Dongeng Di SMA

Dongeng Di SMA
Episode 12


__ADS_3

"Tentang Raka...."


"Lo mau nanya apa lagi sih, hah? Apa yang kemarin belum puas?" Potong Zoya.


Sean mengangguk, "Ya, gue punya satu pertanyaan lagi. Dan gue mohon lo jawab jujur!"


"Oke, cuma satu!" Pasrah gadis itu.


"Apa dulu lo pernah jadi pacar Raka?"


Zoya tertegun. Saat Sean menatapnya dengan kesan menuntut jawaban, Zoya mengalihkan pandangannya ke samping.


"Kenapa diam?"


Masih saja Zoya bergeming tak mengeluarkan suaranya. Hal itu justru membuat Sean semakin penasaran juga yakin masih ada rahasia yang Zoya sembunyikan.


"Oh, oke. lo diam gue anggap.. "


"Gak!" Potong Zoya lagi dengan cepat.


Sean mengerutkan dahi mengisyaratkan ketidakpahamannya.


"Gue cuma sahabat dia dari SD." Sambung Zoya.


"Bohong!"


Zoya berdecak kesal, lagi-lagi Sean selalu saja seperti ini. Dia yang bertanya dan memaksa meminta jawaban, setelah dijawab justru menyangkal dengan mengatakan Zoya berbohong.


"Tapi kenapa gue gak pernah lihat lo sebelumnya? Dion sama Risa aja yang gue lihat sering ke rumah." Sean kembali bersuara saat dilihatnya Zoya hendak melangkahkan kaki.


Zoya mengehela nafas pelan sambil memejamkan matanya sebentar.


"Gue sering ke rumah lo. Cuma ketepatan aja pas lo gak ada."


Tatapan Sean berkesan ragu atas jawabannya, "Kalo butuh bukti, lo bisa tanya Tante Ranti."


Skak mat. Sean tidak dapat membantah lagi, sekarang dia hanya bisa menyaksikan punggung Zoya yang berjalan semakin menjauhinya.


°°°°°


Pukul 12.00, cuaca sangat panas. Disaat terik sinar matahari begitu menyengat, Sean, Arka dan Sandi justru sedang menjalani hukuman dari Pak Arif karena perihal keterlambatan mereka masuk kelas tadi pagi. Sejujurnya berlari mengelilingi lapang yang cukup luas seperti ini sangat memuakkan, terlebih lagi 10 keliling. Tapi mau bagaimana lagi? Jangankan kabur, hanya sekedar berhenti sejenak untuk mengatur nafas pun tidak bisa. Pak Arif dengan rajinnya memantau mereka sedari tadi.


"Sudah! Sekarang kalian boleh istirahat dan jangan mengulanginya lagi!" Seru Pak Arif dengan suara sedikit tinggi karena jaraknya dengan mereka yang cukup jauh. Setelahnya Pak Arif kembali ke ruang guru.


"Ya iyalah udah. Kagak dia kasih tau juga gue udah mau berenti dari tadi. Gila, berasa mau lepas aja ni kaki." Gerutunya Arka sambil duduk menyelonjorkan kaki dan mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Begitu juga dengan Sean dan Sandi.

__ADS_1


"Nih!" Seorang gadis menyodorkan botol berisi air mineral kepada Arka. Lalu Arka mendongakkan kepalanya untuk melihat orang tersebut.


Gadis itu, Fia. Oh ya ampun mengapa dari sekian banyaknya gadis di sekolah ini, harus Fia yang terus mendekatinya? Lihatlah sekarang, gadis itu datang membawakannya air minum dan memasang senyum manis walaupun dia tau Arka akan menolaknya.


Arka menoleh ke arah lain sambil mengipasi leher menggunakan tangan kanannya. Mendapat penolakan secara tidak langsung itu membuat Fia mengerucutkan bibirnya, memandang sendu botol air mineral yang dia bawa.


"Udahlah, Ka! Terima! Ngehargain orang sedikit aja gak bikin lo mati kok." Ujar Sean merasa kasihan melihat wajah sedih Fia.


Arka menghela nafas lalu mengambil botol tersebut dari tangan Fia lalu meminumnya. Betapa senangnya gadis itu, karena ini kali pertama Arka mau menerima pemberiannya.


Tidak lama kemudian Zoya dan Vania datang menghampiri. Sama seperti Fia, mereka juga membawa botol air mineral masing-masing.


"Ndi, buat lo!" Zoya menyodorkan air mineral kepada Sandi.


"Kok lo kasih ke Sandi sih, Zoy? Harusnya kan gue!" Sergah Vania.


