
"Eh eh eh ini mau kemana?" Tanya Zoya dengan nada terkesan panik. Bagaimana tidak? Kini Sean melajukan motor bukan ke arah rumahnya ataupun rumah Zoya.
Zoya melihat spion menunggu respon pria itu. Terlihat fokus Sean pada jalanan dan tidak ada tanda-tanda dia akan menjawab. Baiklah, mungkin sekarang yang harus Zoya lakukan adalah diam dan duduk dengan tenang di belakang sini. Protes pun hanya akan membuat perutnya terasa mual karena kenyang sehabis makan.
Sekitar sepuluh menit kemudian, motor berhenti tepat di tepi hamparan rerumputan. Pertanyaan yang bertengger di benaknya mengenai 'Mengapa Sean membawanya ke tempat ini? ' pun tertahan di tenggorokan dan Zoya memilih turun dari motor dalam keterdiamannya. Dia melangkah perlahan menikmati suasana hari yang beberapa saat lagi akan berganti malam. Lampu-lampu jalan cukup memberi penerangan sehingga Zoya masih dapat melihat keadaan sekitar dengan cukup jelas.
Sean tersenyum melihat gadis yang dibawanya tampak menikmati tempat ini. Setelah melepaskan helm dan turun untuk menghampiri Zoya, Sean menghela nafas ketika posisi mereka sudah berdampingan. Keduanya sama-sama menyaksikan langit oranye yang perlahan memudar lalu menghilang dan lambat laun langit semakin menggelap.
"Tempat ini...favorit gue sama Raka, karena suasananya bikin tenang. Apalagi kalo dia lagi galau, sering banget kabur-kaburan ke sini." Jelas Sean memecah keheningan yang terjadi.
Zoya menoleh ke samping kanan untuk menatap Sean. "Raka pernah nangis?"
Sean pun mengalihkan pandangannya ke arak kiri lalu mengangguk, "Pertama sekaligus terakhir kali gue lihat dia kacau sampe nangis. Antara pengen ketawa sama kasian sih lihatnya." Diakhiri dengan kekehan kecil karena kejadian itu masih terekam jelas dalam ingatannya.
"Karena apa?"
"Risa."
Mendengar jawaban Sean, Zoya mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Entahlah Zoya merasa sesak di dadanya seperti ada kerikil yang menghalangi rongga paru-paru.
"Pas udah agak tenang, dia cerita sama gue kalo dia putus sama Risa. Tapi dia gak cerita apa penyebabnya, jelasnya Risa yang minta putus duluan. Eh tau-taunya sehabis bangun dari koma, Raka balik lagi sama Risa karena sebagian ingatan dia yang hilang jadi lupa kalo mereka sebenarnya udah putus. Mmm.. Lo tau kenapa mereka sempat putus?"
Zoya menggedikkan bahu tak berminat untuk menjawab.
"Bukannya lo juga sahabat dia?"
"Lo aja adenya gak tau, apalagi gue yang cuma sahabatnya?" Zoya membalikkan pertanyaan dengan menekan suara di kata 'cuma'.
Benar juga, pikir Sean saat itu. Lalu suasana kembali kaku. Zoya yang tak berminat mencari topik pembicaraan, sedangkan Sean bingung harus bercerita apa lagi.
"Mulai sekarang.. kita temenan ya? Lo jangan jutek-jutek lagi sama gue!"
"Gue udah punya Fia sama Vania buat dijadiin temen."
"Ya kan nambah temen satu lagi gak bakal rugi. Malah bagus."
"Gak bagus kalo sama lo."
Ck. Sean berdecak. Oh ayolah jangan datar seperti itu, jika percakapan ini tidak berhasil mencairkan suasana maka sia-sia saja sedari tadi Sean berpikir keras untuk mencari topik yang bisa menjadi obrolan ringan.
"Bagus dong, gue bisa jadi tempat numpahin rasa kangen lo ke Raka. Lagian lo juga udah setuju kok sama omongan gue pas di taman belakang sekolah."
Spontan Zoya menatap Sean, "Kapan gue ngomong setuju?"
"Waktu lo langsung peluk gue, mana kenceng banget sampe gue sesek nafas. Untung orang yang meluknya itu elo. Jadi, gue mah seneng-seneng aja." Ucapnya tersenyum jahil menggoda Zoya.
"Itu kan karena gue kebawa suasana, gak ada maksud buat setuju sama omongan lo." Sergah Zoya tak terima.
"Tapi nyaman kan nangis di dada gue?"
__ADS_1
"Nggak. Keras kayak gitu juga." Jutek Zoya berbalik badan berjalan ke arah motornya.
