Dongeng Di SMA

Dongeng Di SMA
Episode 25


__ADS_3

"Gue?"


Zoya memandang mereka satu-persatu dengan raut muka tidak mengerti.


"Mending kita keluar dari sini. Lagian mungkin itu cuma reaksi obatnya." Ucap Sean mengajak untuk segera pergi dari sana.


Mereka duduk di bangku-bangku taman yang ada di depan rumah sakit.


"Kita harus gimana sekarang, Yan? Keadaan Ferdi lagi gak bisa buat ditanya-tanya." Tanya Arka.


Tidak ada jawaban setelahnya. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Drrrtt


Ponsel Arka dan Sandi bergetar bersamaan.


Lo berdua jangan kasih tau mereka. Gue ada rencana, tapi cukup kita bertiga.


Ternyata itu pesan dari Sean. Arka dan Sandi meminta penjelasan melalui tatapan. Sean hanya berkedip mengisyaratkan bahwa jangan bertanya sekarang, lalu merek hanya mengangguk menurut.


"Nyokap gue udah nyuruh pulang, minta anter arisan." Ucap Arka.


Sean mengerti maksud Arka. "Kita lanjut besok aja!"


Yang lainnya setuju. Mereka beranjak menuju parkiran. Saat ketiga gadis itu lebih dahulu meninggalkan taman, Arka menahan bahu Sandi yang hendak melangkah.


"Mau kemana?"


"Gue anter Vania dulu. Kalian duluan aja, ntar gue nyusul."


°°°°°


"Kenapa mereka gak boleh tau?" Tanya Sandi memecah keheningan.


"Nah iya, Yan! Sejauh ini mereka cukup bantu mikir. Terbukti Fia yang mecahin arti kotak 84."


Sean berjalan ke arah laci dan membawa surat yang tadi pagi dia temukan di atas bantalnya.


"Kalian baca ini!"


Dengan penuh rasa penasaran, Arka mengambil kertas tersebut dan membacanya bersama dengan Sandi.


"Pembunuh itu datang ke kamar lo?" Tanya Arka syok.


"Lewat balkon?" Tanya Sandi.


"Lo tau?" Tanya balik Sean.


"Ck. Ya kan mana mungkin lewat pintu."


Sean mendengus kesal.


"Rencananya, gue mau datang ke rumah Rafa. Tapi yang cewek jangan pada tau."


"Tadi kita nanya belum dijawab, Yan."


"Gue ngerasa curiga aja sama mereka."


"Hah? Tapi gue gak ngerasa ada apa-apa kok."


"Lebih tepatnya diantara mereka, bukan tiga-tiganya."


"Jangan bilang lo curiga sama Zoya?" Tanya Sandi bersuara lagi.

__ADS_1


Sean menghampiri Sandi yang duduk di sofa. Dia menepuk pelan bahu Sandi dan duduk disebelahnya.


"Jangan tersinggung, San! Gue tau lo sahabat Zoya. Tapi gue curiga karena ada yang janggal sama gerak-geriknya setiap kita bahas masalah pembunuh itu."


Sandi terdiam. Dia mengingat kembali gelagat Zoya selama ini. Tapi hatinya juga ikut membenarkan perkataan Sean. Dia tidak bisa menyangkal jika sikap Zoya sekarang tidak lagi seperti dulu yang dia kenal.


"Gue ngerasa janggal juga sih. Terutama di rumah sakit tadi."


Perhatian Sandi dan Sean beralih kepada Arka yang sedang menyuarakan pikirannya.


"Pertamanya Ferdi narik rambut Zoya, terus abis itu dia teriak bilang penjahat sambil nunjuk Zoya juga. Kalo emang cuma kebetulan, kenapa Ferdi berusaha nyerang cuma ke Zoya aja? Di sana kan kita berenam? Lagian pas gue perhatiin, Zoya kayak gak ada takut-takutnya. Kalo yang dijambak sama diteriakin penjahat itu Fia atau Vania, mereka pasti nangis atau seenggaknya wajah mereka kelihatan takut."


Ya. Sean pun berpikir seperti itu saat tadi di rumah sakit.


Dering ponsel Sandi membuyarkan pikiran mereka. Sambil berdecak, Sandi mengangkat telepon yang ternyata dari Vania.


"Halo, Van!"


"San. Ada kabar buruk!" Seru panik Vania.


Sandi me-loud speaker ponselnya agar Arka dan Sandi dapat ikut mendengar.


"Apa?"


"Ferdi meninggal di rumah sakit. Jelasnya gak tau sih, tapi informasi yang gue dapat ada orang yang ngunjungin dia dan gak tau juga gimana caranya Ferdi bisa meninggal karena nusuk jantungnya sendiri." Jelas Vania panjang lebar.


