Dongeng Di SMA

Dongeng Di SMA
Episode 10


__ADS_3

Bertepuk tangan sekali dengan cukup keras, Sean membuka kembali lacinya mengambil kertas clue yang dia temukan saat kematian Risa.


Ini ada hubungannya. - Batin Sean.


Segera dia membuka ponsel menghubungi Sandi dengan video call.


"Apa, Yan? Tumben vidcall?" Tanya Sandi di sebrang sana. Sepertinya pria itu sedang berada di luar, terlihat dari pakaian yang digunakannya dan juga terdengar sangat ramai di sana.


"Bentaran deh gue hubungkan sama Arka."


Sean meng-klik ikon (+)  dan menambahkan Arka dalam video call tersebut.


"Halo epribadeh! Gak nyangka ternyata kesayangan-kesayangan gue ini pada kangen sampe vidcall segala. Emang sih secara gitu gue seganteng Lee Min-Ho!" Serunya dengan diakhiri kekehan kecil.


"Gila! Gue lagi di luar gak pake earphone, berisik banget lo." Jelas Sandi sangat kesal karena suara Arka terdengar sangat nyaring karena volume ponselnya full.


"Sorry bossku!" Ucap Arka menyengir kuda sambil mengangkat jari tangannya membentuk huruf V.


Sedangkan Sean sejenak berpikir, menimbang-nimbang apakah harus dia ceritakan hal ini kepada mereka?


"Yan!" Panggil Sandi melihat Sean yang melamun.


"Woy bangke!" Kali ini panggil Arka meninggikan suaranya karena Sean masih saja asik dengan pikirannya.


Sean justru berdecak sebal, "Apaan sih? Teriak terus, lo."


"Ya maapkeun atuh aa, sewot aja lo."


"Arka udah ada, jadi ada apa, Yan?" Tanya Sandi mengalihkan topik, karena dia benar-benar bosan jika harus terus melihat pertengkaran mereka yang sama sekali tidak berguna.


"Pas tadi lo kasih tau Dion meninggal, lo inget, Ka?"


Arka mengangguk, "Ya inget lah. Kan baru tadi."


"Nah gue ke depan gudang tempat Dion di meninggal."


"Bukannya udah dikasih garis polisi? Kok bisa lewat?" Tanya Arka lagi.


"Ya bisa dong, dodol! Kan diam-diam jadi gak ketauan, kecuali tu garis polisi ada alarm lasernya." Ah, Sean kesal jika Arka sedang berada dalam stupid mode.


"Lo diam dulu deh, Ka!" Sahut Sandi.


"Gue nemu clue lagi. Isi suratnya kalo Pangeran Kodok berkhianat ke sahabatnya karena milih Odile yang padahal cuma manfaatin dia."


"Lah? Emang ada cerita kek gitu? Harusnya kan Pangeran Kodok tu baik dan setau gue Odile ada di cerita Putri Angsa."


"Justru itu, yang nulis ini emang ngubah ceritanya."


"Odile bukannya ada di surat yang lo temuin pas Risa meninggal ya?" Tanya Sandi sambil mengingat-ingat.


"Itu yang mau gue omongin. Gue rasa kalo Odile itu Risa dan Pangeran Kodok itu Dion. Tapi pertanyaannya, yang jadi Pangeran sahabatnya Pangeran Kodok itu siapa? Terus yang jadi Odette juga siapa coba?"


Mereka bertiga terdiam, berpikir mengenai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak ketiganya.


"Gini aja deh. Besok kita bolos bentaran, kalo diskusi di vidcall gak enak. Lagian gue di taman, ngasuh bocah." Ujar Arka.


Sean dan Sandi mengangguk setuju.

__ADS_1


"Ya udah besok kita langsung ke rooftop."


Setelahnya mereka memutuskan video call tersebut.


°°°°°


Sandi melamun, memikirkan cerita Sean tadi. Terlalu fokus dengan penerkaan-penerkaannya, Sandi melupakan gadis dengan rambut dicepol dua yang tengah duduk di hadapannya sedang tersenyum entah mengapa. Senyuman itu seperti sebuah isyarat kemenangan.


"Ndi?"


"Eh, sorry! Gue lupa ada lo, Zoy!"


Ya, gadis itu adalah Zoya. Mereka berdua sedang berada di salah satu caffe, tadi Sandi mengajaknya keluar dengan alasan ingin menghibur Zoya.


Zoya tersenyum dan mengangguk. Lalu dia melihat jam tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 17.06.


"Mmm.. Ndi. Gue duluan ya, ada urusan."


"Gue antar?"


"Nggak deh. Tempat tujuan gue deket dari sini."


Sandi tersenyum, "Oke, hati-hati!"


Zoya membalasnya dengan senyuman lalu beranjak pergi.