"Secara gak langsung lo ngakuin kalo dada gue sandarable, ya kan? Lagian dada cowok tuh bagusnya keras, kokoh, jadi bisa lindungin ceweknya." Sean mengikuti langkah Zoya.
"Dada lo gak cukup lebar buat lindungin banyak cewek sekaligus!"
Sean tersenyum senang, "Apa itu semacam kode kalo lo mau jadi satu-satunya?" Tanyanya menaik-turunkan alis.
"Gak banget!" Ujar Zoya menampilkan wajah datar.
"Buruan udah gelap, gue pengen pulang!" Sambungnya.
"Janji dulu!" Sean menggenggam tangan Zoya lembut.
"Apaan sih?"
"Janji lo gak bakal jutek lagi sama gue!"
Zoya menggeram kesal, "Iya! Puas?"
Sean mengangguk semangat dan tersenyum sumringah.
°°°°°
"Rumah lo dimana?" Tanya Sean.
"Bukannya ke rumah lo dulu?"
"Langsung aja ke rumah lo, gak baik cewek pulang malam kayak gini terus masih pake seragam."
"Jam tujuh juga belum, lagian gue pake celana jeans kalo lo lupa."
"Gak ada alasan!"
Zoya menggerutu kesal. Dia lupa jika berdebat dengan Sean adalah sebuah kesalahan.
"Dimana?" Tanya Sean lagi.
"Di depan belok kiri."
Lima belas menit berlalu, mereka sampai di depan rumah Zoya. Keduanya turun dari motor dan Sean melepas helm lalu dia kembalikan kepada Zoya berikut kunci motor gadis itu.
"Terus lo pulang naik taxi?"
Terlihat oleh Sean seseorang yang telah dia hubungi sebelumnya untuk menjemput dia di rumah Zoya.
"Tuh!" Tunjuk Sean.
Orang yang ditunjuknya berhenti di depan mereka. Setelah membuka helm, ternyata Sandi. Pantas saja jika orang itu tau letak rumahnya, pikir Zoya.
__ADS_1
"Zoy!" Sapa Sandi.
Setelah cukup lama tidak pernah berkomunikasi seperti dulu, sekalipun berkomunikasi hanya karena sedang ada masalah yang harus diselesaikan. Zoya hanya dapat tersenyum canggung membalas sapaan Sandi di dalam keadaan yang baik-baik saja seperti ini.
"Gue langsung balik, lo masuk sana istirahat!" Titah Sean mengacak pucuk kepala gadis berambut cepol dua itu.
"Siapa lo nyuruh-nyuruh gue?" Tanyanya menepis tangan Sean.
"Oh lo mau jadi siapa-siapa gue?" Balik tanya Sean bernada jahil.
"Aduh, Ndi! Cepetan bawa temen resek lo ini pergi!" Ujar Zoya.
Sandi tersenyum melihat Zoya yang kekakuannya mulai mencair, tidak seperti hari-hari sebelumnya.
Sedangkan Sean, dia terkekeh lalu menaiki jok belakang motor Sandi.
"Bye-bye, Zoya! Inget, gak boleh jutek!" Pamitnya sekaligus memperingati.
"Iya ih resek banget!"
Sandi dan Sean pun meninggalkan halaman rumah Zoya. Setelah mereka sudah hilang dari pandangannya, Zoya masuk ke dalam rumah.
°°°°°
"Lho kenapa baru pulang, Sean?" Interogasi Ranti.
Sean yang sempat terkejut langsung menyengir lebar dan menyalami tangan kanan ibundanya.
"Main sebentar, Bun!"
"Ya udah ke atas terus mandi, ganti baju! Mama udah siapin makan."
Sean mengangguk dan mencium pipi kiri Ranti sekilas lalu berlalu ke kamar yang berada di lantai dua rumahnya.
"
Tau mengapa aku memberikan cermin ini?
Agar kamu berkaca, rupamu masih utuh karena ada pengorbanan seseorang dibaliknya.
Ingatlah!
"
Secarik kertas yang Sean temukan sekaligus cermin kecil berbentuk persegi berukuran 10×10 saat hendak mengambil ponsel yang ia simpan di dalam tasnya.
Pesan yang tertulis indah pada kertas itu langsung dapat dia pahami maknanya. Tentu saja itu bertujuan mengingatkan Sean bahwa dia hidup karena jantung Raka dalam tubuhnya.
Sean menggeleng pelan lalu menyimpan cermin berikut kertas tersebut ke dalam laci. Setelah itu, Sean memutuskan untuk mandi karena badannya yang terasa sangat lengket.
__ADS_1