
"Di sini ada Sean." Bisik Sandi.
Zoya tertegun, langsung saja dia melerai pelukan dan menoleh ke belakang. Ternyata benar, Sean berada tidak jauh dari posisi mereka sekarang. Tapi bagaimana bisa Sean di sini?
Sean perlahan mundur dan menghilang di balik dinding. Mata Zoya beralih kepada Sandi dengan tatapan meminta jawaban.
Sandi hanya menggelengkan kepala, karena dia sendiri pun memang tidak tau mengapa bisa seperti itu.
"Gue belum selesai. Tapi sekarang keadaannya sama sekali gak memungkinkan."
Zoya mengangguk lalu mengelap mata dan pipinya yang basah.
"Gue duluan!"
"Gak! Kita sama-sama!" Sandi menggenggam jemari Zoya.
"Lo gila? Sean bakal tambah curiga."
"Kenapa lo jadi mikirin pandangan dia?"
Pertanyaan itu membuat bibir Zoya terkatup rapat. Tidak mau terlihat membuang waktu hanya untuk menjawab pertanyaan tersebut, Zoya melengos pergi meninggalkan Sandi.
°°°°°
Sesampainya di kelas, Sandi mengernyit heran.
Zoya kemana? -Batinnya.
Menggeleng pelan, Sandi memilih untuk duduk di kursinya.
"Ada yang mau lo jelasin?" Tanya Sean tiba-tiba duduk di sebelah Sandi.
Sandi menoleh sebentar, dan kembali memalingkan tatapannya ke depan. Entahlah, saat ini Sandi sangat malas untuk berbicara. Apalagi pertanyaan Sean itu akan membuatnya banyak berbicara.
"Lo masih ngerti bahasa Indonesia, kan?"
"Gue males bacot!" Tegas Sandi lalu menyandarkan tubuh pada kursi dan memejamkan matanya.
Sean mendengus keras. Dia tidak bisa melakukan apapun jika Sandi sudah mengatakan malas berbicara. Kalaupun dipaksa itu hanya akan menyebabkan pertikaian diantara mereka nantinya.
"Zoya bilang dia kangen seseorang, tapi gak bisa apa-apa?" Tanyanya dalam hati.
Semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di benak Sean. Satu hal paling mengejutkan hari ini adalah Zoya dan Sandi yang terlihat sudah kenal lama bahkan seperti memiliki kisah yang belum usai.
Apa mereka pernah pacaran? -Batinnya lagi.
Gak mungkin! Jelas-jelas tadi Zoya bilang kangen seseorang. -Pikirnya.
"Hoy!" Arka datang dengan nafas tersenggal-senggal.
"Ada apa ngos-ngosan gitu?"
"Gue... tadi.. tadi.. lihat... itu.. anu.. "
"Itu anu apaan? Anu siapa yang lo lihat?" Potong Sean.
Arka mengambil kursi dan duduk mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Gue.. lihat Dion udah meninggal!"
"Serius lo? Kok bisa?"
Wow, banyak sekali kejutan hari ini. Sean benar-benar jengah.
"Seribu rius, Yan! Ngeri banget gue tu mayat banyak lukanya, kayak di tusuk-tusuk pisau."
"Lo tau darimana?" Tanya Sandi membuka mata dan membenarkan posisi duduknya.
"Kan udah dibilang tadi gue lihat sendiri mayatnya!" Geram Arka.
"Sekarang dimana?"
"Depan gudang lama."
Sean berjalan cepat tanpa sempat berkata-kata lagi kepada Arka.
"Eh, Yan! Mau kemana?" Teriak Arka yang diabaikan Sean.
Sandi pun bangkit dari duduknya dan keluar dari kelas.
"San! Lo juga mau kemana?" Teriak Arka lagi dan juga diabaikan oleh Sandi.
"Lah? Terus gue di sini sendiri gitu?" Tanyanya pada diri sendiri dengan tampang bodoh.
Fia berdehem dengan gaya centilnya merangkul lengan kanan Arka.
"Abang Arka yang tampan, kan di sini ada dedek Fia."
"Najis lo!" Sarkas Arka melepas paksa rangkulan Fia dan berlalu pergi meninggalkan Fia yang memasang wajah sedih dengan bibir yang dikerucutkan.
"Banyak yang ngantri? Terus kenapa situ masih jomblo aja, mbak?"
"Ya karena hati gue itu udah terisi penuh oleh cintanya abang Arka."
Vania memutar bola mata jengah. Sahabatnya yang satu ini benar-benar. Ck, bahkan Vania juga sudah tidak mampu mendeskripsikan keajaiban seorang Fia.
