
Sean's POV
Bel kemenangan sudah berbunyi. Aku berjalan menuju kantin untuk menemui kedua sahabatku -Arka dan Sandi-.
Melangkah santai dan tidak lupa melempar senyuman kepada para gadis yang terang-terangan menatapku penuh puja.
Tapi keadaan mendadak hening saat seorang gadis dengan rambut dicepol dua menabrakku dan minuman berwarna oranye yang dibawanya tumpah mengenai kemaja putihku.
Berbagai umpatan siap terlontar jika saja aku tidak melihat tatapan mata gadis itu menyiratkan kebencian yang mendalam.
Bukankah seharusnya aku yang marah padanya?
Apa dia salah satu mantan gue? -Pikirku. Tapi aku sangat yakin belum pernah berhubungan dengan gadis yang berada tepat di hadapanku sekarang. Jangankan berhubungan, melihatnya saja baru kali ini.
Tak lama tatapan benci berubah menjadi sendu, matanya berkaca-kaca. Lalu dia menengadah menarik nafas dalam dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata.
Aku menatap punggungnya yang meninggalkanku. Banyak pertanyaan di kepala mengenai gadis tadi.
Menggeleng pelan, aku pun berjalan ke loker untuk mengambil kemeja putih yang sengaja disimpan untuk keadaan darurat, seperti sekarang contohnya.
Langkahku tiba-tiba berhenti, nafasku tercekat melihat seorang gadis tergeletak di lantai depan loker dan sudah bersimbah darah. Wajahnya melepuh sepertinya disiram air keras, kedua tangannya dipenuhi sayatan yang dalam, dan banyak helaian bulu unggas berwarna putih bersih. Siapa saja yang melihat pasti akan merasa ngeri. Begitu pun aku, merinding seolah aku bisa merasakan kesakitan dari gadis malang ini.
Aku mendekat. Dan lagi, membuatku semakin terkejut. Gadis itu... Risa -Mantan kekasih mendiang kakakku-
Entah apa yang terjadi, hingga membuat Risa tewas mengenaskan seperti ini.
Terlihat secarik kertas digenggam mayat Risa. Tulisannya terukir indah bertinta merah.
°°°°°
**Sesuatu sudah terjadi membuat pangeran kehilangan ingatannya. Odile memanfaatkan keadaan untuk merebut pangeran dengan berpura-pura menjadi putri Odette -kekasih pangeran-.
Bulu angsa ini hadiah dari putri Odette. Anggap saja tanda rindunya pada Odile**.
Aku menyimpan kertas itu beserta satu helai bulu unggas di saku celana. Setelahnya aku pergi untuk melapor kepada guru.
°°°°°
Author's POV
°Flashback on °
Umpatan terus keluar dari mulutnya. Berjalan ke loker dengan kesal karena razia seragam sekolah tiba-tiba dilakukan oleh anggota OSIS hari ini. Rok abu miliknya digunting pada kedua bagian samping bawah. Bagaimana tidak, dia memakai rok setengah paha.
Tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, dia melihat seorang gadis tengah berada di depan loker miliknya entah apa yang sedang dilakukan.
Gadis itu memakai rok abu selutut, hoodie hitam polos dan wajahnya tak terlihat karena terhalang kupluk.
Klek
Dia menutup loker dengan gerakan pelan.
"Risa Arsyila" Gadis itu membaca nama yang tertera di pintu loker yang baru saja dia tutup.
"Ada urusan apa lo sama gue?" Ucapnya -pemilik nama- angkat suara, nada menantang.
__ADS_1
Gadis berhoodie tersenyum sinis dibalik kupluknya. Perlahan dia memutar tubuh dan mengeluarkan pistol dari saku hoodie lalu mengarahrakannya kepada Risa.
"Bergerak dan bersuara atau peluru segera bersarang tepat di jantungmu?" Ucapnya mendekati Risa.
Risa gelagapan. Cemas terhadap apa yang akan menimpanya. "Tapi.. Tapi gu-gue salah apa sama lo?"
Gadis berhoodie hitam itu hendak membuka kupluknya jika saja tidak terdengar suara teriakan gadis lain yang berlari ke arah mereka berdua.
Segera saja dia menyembunyikan pistol ke dalam saku hoodie dan pergi tanpa Risa sadari.
"Sa, gue cari-cari juga. Ternyata di sini." Ucap gadis berponi tipis yang tadi berlari menghampirinya dengan nafas tersenggal-tenggal.
"Sa!" Teriaknya.
"Ha..hah?" Risa tersadar dari pikirannya mengenai gadis berhoodie hitam tadi.
"Lo nyari siapa?" Tanyanya sambil ikut celingukan.
"A-ah ng..nggak apa-apa. Gu-gue cuma rada bingung aja ini rok terakhir yang gue punya, semua udah kena razia."
"What? Lo kan punya enam? Di razia semua? Ya ampun, Sa! Ya udah tunggu sebentar!"
Risa hanya mengangguk, pikirannya masih tertuju pada gadis aneh itu yang mengancamnya dengan pistol. Ah, entah apa yang merasukinya, padahal Risa tidak merasa ada masalah pribadi dengan siapapun.
"Nih! Pake punya gue aja!" Gadis berponi tipis itu menyodorkan rok abu selutut.
Jika biasanya Risa akan protes, kali ini Risa menerima rok itu walaupun menurutnya ukuran selutut sangatlah panjang dan tidak bergaya.
