Dongeng Di SMA

Dongeng Di SMA
Episode 4


__ADS_3

"Kenapa lo celingukan kayak anak ayam cari emaknya?" Tanya Arka baru masuk ke dalam kelas bersama Sandi.


Sean menyerahkan surat yang di dapatinya kepada mereka. Arka dan Sandi mengernyit bingung setelah membaca isinya.


Yang ada dipikiran keduanya yaitu mungkin sekedar pengagum rahasia. Apa yang aneh dari hal itu? Sudah bukan sesuatu yang baru lagi jika Sean mendapat surat seperti ini. Jangankan surat, bahkan di lokernya selalu terdapat berbagai macam bentuk hadiah tanpa tertulis siapa pengirimnya.


"Lah terus masalahnya?"


"Yang jadi masalahnya tuh isinya."


Arka kembali memperhatikan kertas yang dipegangnya. "Ini tulisannya bagus kok."


Sean menggeram mendengar kalimat polos yang keluar dari mulut Arka. Sandi menepuk bahu Sean mengajaknya duduk.


Menghela napas Sean menenangkan dirinya sendiri agar tidak memberikan bogeman pada pipi mulus Arka.


Dosa apa gue punya sohib kek dia? -pikirnya.


"Oon sama bodoh beda tipis ya?"


Arka yang mengerti sindiran Sean hanya menyengir lebar. "Menurut gue sama aja."


Tapi setelah itu wajahnya berubah serius. "Baru mulai hari ini dia bisa mandangin lo dari dekat? Berarti udah lama dia perhatiin lo dari jauh."


"Ya sama pikir gue juga gitu. Tapi hari ini gue gak ngerasa ada yang merhatiin gue. Kalo dari jarak dekat kayaknya gue bakal nyadar deh. Dan kalo misalnya tadi berpapasan, masa iya dia bisa mandangin gue? Kan keburu saling berpunggungan."


"Mungkin orang di sebelah meja kita pas di kantin atau di kelas kita mungkin." Pendapat Sandi.


Sean sejenak berpikir sambil menopang dagu dengan tangan kiri di atas meja. "Di meja kantin tadi, kita kan di pojok."


Penjuru kantin terkenal meja yang selalu ditempati para siswa. Jadi tidak mungkin ada perempuan di sana. Tidak mungkin Bi Siti tukang batagor, kan? Hah lucu saja😒


"Terus opsi kedua?" Tanya Arka.


Sontak ketiganya saling berpandangan. Sean dan Arka membulatkan mata dan mulut terbuka membentuk huruf O.


"Zoya?" Keduanya berbarengan dengan wajah terkejut.


"Gak. Dia benci sama lo." Ucap Sandi dingin dan sedikit tegas.


"Gue heran sumpah. Lo kenapa bawaannya sewot terus deh kalo kita lagi bahas Zoya?" Tanya Sean kesal, dan seperti biasa Sandi akan menjawabnya dengan mengangkat bahu.


"Tapi Sandi bener juga. Gue rasa gak mungkin Zoya. Terus secara gitu sekarang dia belum ada di kelas." Ujar Arka mencoba mengalihkan, agar Sean tidak memperpanjang rasa kesalnya.


Sean manggut-manggut setuju dengan pendapat kedua sahabatnya itu.


"Gue ada saran." -Sandi


"Kita lihat aja kedepannya. Siapa yang bakal terus muncul di sekitar kita, lo khususnya." Sambungnya.


"Oh atau mungkin pacar baru lo, Yan?" -Arka


"Nggak. Gue gak ada pacar baru hari ini ataupun kemarin. Jadian sama yang ke-enam udah dari dua minggu yang lalu."


"Hah?! Gue lupa, jadi gosip dua minggu lalu tentang lo jadian sama Ainin itu bener?"


Sean mengangguk dengan gaya cool-nya.


"Yang cantik, bohay, seger itu? Ketua ekskul model sekolah? Mantan Aldi musuh bebuyutan lo?"


"Ah dodol iya iya dan iya. Apapun yang lo tau pokoknya iya. Bawel banget sih lo kek cewek."


