Dongeng Di SMA

Dongeng Di SMA
Episode 20


__ADS_3

Saat Sean sedang menceritakan kebenaran yang dia ketahui, air mata Fia lolos begitu saja mengingat kembali kejadian yang membuat dirinya kehilangan Arka. Fia sempat menyalahkan keadaan. Seandainya dia tidak terlambat datang ke sekolah saat itu pasti tidak akan terkena hukuman, oh atau jika saja dia tidak menjalani hukuman bersama Rafa, mungkin kesalahpahaman ini tidak akan pernah ada dan dia masih bersama dengan Arka seperti yang seharusnya terjadi.


Sisi lain, Arka merasa tenggorokannya mengering dan hatinya terasa dicubit. Dia menatap Fia yang tengah terisak, ada perasaan bersalah dan menyesal pada wajah Arka melihat itu. Arka merutuki kebodohannya yang dulu tidak mau mendengarkan penjelasan Fia karena amarah dan rasa cemburu yang sudah membutakan hatinya.


Sekarang, bolehkah Arka berharap akan maaf dari Fia?


Matanya mulai berkaca-kaca. Bodoh, bodoh, dan bodoh. Itu yang diucapkannya dalam hati.


°°°°°


Pukul 13.02.


Waktu Rafa Ginovi meregang nyawa tak kalah mengenaskan dari akhir hidup Risa dan Dion.


Hal tersebut menambah daftar riwayat kematian murid SMA Tunas Bangsa di bulan ini.


Seluruh warga sekolah kembali resah. Dalam satu bulan bahkan detailnya hanya berselang beberapa hari saja sudah tiga murid meninggal dengan tidak wajar.


"Baru aja kita omongin, orangnya udah gak bernyawa aja!" Seru pelan Vania ketika dirinya, Fia dan Zoya sedang berdesak-desakan untuk melihat lebih jelas keadaan mayat Rafa.


"Gue penasaran sama yang bunuhnya." Ucapnya Fia.


Zoya hanya diam dan memfokuskan matanya agar lebih jelas lagi.


"Kalo itu justru gue ngefans."


"Hah?" Tanya spontan Fia sedikit terkejut.


"Lo gila?" Sambungnya.


"Maksudnya gue salut aja, pembunuhnya bisa se-gesit itu. Lo pikir aja yang namanya ngebunuh mana gampang, apalagi buat gak ketangkap polisi."


Fia mengangguk setuju dengan apa yang Vania ucapkan. Pembunuh tersebut memang cerdik. Lalu dia menoleh ke samping kirinya.


"Lo kok diam aja Zoy?"


"Sssst!" Zoya mengangkat jari telunjuk ke depan mulutnya. "Gue lagi merhatiin mayatnya Rafa. Gila, tragis banget." Ucapnya, mata masih fokus mengarah ke para kepolisian yang sedang menggotong mayat.


°°°°°


"Gue makin penasaran sama dalang dibalik semua kekacauan ini!" Ujar Sean hendak melangkahkan kakinya untuk lebih mendekat kepada mayat Rafa yang sudah di masukkan ke mobil jenazah.


Sandi menahan lengan atasnya, "Gak, Yan! Kalo lo ke sana, mereka bakal ngira lo yang bunuh."


"Ya nggaklah. Bukan gue yang bunuh ya gak bakal ada bukti yang bisa ngedorong gue ke dalam tuduhan."


"Ck. Lo gak mikir? Kalo pembunuhnya masih di sini terus lihat lo bertindak gegabah kayak gini, bisa-bisa dia alihkan bukti jadi ke elo."

__ADS_1


Sean terdiam. Hampir saja dia bergerak tanpa memikirkan hal tersebut.


"Lebih baik, nanti kita diam-diam ke TKP. Kali aja ada clue kayak yang sebelum-sebelumnya." Suara Arka.


Sampai tiba saatnya mobil jenazah dan sebagian pihak kepolisian sudah pergi meninggalkan kawasan Tunas Bangsa juga warga sekolah mulai kembali ke ruangannya masing-masing, mereka bertiga berlari kecil dan memelankan suara derap langkahnya menuju rooftop. Tempat Rafa ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa.


Pintu rooftop dibatasi oleh garis polisi, sedikit menyulitkan mereka untuk masuk karena jika gegabah dikhawatirkan akan merusak garis tersebut dan menjadi bahaya bagi mereka nantinya.


