
Arka menarik tangan kanan Fia menuntun gadis itu untuk ikut bersamanya. Tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada dua sejoli yang sedang beradu mulut dengan topik yang tidak jelas, Arka lebih memilih segera menyelesaikan urusannya bersama Fia sebelum malam semakin larut.
Arka menghentikan sepeda motornya di tepi taman yang mulai sepi, hanya ada beberapa pasangan lagi di sana yang jaraknya pun cukup berjauhan.
"Taman?" Tanya Fia lalu turun dan duduk di salah satu bangku taman berwarna coklat muda.
Arka mengangguk, membuka helm dan menyimpannya di atas motor, kemudian duduk di sebelah Fia yang sedang menengok ke kanan kiri.
"Cari apa?"
Fia mengalihkan pandangannya ke manik mata Arka. Menggeleng pelan dia pun tersenyum.
"Mau ngomong apa? Bukannya udah gak ada salah paham lagi diantara kita?"
"Bukan tentang salah paham. Ini tentang gue sama lo."
Fia menunduk merasa sangat gugup sekarang. Kegugupan dari siang tadi sampai saat ini semakin bertambah. Berdehem pelan, Fia berusaha menenangkan jantungnya yang sudah seperti meminta keluar. Tidak hanya itu, Fia juga takut dia salah mengartikan ucapan Arka yang nanti pada akhirnya hanya akan membuatnya kecewa.
"Lo sama gue?" Tanyanya pelan.
Arka mengubah posisi duduknya menyamping, begitu juga Fia. Sehingga mereka berhadapan. Arka membawa dan menggenggam kedua tangan Fia yang saling mencengkram satu sama lain. Dapat dia rasakan bahwa kini Fia sedang berusaha menahan kegugupannya, terbukti dengan telapak tangan Fia yang terasa dingin dan berkeringat.
"Aku...aku salah. Dulu gak mau dengar penjelasan kamu. Aku pergi gitu aja dan nyakitin kamu. Aku benar-benar minta maaf." Ucapan Arka yang semakin lirih.
Aku-kamu? Fia ingin menjerit histeris dibuatnya. Sayang sekali itu tidak bisa dia lakukan karena takut merusak suasana.
"Bu-bu-bukannya tadi sore udah kita bahas?"
Arrghhh. Fia mendesah frustasi dalam hati karena tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. Ini sangat memalukan.
Arka melepas genggamannya di tangan kiri Fia beralih menangkup pipi kiri gadis itu.
"Lihat aku!" Titahnya lembut.
Perlahan Fia mendongak sehingga sepasang manik mata mereka saling mengunci. Hawa di sekitarnya terasa panas, padahal tadi sangat dingin. Arka mengusap-usap pipi Fia dengan ibu jarinya.
"Kamu tau kan aku masih cinta kamu?"
Fia mengangguk kaku
"Aku mau memperjelas, apa masih ada cinta buat aku?"
__ADS_1
Bagai terhipnotis, Fia mengangguk lagi. Seulas senyuman Arka terpatri di wajahnya.
"Apa kamu mau kita ulang lagi kisah kita dari awal?"
Fia terdiam cukup lama. Bayangan dimana saat dirinya mengemis perhatian Arka agar mau mendengarkan penjelasannya dan bagaimana perlakuan pria itu terhadapnya.
Keterdiaman Fia membuat kepercayaan diri Arka menipis. Dalam hatinya, Arka terus melafalkan do'a agar Yang Maha Kuasa menunjukkan kemurahannya dengan menggerakkan hati Fia agar menerimanya kembali tanpa bayang-bayang kejadian di masa lampau.
Mata Arka semakin intens menatap Fia dan tersirat permohonan besar di dalam sana.
"Gue... gak tau." Fia mengalihkan pandangannya ke kanan.
Kecewa, tentu saja Arka rasakan. Mungkin dia terlalu percaya diri saat berpikir Fia akan menerimanya kembali dengan senang hati. Ternyata itu hanya harapannya yang terlalu tinggi. Arka menarik tangannya yang berada di pipi Fia.
"Gak tau gimana?" Suaranya terdengar serak.
