Dongeng Di SMA

Dongeng Di SMA
Episode 11


__ADS_3

Zoya tiba di sekolah dan terheran karena suasana terasa begitu ramai. Dilihatnya jam tangan berwarna abu yang melingkar di pergelangan kirinya.


Pantasan 10 menit lagi bel. -Pikirnya.


Gadis cepol dua itu melangkah santai sambil mengunyah bubblegum rasa strawberry kesukaannya.


"Heh!" Ujar seseorang yang tiba-tiba saya mendorong bahunya kasar dari arah depan. Beruntung Zoya tidak hilang keseimbangan sehingga dorongan itu hanya membuatnya mundur beberapa langkah.


"Apaan ni?" Tanyanya dengan berani.


"Gak usah pura-pura bege deh! Maksud lo apa caper di depan Sean?" Teriak Anya mengundang perhatian siswa-siswi disekitarnya.


Anya adalah salah satu gadis dari barisan kekasih Sean. Diantara yang lainnya, Anya-lah yang lebih agresif dan possessive. Dia akan membully siapapun yang berani mendekati Sean, terkecuali gadis-gadis yang menurut Anya sepadan dengannya.


Sepadan dalam artian gadis tersebut harus populer di sekolah, cantik, body goals dan pintar itu pasti.


Sebelum menjawab, Zoya mengambil tisu dari saku kemeja untuk membuang permen karet yang dikunyahnya pada tisu itu lalu dia lempar tepat pada tong sampah.


"Gue? Caper sama dia?" Kekehan geli keluar begitu saja, Zoya tidak habis pikir mengapa dia bisa ditanyai pertanyaan yang tidak bermutu seperti itu?


"Gak usah sok kecantikan! Gue peringatin ya sama lo, jangan pernah coba-coba deketin Sean! Dan jangan pernah berharap lo bisa jadi salah satu cewek dia!"


"Lo cewek dia yang kesekian tapi songongnya minta dibacok ya? Lo tau berbie? Cantik sih, tapi cuma dimainin." Ucap Zoya tersenyum meremehkan. "Jadi mainan aja bangga!" Sambungnya santai.


Emosi Anya terpancing mendengar cemoohan Zoya. Dia tidak bisa mengabaikan ucapan gadis cepol itu barusan. Tanpa ancang-ancang, Anya menjambak rambut Zoya keras. Zoya memekik, terasa sakit seakan rambutnya terlepas dari kepala. Reflek Zoya melayangkan tangan kanannya menampar pipi kiri Anya tak kalah keras, bahkan suara tamparan itu terdengar jelas. Yang menyaksikan keributan Anya dan Zoya ikut memekik seolah merasakan juga sakitnya pipi Anya.


Seketika tangan Anya terlepas dari rambut Zoya, dia memegangi pipinya yang terasa panas.


"Asal lo tau, gue sama sekali gak minat deketin dia! Kalo lo suka sana ambil, bungkus, karungin, bawa balik, bebas aja buat guguk peliharaan kayak lo!" Sekali lagi ucapan Zoya berhasil menguras emosi Anya. Dia berlalu pergi dengan senyum pongah.


"Anj**! Maksud lo apaan, hah? Cewek kek lo berani sama gue? Tunggu aja pembalasan gue!" Emosi Anya memuncak tak terkendali, dia terus berteriak sekalipun Zoya tak memperdulikannya.


"Arrgghh!" Anya frustasi.


°°°°°


"Kalian baca dah!" Titah Sean menyodorkan dua lembar kertas. Sandi dan Arka sama-sama membaca kedua kertas tersebut.


"Gue ngerasa Raka ada hubungannya sama semua ini! Atau bahkan tokoh Pangeran yang dimaksud di surat itu Raka." Ujar Sean sambil menggeser kursinya agar duduk berdekatan dengan Sandi dan Arka.


"Maksud lo penulis surat ini yang jadi tokoh Odette, dan otomatis yang udah bunuh Risa sama Dion?" Tanya Sandi memastikan.


Sean mengangguk, "Gue ingat, dulu Risa pernah pacaran sama Raka terus putus. Kira-kira setahun kemudian kepala Raka cedera, dia lupa kejadian satu tahun kebelakang karena kecelakaan itu."


"Berarti Raka ingatnya dia masih pacaran sama Risa?"


"Iya, bahkan mereka pacaran lagi. Dan semenjak itu juga Raka sama Dion ada konflik, padahal setau gue Dion itu sahabat Raka dari SD. Sama sekali gak pernah ada masalah sebelumnya."

__ADS_1


"Jadi kemungkinan Raka sama Dion musuhan karena Risa?" Heboh Arka.


Sean mengangguk lagi.


"Hah iya gue ngerti! Tadi lo bilang Raka cedera, bisa aja kan selama satu tahun pas putus dari Risa dia dekat sama cewek? Soalnya ini di clue yang lo temuin di tempat Risa meninggal ditulis kalo Odile rebut posisi Odette. Ngerti gak maksud gue?"


