Dongeng Di SMA

Dongeng Di SMA
Episode 8


__ADS_3

Sean's POV


Aku memijat pangkal hidungku karena kepala yang terasa berat dan berdenyut sakit, dada semakin sesak juga seperti ada banyak belati yang tertancap.


Apa lagi ini, Tuhan? Mengapa semuanya sangat membingungkan. Satu sisi hatiku memercayai fakta yang baru saja ku dengar, tapi sisi lain akal berkata itu semua tidak mungkin.


Raka? Dia kakak satu-satunya yang ku miliki, dan aku adalah penyebab dari kematiannya? Apakah benar? Yang ku tau dia meninggal karena tertabrak mobil. Memang benar kecelakaan itu terjadi karena Raka menyelamatkanku dan pada akhirnya dialah yang menjadi korban. Tapi, beberapa hari kemudian Raka siuman setelah sempat koma. Dia terlihat baik-baik saja saat itu.


Sampai suatu hari, beberapa minggu kemudian Raka dinyatakan meninggalkan. Aku tidak bisa memaksa bertanya kepada orang tua, mereka selalu saja bersedih jika diminta penjelasan perihal kematian Raka.


Lantas sekarang mengapa aku mendengar bahwa akulah orang yang menyebabkan Raka meninggal? Pasti ada sesuatu yang orang tuaku sembunyikan.


Aku perlahan maju ke arah Sandi dan Zoya dengan gemetar.


"Maksudnya apa?"


Sandi dan Zoya terlihat sangat terkejut karena baru menyadari kedatanganku. Terlebih lagi Zoya, air matanya meluncur terus-menerus dengan tampang seperti orang linglung.


Author's POV


Sandi yang lebih dahulu tersadar dari keterkejutannya. Dia langsung menoleh ke arah Zoya dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Lagi-lagi tangisan Zoya pecah di sana. Pikirannya runyam, apa yang harus dia lakukan sekarang? Dengan bodohnya tidak menyadari ada orang lain selain dirinya dan Sandi, lebih parahnya orang yang mendengar percakapan itu adalah Sean.


Isakan Zoya berubah menjadi raungan yang terdengar sangat pilu. Sandi mengusap-usap kepala Zoya berusaha menenangkan gadis di pelukannya.


Sedangkan Sean? Dia hanyut dalam lamunan, otaknya seakan sedang berhenti bekerja.


Beberapa menit berlalu, Sean membuka suara.


"Gue tanya, maksud lo apa, Zoya?" Tanyanya dengan mata yang memerah, antara menahan amarah, kecewa, juga tangis.


"JAWAB!" Bentaknya.


"Gak perlu main bentak. Ini cewek!" Sandi bersuara.


"Kenapa lo bela dia terus, hah? Dia pacar lo?"


"Gak ada hubungannya gue bela dia sama dia pacar gue!"


"TERUS APA?"


Buggh


Sandi memberi bogeman mentah pada pipi kanan Sean.

__ADS_1


Sean yang tidak siap menerima bogeman itu pun limbung ke tanah dengan darah yang keluar dari hidung dan sudut bibirnya.


"Gue tau lo penasaran karena ini menyangkut kakak lo, tapi bukan berarti lo bisa bentak cewek seenaknya."


Sandi mengulurkan tangan kanan, Sean yang mengerti akan hal itu pun membalas uluran tangan Sandi dan bangkit dari jatuhnya.


"Di sini bukan cuma lo yang ngerasa sakit. Zoya juga. Jadi jaga sikap lo, Yan!" Sambung Sandi setelah mereka bertiga duduk di kursi yang memang sudah ada di sana.


Zoya's POV


Terbelalak tentunya saat aku tidak menyangka Sandi yang terkenal tak suka main fisik bisa memukul Sean.


Kejadian itu membuat tangisku berhenti seketika. Sedihku menguap berganti dengan rasa iba melihat Sean meringis saat luka di sudut bibirnya mungkin terasa perih.


Setelah kami bertiga duduk, keadaan sangat hening. Hingga Sandi kembali bersuara.


"Di sini bukan cuma lo yang ngerasa sakit. Zoya juga. Jadi jaga sikap lo, Yan!"


Aku bingung harus bagaimana. Menjelaskan segala kebenaran yang ingin Sean ketahui hanya akan membongkar sesuatu yang selama ini sudah berusaha ku sembunyikan dari siapapun. Tapi jika diam, Sean akan semakin gencar menerorku dengan pertanyaan yang sama setiap harinya atau bahkan mungkin setiap waktu. Terlebih lagi hal yang ingin dia ketahui adalah tentang kematian kakaknya.