°°°°°
Mayat Dion sudah di angkat oleh petugas kepolisian.
"Permisi, Pak. Boleh saya lihat Dion sebentar?"
"Maaf. Untuk saat ini tidak bisa karena kami akan melakukan autopsi." Jawab salah seorang petugas.
"Saya tidak akan menyentuh jasadnya. Tolong, Pak!"
Petugas itu menoleh ke arah pria yang mungkin dia adalah komandannya. Pria tersebut mengangguk.
"Baiklah. Hanya sebentar saja!"
Petugas membukakan resleting pembungkus jasad Dion. Sontak Sean sangat syok, tubuh Dion sungguh mengerikan. Dengan susah payah Sean meneguk ludahnya dan perlahan mundur.
Melihat itu petugas tadi menutup kembali resleting pembungkus tersebut. Dan setelah pamit mereka pergi meninggalkan kawasan sekolah.
Sadar dari lamunannya, Sean berlari ke arah gudang lama secara diam-diam. Akan sangat berbahaya dan menjadi masalah yang rumit nantinya jika ada orang melihatnya masuk ke sana.
__ADS_1
Dia mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk untuk membongkar identitas pelaku pembunuhan Dion.
Jujur saja, sebenarnya Sean melakukan ini bukan karena dia peduli terhadap Dion. Ini hanyalah sebuah rasa penasarannya karena mengingat kematian Risa yang juga sangat mengenaskan.
Lagipula bagaimana Sean mau perduli jika Dion itu adalah musuh bebuyutan dari mendiang kakaknya.
Sudah lima belas menit berlalu tapi Sean masih belum juga mendapatkan apapun. Hanya ada darah di lantai yang belum dibersihkan. Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan penuh frustasi.
Ketika memutuskan untuk pergi dari sana, tidak sengaja Sean melihat gulungan kertas berbentuk seperti bola tergeletak tidak jauh dari garis-garis polisi.
Sean mengambilnya dan membuka kertas itu.
"
Penghianat!
Pangeran kodok mengkhianati sahabatnya sendiri karena memilih Odile yang hanya memanfaatkannya.
Bodoh!
"
Begitulah isi dari kertas yang Sean temukan.
Tidak mau memikirkannya di tempat seperti ini, Sean memilih pergi ke rooftop. Tempat biasa dia menghabiskan waktunya ketika bosan.
°°°°°
"Jawab gue!" Desis Sandi mencengkram kedua bahu Zoya.
Zoya memalingkan wajahnya ke samping guna menghindari tatapan tajam dari pria di depannya.
"Lo kan dalang dari semua ini?"
"Punya bukti apa lo, hah? Kalo emang gue yang bunuh, seharusnya gue gak di sini. Lo pikir ngebunuh bisa sepraktis itu?"
Sandi menggeleng pelan sambil melepaskan cengkramannya.
"Bohong! Lo bohong, Zoy! Please, jujur sama gue! Lo boleh benci sama Dion, tapi bukan berarti lo bisa bunuh dia! Gue yakin Raka bakal kecewa banget di alam sana lihat lo kayak gini."
"DIAM!"
Sean yang baru sampai di ambang pintu rooftop terkejut mendengar teriakan Zoya.
"Jangan bahas Raka lagi. Dan gue. Bukan. Pembunuh. Dion!"
"Tapi gue tau lo, Zoy. Dia pernah khianatin Raka, dan lo dendam karena itu. Lo benci karena Dion ancurin hatinya Raka. Iya, kan? Kalo emang lo dendam dan bahkan bunuh dia, kenapa lo nggak bunuh Sean juga?" Suara Sandi semakin meninggi.
Deg
Sean tertegun mendengar namanya ikut dilibatkan dalam pertengkaran Zoya dan Sandi.
Raka? Kakak gue? -Batinnya.
Air mata Zoya mengalir deras. Dia mulai terisak pelan.
"Kenapa? Omongan gue bener? Lo gak bisa nyangkal, gue denger ceritanya Sean tentang keanehan lo yang kandang natap sedih terus langsung tiba-tiba tatapan benci."
__ADS_1
"Gue cuma ingat sebagian Raka itu ada di tubuh Sean! Gue kangen dia, Ndi. Lo ngerti, kan? Dan gue benci Sean karena dia gue gak bisa lihat Raka lagi selamanya."
Satu fakta lagi, sungguh menghantam keras hati Sean. Selama ini dia tidak tau apapun perihal kematian kakaknya, setiap kali bertanya orang tuanya selalu bersedih. Untuk itu Sean berhenti mencari tau perihal tersebut.