Sean dan Sandi mengangguk-angguk sambil masih mencerna asumsi Arka.


"Emangnya lo gak tau Raka dekat sama siapa pas udah putus dari Risa?" Tanya Arka.


Berpikir sejenak mencoba mengingat, setelahnya Sean menggeleng. Dari mulai hubungan Raka selesai dengan Risa, kakaknya itu tidak pernah bercerita lagi mengenai apapun. Termasuk gadis yang sedang dekat dengannya.


Hening beberapa saat, tiba-tiba Sandi dan Sean menegang. Mereka saling berpandangan dengan ekspresi terkejut membuat Arka bingung melihatnya.


"Zoya!" Ucap Sean dan Sandi bersamaan.


Dengan gerak cepat keduanya berlari keluar dari rooftop dan tanpa sadar meninggalkan Arka.


"Eh ngapa gue ditinggal, oy?" Teriaknya sambil bangkit mengejar mereka berdua.


°°°°°


"Zoy!" Panggil Sean masuk ke dalam kelas tanpa permisi, bahkan dia tidak sadar jika sedang ada guru yang mengajar.


"Sean! Darimana saja kamu? Dua jam pelajaran membolos, datang-datang melengos tanpa salam. Tidak sopan. Kalian berdua juga, darimana?"


"Fi, Van! Zoya mana?" Tanya Sean.


"BP." Jawab Vania nyaris tidak bersuara karena takut terkena amukan Pak Arif.


"Lo berdua di sini, biar cepat!"


Arka dan Sandi hanya mengangguk karena masih mengendalikan nafasnya yang terengah-engah. Sementara Sean kembali keluar kelas menghiraukan panggilan Pak Arif yang sudah sangat marah karena tingkahnya.


"Kalian berdua, lari keliling lapangan 10 putaran!"


"Pak Arif yang ganteng, gantengnya ngalahin saya. Tolong ya Pak nanti aja hukumannya kalo udah ada Sean, masa cuma kita berdua. Gak adil banget kan, San?" Arka menyikut lengan Sandi yang berada tepat di samping kirinya.


Sandi hanya mengangguk.


Setelah dipikir ada benarnya juga ucapan Arka, "Baiklah, sekarang duduk di bangku kalian dan mengenai hukuman nanti setelah Sean kembali!"


"Bapak makin ganteng aja, kayak Dimas Anggara. Makasih ya, Pak!" Puji Arka yang tidak lain hanyalah rayuannya agar guru itu luluh.


Pak Arif menggeleng jera, sedangkan Sandi dan Arka duduk di bangku mereka.


°°°°°

__ADS_1


Sean sampai di depan ruang BP. Terdengar suara Bu Sukma selaku guru BP yang sedang mencak-mencak memarahi Zoya dan seorang gadis lainnya. Sean menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatannya.


Anya? -Batin Sean, heran.


Ada masalah apa mereka bisa masuk ke ruangan ini?


"Gak salah lagi, pasti Anya cari ribut ke Zoya." Ucapnya bermonolog.


"Ini peringatan pertama untuk kalian. Kalau sampai terjadi lagi, saya akan memanggil orang tua kalian dan memberi scoresing. Paham?"


Anya dan Zoya mengangguk hampir bersamaan.


"Ya sudah kalian boleh keluar!"


Kedua gadis tersebut saling berpandangan sejenak dengan aura permusuhan sebelum pada akhirnya mereka beranjak pergi.


"Sayang?" Anya langsung bergelayut manja di lengan kanan Sean.


"Zoy, ikut gue! Penting."


"Lepas, Nya!" Titah Sean.


"Kok kamu malah mau pilih pergi sama dia? Aku kan pacar kamu, harusnya aku lah yang kamu ajak!" Anya merajuk dengan gaya manja yang membuat Zoya ingin muntah.


"Anya, gue ada hal penting sama Zoya!"


"Lo! Gue peringatin, gak usah sok kecantikan depan Sean!" Ancam Anya menunjuk wajah Zoya.


"Tolong bilang sama pacar tercinta lo ini buat gak usah dekat-dekat gue!" Balas Zoya menekan kata 'pacar tercinta'.


Lalu Zoya melenggang pergi. Sean melepas paksa tangan Anya dan berlari mengejar gadis berambut cepol dua itu. Anya memanggil namanya tapi tidak dia hiraukan.


"Arrghh! Awas aja lo, Zoya!" Gerutunya menghentak-hentakan kakinya, kesal.


°°°°°°


Grep


Sean mencekal dan menarik pergelangan tangan kiri Zoya, otomatis tubuh Zoya berputar 180° sehingga berhadapan dengannya.


"Apaan sih? Gue males ya ribut sama cewek kesekian lo!"


"Gue cuma mau nanya sesuatu."


"To the point !"


"Tentang Raka...."

__ADS_1


__ADS_2