Sebelum beranjak ke toilet, Risa mengambil sebatang coklat berpita merah sambil tersenyum.
Tidak ada nomor? - Batinnya heran.
"Halo?"
"Kamu ingat aku?"
"Lo siapa? Ada perlu apa?"
"*Oh ternyata kamu melupakanku. Baiklah sedikit bercerita mungkin bisa membuatmu ingat.
Odile mengaku sebagai putri Odette saat pangeran terbangun dan kehilangan ingatannya. Itu membuat putri Odette terlupakan hingga ajal menjemput sang pangeran.
Jika saja Odile tidak melakukan hal itu. Pastilah putri Odette bahagia dengan cintanya dan ada kemungkinan nasib pangeran tidak seperti yang telah terjadi*."
"Lo?"
"Ah, apa kamu mengenal cerita itu?"
"Lo siapa sih?" Tanya Risa frustasi.
"Sabar. Tidak lama lagi kita akan berjumpa, dan siapkan diri untuk bersenang-senang."
Setelah itu telepon ditutup sepihak oleh penelepon.
Risa memijat pangkal hidung. Dia sungguh bingung terhadap orang yang meneleponnya. Apakah orang itu adalah gadis yang di lokernya tadi.
__ADS_1
Risa menggeleng dan pergi ke toilet bersama gadis berponi tipis yang menatapnya penuh heran.
"Cil!"
"Ya, Sa?"
"Biasa"
Cecil -gadis berponi tipis- tersenyum dan mengangguk. Dia sudah tau kebiasaan sahabatnya ini, menyimpan coklat di loker pria yang sudah lama diincarnya. Dan Risa selalu ingin melakukan sendiri, tanpa ditemani siapapun.
Baru beberapa langkah, Cecil menepuk bahu Risa, membuat yang ditepuk memberhentikan langkahnya dan menoleh ke belakang dengan alis yang bertautan seolah bertanya 'ada apa?'.
"Kok gue jadi takut lo kenapa-kenapa ya, Sa?" Tanya Cecil penuh cemas tercetak jelas di wajahnya.
Risa terkekeh kecil, "Apaan si lo? Gue jamin gak bakal terjadi hal buruk." Tersenyum menenangkan sahabatnya -Cecil-.
Cecil menghela nafas lalu mengangguk dan tersenyum. "Gue tunggu di kelas."
Setelahnya mereka pergi dengan berlawanan arah. Risa membawa langkahnya menuju loker pria.
Tepat di depan loker yang pada pintunya tertera nama 'Sean Rafardhan' Risa melihat ke segala arah memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahuinya, lalu dia membuka loker tersebut untuk menyimpan coklat berpita merah yang sudah disiapkannya dan menutup kembali pintu loker. Seulas senyum manis tercetak di wajahnya, dia menghela nafas pelan dan beranjak pergi.
Langkahnya terhenti tiba-tiba. Sosok yang dia lihat di lokernya tadi kembali mendatanginya masih dengan pakaian yang sama. Gadis berhoodie hitam melepaskan kupluknya sehingga rambut hitam sepunggungnya terlihat, membuat Risa tertegun karena mengenali wajah gadis itu.
"Lo?"
"Hai Risa!" Sapanya menyeringai.
Risa gelagapan. Dia menelan salivanya susah payah saat gadis berhoodie hitam melangkah semakin mengikis jarak diantara mereka.
"Kenapa kamu terlihat ketakutan? Kamu takut padaku?"
"Lo..lo masih hi-dup?"
"Pertanyaan bodoh seperti apa itu, Risa? Jangan takut, aku datang menemuimu hanya karena rindu dengan sahabat lamaku." Lagi-lagi gadis itu menyeringai.
Belum sempat Risa bersuara, gadis berhoodie hitam membekap Risa dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Dia melakukannya dengan gerakan cepat, hingga Risa tidak menyadarinya.
Risa terkulai lepas, perlahan kesadarannya hilang. Gadis dengan hoodie hitam membiarkan tubuh Risa tergeletak di lantai.
Dia memakai sarung tangan, mungkin agar tidak meninggalkan jejak. Lalu mengambil suntikan yang sudah terisi cairan bening dan menusukkannya pada lengan Risa. Gadis itu tersenyum.
Setelahnya, botol berukuran sedang dia keluarkan dari kantong hoodienya, dan menyiramkan isi dari botol tersebut pada wajah Risa. Wajah putih mulus yang terlihat sangat cantik jelita menjadi melepuh dan hancur, ternyata botolnya berisi air keras.
Selanjutnya gadis itu mengambil pisau dari saku rok abunya, dan menggoreskan banyak sayatan yang cukup dalam di kedua tangan Risa, cairan kental berwarna merah pekat pun mengalir sangat banyak.
Tidak hanya itu, dia menancapkan pisau secara berulang-ulang pada tubuh Risa. Darah semakin deras mengalir dan bau amis semakin memekakan indra penciuman.
Dia menaburkan helaian bulu unggas putih bersih, terlihat seperti bulu angsa. Tak lupa dia menulis sesuatu di secarik kertas dan menyimpannya pada telapak tangan Risa, tampak seolah Risa tengah menggenggam kertas itu.
"Aku terlalu baik, bukan? Membuatmu tak sadarkan diri terlebih dahulu."
Gadis itu tersenyum puas dan pergi meninggalkan mayat Risa.
°Flashback off °
__ADS_1