Tidak mau berdebat, Zoya pun mengalah da menarik kembali tangannya yang mengulurkan botol miliknya.


"Nih, San buat lo!" Ucap Vania tersenyum ceria memberikan botol air mineralnya.


Sandi menerimanya dan sedikit tersenyum kepada Vania yang kini ikut duduk di sampingnya.


Sean mengambil botol milik Zoya dengan gerakan tiba-tiba membuat gadis itu terkejut. Tanpa babibu Sean menenggak air mineral tersebut hingga tandas.


"Gue gak kuat haus, lagian kan Sandi udah minum dari Vania."


Zoya berdecak, "Gue ke kelas duluan!" Pamitnya kepada Fia dan Vania. Tanpa mendengar jawaban kedua sahabatnya, Zoya memilih langsung pergi daripada terus berhadapan dengan Sean.


"Mmm.. Gue nyusul Zoya dulu!"


Lalu Sean berlari mengejar gadis yang sangat gemar menjauhinya. Mengikuti diam-diam dan menjaga jarak, Sean mulai merasa heran. Kelas mereka suda terlewati, mau kemana Zoya sebenarnya?


Ternyata gadis itu membawa langkahnya ke taman belakang. Sepertinya Zoya sangat menyukai tempat ini.


"Yang katanya mau ke kelas ternyata nyasar ke sini!"


Ya ampun ni cowok ngapain sih ngikutin terus? -Batin Zoya menahan kesal.


Sean berjalan mendekat dan duduk tepat di sebelahnya. Dikarenakan Zoya sedang malas adu mulut, maka dia mencoba meredam amarahnya yang selalu muncul begitu saja saat berdekatan dengan Sean.


"Gue mau cerita sama lo."


"Males."


"Lo cukup dengar aja!"

__ADS_1


"Sebentar lagi bel."


"Guru pada rapat. Udah deh cuma dengerin aja gak perlu jawab apapun kalo males!"


Baiklah, baiklah. Zoya akan mengalah lagi, daripada berdebat lebih baik menuruti kemauan pria aneh yang satu ini. Lagi pula permintaannya tidak seaneh orangnya.


Keterdiaman Zoya adalah tanda persetujuan bagi Sean. Untuk itu, dia menceritakan segala tentang hidupnya selama ini. Dari awal mula dia merasa kesakitan pada jantungnya saat masih kecil hingga keterkejutannya mengenai fakta yang baru dia ketahui kemarin.


"Gue boleh nanya gak?" Tanyanya memandang Zoya.


Zoya menoleh ke arah Sean dengan tatapan malas. Tatapan itu seolah mengatakan 'lo bilang gue gak perlu ngomong?'


Sean mengalihkan kembali pandangannya ke depan, begitu juga Zoya.


"Apa sih yang bikin lo sensi terus sama gue?"


Terdengar helaan nafas Zoya yang seperti menahan kekesalan.


"Lo tau jawabannya."


"Gue pikir kejadian kemarin cukup bisa sedikit ngurangin sensi lo ke gue."


Zoya tersenyum sinis, "Lo mau jawaban yang lain?"


"Iya."


"Karena lo menyalahgunakan titipan Raka."


Dahi Sean berkerut tidak mengerti.


"Lo dikasih kesempatan hidup, tapi justru bisa-bisanya lo mainin hidup orang lain."


Oh, sekarang Sean mengerti apa maksud dari perkataan Zoya. Ternyata maksudnya Sean sudah menyia-nyiakan hidup karena bermain dengan banyak gadis secara sekaligus.


"Kalo Raka tau lo gini, dia pasti pikir-pikir lagi buat donorin jantungnya."


Sean tidak berkutik. Dia bingung harus berkata apa.


"Lo tau keadaan hati gue waktu lihat Raka meninggal? Gue ngerasa dunia gue hancur saat itu juga. Cuma Raka yang gue punya, dia sahabat yang paling pengertian, dan sekarang kenyataan memporak-porandakan pikiran dan hati gue. Dia pergi selamanya." Suaranya mulai bergetar menahan tangis. Kepingan-kepingan kenangan terlintas di benak Zoya.


"Nyaris gila saat gue rindu tapi gue gak bisa apa-apa karena kita udah beda tempat."


Dengan memberanikan diri, Sean membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Dan dapat dia rasakan, tidak ada penolakan sama sekali dari Zoya.


"Please. Tumpahin semua tangisan lo, anggap aja itu permohonan maaf gue karena jadi alasan Raka memilih tempat baru."

__ADS_1


__ADS_2