Sean sangat jengkel karena pertanyaan Arka terlalu beruntun membuatnya mengusap-usap telinganya yang terasa panas.


"Back to the topic, Yan!" -Sandi.


"Oya gue lupa. Tadi malam gue dapat SMS. Pengambilan kosa kata antara surat ini sama SMS itu sama."

__ADS_1


"Coba gue lihat!" Pinta Sandi.


Sean menunjukkan pesan pada ponselnya. Sandi dan Arka yang membaca isi dari pesan tersebut memiliki pemikiran yang sama dengan Sean.


"Berarti orang yang ngirim SMS dan surat ini orang sama?" Tanya Arka.


"Kita lihat aja dulu apa yang selanjutnya. Jangan asal narik kesimpulan." Ujar Sandi.


"Tunggu deh! Kok kita jadi permasalahkan ini, btw? Seperti yang gue bilang, apa anehnya SMS sama surat ini? Pasti fans lo lah, Yan. Biasanya juga kan gitu?"


"Sebenernya ada sesuatu yang bikin gue jadi mempermasalahkan ini."


"Apaan?" Tanya Sandi.


"Kita next pulang sekolah di rumah gue."


Mereka mengangguk menyetujui.


Dari arah pintu kelas, terlihat Zoya baru saja datang sendiri. Karena Fia dan Vania memang sudah berada di kelas sejak tadi.


Lagi, saat Zoya menangkap mata Sean yang memandangnya, dia balas dengan tatapan benci. Itu terus terjadi hingga Zoya duduk di kursinya dan suara Vania memutuskan kontak mata keduanya.


"Lo dari mana aja sih, Zoy?" Teriak Vania.


Zoya dan Fia meringis dan mengusap telinga masing-masing mendengar suara cempreng Vania.


Siswa-siswi yang berada di kelas pun ikut menatap Vania seolah mengatakan 'Gila tuh anak?'


"Bisa gak usah teriak gak?" Teriak Fia juga.


"Tapi lo juga teriak?" Polos Vania.


Fia menggeram. "Itu karena lo bikin telinga gue sakit!"


"Gue gak mukul lo kok, bahkan nyentuh juga nggak."


"Udah ah kek anak TK aja kalian." Zoya meleraikan.


"Gue tadi dari perpus." Sambungnya.


"Terus kenapa pergi gitu aja tadi di kantin?" Tanya Fia.


"Lo ada apa-apa sama Sean?" Tanya Vania dengan suara yang cukup keras hingga terdengar oleh Sean cs.


Memang terdengar karena bangku mereka berada di baris yang bersebelahan.


Sean cs menoleh ke arah mereka. Mencoba mencari tau apa yang sedang mereka bicarakan, sampai membawa nama Sean.


Zoya dan Fia menatap tajam pada Vania, yang ditatap langsung membekap mulutnya sendiri dan menyengir sambil menunjukkan jarinya yang membentuk huruf V.


Zoya menoleh kepada Sean, menatapnya tajam seakan Sean adalah mangsa yang siap diterkam.


Dia mengalihkan kembali arah pandangnya kepada Fia dan Vania.


"Gakpapa elah. Emang kenapa jadi ke dia?"


"Lo gak bisa bohong. Walaupun kita baru deket sama lo hari ini, tapi dari cara lo natap dia itu kelihatan kayak benci banget."


"Cuma perasaan kalian aja itu. Udahlah tuh Bu Ayna udah masuk." Tunjuk Zoya dengan dagunya.


°°°°°


Bel pulang sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu. Fia lebih dulu pulang karena mamanya sakit, dan Vania karena sudah dijemput supir.


Tinggallah Zoya sendiri yang masih sibuk dengan buku-bukunya. Semua siswa-siswi sudah keluar tentunya Ada yang langsung pulang, dan ada juga yang ekskul.


Walaupun terlihat fokus dengan dunianya, Zoya tetap menyadari kedatangan seseorang. Dari wangi parfumnya, Zoya dapat mengenal siapa orang itu.

__ADS_1


Iya mendongak dan menatap tajam ke arah seseorang yang tiba-tiba menghampirinya.