Jelas itu masalah besar.


Bagaimana ini?


Oke, Zoya! Tenang!


Author's POV


Zoya berdehem menetralkan suaranya. Dia mengangkat pelan-pelan kepalanya memandang ke arah Sandi lalu Sean yang juga menatapnya.


°Flashback on °


"Kami titip Raka sebentar ya, Zoy!" Ucap Ranti -Ibu Raka dan Sean- dengan air muka penuh kekhawatiran.


Zoya mengangguk patuh, "Iya, Tante!"


Setelah sekiranya tiga jam, kedua orang tua Sean dan Raka datang kembali. Kini bukan hanya raut kekhawatiran, tapi juga sejenis keputus asaan yang tercetak jelas di wajah keduanya.


Dengan langkah tergesa-gesa, Ranti menghampiri Raka yang masih terbaring di ranjang rumah sakit lalu menangis tersedu-sedu. Satria -Ayah Raka dan Sean- berjalan menghampiri istrinya dan mengusap-usap punggung wanitanya menenangkan.


"Mah, kenapa?" Tanya Raka, heran.


Bukannya jawaban yang Ranti berikan, melainkan tangisnya semakin terisak.

__ADS_1


"Pah?" Tanyanya meminta penjelasan pada Satria.


"Sean, adikmu. Dia koma. Bocor jantung."


Sandi menegang di tempatnya, begitu juga Zoya membekap mulutnya dengan tangan sangat terkejut.


Pasalnya, mengapa Sean bisa mengidap penyakit mematikan itu? Selama ini tidak ada keanehan yang terlihat dari Sean. Dia selalu ceria, bebas beraktifitas layaknya orang sehat.


"Sejak kapan?" Lirih Raka meradang.


Ranti yang semakin terisak pun langsung memeluk suaminya.


"Sebenarnya kami sudah merahasiakan penyakit Sean sejak usianya tujuh tahun."


"Tapi kenapa, pah? Kalau jantung Sean bocor artinya dia gak boleh cape. Sedangkan selama ini dia aktif, bahkan di sekolah ikut eskul futsal."


"Karena papah sama mamah gak mau lihat Sean putus semangat karena keterbatasannya. Kalau Sean tau hidupnya gak akan lama lagi, dia pasti akan terus mengurung diri." Satria mulai menitikan air mata.


"Kalau Sean gak tau tentang penyakitnya, gimana cara dia terapi?"


"Kami selalu membawanya ke rumah sakit dengan alasan check up rutinitas keluarga. Juga Sean selalu meminum obatnya dengan teratur, karena yang dia tau itu adalah vitamin."


"Tapi kenapa papah sama mamah gak cerita sama aku?" Tangis Raka.


"Raka bakal jadi pendonor jantung buat Sean" Sambung Raka dengan nada yakin.


Mereka yang mendengarnya sontak memandang Raka terkejut. Bagaimana bisa Raka mengambil keputusan sendiri secepat itu dengan nada meyakinkan?


Ranti menggeleng semakin terisak, Satria memalingkan wajahnya ke lantai.


"Gak. Jangan, Ka! Gue gak setuju! Kita masih bisa pikirin jalan keluar yang lain." Zoya melangkah maju mendekati Raka.


"Ini alasan papah sama mamah gak mau kasih tau kamu, Raka. Kami tau kamu akan seperti ini."


"Keputusan Raka gak bakal ada yang bisa ganggu gugat. Raka mohon mah, pah!"


"Ka! Lo gak mikirin gue? Lo mau ninggalin gue gitu aja?"


"Dengan ada atau gak adanya gue di hidup lo, lo tetap harus bahagia, Zoy! Gue bukan cowok yang bisa bahagian lo."


"Gue mohon jangan, Ka! Gue mohon!" Zoya menangis. Tubuhnya sangat lemas mendengar keputusan Raka yang sepihak.


Hati Ranti dan Satria lebih terguncang. Dihadapkan dengan ujian dimana mereka harus memilih salah satu diantara kedua anaknya untuk dipertahankan hidup.

__ADS_1


Bagi orang tua jelas pilihan yang teramat sulit. Siapapun akan merasa putus asa jika berada dalam keadaan seperti ini.


°Flashback off °


__ADS_2