dengan berat hati, Rega menyuapi Aurelia dengan telaten. Yang ada di bayangan Rega, saat ini yang dia suapi adalah Ida. Mengingat Ida membuat Rega tersenyum.
__ADS_1
“Manis,” celetuk Aurelia yang menyadarkan Rega.
Kenapa saat ini di pikirannya penuh Ida? Rasanya dia benar-benar merindukan sifat manja Ida jika menginginkan makanan, merindukan Ida mengomeli Nadyla yang tak peduli dengan penampilannya. Rega merindukan Dolphins.
“Rega.” Mendengar Aurelia memanggil namanya membuat Rega sadar, kebersamaan bersama sahabat-sahabatnya telah direnggut oleh gadis sok polos di depannya ini.
“Kamu melamun yah, beb?” Rega benar-benar ingin muntah mendengar Aurelia memanggil dirinya seperti itu, heran. Gadis di depannya itu memang cantik, tapi tingkahnya tidak cantik sama sekali. Bahkan bagi Rega, Aurelia itu norak.
“Enggak, yuk ke kelas.”
Rega berdiri dan meninggalkan Aurelia, karena pada dasarnya gadis itu tidak punya malu. Dia mengejar Rega sembari berteriak memanggil kekasihnya itu.
0oOo0
Nadyla menatap tempat Ida dan Kaisal secara bergantian, tidak ada yang mengajak dia ngobrol saat jam pelajaran. Tidak ada teman untuk menemaninya tidur di atas meja. Tak ada keributan yang Kaisal dan Ida buat. Tidak berwarna sama sekali hidup Nadyla tanpa sahabat-sahabatnya. Rega yang seharusnya di samping dia, kini dengan gadis ganjen seperti Aurelia.
“Nad, Ida sama Kaisal gimana?” tanya Gea bendahara di kelasnya.
“Kaisal udah sadar, Ida masih koma.” Nadyla menjawab dengan lemah.
“Rencananya Mipa 3 mau jenguk mereka, boleh, nggak?” tanya Gea lagi, membuat Nadyla menatap temannya itu.
“Kapan?” Kini Nadyla yang bertanya.
“Besok, gimana?”
Nadyla mengangguk, kemudian dia beranjak pergi meninggalkan kelas. Kelas sepi jika tidak ada sahabatnya. Gadis tomboi itu berjalan menuju uks, setelah sampai, dia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Baru lima menit dia memejamkan mata. Seseorang masuk ke dalam.
“Sakit apa, Kak?” tanya seseorang itu, membuat Nadyla membuka matanya dengan kasar.
“Rega.”
Lelaki itu hanya terkekeh, lalu mendekati Nadyla.
“Gue rindu kebersamaan Dolphins, Nad.”
Mendengar perkataan Rega, Nadyla langsung mendudukan tubuhnya. Kemudian menatap Rega dengan pandangan rindu.
“Gue juga, Ga.”
Rega memeluk tubuh Nadyla, karena Rega tahu yang paling rindu Dolphins selain dirinya adalah Nadyla. Terlihat jelas dari mata gadis itu, bahwa dia sendirian dan butuh teman.
“Semoga mereka cepat sembuh.”
“Semoga.”
Mereka melepaskan pelukannya, Nadyla memegang dadanya yang berdetak dengan cepat. Rega yang melihatnya hanya mengerutkan kening.
“Lo sakit?”
Dengan cepat Nadyla menggeleng. Berdekatan dengan Rega membuat jantungnya tidak normal.
0oOo
__ADS_1