Tatapannya jelas menyiratkan ketidaksukaannya terhadap kedatangan orang tersebut.


"Jangan galak-galak dong, cantik!" Ucap Sean mengerlingkan mata mencoba menggoda Zoya.


"Ngapain.lo.di sini?" Pertanyaan yang penuh penekanan disetiap katanya.


Mendengar itu membuat Sean merubah air mukanya menjadi serius.


"Gue cuma mau nanya sama lo. Kenapa kelihatannya lo benci banget sama gue?"


"Benci?"


"Iya benci. Lo gak usah nyangkal deh."


"Lo terlalu baperan."


"Gak ada di dalam kamus gue seorang Sean baperan, apalagi masalah sama cewek."


Zoya terkekeh meremehkan. "Oya? Ada bukti?"


"Lo bisa buktiin langsung. Dan lo bakal tau sekeras apa hati gue buat baper sama cewek."


"Gak minat tuh."


Zoya beranjak pergi setelah usai membereskan buku-bukunya.


"Lo takut, heh?" Sinis Sean menghentikan langkah kaki Zoya.


Zoya berbalik saat mendengar pertanyaan itu. Dia melangkah mendekati Sean dengan seringainya. Refleks Sean mundur hingga terhenti karena punggungnya menabrak dinding. Sedangkan Zoya terus melangkah mengikis jarak di antara mereka.


Semakin dekat hingga hembusan napas Zoya dapat Sean rasakan di wajahnya.


Buju buset. Kenapa ini posisi malah kayak gue yang jadi ceweknya? -Batin Sean panik.


Sean merasa kali ini hatinya bergejolak tidak menentu. Rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Padahal dia sering menggoda para gadis hingga jarak seperti ini, namun tetap saja dia belum pernah mencoba hal-hal dewasa. Bahkan berciuman pun belum pernah dia lakukan sekalipun para gadis rela memberikan tubuh mereka untuknya.


Jarak wajah Zoya semakin dekat dengan wajahnya. Degup jantung Sean sangat cepat jauh di atas normal. Dia menelan saliva susah payah, dan mungkin keningnya sudah dibanjiri keringat dingin.


Cup


Benda kenyal dan basah terasa dibibirnya. Bukan hanya menyentuh, bahkan itu terasa seperti lumatan. Tubuh Sean membatu seolah saraf-sarafnya tak lagi berfungsi. Jantung Sean seolah akan melompat sekarang juga.


Bagi kebanyakan pria mungkin ini hanya sesuatu yang biasa atau lumrah, jika mereka tau jantung Sean saat ini pasti akan mengatakan berlebihan.


Tapi ini sungguh membuat Sean ketar-ketir sendiri. Antara deg-degan, senang, dan nikmat yang membuncah terasa secara bersamaan.


Ciuman itu berlangsung kurang lebih satu menit. Terdengar sebentar, tapi menurut Sean waktu terhenti begitu lama.


Setelah Zoya melepas ciumannya, dia tersenyum puas melihat Sean membeku.


Cup


Sekali lagi. Zoya mengecup bibir Sean. Setelahnya dia pergi tanpa sepatah kata meninggalkan Sean yang masih belum tersadar dari keterkejutannya.


Beberapa detik Zoya sudah menghilang, barulah otaknya tersadar.


"TADI ITU APA ANJ***? BIBIR GUE?  BIBIR GUE TERNODA! BIBIR GUE GAK PERJAKA! ABCDEFGHANJU!" Teriaknya histeris sendiri di kelas yang sepi itu.


°°°°°


Siapa yang tau, bahwa sebenarnya bukan hanya Sean yang merasakan jantungnya akan meledak. Zoya pun merasakan hal sama.


Dia menarik nafas dan membuangnya kasar. Tangan kanannya di atas dada merasakan detak jantung yang menggila.


"Gue tadi ngapain?" Tanyanya frustasi pada diri sendiri.

__ADS_1


Sambil berjalan menuju parkiran, dia terus merutuki perbuatannya yang tidak dipikirkan terlebih dahulu.


__ADS_2