°°°°°


"


Bagaimana?


Ah, sepertinya kamu menyukai permainan ini.


Semoga beruntung.


"


Lagi, satu pesan tanpa nomor Sean dapatkan. Ternyata ini memang jebakan untuknya masuk ke dalam permainan yang Sean tidak tau mengapa dia yang diperangkap? Apa hubungan dirinya dengan permainan ini?


°°°°°


Seorang gadis berjalan santai melewati taman. Tiba-tiba terdengar suara tangisan anak kecil yang sepertinya tidak jauh dari posisi dia berdiri sekarang.


Melangkah perlahan, Gadis itu mencari sumber suara. Benar saja, gadis kecil yang diperkirakannya masih berusia lima tahun duduk di trotoar dengan wajah memerah karena menangis dan kepalanya sedikit tertunduk.


"Hallo!" Sapanya.


Tangisan anak kecil itu berhenti lalu dia mendongak sambil memasang wajah heran.


Menggemaskan sekali anak ini. Kulit putih, mata bulat, pipi tembam, dan hidung sedikit mancung, tidak lupa juga rambut sepunggung serta poni yang mencapai kelopak matanya. Gadis berhoodie abu merasa sangat gemas hingga mencubit pelan kedua pipi gadis kecil di depannya.


"Nama kamu siapa sayang?"


"Maaf, Kakak. Kata abang, Raya gak boleh kenalan sama orang asing."


Dia terkekeh geli, "Tapi tadi kamu sebutin nama."

__ADS_1


Gadis kecil yang diketahui bernama Raya itu pun menggaruk pelipisnya tersenyum malu.


"Kakak gak jahat kok. Cuma tadi dengar suara yang nangis, ternyata Raya."


"Raya gak tau abang dimana." Ucapnya sedih.


"Kakak gak bisa bantu cari, karena kakak gak tau abang kamu siapa. Jadi kakak temenin Raya aja ya sampe abangnya datang."


Raya tersenyum senang lalu mengangguk. Dia mengusap kepala Raya ikut tersenyum.


"Raya mau jajan gak?"


"Raya mau eskrim." Jawabnya semangat.


"Yah. Penjual eskrimnya lumayan jauh, nanti takutnya abang kamu ke sini. Jajan yang lain aja deh ya? Di sana ada penjual donat, Raya mau?"


Pada awalnya Raya sempat menekuk wajah saat dia mengatakan tidak dapat membelikannya ice cream, tapi mendengar donat senyum Raya kembali merekah. Raya mengangguk semangat.


Gadis itu memakai kupluk jaketnya, lalu meminta Raya untuk menunggu sebentar. Setelah membeli donat, dia bercerita sesuatu yang disukai anak seusia Raya.


"Ya ampun, Raya!! Abang cari kamu dari tadi, bikin stress aja!" Suara seorang pria mengejutkan keduanya.


"Abang!!" Riang Raya bangkit memeluk pria tersebut.


Dia mengenal suara ini. Tanpa pamit dia meninggalkan mereka berdua.


"Eh tunggu!" Serunya tapi tidak Zoya hiraukan.


"Raya, yang tadi siapa? Dia gak culik kamu, kan?" Arka berjongkok menyenyajarkan dirinya dengan Raya.


Mendengar itu Raya menggeleng keras, "Kakak tadi baik, Bang. Dia nemenin Raya buat nunggu abang datang."


Arka menghela nafas lega. Syukurlah tidak terjadi apa-apa pada adiknya, kalau sampai terjadi sesuatu bisa habis dia dicabik-cabik ibunda tercinta. -Pikirnya.


"Terus Kakak cantik juga ceritain Raya dongeng. Seru banget."


"Oh ya? Dongeng apa coba ceritakan ke abang?!"


"Iya abang, dongengnya tentang Putri Salju yang sedih karena pangerannya meninggal."


"Loh kok meninggal? Pangerannya Putri Salju gak meninggal kok ceritanya."


"Tapi Kakak cantik yang cerita. Oh iya, abang mau?" Raya menawarkan donat yang tadi gadis berhoodie abu itu berikan.


"Ini dari Kakak yang tadi?"


Raya hanya mengangguk sambil fokus memakan donatnya.


Sejenak Arka berpikir. Kenapa cerita dongengnya dirubah?


Yang Arka ketahui Pangeran-lah yang menyelamatkan Putri Salju hingga hidup kembali. Mengapa ceritanya justru seperti Romeo & Juliet?


Beberapa menit Arka berpikir sambil berjalan dan Raya yang berada di dalam gendongannya. Arka tersadar karena terkejut dengan dugaannya sendiri.


"Raya, Kakak tadi cerita apa lag... "


Ck. Arka mendengus kesal karena ternyata Raya sudah terlelap.

__ADS_1


"Dasar bocah."


__ADS_2