Setelah berhasil masuk tanpa merusak atau mengendurkan garis kuning, langsung dapat mereka lihat genangan darah yang tidak jauh dari posisi mereka berdiri saat ini.


Mereka mendekat, tapi tidak ada clue seperti apa yang mereka cari di dekatnya. Lalu Sean meminta Sandi dan Arka untuk berpencar menyusuri rooftop mencari sesuatu yang kemungkinan itu adalah clue.


Sepuluh menit berlalu, belum ada yang ditemukan sama sekali. Mereka kembali berkumpul di dekat genangan darah.


"Gak ada apapun di sini selain darah, Yan!" Ucap Arka.


"Gue yakin ada. Dari cara orang itu ngebunuh Rafa sama kayak kejadian pembunuhan sebelumnya, jadi gak mungkin kalo gak ada clue."


"Tapi di sini gak ada apa-apa."


Sean tampak merogoh saku celana mengambil ponselnya untuk mengecek apakah ada pesan dari orang yang tanpa nomor lagi. Dan ternyata tidak ada pesan masuk yang dia harapkan. Menghela nafas frustasi, dia menyimpan kembali ponsel itu.


Sandi memicingkan matanya terlihat sedang meneliti genangan darah tersebut.


"Gak cuma darah yang ada."


Kertas berukuran 5×5 cm yang sudah basah dan sangat rapuh jika tidak berhati-hati memegangnya. Karena hal tersebut Sandi tidak mengangkatnya, melainkan menyeret pelan kertas itu untuk diletakkan di tempat yang kering.


Kotak 84


Tulisan yang memudar nyaris hilang tak terbaca.


Mereka mengernyit heran, tidak mengerti apa maksudnya.


"Apaan ni artinya?" Tanya Arka.


Tidak ada yang bersuara untuk menjawab pertanyaan Arka.


"Kita harus pergi dari sini. Takutnya polisi balik lagi, sebagian mereka kan masih di ruang kepala sekolah." Ucap Sean.


"Tapi kertasnya gimana?" Tanya Arka lagi.


"Ada darahnya jadi gak perlu dibawa. Yang penting kita ingat tulisannya."


Pikir Sean jika saja genangan air sisa hujan semalam belum mengering, pasti dia dapat membersihkan darah pada kertas itu dan membawanya.


Sandi dan Arka pun mengikuti Sean meninggalkan rooftop.

__ADS_1


°°°°°


"Kemarin pada kemana? Gue tungguin di ruang seni buat latihan malah pada gak datang." Dimas mencak-mencak.


Masih mengingat Dimas? Dia ketua kelas XI-IPA1.


"Lo juga peran utama malah mabur!" Ucapnya lagi pada Zoya.


Zoya hanya menyengir tanpa dosa. "Ya maaf, Mas. Gue lupa. Hari ini latihan kok."


Dimas menggeleng pelan, sebenarnya dia kesal tapi terlalu malas berdebat. Dia putuskan untuk duduk kembali di bangkunya


Sean datang diikuti Sandi dan Arka. Mereka terlihat sedang berpikir keras.


"Kalian dari mana?" Tanya Zoya.


"Rooftop." Jawab Sean sangat pelan. Lalu dia menggeserkan kursinya mendekati tempat duduk Zoya, Fia, dan Vania. Begitu juga Arka dan Sandi.


"Ngapain?" Tanya Vania berbisik.


"Kita cari sesuatu yang bisa jadi petunjuk."


"Dan kita udah nemuin petunjuk itu." Arka menyambungkan.


Vania dan Fia menampilkan raut tak menyangka mereka bisa seberani itu pergi ke TKP.


"Terus mana petunjuknya?" Tanya Fia kali ini.


"Gak bisa dibawa, udah basah karena darah. Tapi kita ingat tulisannya." Sean menyandarkan punggung pada sandaran kursi.


"Apa?" -Fia-


"Kotak 84."


"Hah? Maksudnya apa?" -Vania-


Sean mengangkat bahu tidak tau.


"Kotak yang ada angkanya sampe ratusan itu setau gue cuma loker."


Mereka berlima menatap Fia yang berkata demikian.


BRAKK!!


"Itu dia!" Seru lantangnya Sean spontan berdiri.


Keadaan mendadak hening. Mereka berenam melihat sekeliling kelas yang sedang menatap Sean.

__ADS_1


Sean menyengir lebar dan kembali duduk dengan perlahan. Kelima orang yang duduk di dekatnya hanya menggeleng pelan dan berdecak-decak.


__ADS_2