Sandi terdiam sejenak, mencerna perkataan Vania yang berbicara sangat cepat.


"Oke. Makasih Van, infonya."


"Oke sama-sama. Bye!"


Tut


Sambungan telepon diputuskan oleh Sandi.


Tidak ada nomor.


"Kalian lihat! Kayaknya ini dari tu cewek."


Sean berdiri.


Klik


Dia mengangkat panggilan.


"Halo?"


"Hai, Sean!" Suara gadis di sebrang sana dengan nada memeberi kesan misterius.


"Lo?"


Gadis itu terkekeh. "Kamu belum pernah mendengar suaraku sebelumnya. Tapi sekarang kamu langsung mengenalnya."


"Gak usah basa-basi lo!"


Terdengar suara tawa geli mengejek perkataan Sean.


"Kamu benar-benar tidak sabar ternyata. Aku hanya ingin mengatakan, kalau dalam permainan ini kamu kalah!"


"Ini masih awal, gue masih bisa berusaha dan gue pastiin selanjutnya gue yang menang!"


Gelak tawanya semakin terdengar. "Apa kamu tidak tau, Sean? Permainan ini sudah selesai. Aku sudah berhasil membunuh pria gila itu. Dan aku pemenangnya."

__ADS_1


Sean termangu. Tidak terpikirkan jika target pembunuh itu melenyapkan Ferdi. Ternyata benar, Ferdi adalah teman dekat Rafa. Pembunuh itu sengaja mengelabuinya dengan membuat Ferdi gila terlebih dahulu agar aksi pembunuhannya tidak terbaca oleh Sean.


"Arrgh!" Emang Sean frustasi.


"Lo benar-benar licik! Lo iblis! Laknat! Permainan apaan ini, hah? Lo kasih gue clue, tapi lo gak kasih gue kesempatan buat berusaha." Maki Sean dengan nada tinggi penuh emosi.


"Oh tenanglah! Jangan berteriak seperti itu! Aku memberitahumu hanya agar kamu tidak perlu menguras otak lagi. Seharusnya kamu merasa senang."


"Tapi permainan ini baru aja dimulai!"


"Tidak, tampan! Permainan ini sudah dimulai sejak kematian mantan kekasih kakakmu dan berakhir dikematian pria gila itu! Ternyata kamu tidak cukup pintar dalam memahami permainan ini."


"Lo! Gue belum musnahin manusia biadab kayak lo! Gue bakal tetap cari tau siapa lo sebenarnya!"


"Sayang sekali kamu sudah kalah. Padahal aku ingin menunjukkan diri."


Tut


Sean membanting ponselnya membuat Sandi dan Arka terkejut.


Dia sudah muak mendengar suara gadis tersebut.


Argghh!


"Yan, lo kenapa?" Tanya Arka menghampiri.


"San! Lo telepon Zoya. Video call lihat dimana dia sekarang!"


Tidak banyak bertanya, Sandi menuruti titah Sean.


"Ada apa, San? Tumben vidcall?"


Sebelum menjawab, Sandi menatap Sean menanyakan apa yang harus dia katakan kepada Zoya. Tapi Sean hanya mengangguk.


"Ngg.. Lo lagi dimana?"


"Gue di kamar. Ada Fia sama Vania juga di sini." Zoya mengalihkan kamera ponselnya menjadi kamera belakang untuk menunjukkan keberadaan kedua sahabatnya.


"Dari tadi mereka belum pulang?"


Zoya alihkan kembali ke kamera depan.


"Iya. Ntar malam kayaknya. Kenapa?"


"Oh enggak kok. Tadinya gue mau ke rumah lo."


"Besok aja deh ya. Kasian mereka kalo disuruh pulang."


"Oke. Gue tutup."


Sandi memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.


"Dia lagi di rumah. Ada Fia sama Vania juga. Sebenarnya ada apa?"


"Permainan selesai! Cewek itu nipu kita. Ferdi target terakhir. Dan gue udah kalah. Gue gak bisa jeblosin dia ke penjara. Gue gagal." Jelas Sean bernada frustasi.


"Tapi bukannya baru aja mulai?" Tanya Arka.


"Arrgghh!"


"Gue telat ngerti permainan dia. Sekarang gue bisa apa?"


"Dia bilang udah selesai. Berarti lo gak perlu susah-susah lagi kan? Udahlah, Yan. Jangan terlalu dipikirin."

__ADS_1


"Tapi semua ini menyangkut kakak gue. Harusnya gue bisa menangin permainan ini biar bisa lihat siapa dalangnya."


Arka dan Sandi menghela nafas pasrah. Jika sedang seperti ini, Sean memang sulit diajak berbicara baik-baik.


__ADS_2