Fia menggeleng, air matanya meluncur bebas, dia kembali menatap mata Arka.
"Sorry. Gue... Gue emang masih sayang sama lo. Tapi buat kembali.... gue belum bisa." Jelasnya menunduk lagi menahan isakan.
Deg
"Belum bisa? Berarti aku masih bisa perjuangin kamu, kan?" Tanya Arka mengenggenggam tangan kiri Fia.
Melihat Fia mengangguk, Arka melepaskan genggamannya di kedua tangan Fia dan langsung memeluk erat gadisnya. Oh apakah boleh Arka menyebut Fia sebagai gadisnya? Arka tidak peduli hal itu, yang terpenting baginya memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.
"Aku janji bakal bikin kamu yakin buat kembali lagi sama aku. Makasih udah kasih aku kesempatan." Ucapnya terisak menitikan air mata dengan sesekali menghirup wangi rambut Fia.
Yang dapat Fia lakukan sekarang hanyalah diam tanpa berniat membalas pelukan itu. Hatinya dipenuhi kebimbangan. Di satu sisi dia masih sangat mencintai Arka, penantiannya selama ini, mengejar-ngejar Arka yang selalu berlari darinya, kini sudah usai. Arka-nya kembali. Tapi sisi lain hatinya sakit. Melihat perlakuan manis pria yang saat ini sedang memeluknya justru membuat Fia teringingat keegoisan Arka.
°°°°°
"
Sepertinya kamu sangat bersemangat untuk memenangkan permainan ini. Ah baiklah-baiklah, aku merasa senang dengan antusiasmu. Aku harap kamu bisa memenangkannya, namun ku rasa itu tidak mungkin. Karena aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Sleep tight :)
"
Sean melempar asal ponselnya ke atas ranjang. Dia menggosok-gosok rambutnya yang basah sehabis keramas oleh handuk kecil berwarna putih.
__ADS_1
Ting
Suara notifikasi lagi. Dengan malas, Sean mengambil ponselnya. Tertera di layar notifikasi whatsapp dengan nama yang beberapa hari terakhir ini membuat hatinya merasa senang.
Zoya❤
Gue bawa motor sendiri mau bareng sama Fia. So, besok lo gak usah jemput.
Sean tersenyum, segera dia mengetikkan balasannya.
As you wish, honey. Hati-hati ya😘
Beberapa menit menunggu, ternyata Zoya sama sekali tidak membalasnya. Sean menghela nafas pelan.
"WA aja gak dibalas, apalagi perasaan?" Ucapnya bermonolog dan merebahkan tubuhnya untuk pergi ke alam mimpi. Semoga saja di sana dia bisa bertemu Zoya yang bersikap manis.
°°°°°
Seorang gadis dengan rambut hitam sepunggungnya yang tergerai bebas. Hoodie hitam, celana jeans hitam, dan sepatu hitam. Pakaiannya yang serba hitam itu sangat berpadu dengan gelapnya malam.
Tap Tap Tap
Dia melangkah lalu berhenti menatap bangunan dua tingkat bercat putih yang ada di hadapannya. Tanpa segan dan penuh rasa berani, dia melompati pagar rumah. Dengan lihainya dia menaiki pot beton dan
Hap
Dia menangkap pagar besi balkon lalu naik dan sampai depan jendela kamar seseorang.
Klek
Jendela itu bisa dibuka dengan mudah karena tidak terkunci.
Tap Tap Tap
Melangkah pelan-pelan mendekati tubuh seseorang yang sedang bergelung di dalam selimutnya tertidur nyenyak.
Seseorang itu tampak menggeliat merubah posisi tidurnya, tapi tidak membuat gadis tersebut menghentikan langkahnya.
Duduk di tepi ranjang, tangan kanannya terangkat membelai rambut orang yang tertidur itu. Dia mengeluarkan kertas yang ada pada saku hoodienya lalu diletakkan di atas bantal.
Dia mengecup kening orang tersebut dan setelahnya meninggalkan kamar melalui jalan semula saat dirinya masuk ke dalam ruangan itu.
__ADS_1